
“Iya. Habis mau bagaimana lagi? Kalau sudah seperti ini aku tidak bisa lagi berpisah denganmu Dante. Ayolah….” bujuk Bella. Siapa yang tahan terus-terusan dipermainkan pria itu. Dia juga wanita biasa sehingga apa yang dilakukan Dante sejak tadi itu sangat mengganggunya.
“Tidak kau biarkan aku yang meminta? Aku sudah bilang padamu bukan apa yang kusuka?”
“Meminta?” Bella mengulang ucapan Dante.
“Hm….kau lupa lagi? Aku sangat suka kalau kau mengijinkan aku yang meminta.”
“Meminta melakukan itu? Terus apa bedanya kau atau aku yang meminta? Toh hasil akhirnya sama saja, iyakan?” ujar Bella. “Jadi kau baru mau melakukan itu kalau kau sendiri yang meminta?”
“Hmmm!” dante menganggukkan kepalanya sambil tersenym ketika dia ditanya oleh Bella.
“Jadi maksudmu aku harus menunggumu sampai kau sendiri yang meminta padaku? Ribet amat!”
“Iya begitu.” jawab Dante singkat.
“Kau meminta melakukan itu? Kalau aku yang minta kau tidak mau begitu?”
“Iya! Itu yang aku inginkan. Apa kau bisa melakukannya?”
Bella menggelengkan kepalanya. “Tidak! Aku tidak paham! Terllau ribet!”
“Fuuhhh! Baiklah biar aku contohkan padamu ya. Jangan pernah melakukan kesalahan lagi setelah hari ini. Apa kau mengerti?”
“Ya.jadi kau tidak ingin aku yang meminta hubungannya duluan kan?”
“Belinda! Diam biar aku menyelesaikannya dulu dan kau menunggu. Kau paham?”
Mau tak mau akhirnya Bella pun menganggukkan kepalanya.
CUP!
“Ah, Dante kau baru saja menciumku?”
__ADS_1
“Hm..” ucap Dante sambil tangannya mengelus bibir Bella yang tadi diciumnya. “Iya Belinda, selama kau menurut dan mengikuti aturanku maka akan selalu ada yang manis seperti ini.”
“Ahhh….jadi aku harus bagaimana?” Bella merasa bahagia mendengar ucapan pria itu.
“Bella! Terlentang.”
“Kau mau aku baringan?”
“Hm….sudah jangan banyak bicara lagi. Lakukan saja apa yang kuperintahkan.”
“Terus kalau aku sudah tidur begini lalu bagaimana lagi? Bukankah aku jadi seperti mayat tidur telentang? Lihatlah aku menjadi kaku dan tidak tahu harus buat apa.”
“Bisakah kau tidak banyak bicara dan menjaga ucapanmu tadi?” Dante merasa pening dengan kalimat yang diucapkan Bella tadi.
“Aku juga mau begitu Dante, menjaga ucapanku tapi bagaimana? Susah sekali melakukannya.” ucapnya sambil tersenyum kecil meminta maaf pada Dante.
“Fuuuh!” Dante melihat wanita dihadapannya. Dia berusaha untuk menyabarkan diri lagi. “Miringkan tubuhmu, aku tidak menyuruhmu telentang begini tapi tidur miring membelakangiku!” pinta Dante lagi pada Bella sambil merubah posisi wanita itu dengan pelan menggesernya.
“Belinda! Jangan banyak bertanya bisa tidak? Kau lakukan saja seperti ini dan rileks.”
‘Kenapa harus banyak bertanya? Aku kan suruh dia mengikuti perintahku saja! Memang dia tidak bisa lakukan itu tanpa banyak bicara?’ Dante sangat kesal didalam hatinya. Dia tidak paham apa yang di inginkan oleh Bella dengan banyak bertanya. Tapi lagi-lagi Dante mencoba untuk bersabar mengingat wanita itu sedang mengandung anaknya.
‘Aku akan mengajarimu menjadi wanita mahal supaya kau tidak harus meminta duluan terus Belinda!’ bisik hati Dante. Tanpa dia ketahui bahwa saat Bella masih bekerja dulu, dia tidak pernah meminta lebih dulu tapi dia membiarkan para pria itu yang menginginkan tubuhnya dengan meminta dan memohon padanya. Bella selalu jual mahal tapi sangat berbeda saat dia bersama Dante.
Entah kenapa Bella semakin menginginkan Dante dengan sikap dinginnya itu. Dan dante adalah pria pertama yang di inginkan Bella. Saat bersama anthony saja dia dengan tegas memintanya untuk tidak menyentuhnya. Tapi pada Dante justru sebaliknya. Ada sesuatu yang tidak bisa ditahan oleh Bella saat bersama Dante.
“Iya….iya….aku tidak akan tanya apa-apa lagi! Aku akan lakukan apapun yang kau perintahkan.” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari bibir Bella da membuat Dante kembali fokus pada rencana selanjutnya. Dante sama sekali tidak tahu kalau Bella sedang memakinya didalam hatinya.
‘Iya...dia bosnya, pokoknya apapun bisa dia minta! Kau menyebalkan sekali Dante Sebastian! Tapi memang kau yang terbaik dari semua pria. Kau ayahnya Alex dan aku merasa damai dan tenang sekali bersama dengannya. Meskipun kadang dia menyebalkan dan selalu mengusikku. Dia juga pria aneh, tidak suka dipegang!’
‘Aku tidak peduli lagi soal itu semua, yang penting aku bersamanya dan dia adalah ayah anakku! Ahhh….ternyata dia pria dari masa lalu ku dan kami punya kenangan masa lalu bersama. Indah sekali semua kenangan kami, punya anak.’ gumamnya dalam hati.
Entah darimana Bella membuat kesimpulan dipikirannya bahwa semua kenangannya bersama Dante itu indah. Padahal saat menjalaninya, Bella mengalami gangguan psikis hebat dan dia juga terus-terusan menangis begitu juga dengan kenangan terakhirnya diruang bawah tanah. Tidak ada indah-indahnya.
__ADS_1
“Apa yang sedang kau lakukan Bella?”
Pertanyaan itu membuat Bella terbangun dari lamunannya. “Eeeh….Dante. Apa yang aku lakukan? Tentu saja tidur lah. Apalagi yang bisa aku lakukan kalau sudah tidur miring begini?” jawab Bella yang sudah tidur miring selama sepuluh menit dan tak bergerak sama sekali sehingga membuat Dante menanyakan itu. Dante menggerak-gerakkan tangannya mengelus tengkuk Bella.
“Hahahaha….kau yakin bisa tidur sekarang dengan kondisi seperti ini?”
“Bukankah kau menyuruhku tidur, Dante? Ya aku tidur lah? Memangnya aku harus melakukan apa lagi? Heemmmm….” Bella tidak mengerti ucapan Dante sambil menggeliatkan tubuhnya karena sentuhan tangan pria itu.
“Hmm….kau yakin kau memang mau tidur?” tanya Dante lagi sambil menggerakkan kepalanya semakin mendekat pada Bella dan memegang bahunya, dia berbisik ditelinganya.
‘Aduh….apa-apaan sih dia ini memegang bahuku? Dia mau melakukan apa ya? Napasnya dan cara dia bicara itu aihhhh…...hot banget dia ini.’ pikiran Bella sudah mulai berkembara kemana-mana.
Saat dia hendak membalikkan badannya, “Diam di posisimu yang sekarang saja Bella! Aku tidak mau kau merubah posisimu.”
“Tapi…...”
“Memangnya aku ada menyuruhmu membalikkan tubuhmu?” Dante meninggikan suaranya dan memaksa Bella untuk tetap dalam posisinya sekarang.
“Tidak. Kau tidak menyuruhku sama sekali.”
“Lalu kenapa kau ingin membalikkan badanmu hem?”
“Tidak! Aku mau tidur! Aku hanya sedikit terusik saja oleh tanganmu. Kalau kau dan aku mau tidur kenapa kau menaruh tanganmu disana? Apa kau tidak bisa tidak mengganggu ku saat aku mau tidur?”
Kalimat itu mengalir begitu saja dari bibirnya. Bella tidak mau kenal marah Dante lagi membuatnya memprotes perbuatan pria itu. Tapi Dante ternyata cukup senang dengan kata-kata yang diucapkan Bella, dia menyunggingkan senyumnya.
‘Bagus! Aku suka dia belajar cepat begini dengan memberikan penolakan dan alasan lain. Tak ingin menunjukkan kalau dia menginginkan aku. Ini menarik sekali, seperti berburu!’ bisik hati Dante.
“Kau yaki memang mau tidur?” tanya Dante lagi ingin memastikan untuk terakhir kalinya.
CUP!
“Aaaakkhhh….”
__ADS_1