PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 106. PENGGANGGU KECIL


__ADS_3

Tempat tinggalnya adalah sebuah kota kecil yang indah dan damai, semua orang mengenal Dante karena dia adalah orang yang sangat disegani terutama di kota itu, bukan karena kekayaannya tapi karena kekuasaannya. Selain itu dia juga banyak berkontribusi pada kota kecil tempat tinggalnya, dia membangun banyak fasilitas umum untuk kenyamanan warga disana.


Perlahan Dante turun dari mobilnya karena parkiran yang sepi jadi tidak terlalu banyak orang yang memperhatikannya. “Nah, aku menemukanmu!” ujar Dante ketika dia melihat pria yang ingin ditemuinya sudah berdiri didepan IGD. “Aku akan melawannya dengan jantan seperti pria dengan pria! Aku tidak mungkin melakukan ini dirumahku. Kau akan terima balasanku. Cuih!” Dante membulatkan tekadnya lagi dan berjalan semakin mendekat.


Tapi saat itu tiba-tiba seorang pria lain muncul menyapa pria yang sedang berdiri didepan IGD. Dante mengeryitkan keningnya, “Siapa lagi itu?” tanya Dante dihatinya dan berhenti sejenak seolah memperbaiki kancing jaketnya tapi matanya masih menatap pria itu dengan tatapan tak suka dan dia memutuskan untuk masuk kedalam rumah sakit dan bersembunyi ditempat yang dia maish bisa mendengar obrolan keduanya.


“Selamat pagi kapten.”


“Sudah kukatakan berulang kali padamu jangan memanggilku seperti itu dimuka umum!”


“Maafkan saya kapten! Aku keceplosan.” ucap teman pria itu merasa bersalah.


“Anthony! Kau bisa memanggilku dengan namaku saja.”


“Baiklah Anthony!”


“Nah begitu lebih baik. Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Anthony.


“Jenderal sudah memanggilmu. Dia ingin mengetahui semua pekerjaan yang sudah kau lakukan dan sejauh mana perkembangan penyelidikanmu.”


“Kau tahu kan kalau penyamaranku baru berjalan tiga bulan, belum banyak yang bisa kudapatkan. Tapi ada beberapa hal yang sudah aku masukkan kedalam data ini. Kau bisa membukanya nanti.”

__ADS_1


“Baiklah akan kusampaikan ini pada Jenderal. Mungkinkah kita menangkap Dante? Dan sindikatnya dalam waktu dekat?” tanya pria itu lagi.


“Belum. Aku sedang mencari tahu soal itu. Aku sudah mendapatkan seseorang yang mungkin bisa membantuku mendapatkan apa yang aku mau.” ujar Anthony penuh keyakinan.


“Maksudmu?”


“Wanita itu! Ada yang mencurigakan dengan wanita itu, wanita yang baru saja dibawa olehnya masuk ke rumah itu. Aku akan menjadikannya alat untuk mendapatkan semua informasi yang kubutuhkan. Secepatnya kita akan meringkus mereka.” kata Anthony menjelaskan pada temannya.


“Semoga saja Anthony! Sindikat mereka sangat besar dan semakin berkembang. Semakin hari semakin meresahkan pemerintah.” lawan bicara Anthony mengomentari ucapan Anthony.


“Hmmmmm!”


“Aku salut padamu Anthony! Kau berhasil masuk kedalam rumah itu dan bertahan tiga bulan didalam sana, itu bukan hal yang mudah dilakukan. Kau ingat teman kita Vince, dia bahkan berakhir dalam ruang penyiksaan dirumah itu. Dante sangat tidak berperasaan, dia sangat kejam dan tak mengenal belas kasihan pada siapapun.” tambahnya lagi sambil menepuk lengan Anthony.


“Hem….tentu saja!” jawab temannya itu.


“Apa kau juga peduli dengan keberhasilanku dalam menyelesaikan misi ini?” Anthony kembali bertanya sambil ekor matanya melirik tajam pada temannya.


“Tentu saja!”


“Kalau memang kau peduli, kenapa kau masih ada disini, hu? Cepat pergi! Kota ini hanyalah kota kecil sangat mencurigakan kalau kita terlalu banyak bicara.” Anthony menegur lagi tapi pandangannya kali ini tidak tertuju pada temannya. Anthony melipat satu tangan didada dan satu tangan mengelus dagunya, sambil mencoba melemparkan pandangan kearah lain untuk melihat jika ada yang melihat mereka disana.

__ADS_1


“Ya, kau benar juga. Aku mengerti Anthony. Baiklah, aku permisi dulu.”


Teman Anthony berpamitan, dan disaat bersamaan Dante yang tadi masuk kerumah sakit dan keluar melalui sisi lain untuk menghindari kecurigaan. Dante langsung pergi menjauh dan kembali masuk kedalam mobilnya.


“Huh! Untung saja Anthony tidak mengenali mobil ini saat aku lewat tadi. Untung saja aku membeli mobil ini kemarin dan aku rasa dia tidak tahu siapa yang ada didalam mobil ini. Tapi aku harus segera mengurus masalah ini dulu.”


Ada senyummuncul diwajah Dante, dia merasa cukup senang dengan mobil barunya tapi kemudian rahangnya mengeras dan meringis, “Kau harus bekerja sekarang babe! Maaf aku tidak bisa memilikimu dalam jangka panjang karena setelah ini kau akan kukirim ke bengkel untuk dihancurkan!” ucap Dante pada mobil barunya lalu dia bersiap untuk membawa mobilnya keluar dari lingkungan rumah sakit. Dante hanya melajukan mobilnya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


Dia menghentikan mobilnya disisi jalan tak jauh dari rumah sakit dan menunggu seseorang yang sudah menjadi incarannya. Sambil matanya mengawasi dari kaca spion untuk mengetahui incarannya. “Untung saja jalan keluar dari rumah sakit tidak lagi melewati IGD jadi aku tidak terlihat mencolok saat aku mengikutimu.”


Saat dia sudah melihat incarannya mendekat, Dante pun menyalakan mobilnya lalu melaju pelan mengikuti motor yang sudah melaju didepannya. Motor itu tidak melaju terlalu cepat, hanya dibatas kecepatan normal karena mereka ada dijalan pedesaan yang tidak terlalu besar dan ini adalah keuntungan bagi Dante.


“Berani sekali kalian menganggu hidupku! Kalian sangat berani menginginkan seseorang untuk mengintai kehidupanku dengan keluargaku dirumahku? Apa kalian sudah bosan hidup, ha?” Dante kembali bergumam dan dia menyetel musik dimobilnya sambil tatapannya fokus kedepan memperhatikan sepeda motor yang melaju didepannya.


Tempat tinggal Dante bukan dikota besar, hanyalah kota kecil dan lokasi rumahnya berada ditempat terpencil. Tempat itu begitu damai di pedesaan jauh dari hiruk pikuk kota, daerah dekat pengunungan dengan udara segar dan dingin dan cenderung dihindari oleh masyarakat kota kecuali mereka ingin berlibur. Mansion Dante berada diatas tanah seluas dua puluh hektar yang dikelilingi oleh gerbang dengan teknologi keamanan tinggi.


Rumahnya sangat besar dengan desain Italia dan modern berada tak jauh dari perbukitan, letak rumah yang lumayan jauh dari pintu gerbang hingga harus menaiki buggy untuk sampai ke pintu utama rumah. Dilengkapi dengan fasilitas lengkap termasuk landasan pesawat untuk jet pribadinya. Dibagian belakang ada perkebunan anggur, danau kecil dengan jembatan kecil diatasnya. Ruang parkir kendaraan yang menampung puluhan mobil mewah milik Dante.


Rumah itu juga memiliki ruang bawah tanah khusus untuk persembunyian disaat genting, ruang penyimpanan senjata dan ruang penyiksaan. Ruang penyiksaan berada diruang bawah tanah yang ada dipaviliun dekat bukit, semua bangunan rumah itu memiliki jalur penghubung bawah tanah sehingga memudahkan Dante dan bergerak dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Rumah itu sangat besar dan luas, menampung banyak pengawal dan pelayan.


Jalur menuju tempat tinggal Dante harus melalui jalur curam, sekitar dua jam dari pekotaan sehingga Dante lebih sering menggunakan helikopter untuk mencapai kota. Tapi tidak semua orang sanggup menyewa helikopter atau membeli helikopter sehingga banyak orang yang melalui jalur darat yang berliku dan berkelok. Tapi jalur itu sangat sepi sekali, jarang orang melaluinya walaupun itu satu-satunya jalur menuju ke kota.

__ADS_1


Memang penduduk sekitar tempat tinggal Dante memang sedikit dan rata-rata tidak konsumtif sehingga mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja pada Dante. Semua penduduk disana memang bekerja pada Dante dan setia berbakti padanya. Jalur jalan itu jarang dilewati orang kecuali oleh orang-orang Dante yang membawa kebutuhan bahan makanan, rumah sakit untuk pemenuhan kebutuhan medis dan inilah yang membuat Dante tersenyum sunrigah.


“Aku tidak akan pernah membiarkan pengganggu kecil seperti kalian bisa tertawa meskipun hanyak sejenak.” ucap Dante yang tiba-tiba melajukan mobilnya kencang lalu menabrak motor didepannya. Dia menabraknya setelah samapi dikelokan yang sepi, lalu dia turun dari mobilnya menatap pria itu.


__ADS_2