
“Kita hanya rugi sedikit, hanya sepuluh juta dolar!” Dante menambahkan lagi, “Bukan sesuatu yang harus dipikirkan berlebihan. Hal biasa yang terjadi dalam bisnis ini.”
“Jadi kita tidak akan mempermasalahkannya?” ucapan Hans mengambil kesimpulan.
“Hmm! Aku sudah membahas ini dengan Nick! Aku juga sudah memberitahunya apa yang harus dilakukan sekarang. Jadi aku rasa kita tidak perlu memperbesar masalah ini lagi.” kalimat terakhir Dante artinya sudah berakhir dan tak perlu lagi pusing tentang gudang senjata itu.
Dante tidak mau membicarakan sesuatu yang tidak penting untuknya.
“Dante, bukankah ini akan terlihat bahwa kita lemah?” Eddie sedikit khawatir sehingga dia memberanikan diri bicara setelah Hans menutup mulut.
“Apa maksudmu?” Dante menatap Eddie meminta penjelasan.
“Kita sudah tahu kalau gudang kita dibakar orang tapi kita malah tidak melakukan perlawanan apapun Dante! Bukankah orang yang menyerang akan tahu kalau kau sedang menghindari sesuatu?”
“Memangnya mereka mau apa kalau mereka tahu?” Dante tersenyum masam, “Biarkan saja kalau banyak yang tahu karena aku memang ingin mereka tahu!”
“Aku tidak mengerti maksudmu dan jalan pikiranmu Dante!” Hans menggelengkan kepala.
“Dia mengambil Barack dan berdasarkan informasi yang aku dpaatkan kalau memang benar Barack hilang ingatan, berarti dia tidak ingat kita dan saat ini apapun yang dilakukan Barack pasti atas perintah si Jeff!”
“Dia berhasil memboncenga Barack karena dia sudah mencuci otaknya dan tahu tentang informasi palsu pada Barack! Ini yang dimaksud oleh Jeff bahwa dia akan membalasku dengan cara yang berbeda!” Dante tersenyum lebar. “Dia ingin menjadikan Barack sebagai tamengnya. Dia ingin membuat Barack menjadi garda terdepan untuk melawanku sendiri, dia ingin membuatku dilema. Disatu sisi aku ingin mengalahkannya tapi disisi lain ada Barack dipihaknya sehingga aku tidak bisa menyerangnya sebelum aku membunuh Barack, itu yang dia inginkan!” Dante menjelaskan pada sahabt-sahabtnya dengan santai seperti tidak ada beban dan dia tidak terlalu memikirkan hal itu.
“Lalu apa yang akan kau perbuat dengan ini Dante?” tanya Hans.
“Kita ikuti saja permainannya tapi bukan berarti kita terjun dan melakukan apa yang dia inginkan!”
“Jadi?”
“Biarkan saja dia mau melakukan apa tapi itu bukan hal yang harus aku pusingkan! Kau tahu aku hanya kehilangan sepuluh juta dolar karena gedung itu terbakar! Tapi nilai transaksi kita sekarang ini sudah diatas tiga ratus juta dolar! Sudahlah biarkan saja jangan diambil pusing lagi, itu hanya hal kecil. Selama kita sudah melakukan dengan benar maka masalah kecil seperti ini tidak akan menyusahkan.”
“Ah, jadi kau ingin dibiarkan saja dan menunjukkan pada mereka kalau semua itu hal yang biasa dan tidak menjadi masalah bagimu?”
“Hmmm!” Dante menganggukkan kepalanya.
“Yang harus kalian ketahui, Barack sangat jenius meskipun dia dalam keadaan amnesi, aku tahu dia pasti masih menggunakan otaknya!” Dante tersenyum.
“Bagaimana kalau mereka menipu Barack sampai dia benar-benar menyerangmu dan percaya pada mereka Dante?”
“Jika mereka berani melakukan itu maka aku salut pada mereka! Tapi aku tetap pada keyakinanku kalau Barack tidak seperti itu. Tunggu saja, kalian akan melihat sendiri apa yang dilakukan Barack!” Dante bersikeras dengan pemikiran dan apa yang diyakininya. “Berapa lama lagi kita sampai Hans?”
Setengah jam lagi Dante!”
__ADS_1
“Bagus!” Dante mengangguk dan tersenyum penuh makna.
“Apa yang akan kita lakukan setelah kita mendarat Dante?”
“Eddie, pergilah bantu Nick!”
“Kau menyuruhku untuk berangkat lagi ke San Marino?” Eddie membulatkan matanya.
“Hmmm…..masih cukup waktu untuk sampai disana sebelum transaksi.” ujar Dante.
“Baiklah, aku akan menyusulnya berarti aku langsung terbang lagi?”
“Ya, itu yang paling cepat!” jawab dante.
“Lalu bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan?” tanya Hans.
“Kau cukup tinggal dirumahku. Diam saja dirumahku dan amankan anakku Alex dan Sarah!”
“Oke! Berarti aku menjadi penjaga rumahmu?”
Dante tidak meladeni Hans tapi dia menatapnya lebih lekat, “Pastikan kau melihat gerakan mereka berdua! Jangan ada yang terlewatkan dan kemanapun mereka pergi kau harus menemaninya.”
“Aku mengerti Dante!” Hans menganggukkan kepala.
“Aku masih ada urusan lain. Aku juga akan berangkat lagi” jawab dante.
“Kau mau berangkat kemanalagi dante?” Hans mulai kepo.
“Yang jelas bukan ke San Marino!” Dante tersenyum tipis.
“Lalu kau mau kemana? Ini aneh sekali soalnya kalah ada transaksi besar seperti sekarang kau tidak pernah pergi kemanapun Dante! Biasanya kau memantau semuanya dan kadang kau yang datang sendiri mengurus transaksi, bukannya malah pergi sendirian!” ujar Eddie.
“Tak perlu bertanya tentang urusan pribadiku.” balas Dante.
“Urusan pribadimu?” Eddie mengulang pernyataan Dante sambil melirik Hans. “Dante apa ini berhubungan dengan Bella?”
“Iya!” Dante menganggukkan kepalanya sambil memijat keningnya.
“Kau sudah menemukan dimana Bella berada?” tanya Hans.
“Sudah!”
__ADS_1
“Wah!” ujar Hans tersenyum.
“Permisi! Maaf aku mengganggu.” Srah muncul tiba-tiba saat mereka sedang bicara. Dia datang tergopoh-gopoh mendekati Dante dan teman-temannya.
“Ada apa denganmu?” tanya Dante.
“Kalungku. Lihatlah!” ujar Sarah menunjukkan kalungnya
“Oh, menyala lagi?”
“Iya, kalung ini menyala lagi! Ini berarti kalungku….” Sarah tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena dia sudah tersenyum duluan dan senang membayangkan apa yang ada dipikirannya.
“Jangan senang dulu! Barack tidak ada bersama kamu, kita tidak menuju ketempat Barack berada.” Eddie menjawab sebelum Dante bicara lagi. Dante tersenyum puas sambil menatap Sarah.
“Maksudnya bagaimana? Jadi kita tidak akan bertemu Barack? Benarkah kita tidak bertemu Barack? Tapi ini tandanya sudah dekat, kalungku sudah berpijar lagi.” Sarah menatap mereka satu persatu dengan wajah cemberut.
“Kalau kalungmu sudah berpijar memang mau diapakan?” tanya Eddie menggodanya.
“Kita harus mencari Barack lah! Masak mau cari makan?” jawab Sarah.
“Sudah kukatakan padamu kita tidak perlu mencarinya. Kau masuklah kembali kekamar putraku!”
“Tidak mau! Aku tidak mau! Aku ingin kita mencari Barack sekarang!”
“Kau mau mencarinya kemana?”
“Aku juga tidak tahu! Tapi kalungku sudah berpijar lagi, berarti dia dekat!” jawab Sarah.
“Klaungmu berpijar itu berarti tandanya Barack berjarak kurang lebih lima ribu kilometer dari kita,” jelas Dante tak ingin menjelaskan lebih detail lagi tapi dia sudah mulai emosi melihat Sarah.
“Coba kau jelaskan Eddie!”
“Lihat aku Nona Sarah!” jawab Eddie mengambil kertas dimeja lalu dia membuat gambar lingkaran dengan satu titik ditengah.
“Ini adalah titikmu!” Eddie menunjuk titik ditengah itu dengan memberi nama Sarah.
“Lalu?”
“Lingkaran ini menunjukkan jarak masing-masing disetiap sisinya, lima ribu kilometer.” ujar Eddie.
“Lalu?” Sarah masih bingung.
__ADS_1
“Didaerah inilah kemungkinan Barack berada, lima ribu kilometer dari posisimu sekarang. Entah itu d selatan, utara aku tidak tahu!” jawab Eddie meletakkan pulpennya dan menatap Dante serius. “Apa cukup begini menjelaskannya?”
Dante mengangguk, “Kalau dia pintar harusnya dia mengerti.” balas Dante.