
“Apa yang kau suka? Aku akan memanggilkan guru untukmu jadi kau bisa belajar dengan gurumu semua yang ingin kau pelajari. Jika suatu saat nanti kau pergi dari rumah ini kau sudah punya keahlian dan kemampuan untuk berdiri sendiri, kau bisa bekerja dibidang yang kau sukai. Kau bisa hidup bebas seperti orang lain dan tidak lagi memikirkan tentang hal yang satu itu.”
“Benarkah?” Bella mengerjapkan matanya. Dia memang pernah punya impian. “Baiklah aku mau belajar piano saja kalau begitu. Apa boleh?”
“Boleh. Kau bisa belajar bersama Alex. Apa kau mau? Dia juga punya kelas piano.” kata Dante. ‘Huh begini jauh lebih baik, membicarakan hal yang lebih produktif. Aku tidak akan membiarkanmu terus-terusan jadi bodoh. Kau harus bisa menjadi wanita baik dan mandiri.’ gumam Dante dihatinya.
“Jadi aku bakal satu guru dengan Alex?” tanya Bella antusias. Dante menjawab dengan anggukan kepala.
“Yes1 Aku mau...aku mau. Aku ingin main piano lagi. Apakah aku bisa jadi pianis?” wajah Bella berbinar penuh kebahagiaan karena dia akan bisa mewujudkan impiannya.
‘Sikapmu persis seperti anak kecil, apa kau tidak bisa bersika dewasa sedikit ya? Apa memang seperti ini kau bersikap? Ha ha ha ha pantas saja kau sangat cocok dengan Alex, tapi aku suka kepolosan dan keluguanmu ini. Kau hanya butuh pendidikan untuk menjadi wanita mandiri dan sukses.’ ujar Dante dalam hatinya. Dia sudah bertekad akan menjadikan Bella wanita hebat dan sukses.
“Kalau kau belajar sungguh-sungguh aku yakin kau bisa jadi pianis. Aku akan memberikan fasilitas untukmu belajar.” kata Dante.
“Terimakasih Dante! Aku janji akan belajar sungguh-sungguh. Jadi pianis adalah impianku. Kapan aku bisa mulai belajar? Aku sudah tidak sabar lagi. Apakah guru pianonya adalah orang yang sabar dan hebat? Karena aku pasti akan banyak memberinya pertanyaan, mungkin dia akan bosan atau marah padaku karena seperti katamu aku cerewet! He he he...”
“Kemarilah.” ujar Dante tapi tidak dijawab Bella. Pria itu tersenyum kemudian dia membuka kedua tangannya dan menarik Bella kedalam pelukannya.
“Apa menjadi pianis adalah harapanmu?” tanya Dante memeluk erat wanitanya.
“Sejujurnya aku tidak tahu apa yang kuinginkan tapi setelah mendengar kau bilang aku bisa jadi pianis dan akan memberikan fasilitas padaku untuk belajar, aku senang sekali dan bersemangat.” ujar Bella dengan suara manja meletakkan tangannya didada bidang pria itu.
“Kalau begitu kau harus belajar yang benar dan disiplin.” Dante mengecup kening Bella membuat wanita itu mengerjapkan matanya dengan senyum bahagia.
__ADS_1
“Sebenarnya aku selalu mencoba melakukan itu tapi agak sulit. Kau tidak mau memberiku obat? Mungkin kalau aku minum obat satu saja aku akan lebih baik. Karena selama ini aku rasa aku tidak bisa berpikir tanpa obat itu.” kata Bella jujur.
“Sabarlah. Hanya tiga bulan saja tanpa obat itu kau akan terbiasa. Kau paham maksudku?”
“Iya, aku akan mencoba.” ujar Bella membenamkan wajahnya didada Dante dan menghirup wangi tubuh pria itu.
“Ya sudah. Aku ambilkan makanan untukmu. Pakai bajumu dulu.” Dante pun mencoba menarik Bella keluar dari dekapannya tapi….”Kenapa kau tidak mau melepaskan tanganmu Belinda?” tangan Bella masih memeluk manja, rasa enggan melepaskan pria itu.
“Jika waktunya tiba dan aku keluar dari rumah ini sudah jadi pianis, apa aku bisa bertemu denganmu lagi Tuan Dante?”
“Tentu saja. Aku yang akan datang menemuimu kapanmu aku mau. Kau cukup menungguku, aku pasti datang padamu.” jawab Dante. ‘Ahhhh kenapa hatiku rasanya sakit ya, aku tidak mau memikirkan masalah itu karena terdengar sangat menyakitkan jika aku harus membayangkan dia pergi dari rumahku. Meskipun aku bisa datang menemuimu tapi rasanya kok sakit ya.’ ujar hati Dante.
“Janji? Maukah kau berjanji untuk itu?”
“Apa kau juga akan mengijinkanku bertemu pria lain setelah aku menjadi pianis?”
“Bersihkan tubuhmu dan pakai bajumu! Jangan bicara macam-macam.” ujar Dante enggan menjawab pertanyaan konyol Bella yang jelas jawabannya sudah pasti tidak.
“Kenapa kau tidak mau menjawab pertanyaanku?”
“Ehem! Kau tidak mau menuruti perintahku? Apa masih belum jelasjuga apa yang kukatakan?”
“Hah! Baiklah kalau begitu. Tapi, bolehkah kalau aku tidak usah berpakaian? Maksudku begini saja.” bujuk Bella lagi.
__ADS_1
“Aku sudah bilang pakai bajumu dan gunakan otakmu untuk berpikir!” telunjuk Dante mendorong kening Bella hingga bergerak maju dan mundur.
“Tapi kau tidak pernah menyuruhku berpakaian saat kita bersama.”
“Pufff….Belinda Alexandra Amani! Kau ini seorang gadis yang sangat cantik. Aku hanya ingin melindungimu, hidup ini bukan hanya sebatas kau mendapatkan kepuasana disini.” Dante memegang bagian inti Belinda dan mengusapnya. “Hidup itu harus dipikirkan disini.” Lalu Dante meletakkan telunjuk di kepala Belinda. “Dan aku ingin kau mengisi ini, kalau sudah terisi maka kau akan hidup lebih baik. Kau tidak akan terus menerus berpikir tentang ini.”
Pertama Dante menunjuk ke dahi Belinda lalu dia menempatkan lagi tangannya kebagian bawah Belinda. “Apa kau bisa melakukan itu untukku?”
“Bisa!” jawab Bella cepat.
“Jangan cuma bilang bisa. Kau harus belajar fokus agar kau tidak terlalu menginginkanku setelah itu. Kalaupun kau menginginkanku tapi hatimu sudah bisa mengendalilkan dirimu.” Dante memberikan pengarahan yang tegas pada Bella.
“Baiklah. Aku akan memakai pakaianku dan aku menunggumu disini mengantarkan makananku.”
Tapi,
Tiba-tiba Dante memeluk Bella erat dan mencium bibirnya dengan liar. Bella yang terkejut sejenak kembali pada kesadarannya. Dia membalas ciuman Dante, keduanya saling memagut penuh gairah hingga tanpa sadar Dante kehilangan kendali dirinya dan menyatukan diri dengan Bella. Entah setan apa yang menguasainya tapi pesona Bella yang selama ini berusaha dia tolak dan hindari pun akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Untungnya kamar itu kedap suara dan pintu kamar terkunci sehingga tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi dikamar itu menjelang pagi.
Penyatuan dua manusia yang kehilangan kontrol diri, Bella tertawa dalam hatinya. ‘Ha ha ha apa kubilang! Mau seberapa kuat pertahanannya dia takkan mampu menahan diri. Lihat apa yang dilakukannya sekarang? Benar-benar liar, aduhhh kenapa permainannya mengingatkanku pada pria itu? Ayah anakku? Rasanya persis sama seperti pria itu. Ini enak banget! Nikmat, dia benar-benar tahu caranya memuaskanku. Ha ha ha ha dulu kau menghinaku dengan sebutan wanita seribu pria. Tapi lihatlah dirimu sekarang oh Tuan Dante! Kau benar-benar gila! Maaf ya Tatiana, malam ini suamimu jadi milikku bukan aku yang memaksa tapi dia sendiri yang mau. Mampus kau Tatiana! Ini balasanku atas tamparanmu dan mempermalukanku dihadapan semua orang. Ahhhh nikmat sekali permainan suamimu ini! Padam mukamu Tatiana!’
Dante yang sudah tak tahan lagi, menghunjam tanpa henti. Hatinya berteriak melampiaskan semua rasa yang terpendam sekian lama. Kegilaannya pada wanita yang pernah mengisi hari-harinya dimasa lalu, wanita yang sudah memberinya seorang putra yang tampan. ‘Ah Belindaku sayang! Rasanya masih sama seperti dulu. Kenapa aku begitu bergairah seperti ini? Aku tidak pernah merasakan ini bersama istriku, aku tidak pernah segila ini bersamanya! Oh Belinda…..kau membuatku gila. Ini yang selalu kuhindari untuk tidak menyentuhmu! Karena aku takut kehilangan kendaliku tapi kali ini aku sudah tidak bisa tahan. Caramu berbicara, suara manjamu dan senyum manismu mengacaukanku.’
__ADS_1