
Dua jam berlalu dengan keduanya merasakan pelepasan bersama, Dante mengecup kening Bella penuh sayang. “Bersihkan tubuhmu dan berpakaianlah. Aku harus segera pergi dari sini! Kau tunggu dikamar, aku akan memasak makanan untukmu tapi bukan aku yang mengantarkan makananmu. Tidak apa-apa kan?” tanya Dante dengan senyum diwajahnya.
“Iya. Terimakasih Dante, untuk memberinya padaku.”
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka karena Dante sudah pergi meninggalkan Bella yang masih polos terbaring kelelahan. Dante pergi melalui kamar Alex agar tidak mencurigakan siapapun. “Huhh” Dante menghembuskan napas kasar ketika dia meninggalkan kamar Bella dan menutup pintu dengan senyum puas dan bahagia tergambar diwajahnya.
“Belinda! Semakin hari kau semakin menggoda, semakin hari kau membuatku semakin sakit dan semakin aku melihatmu semakin besar keinginanku untuk terus bersamamu! Kau menjaga Alex dengan baik saat malam dia tertidur walaupun kau tidak bisa menjaganya di pagi hari, tapi aku akui kau sudah berhasil merebut hati Alex. Dia selalu menanyakanmu, dia selalu ingin bersamamu ketika aku membawanya pergi. Belinda! Apakah kau bahagia aku sudah memberi apa yang kau minta? Ahhhh aku benar-benar gila! Kenapa aku malah melakukan itu? Untung saja Alex tidak terbangun, pintu yang terhubung kekamarnya tadi lupa ku tutup.’
‘Maafkan aku Tatiana, aku lepas kendali! Aku menginginkannya lebih dari apapun dan aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi. Kenapa aku merasakan sesuatu yang berbeda saat melakukannya dengan Bella? Rasa itu tidak kudapatkan saat melakukannya dengan Tatiana! Ahhhh Bella….kau membuatku tergila-gila dan semakin menginginkanmu. Ha ha ha ini sungguh gila! Kami melakukannya dirumahku, untung saja tadi Alex tidak terbangun dengan suara-suara kami.’ Dante senyum sendiri mengingat dua jam yang dia habiskan bergumul bersama Bella. ‘Apa yang sedang dia lakukan sekarang?’
Dante berjalan menuju dapur. “Selamat pagi Tuan!”
“Selamat pagi juga!” Dante tersenyum.
“Apakah anda mau memasak Tuan?”
“Ya. Tolong siapkan bahan-bahannya.”
“Sama seperti kemarin Tuan?”
“Iya!” jawab Dante menganggukkan kepala. “Makanan kemarin kesukaan anakku.”
“Baik,Tuan.”
‘Kali ini aku akan memastikan makanan ini akan sampai padamu! Hari ini aku akan pergi mencari temanku, aku harap kau tidak membuat masalah selama aku pergi! Siang ini aku harus kembali ke Indonesia, semoga hadiah yang kuberikan tadi bisa membuatmu bahagia.’ bisik hati Dante sambil menyiapkan makanan seperti yang biasa dia lakukan ketika dia tidak bekerja di pagi hari.
“Kenapa kau memperhatikanku?” tanya Dante pada kokinya yang berada disampingnya membantu.
__ADS_1
“Tuan, sangat profesional! Masakan anda selalu enak. Apa anda memiliki bakat terpendam sebagai koki?”
Sejenak Dante memandang jauh, tatapannya kembali ke masa lalu dan melihat pada orang disampingnya. “Dulu semasa aku kecil aku sangat dekat dengan adik dari istriku Tatiana! Anak itu tak terlalu suka makan, dia sangat pemilih soal makanan. Tapi dia mencoba makananku dan dia suka sekali ketika aku memasak ini. Karena itu aku belajar memasak sebagai tanda terimakasihku pada keluarga Tatiana.”
“Oh begitu. Jadi sejak kecil anda sudah dekat dengan keluarga nyonya Tatiana?”
“Ya begitulah. Aku memang tinggal dirumahnya.” jawab Dante menengok ke koki temannya bicara.
“Anda tinggal disana Tuan? Berarti cinta anda dengan nyonya Tatiana bukan setelah anda dewasa?” koki itu pun bertanya lagi dan anehnya Dante sedang ingin mengobrol dan sikapnya berbeda dari biasanya. Apa karena sudah dapat vitamin pagi dari Bella? Ha ha ha…..Dante oh Dante sudah dapat mood booster pula ya!
“Kedua orangtuaku meninggal dunia dalam kecelakaan!” Dante berhenti sejenak memindahkan makanannya ke piring yang sudah tersedia. “Keluarga Tatiana yang menampungku, mereka adalah teman ayahku dan mereka membantuku untuk bangkit dari keterpurukan. Disanalah aku mengenal lebih banyak tentang keluarganya.”
“Selama tinggal disana anda belajar memasak?”
“Bukan. Aku memang sudah bisa memasak sejak usia tujuh tahun. Sejak aku tinggal dirumah Tatiana aku sering kebingungan ingin melakukan apa dan mulai sering bergabung dengan orang didapur. Aku mencoba membuat masakan, keluarga mereka mencoba dan adiknya sangat suka. Ayah Tatiana sangat senang! Setelah ayah Tatiana mengijinkan, sejak saat itulah aku mulai berlatih memasak.”
“Wah anda luar biasa sekali Tuan. Tapi apa anda tidak punya keinginan menjadi koki terkenal?”
“Baik Tuan.”
“Dan yang tiga piring ini tolong letakkan dimeja makan. Kau paham?”
“Baik, Tuan.” setelah koki menganggukkan kepala, Dante pun pergi meninggalkan dapur dengan perasaan sedikit kurang nyaman.
‘Kenapa aku malah menceritakan semua itu padanya? Entahlah, tapi rasanya sedikit bebanku hilang.’ Kenangan masa lalu yang masih membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali dia mengingatnya.
“Dante kau sudah ada didapur sepagi ini?”
__ADS_1
“Hai sayang. Kau sudah bangun?” tanya Dante yang masih ada didapur saat Tatiana datang menghampirinya. Lalu dia memberikan ciuman selamat pagi.
“Kalau aku tidak ada didapur maka yang kau lihat ini hantuku.”
“Kau mengerikan sekali! Tapi hantumu juga tidak apa-apa karena aku tetap akan mencintaimu.” kata Dante tersenyum dan tetap bersikap tenang seperti biasanya.
“Apa kau memasak makanan yang sama seperi kemarin?” Tatiana bertanya lagi.
“Hem….aku harus membangunkan Alex! Matahari sudah terbit, kau mau membantuku?”
“Tentu saja!” jawab Tatiana melirik Dante. “Mungkin lebih baik kau duluan ke kamar Alex, aku mau menyiapkan susu untuknya.” Tatiana berusaha membujuk Dante agar segera pergi dari dapur.
“Baiklah kalau begitu. Aku bangunkan Alex dulu ya.”
Tatiana menganggukkan kepala dan melambaikan tangan pada Dante yang sudah melangkah pergi. Ekspresi wajahnya berubah setelah Dante pergi. “Baguslah kau segera pergi dari dapur Dante! Kau pikir aku bodoh tidak tahu apa yang kau rencanakan Dante? Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu pada wanita itu, aku tidak tahu apa kalian punya hubungan atau tidak tapi sejak kehadirannya aku merasa kau memperlakukannya berbeda, kau lebih perhatian padanya dibanding pelayan lain.” ucap Ttaiana sambil mendekati koki.
Hatinya semakin geram, sejak awal dia memang sudah tidak menyukai Bella karena dia terlalu cantik, alasan itu pula yang digunakannya untuk mengancam Bella beberapa kali tanpa sepengetahuan suaminya. Rasa iri dan cemburulah yang memberinya rasa takut jika suaminya akan berpaling pada wanita itu. Oh Tatiana jika saja kau tahu apa yang terjadi pagi tadi, betapa hancurnya hatimu. Kau selalu berpura-pura baik didepan Dante ternyata dia pun melakukan hal yang sama padamu. Saat bersamamu dia malah membayangkan wajah Bella.
“Selamat pagi nyonya.”
“Berikan piring itu padaku!”
PRAAANNNNGGG!!!
Dengan sengaja Tatiana memukul piring itu sebelum koki sempat memberikannya pada Tatiana. Sehingga piring jatuh kelantai dan pecah berkeping-keping bersama dengan makanan yang berserakan. Tatapan matanya sinis dan bibirnya mencibir. ‘Kau pikir bisa makan masakan suamiku? Huh!
“Kirimkan makanan lain untuk wanita itu! Katakan pada suamiku kalau piringnya pecah karena kau tidak hati-hati membawanya! Kau paham?” ujar Tatiana dengan intonasi tinggi membuat koki itu terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Baik, nyonya.” jawab koki itu menundukkan kepala. Dia sama sekali tidak menyangka tindakan majikannya itu akan sebrutal itu.
“Ingat ya! Jangan katakan apapun pada suamiku!” dengus Tatiana.