PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 44. BERIKAN PADAKU


__ADS_3

“Bella apa yang kau lakukan?” teriak Dante saat dia melihat Bella sedang bermain-main sendirian diatas sofa memegang terong ditangannya sambil memainkannya. Sontak Dante menghampiri dan merampas terong itu dari tangan Bella. Matanya melotot menatapnya dengan kilatan amarah.


“Sssss…….jangan ambil! Berikan terong itu padaku!” teriak Bella. “Berikan padaku!”


“Kau! Brengsek! Jadi kau mau mengambil bahan makanan untuk ini, hu?”


‘Anak ini benar-benar melakukan ini? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa dia kecanduan….aku harus bisa mengubahnya menjadi orang normal bukan seperti ini. Aku tidak bisa membiarkannya tetap berada didunia malam! Dia harus keluar dari dunia itu! Bukan kehidupan seperti ini yang aku mau untuk dia jalani! Aku ingin melihatnya mempunyai kehidupan normal dan baik.’ ujar Dante didalam hatinya. Dia sungguh tak menyangka bahwa gadis polos yang dulu bersamanya berubah jadi Bella yang sekarang ini.


‘Kau gadis baik yang manis, penurut dan penakut. Bagaimana bisa kau berubah sampai sejauh ini Belinda? Bahkan kau berubah menjadi seorang maniak!’ Dante mengambil kesimpulan berdasarkan pikirannya sendiri.


Dante membuang terong itu sembarangan sehingga terong itu patah. Mata Bella terbelalak menatap tak percaya melihat Dante melemparkan terong yang tadi digunakannya. “Ahhh terongku patah! Kau tega sekali padaku!”


Kedua kakinya saling bersentuhan dengan gerakan turun naik karena dia merasa tanggung.


“Belinda Alexandra! Siapa yang menyuruhmu bermain dengan itu, ha? Aku tidak mengijinkanmu melakukan hal bodoh seperti itu.”


“Aku sudah tidak kuat lagi Tuan Dante! Aku sudah ingin sekali, aku mau sekali saja.” ujar Bella memohon dengan raut wajah memelas menatap Dante. Dia sudah kehilangan rasa malunya.


“No! Enough is enough! Aku tidak mau kau ketergantungan seperti ini. Kau harus bisa melepaskan diri dan mengendalikan dirimu Bella!” Dante bersikeras dan menggelengkan kepala menolak Bella. Tapi….


“Hey kau mau kemana lagi?” Dante mendengus kesal lalu mengejar Bella yang sudah berlari kembali ke dapur. “Tidak boleh! Cukup kubilang cukup!”


“Berikan padaku Tuan Dante! Aku sudah tidak bisa mengendalikan diriku. Aku ingin sekali saja, aku mohon biarkan aku mendapatkan sekali saja.” pinta Bella.


Bahkan airmatanya yang sudah menumpuk dari tadi mulai mengucur dan kini dia berlutut dihadapan dante tanpa mengenakan sehelai benangpun. Dante menutup kulkas dan memandang Bella seperti layaknya seorang ayah yang sedang memarahi anaknya yang baru berusia tiga tahun yang ketahuan makan permen dimalam hari padahal sudah sikat gigi.


“Aku bilang tidak boleh! Sudah tidak ada hal seperti itu lagi untukmu!”


“Tapi aku pengen!” suara lirihnya memohon.

__ADS_1


“Jangan kau sentuh aku!” ujar Dante meninggikan suaranya saat tangan Bella menyentuhnya. ‘Issss….anak ini apa-apaan sih dia ini. Berani sekali tangannya menyentuh bagian bawahku! Dia ingin meremasnya puffff.’ ucap Dante menghembuskan napas sambil melotot dia mundur selangkah menjauhi Bella.


“Berikan padaku sekali saja. Aku pengen sekali! Aku sudah panas. Aku sudah tidak tahan lagi.” jawab Bella dengan suara yang terdengar tersiksa karena menginginkannya.


“Jauhkan tanganmu dari sana atau kupotong tanganmu!” ujar Dante kesal. ‘Bagaiamana aku harus menjelaskan padanya kalau dia tidak boleh menyentuh itu!’ Dante meletakkan terong yang sudah dikeluarkan Bella dari kulkas diatas island table lalu bergegas menghampiri Bella.


“Aku peringatkan kau! Kau harus menjauh dari terong dan timun disana!”


“Yang lain boleh?” tanyanya polos tanpa malu.


“Tidak boleh! Semuanya tidak boleh! Hey tanganmu jangan berani menyentuh disana!’ Dante bicara sambil mengambil tangan Bella yang sudah mencolok bagian bawah dan satu tangan lagi sudah mencoba memuaskan bagian atasnya.


“Aku tidak bisa Tuan Dante! Tolong berikan padaku ya, sekali ini saja!” pinta Bella membalas.


‘Puffff….’ Dante semakin pusing dengan ulah Bella.


“Apa kau sangat menginginkannya?” tanya Dante,


“Kau tahu? Perut kotak-kotakmu itu….saat kau memelukku aku merasakan kotak-kotak itu. Aku ingin mengelusnya biarkan aku menyentuhnya sedikit saja….plissss..”


“Kotak-kotak apa yang kau bicarakan? Tidak ada kotak-kotak! Lagipula kau belum pernah melihatnya!” Dante kembali mendengus kesal lalu memutar bola matanya.


“Ada kotak-kotak disana! Jangan sembunyikan lagi dariku! Aku tahu perut kotak-kotakmu ada disana dan aku merasakannya saat kau memelukku. Tubuhmu terpahat sempurna ditubuhmu!” ujar Bella sambil mengerucutkan bibirnya memelas.


“Tidak boleh!” ujar Dante dengan kedua tangannya memegang lengan Bella agar dia tidak bisa menyentuh bagian tubuhnya yang diinginkannya. Wajah Dante terlihat sangat kesal tapi dia tak ingin melampiaskan lagi amarahnya pada Bella.


‘Kau bilang kalau kau sangat membenciku, tadi kau bilang kau tidak menyukaiku tapi sekarang kau malah ingin menyentuhku! Jangan harap aku akan memberikannya padamu. Kau sudah menyakiti hatiku dengan kata-katamu! Tidak tahukah kau betapa tersiksanya aku selama bertahun-tahun merindukanmu dan mencarimu? Tapi kau malah membenciku?’


Dante masih mengingat semua ucapan Bella yang tadi diucapkannya pada Dante betapa dia membenci pria dari masa lalunya. Bella tak pernah tahu jika pria itu adalah Dante yang ada dihadapannya. Ucapan Bella tadi tidak menyenangkan Dante bahkan sangat menyakiti hatinya.

__ADS_1


“Biarkan aku menyentuhnua. Aku ingin sekali menyentuhmu sekali saja. Tolong jangan larang aku Tuan Dante.”


“Tidak boleh! Apa kau tidak paham juga kalau aku tidak mengijinkanmu dan kau tidak boleh lagi memikirkan hal-hal itu. Kau harus ingat kalau aku yang harusnya dipuaskan bukan kau! Apa kau lupa perjanjian kita, hu?” ucap Dante dengan kedua tangannya terus menahan tangan Bella dengan posisi Bella masih duduk dilantai.


“Baiklah kalau begitu biarkan aku yang memuaskanmu.” ujar Bella tak mau kalah.


“Tidak mau! Aku tidak menginginkanmu!”


“Tapi aku mau melakukan tugasku! Kau tidak bisa menolakku lagi!” ucap Bella dengan nekat langsung berdiri dan mendekatkan tubuhnya secepat mungkin lalu mencium bibir pria itu.


CUP


“Hei hentikan! Siapa yang mengijinkanmu menciumku hu?” Dante memundurkan kepalanya dan melototi Bella dengan posisi tubuhnya setengah berjongkok dan badannya condong kebelakang dengan kedua tangannya berada didepan memegangi kedua tangan Bella.


“Tidak ada yang mengijinkanku tapi aku akan memuaskanmu dan aku janji kalau kau akan benar-benar merasa puas, Tuan.”


“Mundur kataku! Jangan berani kau menyentuhku lagi!”


Bella yang sudah nekat tak mau kalah, dia justru semakin maju walaupun kedua tangannya dipegang oleh Dante. CUP….dia kembali mencium bibir Dante dengan cepat sebelum pria itu menyadari.


“Berani sekali kau melanggar perintahku lagi, apa kau mau kuhukum?”


Meskipun hanya sedetik tapi Bella merasa puas bisa mencium Dante sehingga pria itu semakin marah.


“Aku tidak peduli meskipun Tuan menghukumku! Aku sudah pengen banget dan tadi aku tanggung. Tuan berikanlah padaku sekali saja dan kau bisa menghukumku nanti. Tapi berikan aku sekali saja.” pinta Bella memohon tapi masih kekeh tak mau kalah.


“Sudah kukatakan sejak tadi kalau aku bukan laki-laki pemuas! Berani bayar berapa sampai kau menginginkan aku untuk memuaskanmu, hu?” Dante memelototi Bella.


“Aku tidak punya uang membayarmu. Makanya ijinkan aku memuaskanmu, Tuan.” bujuk Bella.

__ADS_1


“Cuihhh! Menjijikkan! Kau pikir aku mau sama wanita yang sudah tidur dengan seribu pria? Apa kau pikir dirimu itu tidak penyakitan? Pernah berpikir kesana tidak?” Dante memicingkan mata pada Bella.


__ADS_2