
‘Benarkah dia benar-benar minta maaf untuk itu? Memang apa yang dipikirkannya sampai dia berpikir bahwa aku akan mengusirnya? Apa yang dia inginkan?’ semua pertanyaan itu bergulir di kepalaDante hingga dia kehilanga kata-kata sejenak.
“Dante, jangan usir aku….” Bella pun bicara sambil merajuk ketika Dante tidak meresponnya. Bella mulai merasa resah jika dia telah membuat pria itu marah.
“Tidakkah kau mengerti kalau aku sudah mengatakan itu padamu saat di mobil? Kau akan terus menjadi ibunya Alex selamanya akan berada disini bersama Alex.” ujar Dante kembali mengingatkannya.
“Di mobil?” keningnya mengeryit seperti sedang mencoba mengingat-ingat.
“Hmmm....saat pulang dari Slovenia.”
Dante maju sambil merapikan rambut bella yang membuat hati Bella merasakan desiran yang sangat halus, mengganggu jiwanya ketika tangan itu menyentuh lembut mulai mengganggu kewarasannya.
“Ehm….maaf Dante aku tidak terlalu ingat yang itu! Karena…..” bella tidak bisa menjelaskan tapi memang dia tidak mengingat apa yang terjadi saat itu.
“Jangan bicara!” ucap Dante sambil menggerakkan tangannya dibibir Bella, “Apa kau lapar Belinda?” tanyanya lembut.
“Eeeh….” jawab Bella saat tangan Dante ditarik dari bibirnya. ‘Kenapa dia selalu mengangkat tangannya pas aku lagi keenakan? Sshhhh belaian tangannya dibibirku tadi, aduh aku mau lagi.’ bisik hati Bella yang merasa jengkel.
“Ayo kita buat sop ikannya.”
“Aku…..ehm….Dante….” dia hendak protes karena dia masih ingin merasakan sentuhan tangan pria itu.
“Kenapa kau memegang tanganku?” ujar Dante, “Kau tidak mau aku membuka kancing bajumu? Bukankah kau mau mmebuat sop ikan?”
Bella mendongak menatap Dante sesaat, “Aku…..ehm…..” dia tidak berani meneruskan kalimatnya.
“Katakan apa yang ingin kau katakan padaku! Ada apa denganmu Arimbi?”
“Dante, kau ingin melepaskan pakaianku?” akhirnya kalimat itu ditanyakan oleh Bella.
“Bukankah ini yang kau minta saat kita di kamar tadi pagi?” Dante berjalan lebih mendekat pada Bella, dia sedikit tidak mengerti dengan wanita dihadapannya itu.
‘Bukankah dia selalu suka jika aku membuka pakaiannya seperti ini? Dia justru semakin bersemangat sekali membuka pakaianku? Ada apa dengannya? Kenapa dia malah memegang tanganku dan kenapa tangannya menjadidingin begini?’ gumam Dante didalam hatinyasambil satu tangan tadi yang memegang kancing menyentuh lembut wajah wanita itu.
__ADS_1
CUP! Dante menciumnya membuat Bella terkejut tapi senang. Dante ******* bibirnya dengan lembut tapi bergairah.
‘Ah! Dia menciumku, rasanya masih sama! Harusnya aku sadar tentang ini. Rasa yang diberikannya padaku pertama kali ketika kami bertemu diruangan itu! Ketika dia menutup mataku dan dia menciumku seperti ini! Sssshhhh…..nikmat sekali! Dante….dia benar-benar menciumku padahal aku belum sempat minta padanya.’
Segala rasa tumpah dihati wanita itu ketika merasakan ciuman Dante yang bergairah. Tangannya masih memegang kancing bajunya sendiri dan satu tangan diam. Dante ******* bibirnya begitu manis dan sangat lembut, bella sangat suka!
“Apa itu cukup untuk menenangkanmu?”
“Ehm….aku…..” kalimat itu bergulir dari bibir Bella sambil tersenyum lebar dan tangannya menyenth wajah pria itu dan mengelusnya lembut,
“Ada yang ingin kau katakan lagi padaku? Kau suka ciumanku itu tadi? Atau kau lebih suka memegang wajahku seperti ini?”
“Itu yang terbaik! Aku suka….ehm….enak Dante, hihihi.”
‘Cih! Tadi dia menolak sekarang bilang enak.’ gemas sekali hati pria itu tapi dia tetap diam dan belum mengatakan apapun lagi pada Bella.
“Aku senang sekali Dante! Karena sekarang aku menemukan laki-laki pertama yang menyentuhku. Aku masih bisa merasakan sentuhanmu yang dulu Dante! Sekarang aku merasakannya lagi, masih sama seperti dulu Dante.”
“Kau suka?” tanya Dante yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bella. Wanita itu menatap Dante dan tangan pria itu memegang kedua pipi Bella. “Kau berubah! Kau baru bertemu Alex satu kali setelah kau kembali kesini tapi kau sudah seperti ini padaku.”
Bella bingung dan hanya ditanggapi oleh Dante dengan senyuman yang merekah. “Mendekatlah padaku Belinda! Aku sudah lapar. Ayo kita buat sop ikannya.”
“Ehm...Dante! Kau emnggodaku! Kau tahu ini sangat berbahaya kan?”
“Berapa berbahanya?” tanya Dante yang sudah membuka kancing kemeja Bella.
“Bagaimana kalau aku menginginkan lebih dari sekedar ciuman?”
“Contohnya?” Dante bertanya balik setelah semua kancing kemeja wanita itu dilepaskannya lalu dia melirik Bella dengan tatapan datarnya sambil kedua tangannya melepaskan kemeja yang dipakai Bella.
“Ehm….aku…...aku menginginkan yang lebih.”
“Kau gugup Belinda! Ini sama seperti kegugupanmu ketika kita bertemu pertama kali saat aku melakukan itu bersamamu pertama kali!” ujar Dante lagi sambil berbisik dan sekarang dia sudah mengecup tengkuk Bella sambil tangannya melepaskan kaitan bra wanita itu.
__ADS_1
“Ehm….Dante, apa sekarang kau yakin kalau kita tetap akan membuat sup ikannya?”
“Kenapa memangnya kau bertanya begitu?” makin pening Dante mendengar ucapan Bella. Dia sudah kelaparan dan sebagai laki-laki normal melihat tubuh Bella tentu saja membuatnya yang sudah puasa satu bulan lebih agak berat mengendalikan dirinya.
‘Susah sekali aku mau makan saja! Lama sekali harus membujuknya! Padahal setelah makan aku ingin melepas rindu di tempat tidur, apa itu sulit?’ teriak hati Dante.
“Ehm….kau jangan marah ya Dante.”
“Aku tidak marah, cepat katakan apa yang mau kau katakan padaku?”
“Begini, bagaimana kalau kita justru bukan membuat sop ikan? Ehm….maksudku setelah kau membuka semua pakaianku malah membuatmu menengok anakmu yang ada dikandunganku?”
“Menengok? Sssssh.”
“Eeeeh, kau jangan marah padaku! Iya….iya….aku fokus kita masak.”
Belum sempat Dante melanjutkan kalimatnya Bella sudah memotong. “Sssshhh….Belinda! Memangnya kau tidak lapar?” tanya Dante yang sudah tidak tahu bagaimana bicara dengan Bella lagi.
“Aku…...” Bella merasa agak khawatir salah bicara saat dia menjawab Dante, akhirnya dia hanya menggigit bibir bawahnya dan menatap pria itu.
“Apa yang kau lihat Belinda?”
“Ehm….aku melihatmu.” jawabnya.
“Fuuuhh! Belinda! Aku sudah kelaparan. Jadi jangan membuat emosiku meningkat. Ayo kita buat sop ikannya dan jangan banyak tingkah lagi atau aku akan marah.’
‘Menengok anak katanya? Cih! Aku tidak akan melakukan itu sekarang! Aku sudah kelaparan pasti keluarnya akan cepat nanti! Aku harus mengisi tenagaku dulu.’ bisiknya didalam hati sembari dia berbicara pada Bella. Pas sekali tangannya sudah membuka retsleting celana Bella. Saat dia membawa Bella dari mansion, Anthony memberikannya celana jeans panjang. Dia menyuruh Bella memakai itu dan sampai saat ini dia masih memakai celana jeans itu karena dia belum mandi.
“Turunkan.”
“Tapi kau belum melepaskan pakaianmu Dante?” Bella masih belum melakukan apapun dan mengomentari semua yang masih melekat di tubuh pria itu dari atas kebawah.
“Haruskah aku membukanya sendiri?” ujar Dante mengeryitkan dahinya.
__ADS_1