PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 145. OLAHRAGA TEMPAT TIDUR


__ADS_3

“Olahraga tempat tidur. Kau mau?” tanya Dante.


“Ha? Olahraga tempat tidur?” tak perlu ditanya bagaimana wajah Bella ketika mengucapkan kata-kata itu. Matanya pun bebrinar-binar, bibirnya melengkung keatas dan wajahnya sumringah memandang Dante.


“Hem….!” pria itu menganggukkan kepalanya.


“Tuan Dante! Kau serius? Mau olahraga tempat tidur?”


“Kau mau tidak?” Dante menawarkan lagi.


“Tentu saja mau! Tak perlu kau tanya aku pasti mau lah! Aku mau pake banget malah!” kata terakhir diucapkan Bella sambil memekik tinggi. Hari ini memang hari keberuntungannya, berturut-turut dia mendapatkan keberuntungan dari Dante. Habis makan langsung olahraga tempat tidur. Di part ini Auhtor senyum sendiri nih nulis ceritanya, biar pembaca tambah semangat ya kasih vote.


“Kau bersemangat sekali?” Dante mengeryitkan dahinya dengan wajah coonya dan jangan harap ada senyum ektika Dante mengomentari Bella.


“Ya jelas dong semangat! Aku semangat sekali mau olahraga karena aku sudah makan banyak dan aku tidak sabar. Karena ini hal yang paling aku tunggu-tunggu.” jawab Bella polos.


“Ikuti aku!” ucap Dante membalikkan badannya dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku, lalu dia berjalan pelan.


“Apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu untuk mengikutiku tapi kau malah merangkul lenganku.” ujar Dante saat menyadari Bella merangkul lengannya dan menyandarkan kepalanya dilengan pria itu.


‘Haaa….wanita kecil ini! Sssshhhh……..apa yang sudah kupikirkan sih sampai menawarkannya itu ya? Huh sebaiknya aku pikirkan lagi soal ini. Pikiranku lagi lagi tidak sinkron dengan bibirku! Kalau terlalu sering seperti ini aku bisa kelepasan dengannya. Fuhhh! Aku tidak bisa mengundang bahaya, tubuhnya sudah jadi candu buatku akan semakin sulit bagiku nantinya.’ bisik hati Dante yang sedang protes pada dirinya sendiri.


Dia menginginkan Bella tapi disisi lain dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya dan menginginkannya lagi dan lagi. Dia tahu seperti apa reaksi tubuhnya setiap kali bersama wanita itu.


“Bukankah kita mau olahraga tempat tidur? Bermanja-manja sedikit kan tidak masalah.’ ucap Bella.


Dante tidak menjawab, dia hanya berjalan tanpa mempedulikan Bella yang menempel dilengannya. Tidak ada satu katapun yang bisa dipikirkannya, dia sibuk menyalahkan dirinya yang salah ucap, sedangkan Bella pikirannya sudah kemana-mana.


‘Duh, aku sudah bersih belum ya? Tadi kan aku sakit perut sejak pagi. Aku tidak pakai wangi-wangian! Bakal jadi masalah tidak ya untuknya? Servis macam mana yang aku harus lakukan padanya? Hem….aku harus mulai dari mana ya? Dari bibirnya atau aku harus menghisap yang bawah dulu supaya membuatnya enak?’ segala macam servis sudah dipikirkan oleh Bella. Pikirannya sudah melanglang buana mencoba membayangkan tipe seperti apa Dante. Agresifkah? Lembutkah? Atau tipe yang dominan?’ Bella masih belum mengambil keputusan karena saat mereka melakukannya tempo hari dia terlalu menikmati dan tidak terlalu memperhatikannya.

__ADS_1


Mereka tiba didepan sebuah pintu dan Dante membukanya. Sekejap mata Bella terpesona melihat ruangan didepannya. “Waah...ini kamar kita malam ini?” tanya Bella. ‘Huh, aku grogi.’ gumam hatinya.


“Kau suka?” tanya Dante melipat kedua tangan didepan tubuhnya ketika melihat Bella sudah berlari dan melepaskan rangkulan tangannya. Wanita itu menjelajah ke seluruh sudut kamar mulai dari kamar mandi, ruang pakaian, mencoba tempat tidurnya. Dia terlihat sangat senang, dia bahkan tidak tahu kalau dialah wanita pertama yang dibawa Dante ke kamar itu. Tatiana pun tidak tahu menahu tentang bunker dan kamar tidur mewah disana. Keberuntungan lain yang didapat Bella hari ini.


“Bagaimana cara memasukkan barang-barang ini kesini?” Bella mengajukan pertanyaan bodoh yang tidak dijawab oleh Dante. Dia hanya terkekeh melihat tingkah lucu wanita itu, dia senang melihat Bella menyukai kamar mewah itu tapi dia pun tidak mengatakan kalau Bella adalah wanita pertama yang memasuki kamar itu.


‘Aku tidak pernah seperti ini kalau melayani seseorang, aku selalu bisa memberikan kepuasan pada mereka tapi kenapa dengan Dante aku selalu berdegup kencang? Seperti saat pertama kali aku melakukannya dengan ayah anakku?’ pikiran Bella mengembara merasakan kenangan masa lalu, perasaan yang sama seperti dulu kembali timbul saat bersama Dante.


“Ayo! Aku sudah siap. Kapan mau mulai melakukannya? Sekarang? Mau gaya apa? Kau ingin aku melepaskan bathrobe dulu?”


‘Aku tidak boleh grogi didepan laki-laki ini. Yang penting bagaimana bisa membuatnya memasukkan itu dan membuatnya puas lalu dia akan kembali lagi padaku. Aku harus membuatnya terikat dan terus menerus menginginkanku sampai dia tidak menginginkan istrinya yang jahat itu!’ ucap hati Bella lagi.


“Kenapa kau bersemangat sekali?”


“Tentu saja! Ini kan yang sudah aku tunggu-tunggu!” jawab Bella bersemangat.


“Kau yakin mau mulai sekarang?” tanya Dante membungkukkan badannya sehingga jarak wajahnya dengan wajah Bella hanya beberapa sentimeter.


‘Oh...harum sekali napasnya bikin aku meleleh!’ celetuk Bella dalam hatinya.


“Ya kita mulai sekarang saja!” jawabnya dengan tenang.


“Baiklah!” Dante pun berdiri tega lagi memandang Bella, untuk beberapa saat dia tidak mengucapkan sepatah katapun.


‘Apa yang dilihatnya? Owwwhhhh jantungku jangan meledak ya! Aku masih pengen enak-enak sama dia!’ sebenarnya Bella semakin tidak tenang melihat tatapan mata Dante, dia seperti terhipnotis dan tanpa dia sadari tubuhnya sudah merespon, dia merasakan bagian tubuhnya mulai berkedut dan basah.


“Rebahan!” perintah Dante.


Bella gelagapan lalu melakukan perintah Dante. “Angkat kedua kakimu keatas!” ucap Dante lagi.

__ADS_1


“Apa?” bahkan Bella sampai meninggikan suaranya merespon Dante.


“Angkat kedua kakimu keatas dan bentuk seperti jam sembilan dengan tubuhmu.”


“Langsung menyerang dibawah?” tanya Bella spontan sambil mengeryitkan dahinya tapi Dante tidak menjawab. Dia hanya menatap saja seperti biasa.


“Baiklah. Aku lakukan.” Bella mengangkat kedua kakinya lurus keatas sehingga membentuk seperti huruf L.


Plaaakkk!


Tangan Dante memukul bagian belakangnya. “Kenapa kau tersenyum begitu?” tanya Dante lalu duduk disamping Bella.


“Kau baru saja memukul bagian belakangku. Dua kembar dibelakangku! Pukulanmu rasanya enak.” ujar Bella dengan suara lembut nan manja mendayu-dayu.


“Bodoh!”


“Maksudnya?”


“Mana ada pukulan yang enak Belinda!”


“Tapi pukulanmu membuatku bergairah.” ucap Bella karena tadi Dante memukul bagian belakangnya agak kencang. Dibalik bathrobenya, dia tidak mengenakan apapun.


“Sudahlah jangan bicara macam-macam, kau sudah siap untuk olahraganya?”


“Sudah! Tapi kenapa kau masih berpakaian lengkap?”


“Naikkan kedua tanganmu lurus keatas.”


“Apa?” teriak Bella.

__ADS_1


__ADS_2