
“Kau memberiku nama baru? Kenapa?” tanya Bella heran.
“Apa kau tidak suka nama itu?”
“Aku suka tapi bisakah kau berikan aku nama belakang yang keren sedikit? Nama belakang yang aku suka, agak cantik sikit?”
“Nama belakang?” Dante melirik wanita disampingnya.
“Aku suka nonton film. Ada film kesukaanku dan pemeran wanita sangat cantik dan cute tapi ceritanya menyedihkan. Aku ingin memiliki nama Alexa Devanio. Bisakah?”
“Jadi kau tidak mau aku memberimu nama Bella Sebastian?”
“Tidak masalah, Sebastian juga keren! Tapi sekali saja aku ingin punya nama seperti itu. Aku ingin seperti tokoh utama di film kesukaanku, sosok yang imut, pintar, mandiri, penyayang, perhatian ahh….so sweet juga.”
‘Ha? Imut? Ok bolehlah kau memang imut. Pintar? Pintar darimananya? Mandiri katamu? Puffff potong sayur saja tidak bisa! Penyayang? Ha ha ha ha….perhatian? Yang ada kau minta perhatian terus! Ah….wanita ini tidak bisa melihat kenyataan.’ gumam Dante dalam hatinya.
“Kau tau kalau kau itu seperti bocah kecil.” celetuk dante.
“Biar saja yang penting aku imut dan sweet! He he he…..apa salah ya?” Bella mencibir.
“Kau akan mengasuh anakku, bersikaplah dewasa mulai dari sekarang. Jangan bertingkah seperti anak kecil lagi, aku tidak akan bisa memberimu perhatian lagi setelah dirumahku! Ingat itu!” ujar Dante dengan suara dingin menunjukkan wibanya.
“Baiklah, aku akan berusaha. Tapi, kurasa lebih baik nama baruku tidak memakai Sebastian, apa istrimu nanti tidak curiga?” Bella menundukkan kepala tak lagi banyak bicara.
Dante langsung menghubungi kembali anak buahnya.
“Ada apalagi Dante?”
“Ganti saja namanya jadi Bella Alexia Devanio!”
“Ha? Nama apalagi itu?”
__ADS_1
“Lakukan saja! Dia yang mau nama itu.”
“Baiklah Dante. Bikin pusing saja.”
Klik….
Dante langsung mematikan sambungan teleponnya.
“Terimakasih ya sudah memberiku nama itu. Keren! Top markotop!” ujar Bella girang.
“Apalagi itu top markotop? Siapa nama aslimu?”
“Hemm…..Belinda Alexandra Amani.”
“Apa kau tidak menyukai nama itu?”
“Aku sangat suka. Nama itu pemberian ibuku tapi saat aku bekerja untuk madam Wendy dia bilang aku harus mengganti namaku karena namaku tidak keren untuk pekerjaan itu dan dia memberiku nama Bella.” jawab Bella jujur. “Katanya lebih keren dan mudah diingat pelanggan.”
“Iya. Dia menyuruhku mencari nama, aku tidak tahu nama apa yang harus dipilij.” jawab Bela sesuai dengan kenyataan kala itu. Saat dia menceritakan semuanya ada senyum diwajahnya. Lalu dia mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
“Apa yang kau lihat? Sudah malam dan gelap tidak ada yang bisa dilihat diluar.” kata Dante.
“Aku suka melihat langit, aku suka melihat dunia dimalam hari karena aku bisa melihat bintang dan bulan, mereka terlihat indah dilangit. Kalau tinggal di kota kita tidak bisa melihatnya dengan jelas padahal aku ingin melihatnya.” jawab Bella jujur.
“Kenapa kau membuka sunroof?” tanya Bella saat melihat sunroof mobil terbuka.
“Kau bilang ingin melihat bintang dan bulan.”
“Ya kau benar Tuan. Memandang langit begini lebih menyenangkan.”
“Posisikan sandaran kursimu tiduran.”
__ADS_1
“Oh iya huhhh…..langitnya indah. Lihat bulannya bersinar indah. Ada beberapa bintang juga.” Bella semakin bersemangat dan dia merubah posisinya tiduran sambil menatap langit.
“Butuh teleskop untuk melihatnya lebih jelas atau saat langit benar-benar cerah.” ujar dante tersenyum melihat tingkah menggemaskan Bella.
“Langitnya cantik sekali walaupun tak banyak bintang tapi aku suka.” ujar Bella melirik Dante sekejap.
‘Wanita ini sudah dewasa tapi dia masih saja bertingkah seperti anak kecil. Mungkin hari ini adalah hari terakhir aku bisa memanjakannya, setelah sampai dirumah tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuknya. Aku akan bersikap seolah tidak mengenalnya. Aku juga tidak mau memberinya harapan karena aku sudah punya istri tapi aku tidak akan pernah melepaskannya, dia akan tinggal bersamaku selamanya sebagai pengasuh anakku.’ gumam Dante karena itulah dia memanjakan Bella selama perjalanan ini.
Toh hanya permintaan sederhana saja yang diinginkan wanita itu seperti memberinya nama yang menurutnya keren dan melihat langit, semuanya dipenuhi Dante.
“Apa istrimu galak?” tanya Bella tiba-tiba.
“Dia wanita terbaik didunia.” jawab dante singkat.
“Hem….pantas kau tidak tergoda dengan wanita manapun.” celetuk Bella tapi dia tidak memandang pria itu, mereka sama-sama fokus pada pandangan masing-masing. ‘Tapi kenapa aku tidak yakin ya kalau istrinya lebih baik dariku? Aisss…..Bella apa yang kau pikirkan? Apa kau benar-benar mau jadi pelakor? Bukankah dia sudah bilang istrinya wanita terbaik? Tapi instingku justru mengatakan sebaliknya. Ah….biar saja yang penting dia tidak akan menggangguku, atau aku akan rebut suaminya.’
“Ingat, jangan pernah mengatakan apapun tentang dirimu pada istriku.”
“Iya aku mengerti. Aku masih ingat semuanya termasuk jadwal untuk putramu. Namanya Alex bukan? Wah kami punya nama yang sama, ya?”
“Hem...ya nama sama. Jangan melakukan kesalahan apapun padanya.”
“Iya aku mengerti.” jawaban terakhir Bella sekaligus percakapan terakhir mereka karena setelah itu keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
‘Aku jadi penasaran seperti apa wanita yang dia bilang wanita terbaik didunia! Mereka pasti sangat senang saling memiliki. Wanita itu pasti merasa beruntung punya suami yang perhatian dan tidak tergoda dengan wanita lain! Aku benar-benar kagum pada pria ini, kau memiliki kemampuan untuk melakukan apapun diluar sana tapi kau benar-benar memiliki kontrol diri yang bagus. Ah sudahlah aku harus tahu diri, kau bukan milikku! Lagipula hubungan diantara kita tidak jelas, aku memang penasaran padamu tapi aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu kecuali istrimu atau kau menggangguku. He he he jangan salahkan aku kalau jadi pelakor, tapi aku bukan sebarang pelakor! Aku pelakor istimewa.’ Bella senyum-senyum sendirian.
“Ah akhirnya kau tidur juga, sayangku.” ujar Dante yang melirik Bella sambil tersenyum setelah sekitar setengah jam berkendara. ‘Belinda Alexandra Amani! Sebulan setelah kau melarikan diri dari villaku, aku berusaha melupakanmu dan tidak mencarimu. Aku berusaha untuk hidup tenang bersama bayi laki-laki dirumah kami dan berusaha menyenangkan hatiku dengan senyum putraku dan Tatiana. Kadang saat aku bermain dengan bayi itu, entah kenapa aku selalu merasakan perasaan tidak tenang dan selalu merindukanmu. Kau tinggal bersamaku selama sepuluh bulan dan setelah melahirkan aku harus membuangmu dan membiarkan pelayan dan dokter mengatakan kalau bayimu meninggal saat dilahirkan.” Dante menghela napas panjang.
“Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku, aku selalu merindukanmu bahkan aku selalu tidur sendiri dikamar yang dulu kau tempati hanya untuk mencari keberadaanmu, tidur dikamar itu membuatku mengingatmu dan masih merasakan aroma tubuhmu dan napasmu saat lelap dipelukanku. Aku berusaha mencari keberadaanmu setelah aku merasa semakin tersiksa merindukanmu, tapi aku tidak mendapatkan informasi apapun sehingga aku terlambat. Andai saja aku menyimpanmu di villa maka kondisimi tidak akan seperti ini tapi bagaimana dengan Tatiana? Dia tidak mungkin rela jika aku harus berbagi denganmu! Dia tidak akan membiarkanku membagi perasaan cintaku denganmu!” celetuk dante lagi yang kembali pada rencana awalnya dan wajahnya kembali menengang.
Dante fokus pada jalanan tapi pikirannya berkecamuk, dia takut jika Bella gagal jadi pengasuh anaknya dan dia tidak punya jalan lain untuk mempertahankannya tetap tinggal dirumahnya tanpa ada konflik dengan istrinya. Dante melirik kaca spion, ‘Syukurlah tidak ada yang menguntit, semuanya aman. Semoga kami aman sampai dirumah.’ bisiknya lalu semakin melajukan kendaraanya hingga setengah jam kemudian mereka sampai dibandara.
__ADS_1