
“Vince, ada sesuatu diantara kami yang mengikat kami semua. Aku dan semua teman-temanku.” Dante bicara tapi pandangan matanya kearah jendela dan tangannya terus mengetuk-ngetuk jam tangannya seperti memberikan sebuah isyarat pada pria yang sedang diajaknya bicara. Dante memang tidak melihat keberadaan teman-temannya tapi hati mereka tertaut.
Dia tidak bisa lagi membuka diri dan membiarkan teman-temannya mendengar apa yang ada dipikirannya. Tapi walaupun tidak bisa menghubungkan dirinya dengan chip yang ada dijantung Barack, namun Dante kini mencoba menggunakan isntingnya memikirkan apa yang dibutuhkan oleh teman-temannya saat ini.
“Aku rasa begitu! Tapi kalau kita bisa menolong Barack maka kita berdua bisa menyelamatkan dunia ini dari para manusia android yang mematikan itu.” Dante diam sejenak setelah selesai bicara.
“Saya tidak mengerti tuan.” ucap Vince.
Akhirnya Dante pun menceritakan apa yang pernah diceritakan Barack padanya. Semua rahasia Jeff Amadeo pun diceritakan oleh Dante.
“Inilah yang saya cari dengan Anthony, Tuan.” ucap Vince setelah Dante bercerita.
“Hmmm!” Dante mengangguk, “Dan Anthony sudah memberitahuku. Aku pikir mereka tidak akan memulainya sekarang tapi sepertinya mereka melakukan uji coba untuk menghancurkanku! Kau tahu apa maksudku kan?” Dante membalikkan pertanyaan pada Vince.
“Saya mengerti Tuan! Anda ingin menggagalkan rencana mereka bukan?”
“Ya tapi dengan cara yang ekstrim.” ujar Dante tegas dan dingin sambil menatap wajah pria yang kini duduk berhadapan sebagai mitranya itu.
“Seberapa ekstrim cara yang akan kita lakukan,Tuan?” tanya Vince yang merasa tertantang.
“Kau yakin mau mendengarnya?”
Dante justru membalikkan perkataannya. Seakan meminta orang yang dihadapannya untuk berkomitmen sebelum tahu apa yang akan diucapkannya. Pilihan yang cukup berat untuk Vince karena dia tahu Dante mengatakan ini dengan maksud tertentu.
“Tentu saja Tuan! Apapun akan saya lakukan jika itu memang untuk keuntungan kita.” jawabnya.
“Kita bisa menyelamatkan keadaan disini dengan mengorbankan nyawamu! Dan juga mengorbankan nyawaku. Apa kau sanggup melakukan itu?” tanya Dante.
“Tentu saja saya sanggup! Saya sanggup melakukan apapun selama itu bisa menyelamatkan dunia.”
“Aku ingin memberikan kesempatan ini untuk Anthony untuk menghancurkan semua milik mereka di Amerika Selatan!” kata Dante menjelaskan.
__ADS_1
“Dan pesawat ini akan kuarahkan ke mansion Jeff di Slovenia. Itulah tempat yang akan kita datangi. Mungkin ini bisa membantu karena aku yakin kalau dia disana sedang mengalami kesulitan!” Dante menjelaskan rencananya kepada Vince.
“Tapi kalau anda mengarahkan pesawat ini ke mansionnya. Apa anda tidak menghancurkan tim dan teman anda yang lainnya Tuan?”
“Tim ku? Maksudmu membunuh Barack?”
“Iya.” Vince mengangguk.
“Tidak! Aku hanya ingin membuat kegaduhan diluar mansion untuk mengalihkan perhatian mereka. Saat itu terjadi mereka semua akan menuju ke pesawat ini dan itulah kesempatan Barack untuk melakukan sesuatu disana.” kata Dante lagi.
‘Aku tahu sedikit waktu bisa merubah yang terjadi disana! Aku tahu Barack masih hidup sampai sekarang karena detak jantungnya masih bisa aku monitor dari chipku. Detak jantungnya masih stabil, dan aku tahu jika saat ini Barack sedang dalam kesulitan.’ ujar hati Dante yang sangat yakin dengan instingnya kalau saat ini Barack pasti dihadang anak buah Jeff.
“Saya siap Tuan! Kalau saya memang harus mengorbankan nyawaku.” Vince tersenyum setelah bicara. “Saya tidak mempunyai siapapun yang menunggu kepulangan saya. Tidak sama dengan teman anda Barack ada seseorang yang dicintainya. Begitu juga temanku, pria itu sudah banyak menolong saya. Jadi saya ingin membalas budinya, menjaga wanita pujaan hatinya yang tak pernah disadarinya tetap hidup.” kata Vince.
“Anthony maksudmu?”
“Iya tuan.” Vince mengangguk.
“Hah! Anak itu mana mengerti tentang cinta? Yang dia tahu hanya bercinta bersama anak presiden itu saja.” celetuk Dante sekenanya membuat Vince tertawa. Dia tidak pernah tahu kalau Dante pun bisa bercanda seperti itu dengannya.
“Baik Tuan!” ucap Vince meskipun dengan sedikit berat hati tapi dia sudah berdiri untuk menghampiri si pramugari meskipun tangannya dicegah oleh Dante untuk bergerak.
“Kopiku habis Vince! Aku mau kau membawakan kopi ke meja ini.” Dante mengetuk-ngetuk mejanya yang membuat Vince mengarahkan pandangannya kesana dan tersenyum sambil mengangguk.
“Saya mengerti Tuan. Saya akan membawakan kopi untuk anda dan minuman untuk saya. Mungkin akhir hidup ini harus diakhiri dengan minuman kesukaan, bukankah itu hal yang baik dilakukan?”
Dante tersenyum kecut tapi dia tidak mengatakan apapun meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan bayangan-bayangan orang-orang yang dicintainya yang saat ini berada di bunker.
“Lakukan apa yang harus kau lakukan! Aku akan ke ruang pilot untuk memberitahunya.” kata Dante. Dante pun pergi menuju ke ruang pilot sedangkan Vince menuju ketempat pramugari berada.
Tok tok tok
__ADS_1
Dante mengetuk pintu ruang pilot. “Iya tuan?” co pilot sudah membuka pintu dan tersenyum.
“Aku minta maad! Sepertinya kalian tidak bisa mendaratkan pesawat ini ditempat yang seharusnya.”
“Lalu dimana ami harus mendaratkannya, Tuan?” tanya pilot yang menoleh pada Dante.
“Disini!” Dante menunjukkan ponselnya dan mereka berdua pun melihat jelas lokasi yang dituju.
“Di halaman itu tuan? Sepertinya itu bukan sebuah landasan dan ukurannya terlalu kecil.” ucap pilot.
“Aku tahu….ini adalah misi bunuh diri dan aku yakin kalian pasti paham!” kata Dante lagi.
“Oh begitu. Ya sudahlah kalau begitu perintah Tuan.”
“Kalian menerimanya?” Dante bertanya lagi sambil memicingkan matanya.
”Tentu saja Tuan! Ini adalah perintah anda yang harus kami patuhi.” jawab keduanya tegas.
“Hmmm! Kalian tidak akan menipuku bukan?” tanya Dante lagi memastikan. Pria itu terus saja menguji dua orang dihadapannya karena dia ingin memastikan mereka adalah manusia biasa.
“Tentu saja! Kami sangat yakin dengan apa yang kami katakan dan kami tidak akan menipu Tuan.”
“Kami sudah bekerja cukup lama pada Tuan. Kami adalah orang-orang yang loyal pada anda.”
Kedua orang itu membuat Dante mengangguk-anggukkan kepalanya dan merasa puas.
“Wow, bagus sekali! Aku senang dengan ucapan kalian berdua. Aku minta maaf karena aku membuat kalian melakukan misi bunuh diri ini.” Dante pun menyunggingkan senyum ketika dia mengatakan itu. Tatapan matanya fokus pada pilot dan co-pilot secara bergantian.
“Apa yang harus saya lakukan Tuan? Saya akan memastikan misi anda ini berhasil dan bunuh diri kita tidak akan sia-sia Tuan.” kata pilot itu lagi. Kata-katanya sangat manis didengar.
“Ya, turunkan pesawatnya disini dan biarkan pesawat meledak disana karena aku menginginkan mereka terganggu. Dan pastikan kau mendaratkannya dekat rumah itu, kau paham?” tanya Dante.
__ADS_1
“Saya paham Tuan.” jawab pilot. “Kami berdua akan memastikan tidak akan meleset satu inchi pun dari tempat yang ingin tuan tuju.”
“Bagus! Lakukan apa yang aku minta! Jangan buat mansionnya runtuh.” perintah Dante lagi.