PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 573. AKU MAU


__ADS_3

Disaat bersamaan.


"Barack! Aku senang sekali kau sudah kembali!" ucap Sarah yang masuk kedalam kamar dengan posisi Barack menggendongnya. Kamar itu dilengkapi dengan lampu temaram. Aroma vanilla dari pengharum ruangan didalamnya mulai terrasa di indera penciuman mereka ketika mereka memasukinya.


Aroma yang menenangkan dan membuat suasana sangat pas untuk kegiatan yang ingin mereka lakukan.


"Aku akan kembali! Sudah kukatakan padamu kalau aku akan kembali. Kau masih tidak percaya padaku, hmmm?" Barack berkata pada Sarah dan memberikan tatapan yang membuat Sarah semakin menggila ketika melihat tangannya menyentuh tangan pria itu.


"Aku hanya tidak menyangka saja kau akan kembali padaku. Aku sudah berpikir macam-macam. Aku takut sekali kalau kau tidak kembali Barack!"


Ekspresi wajah Sarah terlihat sangat cemas menatap Barack. "Aku sudah bilang kalau semuanya akan baik-baik saja Sarah!" ucap Barack sambil merebahkan tubuh Sarah diatas tempat tidur yang empuk,nyaman dan rasanya tubuh Sarah pun sudah pasrah dan rela mau diapakan oleh Barack.


"Apakah kita akan melanjutkan apa yang tertunda dikamar mandi tadi?" tanya Sarah.


Sedangkan Barack yang duduk disamping Sarah dengan posisi Sarah sedang berbaring dan Barack berada disampingnya. Kedua tangan Barack mengapit Sarah.


"Iya, kalau boleh. Apa kau tidak keberatan jika aku melakukannya sekarang?" Barack mengangguk sambil tersenyum menatap gadis pujaan hatinya itu.


"Baiklah. Ayo kita lanjutkan kalau begitu." sahut Sarah bersemangat. Dia benar-benar sudah siap untuk menyerahkan dirinya pada pria itu.


"Ehm....aku rasa kita akan menunggu tujuh tahun lagi." Barack berkata yang membuat Sarah langsung memelototinya.


"Tega sekali kau padaku!" Sarah merenggutkan wajahnya.


"Hei, kau masih enam belas tahun! Tapi pikiranmu sudah kesana! Dasar anak nakal." Barack mencubit hidung Sarah.


"Tapi bagaimana? Aku sudah melihat seluruh tubuhmu. Malahan kemarin kita sudah memulainya kan?" kata Sarah.


"Lalu?" tanya Barack sambit mengeryitkan dahinya dan tersenyum menatap Sarah. Dia sengaja menggoda gadis itu karena menurutnya Sarah sangat menggemaskan dan banyak bicara. Kadang gadis itu sering tidak bisa mengontrol mulutnya.


"Aku menginginkanmu."


"Hahahahaha!" Barack tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sarah.


"Barack! Apa salah kalau aku menginginkanmu?"


"Ya tidak! Aku lebih menginginkanmu juga, manis! Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku tidak melihatmu sebagai gadis enam belas tahun. Aku menginginkanmu, imajinasiku berkata lain tentang dirimu Sarah! Mataku tidak bisa berhenti menatapmu dan terus saja menginginkanmu."


"Apa karena tubuhku terlihat lebih dewasa?" tanya Sarah lagi.

__ADS_1


Barack mengangguk dan menggelengkan kepalanya. "Entahlah! Menurutku kau itu berbeda. Apa kau ada dekat dengan laki-laki?"


Sarah menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah dekat dengan laki-laki! AKu pulang sekolah langsung pulang kerumah. Bella akan memarahiku kalau aku tidak pulang kerumah tepat waktu."


"Kakakmu sangat menjagamu ya?"


"Hmmmm!" Sarah mengangguk masih dengan posisi tiduran. "Bella takut jika ada pria yang mendekatiku dan mereka hanya berpura-pura saja untuk mempermainkanku! Bella selalu bilang padaku setiap aku bernagkat sekolah kalau aku tidak boleh dekat-dekat dengan pria manapun."


"Lalu, bagaimana denganku?" tanya Barack yang membuat Sarah tersenyum.


"Ehmmm...." Sarah berdehem.


"Bella mengatakan sesuatu padamu tentangku kan?" Barack memperjelas pertanyaannya.


"Ya, dia tidak menyukaimu! Dia melarangku dekat denganmu." ucap Sarah jujur sambil tertawa kecil.


"Lalu kenapa kau masih mau bersamaku?" Barack mulai menggerakkan tangannya memegang bagian atas tubuh Sarah. Walaupun masih ada pakaian sebagai penghalang disana, dia tetap bertanya dan menggoda Sarah.


Barack sudah pernah melakukan ini, dia sudah pernah tidur dengan banyak wanita dan dia tahu bagaimana membuat Sarah rileks dan mulai mengikuti permainannya.


"Ehm....karena aku menyukaimu! Aku sudah mengatakannya padamu bukan? Dari saat kita bersama-sama di hutan waktu itu aku sudah menyukaimu."


"Kalau kubilang karena kau tampan, apakah itu alasan yang masuk akal Barack?"


"Tentu saja itu alasan masuk akal karena aku memang tampan." celoteh Barack yang membuat Sarah memicingkan matanya.


"Terus, kenapa kau selalu menolakku?" kini Sarah merubah posisinya menjadi duudk dengan kedua tangannya mengalun pada tubuh Barack. Saat ini satu tangan Barack sudah berhasil melepaskan kancing baju Sarah.


"Aku tidak menolakmu. Aku hanya menunggu sampai kau benar-benar siap! Lihatlah sekarang usiamu masih enam belas tahun. Kalau di ibaratkan dengan buah, seperti buah mangga yang masih masam!" jawab Barack sekenanya.


"Apa katamu? Kau ini kenapa berkata seperti itu? Jadi maksudmu aku tidak enak dibandingkan dengan Gabriella itu, iyakan?" Sarah memelototi pria itu dengan marah.


"Sssstttt pelankan suaramu! Jangan berteriak dan jangan pernah membahas wanita itu." Barack mencubit hidung Sarah dengan senyum yang lebar. Dia sangat suka melihat Sarah merajuk dengan mata besarnya melotot yang terlihat indah.


"Habisnya kau selalu membandingkan aku dengan buah masam! Tidak ada manis-manisya!" keluh Sarah dengan sebal dia mendengus.


"Ya kalau dimakan langsung, kau memang tidak ada enak-enaknya." Barack bicara lagi dengan kedua tangannya sudah membuka semua kancing baju Sarah.


"Lalu?" tanya Sarah bingung.

__ADS_1


"Mungkin aku akan menjadikanmu rujak atau pickle saja biar enak dimakan." canda Barack lagi.


"Barak!" Sarah bingung sekaligus malu. Barack sudah membuka pakaian atas Sarah sehingga perlahan-lahan tubuh bagian atas Sarah tersingkap sudah. Kulitnya yang putih mulus ditambah lagi dengan dua buah yang ada disana terlihat sangat mengkal!


Menggoda dan tubuh Sarah yang kecil ramping membuat seluruh gairah Barack seperti tidak bisa terkendalikan lagi. "Kau tahu sudah berapa lama aku merindukanmu?"


Barack bicara setelah melepaskan pakaian Sarah, dia menggunakan tangannya untuk bermain-main di tali penyangga kedua buah mengkal itu.


"Ehm....kalau memang kau merindukanku, kenapa kau tidak segera kembali? Kau malah menikmati kebersamaanmu dengan seseorang disana." ujar Sarah seraya berpindah ke pangkuan Barack.


"Aku memang ingin sekali kembali." ucap Barack dengan jari telunjuknya yang bergerak dari atas pangkal leher hingga kebawah membelah dua buah yang kini sudah tidak ada pelindung lagi.


"Lalu kenapa kau tidak kembali dan malah memilih bertahan disana?"


Barack melirik Sarah dan berkata, "Karena kalau saat itu aku kembali maka saat ini kita semua sudah mati."


"Oh, begitukah?"


"Sudah, jangan banyak bertanya lagi!" ucap Barack menghentikan gadisnya yang cerewet itu agar segera bungkam. Tangan Barack kini memegangi kedua buah mengkal Sarah yang menggodanya.


"Apa kau menyukaiku sekarang, Barack?"


"Lebih dari yang kau pikirkan." jawab Barack dengan senyum menatap Sarah. Wajah gadis itupun langsung dipegang kedua tangan Barack dan mencium bibirnya yang mungil.


"Sarah, apa kau tahu aku pria seperti apa?"


"Aku tahu! Kau bukanlah pria biasa dan juga memiliki masa lalu dan masa depan yang belum jelas. Semua tentangmu masih abu-abu." ucap Sarah.


"Kau masih mau bersamaku setelah kau tahu bahwa masa depanku belum jelas dan masa laluku bisa menjadi bumerang untuk masa depan kita?"


Sarah kembali menganggul. "Aku sudah memutuskan bahwa aku menyukaimu dengan semua resiko yang harus aku terima. Dengan baik ataupun buruknya masa lalu dan masa depanmu." ucap Sarah penuh keyakinan.


Ucapan gadis enam belas tahun itu membuat Barack terkekeh. "Kau ini masih anak kecil sudah bisa bicara tentang resiko?"


"Barack! Kau ini berbeda! Dan entah menagapa aku tidak pernah bisa melupakanmu." ucap Sarah dengan senyum manjanya yang selalui disukai dan dirindukan Barack selama ini.


"Terima kasih Sarah karena kau sudah jujur padaku." Barack mendekatkan bibirnya ke leher Sarah dan mengecupnya dengan kuat. Membuat tanda kepemilikan di leher gadis itu.


"Barack!" Sarah memanggil Barack dengan matanya yang tertutup dan bibirnya tersenyum menikmati semua rasa yang diberikan Barack di leher dan dadanya. Bulu kuduknya merinding, rasa yang tidak bisa dipikirkan Sarah selama ini akan hadir.

__ADS_1


"Kenapa kau memanggilku?" deru napas Barack masih terasa di dundak Sarah membuat gairah yang ada didalam tubuh gadis itu meningkat.


__ADS_2