PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 139. KEHANGATAN


__ADS_3

‘Apalagi saat kau benar-benar bisa menahan diri, kau bermain dibibirku tapi kau tidak menyentuh yang lainnya ah….aku membuatku semakin ingin.’ bisik hati Bella yang kini susah payah untuk menahans emua perasaan dihatinya. Dia memang merasa bahagia karena Dante memberinya ciuman yang sangat hangat dan berbeda dari sebelumnya. Bahkan tadi Dante membiarkannya membalas ciumannya, beberapa ******* dan gerakan indra pengecap Dante didalam rongga mulut Bella benar-benar sangat manis dan hangat seperti dipenuhi cinta dan kasih sayang.


“Lalu kau mau membalas tanganku yang menyakiti bibir dan pipimu?” tawaran yang tadi sudah  ditawarkan Dante kembali disodorkannya sambil meletakkan tangan Bella diwajahnya.


“Tidak Tuan Dante. Terimakasih ya sudah menciumku. Aku tidak berniat membalasmu.” Bella bicara sambil menggelengkan kepalanya.


“Lalu apa yang kau sukai?” Dante bertanya balik pada Bella masih saling menatap.


“Kau yakin ingin tahu apa yang aku sukai?”


“Hem….” hanya deheman yang diberikan pria itu tanpa menunggu lama. “Hei kau mau apa?” dia terhenyak kaget karena Bella tidak bicara apapun tapi melakukannya dengan tindakan.


“Bisakah kau memangkuku? Ini yang aku sukai.” Bella sudah ada diatas pangkuan Dante.


“Dibawah sini? Kau menyuruhku memangku mu sambil duduk selonjoran dibawah sini?”


“Iya.” Bella menganggukkan kepalanya. ‘Wah dia benar-benar mewujudkan keinginanku yang kedua? Wah….wah kalau di Indonesia aku pasti sudah menyangka kalau dia ini kesambet. Hihihi tapi aku senang sekali jarang-jarang bisa begini, kapan lagi dia mau mewujudkan keinginanku seperti jin dalam botol.’ gumamnya dihati. Dante duduk dikursi dan bersandar membiarkan wanita yang sedang bermanja-manja itu duduk dipangkuannya dengan tubuhnya yang polos bersandar ditubuh Dante.


Kakinya menekuk dan tubuh mereka sangat rapat, “Kau senang begini?” suara bariton itu terdengar lirih dan menyejukkan telinga Bella membuatnya kembali tersenyum dengan mata terpejam.


“Hangat!” ucapnya sambil merapatkan tubuhnya mencari kehangatan. Dia bicara tanpa menatap Dante, benar-benar menikmati waktu yang bergulir.


“Kalau kau sudah merasa hangat dan tenang, jangan lagi bicara buruk tentang istriku.” setelah mereka saling diam hampir sepuluh menit, suara bariton itu terdengar sambil memeluk Bella.


“Kau masih mau membahas soal ini?” tanya Bella mendongakkan kepalanya menatap Dante.


Dante mengangukkan kepalanya. “Aku tidak ingin kau bicara buruk lagi tentang istriku, tidak sekarang, besok ataupun lain waktu.”


“Ah tentu saja! Aku akan memendamnya sendiri kalaupun ada sesuatu yang buruk. Tenang saja, aku tidak akan bilang-bilang padamu.” tak ingin memperpanjang masalah Bella bicara sekenanya saja.


“Hei ka…..!”


“Biarkan aku bersandar dulu sebentar Tuan Dante. Kalau kau ingin marah padaku dikumpulkan saja dulu ya baru nanti kau bisa limpahkan semuanya.”ucapnya lirih. Kepala Dante memiring menatap Bella.


‘Melihatmu begini aku jadi tidak bisa bicara apapun. Kau seperti kucing peliharaan yang begitu manja pada majikannya dan lihatlah bagaimana dirimu. Begitu nyaman berada dalam dekapanku dengan tubuh polosmu. Kau membuat aku semakin sulit Belinda!’

__ADS_1


‘Bagaimana jika aku tidak mau melepaskanmu nanti? Bagaimana jika aku memiliki keinginan untuk mendapatkanmu lebih dari ini?’ hati Dante berdecak, dia bingung tidak tahu harus melakukan apa untuk Bella tapi yang pasti perasaannya saat ini benar-benar dijungkir balikkan setiap kali bersama Bella. Walaupun dia marah tetap saja Dante akan terus kembali memanjakan Bella, sesuatu yang membuatnya semakin kesal pada dirinya sendiri.


‘Kenapa aku tidak bisa tegas padamu? Seharusnya kalau aku mengatakan aku tidak menyukaimu, aku harus benar-ebnar menghindarimu! Tapi apa yang kulakukan? Aku malah menginginkanmu lebih dan memberikan kecupan liar dan ganas seperti itu. Padahal aku tidak pernah melakukan itu pada istriku.’ Dante tersenyum simpul masih belum tahu bagaimana mengontrol dirinya.


“Kau tidak akan meinggalkan aku sendiri disini kan?” tanya Bella yang membuat dante kembali memeluknya semakin erat.


“Kau mau aku disini?” Dante bertanya alih-alih menjawab pertanyaan Bella.


“Kalau kau bisa disini bersamaku aku sangat senang sekali. Karena rasanya hangat bila kau ada disini. Sama seperti saat kita masih ada di Jakarta. Aku nyaman sekali saat ada didalam dekapanmu. Haaa…..mau ku jangan pergi.” Bella mendongak.


“Kau menatapku begitu? Mau emnatakan apalagi hem?”


“Aku?” Bella mengulum senyumnya.


“Apa yang ada dipikiranmu? Sampai kau melihatku begitu Belinda Alexandra?”


“Tuan Dante! Aku belum pernah menginginkan seseorang seperti aku menginginkanmu. Banyak orang memintaku menjadi simpanan mereka dan mereka berjanji akan memnuhi semua kebutuhanku tapi aku menolak mereka semua.” jawab Bella dan menatap Dante dengan mata indahnya yang mengerjap.


“Lalu?” Dante membalikkan pertanyaan sambil tersenyum lalu membuang wajahnya. “Kau masih ingat seribu lelakimu itu?” tanya Dante sarkas.


“Apa kau pikir aku akan lupa begitu saja?” Dante menghembuskan napasnya.


“Awww…..sakit….sakit….! Perih! Tuan Dante.” Bella meringis kesakitan.


“Kau pikir disini masih bersih? Seribu laki-laki sudah pernah masuk kedalam sini.” ucap Dante sinis.


“Termasuk kau juga sudah kan? Apa kau lupa kita melakukannya sampai pagi?”


Dante kembali mencubit. “Awww….jangan dicubit begitu. Aku kan tidak bilang kalau diriku ini bersih! Tapi aku sudah memulai pembicaraan denganmu. Lagipula kau juga sudah masuk kedalam sana. Kenapa kau marah padaku?”


“Apa yang ingin kau katakan?” Dante bicara sambil menarik tangannya dan melihatnya kemudian dia mendengus menunjukkan tangannya pada Bella. “Basah, bersihkan.”


“Kau memasukkannya kesana, ya basahlah.” ujar Bella.


“Itu berarti kau ingin, iyakan?” Dante menjawab ucapan Bella.

__ADS_1


“Memang!” Bella justru menantang.


“Kau!” Dante melotot menatap Bella.


“Sudah jelas aku menginginkanmu. Dari awal kau sudah tahu kalau aku menginginkanmu. Tapi aku masih bertanya dan memasukkan tanganmu kesana, ya basahlaj.” Bella bicara sambil memegang tangan Dante lalu memasukkan satu persatu jari Dante kedalam mulutnya.


“Beginikan maksudmu membersihkannya?” Bella mengutarakan pernyataan langsung dihadapan Dante ******* semua jari jemari pria itu.


“Kau yakin ini sudah bersih? Justru disini air liurmu yang tersisa.” ucap Dante protes lagi.


“Lalu aku harus membersihkan pakai apa?” Bella mengerucutkan bibirnya.


“Tentu saja pakai air. Masa begitu saja kau tidak tahu. Dasar!”


“Aku tidak punya air disini.” jawab Bella polos.


Tiiiitttt…….


“Huuuu…….Tuan Dante ada apa ini? Kita masuk kedalam lagi, kita turun kelantai paling bawah? Kita ada dimana ini?” Bella ketakutan langsung mengalungkan tangannya dileher pria itu dan memeluknya erat-erat.


“Kau takut?” tanya Dante yang masih duduk ditempat yang sama ketika tempat yang mereka duduki menuju kelantai bawahnya lagi agak jauh jaraknya dari permukaan.


“Kita sudah berhenti?”


“Bangun!” perintah Dante.


“Aku bangun?” Bella bertanya tapi Dante tidak menjawab hanya menatapnya saja.


“Iya…..iya…..aku bangun.” Bella pun tidak mengulangi pertanyaannya lagi, dia melepaskan kedua tangannya dari leher Dante lalu berdiri menjauh dari pria itu. Lalu Dante pun berdiri tegak dan berjalan.


“Kau mau kemana?” tanya Bella ketika Dante sudah berjalan menuju pintu tapi pria itu tidak menjawab. Hanya membuka pintu dan melangkah masuk.


“Tuan Dante tunggu aku!” pinta Bella berjalan cepat mengejar pria itu.


 

__ADS_1


__ADS_2