
“Setidaknya ada yang mengasuh Alex dan memandikannya.” jawab Dante.
“Tunggu! Mungkin kau bisa mengajak adiknya Bella bekerjasama. Daripada dia menangis terus memikirkan Barack lebih baik dia bermain dengan anakmu.”
Ucapan Eddie membuat Dante mengedipkan matanya, sejenak berpikir kemudian mengangguk.
“Antarkan aku padanya.”
Eddie mengangguk dan tak berlama-lama dia berjalan lebih dulu diikuti oleh Dante dan Hans dibelakang yang masih menggendong Alex.
“Kau membuat penjagaan ketat?” tanya Dante saat dia melihat ruangan didepannya ada penjaga.
“Supaya dia tidak kabur saja. Dibawah sana juga ada penjaga jadi dia tidak akan lompat dari jendela.”
Kemudian Eddie mengetuk pintu. Tok tok tok
Tanpa menunggu orang didalam kamar itu menjawab, Eddie sudah membuka pintunya duluan.
“Ada apa kalian kesini?” suara seorang wanita terdengar ketika Dante dan teman-temannya masuk.
‘Apa yang akan mereka lakukan padaku? Apa benar mereka ini adalah teman-teman Barack?’ Sarah mulai mengamati satu persatu wajah mereka.
“Kau! Aku pernah melihatmu! Kau bersama Bella!” Sarah yang duduk ditempat tidur langsung berdiri dan menatap Dante.
“Benar, aku teman Barack.”
“Mereka mengambil Barack! Tolong selamatkan Barack.” pinta Sarah dengan memohon.
“Bisakah kau tenang dulu?” ucap Dante.
“Tidak! Aku tidak bisa tenang. Aku kepikiran terus tentang Barack.” jawab Sarah sesenggukan.
“Kau kenal Bella-ku?” pertanyaan itu membuat Sarah menoleh pada suara imut itu.
“Tentu saja aku mengenalnya, aku adiknya.” jawab Sarah menatap Alex.
__ADS_1
“Bella-ku juga temanku!”
“Kau? Kau kenal Bella juga?” tanya Sarah balik.
“Iya. Bella-ku tinggal bersamaku.” jawab Alex tersenyum.
“Benarkah?” Sarah balas tersenyum pada anak itu.
“Bella-ku main piano sama aku.”
“Oh ya? Kakakku sangat suka main piano!” dan tiba-tiba tangisan Sarah pun hilang. Dia sedikit terhibur dengan adanya Alex disana. Hal itu membuat Dante dan yang lainnya pun tenang.
Sejenak mereka bertatapan sebagai respon mendengar percakapan Alex dan Sarah.
“Iya benar. Tapi sekarang Bella nggak ada.” kata Alex dengan polosnya.
“Apa? Apa maksudmu kalau Bella tidak ada?” tanya Sarah cemas lalu dia langsung menoleh pada Dante. “Apa maksudnya ini? Kau kemanakan kakakku Bella?”
“Kenapa kau diam saja? Kemana kakakku Bella?” tanya Sarah lagi karena tak ada respon dari Dante.
Alex melihat Sarah yang sudah meneteskan airmata lalu dia memberanikan diri bicara pada ayahnya. Lalu anak itu kembali menoleh menatap Sarah.
“Bella diculik!” ucap Alex polos.
“Jangan khawatirkan kakakmu. Aku sudah menyuruh orang untuk mencarinya.” Dabte buru-buru meralat ucapan anaknya, tak ingin Sarah jadi histeris.
‘Aduh Alex ini kenapa kau jadi aneh begini? Biasanya kau selalu diam dan tak pernah ikut campur urusan orang lain! Tapi kenapa sekarang kau berani menjawab dan banyak bicara?’ Perbuatan Alex itu tidak hanya membuat Dante tercengang tapi juga teman-temannya Dante.
Mereka tidak menyangka Alex yang pendiam tiba-tiba bersuara, bahkan berani mengatakan kalimat yang begitu penting itu.
“Benarkah?”
“Ehm…..bukan. Tenanglah.” Dante ingin menyanggah.
“Kalau bukan diculik katakan padaku kenapa kakakku pergi? Kau menyakitinya, iyakan?” teriak Sarah karena tak puas dengan jawaban yang diberikan Dante. Sarah langsung meminta penjelasan lebih dengan derai airmata yang semakin deras.
__ADS_1
‘Oh Tuhan! Lindungi kakakku Bella! Seumur hidupku dia selalu melindungiku dan dia selalu mendapat masalah karena aku. Jangan sampai terjadi sesuatu pada kakakku ya Tuhan!’ dalam suasana yang kalut Sarah mencoba berdoa untuk keselamatan kakaknya dengan tatapan matanya masih tak beralih dari Dante, menunggu penjelasan dari pria itu.
“Itu karena kesalahanku. Ada orang yang memanfaatkan kesalahan itu dan membawa kakakmu kabur dari rumahku.” akhirnya Dante mengarang alasaan. ‘Ah, aku ingin mengelak dan berbohong padanya tapi aku tidak sanggup! Tatapan matanya dan tangisannya membuatku teringat pada tatapan mata Bella!” gumamnya didalam hatinya. Dan sebenarnya kondisi Dante sekarang pun begitu mengkhawatirkan temannya dan ini disadari oleh Eddie.
‘Dante! Selama aku mengenalmu sebagai seorang mafia yang kuat dan pemberani! Kau tidak gentar dan tidak bisa dipaksa. Saat kau bilang tidak selamanya itu menjadi tidak! Tapi kenapa sekarang saat kau sudah mengatakan tidak, kau terkecoh dengan ucapan anakmu sehingga kau mengiyakannya? Apakah ini titik terendah dalam hidupmu? Bella, apakah dia kelemahanmu? Sehingga sisi manusiawimu tampak jelas sekarang? Kau menjaganya didalam mansion mu supaya tidak ada yang menyentuhnya tapi seseorang telah merenggutnya. Aku sangat mengkhawatirkanmu Dante!’ Eddie menganalisa dalam diam.
“Apa?” Sarah bicara membuat Eddie menoleh pada wanita itu. Sarah mengerjapkan matanya untuk menahan tangisannya.
“Sudahlah jangan jau pikirkan. Sudah kukatakan padamu jika kakakmu sedang dicari oleh temanku. Sekarang bisakah kau disini bersama putraku?” tanya Dante langsung mengalihkan pandangan pada Sarah. “Karena aku ingin mencari Barack.”
“Barack!” tiba-tiba Sarah menjadi lupa pada Bella dan pikirannya kembali pada Barack, membuatnya kembali menangis. “Tolong selamatkan Barack.” akhirnya kalimat itu keluar dari bibirnya.
"Orang-orang itu mau membunuh kamu, mereka tak henti mengejar, aku takut sekali dan Barack sekarang terluka. Mereka tidak memberikan kami waktu istirahat.” Sarah justru menjadi histeris ketika membicarakan tentang Barack.
Ketakutannya lebih besar ketimbang tadi saat membicarakan tentang Bella. Dia bahkan menangis sesenggukan dengan tubuh bergetar membayangkan keadaan Barack. Sarah oleng untung saja Eddie langsung menangkap tubuhnya dan mendudukkannya di kursi meja rias.
“Duduklah.”
“Jangan khawatir. Kau tidak mengenal Barack. Kau cukup mengkhawatirkan dirimu saja ya. Barack akan baik-baik saja, aku akan mencarinya. Temanku itu adalah orang yang kuat.”
“Tapi---mereka memukuli Barack, aku lihat sendiri bagaimana mereka menyakiti Barack. Mereka memukul kepalanya, aku takut dia kenapa-napa.” Sarah kembali mengingat kejadian didepan kamar tempat mereka menginap. Sarah tidak bisa diberitahu dan tetap saja menangis histeris membat Dante menghela napas kasar.
“Lihatlah jam tanganku ini!” Dante mendekat dan menunjukkan pada Sarah.
“Ada apa dengan jam tanganmu?”
“Yang dua titik ini adalah koordinat Barack dan sati koordinat ini milik Nick! Ini kami, aku dan teman-temanku bergabung menjadi tiga titik. Kami bertiga ada ditempat yang sama. Jadi Barack amsih hidup selama titik merah ini masih menyala. Itu tandanya dia masih hidup.” Dante menjelaskan panjang lebar pada Sarah untuk menenangkannya.
“Benarkah? Kenapa Barack tidak cerita padaku soal ini?” Sarah masih mencoba memahami.
“Karena itu bukan sesuatu yang harus diceritakan pada orang lain.” jawab Dante lagi.
“Jadi, selama ini aku tahu kalau kami masih hidup tapi kau tidak membantu kami?”
“Karena Barack tidak mau aku membantunya karena itulah aku tidak datang membantunya.”
__ADS_1
“Kau sudah salah! Salah!” Sarah mengelengkan kepalanya, “Prediksimu itu salah. Bukan karena Barack tidak mau dibantu!”