
“Kau sudah mengatakan padaku tadi kalau dia sedang tidur, kenapa kau mengulanginya?” Dante mengeryitkan dahinya menahan tawa. ‘Ha ha ha pasti kau tidak berani mengungkapkan perasaanmu padanya iyakan Barack? Ah….dasar kau! Sebenarnya inti kalimatmu itu adalah ‘iya’ saja yang pertama sedangkan kalimat lainnya adalah sandi darimu untuk menutupi,’ gumam hati Dante yang menari kesimpulan dari kalimat yang diucapkan oleh Barack.
“Dia tidak tidur berhari-hari Dante! Dia hanya tidur dipunggungku ketika aku menggendongnya. Kami tidak berhenti berjalan karena kami masih ingin tetap hidup!”
“Sepertinya kau sangat mesra sekali dengannya!” ujar Dante menggoda Barack.
“Setidaknya kondisi kami lebih baik daripada kau Dante! Aku benar-benar ingin menjaganya seperti berlian!”
“Berikan aku informasinya dan apa yang kau butuhkan sekarang?”
Hati Dante terbawa suasana jadi kepikiran Bella sehingga dia ingin mempersingkat percakapan mereka.
“Akan kukirimkan padamu koordinat dimana aku berada. Tolong jemput aku disana!”
“Baiklah! Tanpa kau beri koordinar pun aku sudah tahu, aku akan mengirim orang kesana segera,
“Jangan kirim teman-teman kita! Mereka tidak lepas dari pengawasan Jeff Amadeo! Lebih baik kirimkan anak buahmu yang tidak dikenali!”
“Hem...Kirimkan koordinatmu dan aku akan mengirim orang kesana.”
“Kami tidak bisa berlama-lama disini Dante! Mungkin dua jam cukup untuk menjemputku?”
“Aku mengerti!”
Barack memutuskan panggilan dan memasukkan ponselnya ke saku celananya. Mata Sarah terbuka lalu menatap pria itu, “Kau sudah selesai menelepon?”
“Kau menguping pembicaraanku?” tanya Barack balik. ‘Aku tahu kau dari tadi pura-pura tidur dan menguping pembicaraanku.’
“Aku tidak sengaja mendengar suaramu bicara jadi aku bangun.” jawab Sarah.
“Kau memang sengaja mengupingku! Tidurlah sebentar lagi akan ada jemputan untuk kita dan semua ini akan berakhir. Aku sudah mendapatkan informasi yang ingin aku ketahui. Kita akan pergi dari sini!” ucap Barack sambil membenarkan selimut ditubuh Sarah.
“Tadi aku dengar kau bilang kau menyukaiku dan kau akan menjagaku?”
Barack tidak merespon ucapan Sarah, dia hanya diam dan membenarkan selimut gadis itu, merapikan bantalnya lalu menyandarkan tubuhnya dibantalan dibelakangnya. Sarah sangat penasara pada pria itu.
“Kenapa kau tidak menjawabku?” Sarah kembali betranya sambil menatap Barack.
“Tidurlah sebelum waktu penjemputan. Kau sudah lama tidak tidur ditempat tidur bukan?”
__ADS_1
“Aku tidak masalah, aku tidak kelelahan juga kok! Kau sudah menjagaku dengan baik selama di hutan bahkan itu menjadi kenangan terindah untukku!” celoteh Sarah sambil melirik Barack dan tersenyum padanya tapi Barack tidak menanggapi ucapan Sarah.
“Kau juga mengatakan pada temanmu kalau kau akan menjagaku seperti menjaga berlian! Terimakasih untuk kata-kata itu!” Sarah melemparkan senyum termanisnya.
“Dengarkan aku ya, aku mengatakan akan menjagamu bukan berarti aku akan menjadi milikmu! Dan bukan berarti kau menjadi milikku!”
“Jadi maksudmu aku tidak boleh jatuh cinta padamu?” tanya Sarah dengan tatapan lurus pada Barack.
“Iya! Tidak ada cinta diantara kita. Kau, aku, kita hanya terikat karena aku harus menjagamu! Dan aku melakukan itu.” ucap Barack ketus.
“Kalau kondisiku sudah aman, apa kau tetap tidak akan mencintaiku?”
Barack tersenyum tipis, “Aku sudah banyak bercerita padamu kalau aku ini seorang petualang. Aku tidak bisa berlabuh pada satu hati. Lagian kau masih kecil, aku mengatakan begitu pada temanku karena aku menganggapmu sebagai adikku! Jadi jangan pernah berpikir macam-macam!”
“Tapi aku menyukaimu!” dengan jujur Sarah mengatakan perasaannya pada pria itu. Membuat pria itu sedikit bergetar, matanya menatap Sarah dengan tatapan tak percaya.
“Tidur kataku! Kau masih punya waktu untuk istirahat setelah kita aman.”
“Tunggu dulu! Kalau nanti aku sudah besar dan aku sudah cantik, apa kau menyukaiku? Kau bilang usia dua puluh lima tahun kan? Sekarang usiaku lima belas tahun, speuluh tahun lagi aku akan jadi cantik. Apa kau mau melihatku?” Sarah bertanya dengan penuh harap.
“Ha ha ha ha!” Barack tertawa terbahak-bahak menanggapinya, “Kau ingin menyerahkan dirimu padaku sepuluh tahun lagi?”
“Iya, aku akan menyerahkan diriku! Aku tidak pernah melihat laki-laki sebaik dirimu, kau menjagaku dengan baik. Lihatlah sampai kakimu terluka tapi kau tidak mempedulikannya. Kau melindungiku! Tubuhmu terkena peluru kau juga tidak peduli! Kau benar-benar melindungiku dari ornag-orang itu. Aku bertanya padamu karena aku ingin selalu bersamamu walaupun kau tidak pernah melihatku sebagai wanita!” ucap Sarah.
“Jangan berpikir macam-macam!” jelas Barack lagi yang sekarang sudah berdiri dan ingin menjauh dari Sarah.
“Aku janji tidak akan bicara yang macam-macam lagi. Duduklah disini, kakimu pasti sakit!”
“Aku merasa risih dengan semua ucapanmu!” kata Barack/
“Aku tidak akan bicara macam-macam lagi kalau begitu,” balas Sarah.
“Kalau begitu sebaiknya kau diam saja, jangan menggangguku lagi.”
“Iya,” Sarah mengangguk, “Tapi tetaplah disini, biar aku periksa lukamu ya.”
“Aku tidak apa-apa. Aku menyuruhmu tidur bukan menyuruh tanganmu untuk memegang tubuhku dan memeriksa lukaku!” jelas Barack lagi menatap lurus pada Sarah.
“Baiklah.” Sarah mengangguk dan langsung menyandarkan tubuhnya di bantal.
__ADS_1
“Tidurlah Sarah! Bukan memandangku!” ucap Barack yang membuat Sarah tersenyum.
“Ada yang lucu? Kenapa senyum-senyum dan menahan tawa begitu?”
“Tidak ada!” Sarah kembali menahan senyumnya ketika tatapan mata Barack bertautan dengannya membuat pria itu tampak bingung. “Aku bersyukur seklai Bella mengirimmu, kau menjagaku. Aku akan menceritakan ini pada Bella! Dan aku akan mengatakan pada Bella kalau aku menyukaimu.”
“Ceritalah apapun yang kau mau. Setelah sampai ke tempat Dante nanti, aku akan menyerahkanmu pada Dante! Dan disana kau akan bertemu dengan saudaramu,” celoteh Barack melirik Sarah.
“Maksudmu Bella?”
“Ehm…..” Barack mengangguk.
“Terimakasih karena kau akan membawaku bertemu dengan Bella! Aku akan cerita pada Bella dan aku akan mengutarakan perasaanku padamu kepadanya.”
Barack merasa gemas, dia gunakan tangannya menutup mata Sarah, “Tidurlah!”
“Iya…..ssshhhh”
“Apa ada yang sakit?” mendengar suara Sarah yang meringis, Barack kembali menatapnya.
“Aku tidak apa-apa, hanya punggungku saja yang agak sakit. Mungkin karena bekas jatuh kemarin itu, waktu orang-orang itu mengejar kita.”
“Biar aku memijatnya.”
“Eh tidak apa-apa!” Sarah menggelengkan kepalanya.
“Berbaliklah!” ujar Barack. Sarah patuh lalu membalikkan badannya, “Coba aku lihat!” Barack ingin memeriksa punggung Sarah tapi….
“Aku bilang tidak apa-apa!” kata Sarah tapi Barack tidak mendengarkan. Dia menarik sedikit baju belakang Sarah dan membuka sedikit bagian celana Sarah sehingga terlihatlah pinggang bawahnya yang agak memar terasa sakit.
“Ini memar! Kenapa kau tidak bilang padaku kalau sakitnya sampai seperti ini?”
“Awww…...sakit!”
“Pasti sakitlah, ini memarnya biru dan agak bengkak. Harusnya kau bilang padaku!” Barack kembali menghembuskan napasnya lalu emngambil tasnya dan melihat obat apa yang ada disana.
“Kau mau pakaikan aku apa?”
“Sofell! Untuk menghindari nyamuk, ini agak licin jadi bisa dipakai untuk memijat sedikit!”
__ADS_1