
“Kita akan membuat pesta kecil di hari pernikahan kita.” kata Dante mrmandang Belinda dengan penuh kasih sayang.
Belinda semakin bersemangat sekali mendengar ucapan Dante. “Sekarang keluarlah. Henry akan mengantarmu ketempat kau akan dirias.”
“Dante, aku akan mengenakan pakaian pengantin yang cantik kan?” tanya Belinda yang masih tak percaya jika dia sudah menikah.
“Aku tidak butuh pakaian pengantin yang cantik. Kau harus mengenakan pakaian sederhana tapi terlihat anggun dan mewah. Aku tidak suka yang menjuntai. Hari ini kita akan membuat perayaan tapi bukan perayaan pesta pernikahan, hanya sesuatu yang sederhana saja. Apa kau paham?” kata Dante menjelaskan keinginannya.
“Baiklah. Aku paham.” jawab Belinda. “Aku akan pergi menemui Henry.”
“Oke, pergilah. Jangan merepotkannya dengan banyak pertanyaan.” ujar Dante mengingatkan.
“Dante, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Belinda mengerjapkan matanya sedikit ragu bertanya.
“Katakanlah dan jangan buang waktuku.”
“Kalau kau menikah denganku, apakah kau masih bersama dengan Tatiana? Atau kalian sudah berpisah sekarang?” tanya Belinda.
“Kau lihatlah sendiri di sertifikat itu. Ada surat apa dibelakangnya. Kau bisa membacanya kan?”
“Eh, tadi aku tidak melihat surat lainnya.” ujar belinda sedikit meringis.
“Sebaiknya kau segera pergi dan jangan banyak bertanya lagi.”
“Oke aku pergi sekarang.’ ujar Belinda yang takut kalau Dante marah. ‘Wah galak sekali dia padaku, padahal aku kan cuma bertanya saja malah kena omelannya.’ Belinda mencibir tapi dia mempercepat langkahnya.
‘Jadi aku dan Dante sudah menikah? Jadi aku salah sudah memikirkan yang tidak-tidak, aku bahkan memikirkan kematiannya. Sekarang kami sudah menikah tapi kenapa dia tidak bilang kalau dia mencintaiku?’
“Permisi Nyonya Belinda.” sapa Henry yang sudah menunggunya.
“Hai Henry.” wajah Belinda tersenyum malu-malu.
“Sepertinya anda mendapat sesuatu yang membahagiakan dari Tuan Dante ya Nyonya?”
“Iya, Dante baru saja mengatakan padaku kalau kami sekarang sudah menikah. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya tapi aku sudah melihat sertifikatnya.”
Belinda sangat senang sekali sehingga wajahnya berbinar-binar. Ada sedikit rasa malu, senang dan berbagai perasaan yang ampur aduk.
“Selamat ya Nyonya. Sekarang anda sudah menjadi nyonya dirumah ini.” ucap Henry. Dia juga merasa senang akhirnya nyonya rumah itu diganti.
“Benarkah yang kau katakan Henry?” matanya membulat mendengar ucapan Henry.
“Tentu saja nyonya. Anda adalah istri Tuan Dante dan anda yang menjadi nyonya dirumah ini.”
__ADS_1
“Wah senangnya aku. Apakah Dante akan selamanya menjadi suamiku?”
“Selama anda tidak melakukan kesaahan yang tidak disukai Tuan Dante, dia akan setia pada anda selamanya Nyonya.” jawab Henry.
“Tidak akan! Aku tidak akan pernah melakukan kesalahan apapun.” ujar Belinda panik.
“Nyonya, maksud saya bukan kesalahan-kesalahan kecil yang sering anda lakukan. Tapi kesalahan besar yang menyinggung perasaan dan harga diri Tuan Dante, Nyonya.”
Belinda hanya menganggukkan kepalanya saja sambil berpikir.
‘Sebaiknya aku tidak mengatakan apapun, nyonya sedang hamil takutnya dia jadi banyak pikiran dan mengganggu janinnya.’ bisik hati Henry.
“Nyonya, mari bersiap untuk di make up. Tukang riasnya juga sudah datang.”
Belinda mengikuti Henry menaiki tangga. “Kau yakin aku masuk kedalam kamar ini? Dante melarangku masuk kesini, Henry!”
“Iya Nyonya. Anda akan dirias disini. Ini atas perintah Tuan Dante.” ucap Henry.
“Benarkah?” Belinda awalnya ragu.
“Terima kasih.” ucap Belinda seraya melangkah masuk kedalam kamar Dante.
“Tunggu sebentar Nyonya, saya akan membawa perias anda kesini. Mereka masih dibawah menunggu.” ucap Henry menutup pintu.
“Kamar ini sudah berubah! Tidak ada lagi foto Tatiana, tidak ada lagi pakaian dan barang-barang milik Tatiana disini. Semuanya sudah berubah. Bahkan wallpaper dan wardrobe pun diubahnya semuanya.
Dia membuka wardrobe dan melihat pakaian Dante ada disana bersama pakaian miliknya. Dia memegang satu persatu pakaian itu. Di atas meja rias juga sudah lengkap dengan skin care dan make up milik Belinda.
‘Aku masih akan bersamamu hingga seratus tahun lagi. Kau masih akan menemaniku disini kan? Jadi kau sengaja bermain bersama Alex dan menyiapkan makan malam untuk merayakan pesta pernikahan kita? Bukan karena kau ingin pergi dariku? Bukan karena kau ingin pergi selama-lamanya bukan? Tapi kenapa hatiku sakit dan rasanya ingin menangis ya? Apa kau ingin menipuku?’
Tiba-tiba airmata menetes saat dia memegang satu persatu pakaian Dante, dia melamun didalam ruang ganti pakaian hingga suara Henry mengagetkannya.
“Anda kenapa nyonya?” dia menyapa dan mendekati Belinda yang terisak sambil memeluk pakaian.
“Henry.”
“Nyonya, anda tidak apa-apa kan?” Henry merasa khawatir melihat Belinda yang menangis.
“Aku tidak apa-apa tetapi hatiku rasanya sesak sekali.” jawab Belinda yang merasa terharu.
__ADS_1
“Apa anda mau saya panggilkan dokter, nyonya?”
“Aku tidak butuh dokter Henry. Bisakah kau berkata jujur padaku?”
“Apa yang ingin nyonya tanyakan?” sebenarnya Henry pun merasakan kekhawatiran yang sama.
“Dante.” Belinda diam sejenak. “Perasaanku tidak enak. Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku mencemaskannya. Apa kau yakin dia tidak apa-apa? Acara sekarang benar-benar hanya untuk perayaan pernikahan kami kan? Bukan salam perpisahan karena dia akan menghadapi bahaya? Tolong jujur padaku Henry.”
Sementara itu diruang bermain.
“Fuuuhhh! Akhirnya dia pergi jua. Setidaknya tidak ada lagi yang cerewet padaku.” ujar Dante lirih setelah kepergian Belinda.
‘Aku akan membahagiakanmu malam ini Belinda. Urusan besok adalah urusan belakangan. Yang penting malam ini kau tersenyum bahagia dan tidak ada lagi kesedihan dan kekecewaan.’ bisik hati Dante.
Dia kembali menatap putranya lalu menghampiri.
“Daddy lihatlah aku sudah memasang keretanya disini. Nanti lebih bagus daripada keretamu daddy. Yang itu sudah tua, yang ini masih bagus dan lebih keren.” ucap Alex yang merasa bangga dengan kereta buatannya. Dante tersenyum menatap anaknya, dia sangat senang dengan kepintaran Alex.
‘Ya kau benar Alex. Ini lebih keren. Nanti kita akan buat terowongan disini, dan disini kita akan membuat gunung-gunung juga. Jadi kau punya kereta yang terlihat seperti di kota kecil.”
“Benarkah daddy, kita akan membuatnya?” mata anak itu berbinar-binar.
“Kita akan membuatnya nanti setelah adikmu lahir. Lalu kita tunjukkan pada adikmu.”
“Apa lama membuatnya daddy? Harus menunggu adikku lahir dulu?”
“Kau ingin membuat yang bagus dan sempurna Alex?”
“Iya.” Alex mengangguk.
“Yang sempurna tidak bisa dibuat secara instan. Ada prosesnya Alex dan kita punya waktu tujuh bulan sebelum bayi lahir. Dalam waktu singkat itu kita akan membangun kereta. Saat adikmu lahir, kita bisa tunjukkan padanya dan mommy-mu.”
“Apa itu jadi kereta yang bagus, daddy?”
“Keretanya akan sama seperti yang kau pasang ini, tapi kereta itu akan terlihat lebih nyata.”
“Aku mau daddy!”
“Baiklah, aku akan meminta Henry untuk mempersiapkannya nanti kita akan membangunnya bersama.” ucap Dante berjanji pada putranya.
__ADS_1