PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 449. BERTEMU DANTE EMILIO


__ADS_3

“Itu situasi serius dan suruh keluarkan semua tahanan!”


“Oh, baiklah mayor!” ucap penjaga itu memberi hormat.


Baru setelah itulah Dante tersadar kalau pakaian yang dikenakannya itu adalah seragam seorang mayor. ‘Pantas saja dari tadi mereka menurut sekali pada semua yang kukatakan. Ternyata aku menggunakan seragam mayor!’ bisik hatinya.


 


Dante berusaha untuk tetap bersikap tenang. “Cepat suruh mereka semua keluar!” Dante memeanfaatkan kesempatan itu.


“Baik mayor!” orang itupun berlari menuju kesemua sel tahanan dan tidak ada perintah Dante yang tidak diturutinya.


 


Noel yang melihat Dante pun hanya bisa berdecak kagum, ‘Wah wah…..apa dia mengambil baju mayoritu juga adalah salah satu rencananya juga?’ bisik hati Noel, dia pun masih berusaha setenang mungkin.


“Ayo kita masuk!” Dante sudah membuka pintu menuju ke area lainnya.


‘Aduh, aku deg-degan. Ini kan ruang tahanan khusus bawah tanah?’ bisik hati Noel.


 


“Permisi Mayor! Ada apa anda sampai datang kesini?’


“Tahanan khusus itu. Berikan dia padaku, ada kebakaran.” jawab Dante.


“Baik Mayor!” ucap petugas itu menggangguk dan menuruti perintah Dante. Dengan sigap dia membukakan pintu dan membiarkan Dante dan Noel masuk kedalam.


 


“Ada berapa ruangan disini. Itu berarti ada beberapa orang yang mereka jaga disini bukan? Tidak mungkin! Aku tidak melihat ada nama lain di daftar tapi kenapa ada banyak ruangan yang terkunci?” Dante tidak paham tapi karena dia mengatakan ada kebakaran beberapa petugas disana sudah menuju ke pintu-pintu itu untuk mengeluarkan tahanan.


 


‘Ternyata benar! Ada beberapa tahanan yang tidak ada namanya.’ gumam Dante didalam hatinya. ‘Siapa mereka ini?’ tanya hati Dante berusaha untuk tenang.


“Mayor? Apa ada masalah? Kita tidak bisa menghubungi ke atas?” tanya seorang petugas.


“Sepertinya begitu. Sudah kukatakan ada kebakaran!” kata Dante dengan tegas dan penuh penekanan.


Pintu yang diminta Dante untuk dibuka pun sudah dibukakan. “Apa dia akan dieksekusi sekarang?” tanya petugas itu lagi.


“Dia biar aku yang urus nanti.” suara tegas Dante membuat petugas itu mengangguk.


“Baik Mayor! Dan ini obatnya! Dosis terakhir delapan puluh persen.” ucap sipir itu menyodorkan sebuah suntikan dan botol kecil.


 

__ADS_1


“Terima kasih.” Dante meliriknya sedikit lalu memasukkan kedalam sakunya. ‘Mereka memberikannya racun? Apa-apaan ini? Apa mereka memang sengaja membunuhny perlahan dengan memberi racun?’


Dante paham tapi dia segera masuk sedangkan Noel yang tidak paham tampak mengerutkan dahinya dan bergumam didalam hatinya. ‘Apakah ayahku sakit? Tapi tadi ayahku baik-baik saja.’ bisik hatinya yang masih tetap berpikir positif.


 


“Bangunlah!” ucap Dante dengan tegas layaknya seorang Mayor.


“Apakah karena aku sudah memberitahu anakku sekarang waktuku sudah tiba?” tanya pria yang masih tak menatap Dante itu.


“Cepat bangun dan jangan banyak bicara Dante Emilio! Sahabat dari Mateo Sebastian!” Dante mendekat dan memegang tubuh pria itu.


 


“Kau?” pria itu terkejut ketika Dante memberikan sesuatu ditangannya.


“Simpan yang benar untuk mengamankan dirimu sendiri.” ucap Dante dan pria itupun melihat kearah laki-laki yang berdiri disamping Dante setelah menerima pistol dari Dante.


‘Noel? Jadi apakah ini Dante anak dari Mateo? Tujuan mereka datang kesini untuk menyelamatkanku?’ bisik hati Dante Emilio yang tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.


 


Pria itu mengambil senjata dari tangan Dante dan menyimpannya. “Pegang tanganku. Ayo ikut aku!”


Mereka berjalan cepat keluar diikuti oleh Noel dibelakangnya.


 


“Mereka sudah keatas Mayor!” jawab petugas itu.


“Jadi kau hanya sendirian disini?”


“Iya Mayor!” jawab sipir itu lagi tanpa merasa curiga.


“Tolong ambilkan sesuatu diruanganku dilaci atas. Di amplop berwarna mereka.” celetuk Dante yang membuat petugas itu bingung tapi dia tetap mengangguk.


“Sekarang Mayor?” tanya petugas itu lagi.


Dante membenarkan ucapannya tanpa peduli apa yang dikatakannya itu benar atau tidak, apakah amplop itu memang ada atau tidak.


“Baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu Mayor.” pria itu berjalan dengan cepat meninggalkan Dante sehingga hanya ada mereka bertiga disana.


 


“Apa yang anda lakukan?” tanya Noel seraya menatap kearah Dante.


“Aku harus mengambil data disini. Aku ingin tahu siapa saja tahanan lainnya. Mengapa tidak ada satupun informasi mengenai tahanan lainnya didata mereka.” jawab Dante dan dia bergerak kearah meja itu mengambil apa yang diinginkannya sebelum dia kembali mengambil ponselnya.

__ADS_1


 


“Halo Dante? Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Nick menjawab telepon Dante.


“Lakukan sabotase satelit lagi! Paksakan lima menit! Aku tidak bisa pergi kalau hanya tiga menit!”


“Kau membuatku kesulitan Dante! Lima menit katamu?” Nick menghempaskan napas kasar dan bisa didengar oleh Dante.


 


“Paksakan! Lima menit saja. Berikan aku lima menit dan lakukan dengan satu satelit lagi di tempat yang berlawanan dengan pemadaman listrik selama tiga menit. Biar mereka teralihkan dan melihat ini sebagai keanehan! Lakukan sesuai perintahku!” ucap Dante.


“Baiklah….aku lakukan sekarang juga!” jawab Nick.


 


“Ingat ya! Gunakan tehnik bayangan! Kau tidak boleh smebarangan bergerak disana. Jangan sampai mereka melihat jejakmu dengan mudah. Jangan sampai kau terlacak!”


Klik!


Dante mematikan ponselnya dan memasukkan kedalam sakunya lalu memakai lagi penutup wajahnya.


Klik!


 


Listrik pun kembali padam.


“Ayo jalan!” ucapnya.


‘Dia benar-benar mirip seperti ayahnya! Mateo, kau harus bangga dengan putramu! Dante putramu ternyata dia lebih parah darimu! Apa yang dilakukannya tadi, mensabotase? Aku tidak tahu bagaimana dunia ini berjalan setelah aku berada didalam penjara. Tapi anakmu memang luar biasa!’ gumam Dante Emilio mengomentari anak sahabatnya itu.


Dia merasa kagum dan bangga tapi dia tetap konsentrasi dan tidak mau mengganggu Dante. Mereka berjalan cepat menuju kearah luar walaupun saat ini harus bertubrukan dengan orang lain karena kondisi sekarang memang sedang kacau balau.


Tadi ada sirine kebakaran padahal tidak ada kebakaran dan ketika mereka ingin memasukkan para tahanan lagi, tiba-tiba lampu mati seperti tadi dan kondisi penjagaan yang tidak ada penjagaan tambahan pun membuat kondisi kacau.


 


Para sipir terpaksa mengkordinasikan semua penjaga yang ada dan mereka sedang kesulitan. Mereka tidak tahu apakah ada narapidana yang kabur atau tidak, mereka merasa kebingungan!


Jumlah tahanan ribuan orang hanya diatur oleh ratusan sipir saja. Tentu akan sangat sulit bukan? Dan inilah yang dimanfaatkan oleh Dante. Dia benar-benar bergerak cepat dan melakukan apa yang tadi diperintahkannya pada Noel.


 


“Apa kita benar-benar menuju ke menara itu?” tanya Noel.


“Iya.” jawab Dante ketika mereka sudah berada diluar dan masih berdesakan dengan narapidana lain.

__ADS_1


“Ikuti saja aku dan jangan sampai ada yang terpencar! Jangan sampai ada yang mengikuti kita.” kata Dante. Suasana gelap dan gaduh itu membuat semuanya menjadi lebih baik dalam waktu kurang dari tiga menit mereka sudah keluar dari ruangan bawah tanah dan kini mereka menuju ke arah menara dengan langkah cepat.


__ADS_2