
“Iya. Aku mengerti daddy. Tapi kenapa liftnya cepat sekali?”
“Memang lift ini di desain untuk bergerak cepat dan ini lift darurat, Alex!“ ujar Dante menjelaskan. Karena jika terjadi sesuatu dirumahnya maka lift itu akan bergerak cepat sehingga tidak akan hancur sebelum sampai ditempat tujuan.
“Oh jadi begitu. Hebat sekali, daddy.”
Ting!
Pintu lift terbuka dan Alex menengok keluar lift. Rasa penasarannya tinggi ingin tahu tempat seperti apa itu. “Oh….jadi ini rumah, daddy?”
“Ya, lebih tepatnya disebut bunker dan tempat ini untuk keadaan darurat saja. Jadi tidak ada boleh tahu tentang tempat ini Alex.”
“Oooohhh jadi ini tempat rahasianya. Kenapa bagus sekali daddy?”
“Karena ini untuk tempat tinggalmu seandainya kau tinggal disini untuk waktu yang lama kau akan nyaman dan tidak merasa bosan.”jawab Dante meskipun sebenarnya dia malas untuk menjawab banyak pertanyaan anaknya dan mulai merasa capek bicara. Tapi anaknya banyak bertanya dan ingin tahu semuanya, Alex tidak akan merasa puas kalau semua yang ditanyanya belum terjawab.
Dante mengalihkan pandangannya pada wajah Belinda. Dia tidak lagi meladeni pertanyaan Alex yang tak ada habisnya dan anak itupun asik sendiri berjalan kesana kemari memperhatikan semuanya. Sedangkan Sarah mengejar bocah itu, takut kalau dia terjatuh atau menyentuh sesuatu yang berbahaya.
“Maafkan aku Dante. Aku benar-benar gugup. Aku belum pernah memakai pakaian seperti ini sebelumnya. Apa aku terlihat seperti pengantin sungguhan?” tanya Belinda.
“Jangan menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu padaku Belinda.”
“Apa kau tidak bisa bicara lembut padaku? Mungkin kau bisa memanggilku sayang, atau….”
“Jangan bermimpi Belinda. Ayo cepat.”
Dante merasa sangat berat untuk mengatakan kata-kata manis semacam itu. Bukan karena dia tidak mau tetapi karena merasa gengsi dan malu.
Sangat jauh berbeda saat bersama Tatiana, hubungannya dulu mengalir begitu saja seperti air. Mudah bagi Dante mengutarakan semua isi hatinya tapi entah mengapa bersama Belinda ini sangat berbeda.
Bahkan untuk mengijinkan Belinda menyentuh tubuhnya saja Dante harus berpikir berkali-kali. Apalagi jika sekarang harus memanggilnya dengan sebutan sayang. Dia mungkin butuh latihan selama berbulan-bulan untuk bisa melakukannya. Sedangkan Belinda orangnya sangat romantis membuatnya mencibir pada pria disampingnya itu yang tidak ada romantis-romantisnya.
‘Aku sudah resmi jadi istrinya tapi dia tetap saja sama, memperlakukanku seperti simpanannya ya?’ celetuk Belinda sekenanya. Dia tidak merasakan perbedaan dengan Dante yang dikenalnya dulu, hanya saja sekarang Dante sudah mau menggandeng tangannya dan ini sudah lebih baik dibandingkan dulu.
‘Dia sudah mau menyentuhku seperti ini saja aku bersyukur! Bagaimanapun aku adalah ibu anaknya! Dan Dante adalah pria pertamaku dan itu cukup bagiku.’
Belinda kembali menyadarkan dirinya untuk tidak meminta berlebihan pada Dante. Sambil melangkah disamping pria itu dia pun kembali tersenyum. Apalagi yang ingin dia pikirkan sekarang dia sudah menikah dengan Dante dan bisa menemani anaknya Alex.
__ADS_1
“Apa yang akan kita lakukan disini Dante?” tanya Belinda.
“Pesta. Tepatnya pesta pernikahan kita! Untuk sementara cukup begini saja.”
Belinda menatap Dante dengan heran, bagaimana mau berpesta ditempat ini tidak ada apa-apa? Mereka bahkan tidak mengundang siapapun untuk berpesta. Belinda mengerutkan alisnya menatap Dante.
“Apa yang ada dalam pikiranmu sampai kau menatapku seperti itu?”
“Kita mau berpesta? Tapi tidak ada siapapun disini selain kita, Dante?”
Dante mengangguk. “Ya ini adalah hari pernikahan kita maukah kau berdansa denganku?”
“Serius? Kau mengajakku berdansa, Dante?”
“Apa kau keberatan berdansa denganku Belinda?”
“Tentu saja tidak. Aku mau kok.” ucap Belinda yang memang sudah menunggu momen seperti ini. Sesuatu yang manis bersama pria yang ada disampingnya.
“Ayo kita berdansa.” ucap Dante.
“Musiknya mana? Tidak mungkin berdansa tanpa musik bukan?”
“Alex.” satu panggilan dan lirikan mata membuat anak itu yang tadi berlari-lari di kolam renang langsung menghampiri Dante.
“Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Belinda. Dia mommy-mu sekarang. Mau kah kau memberikan kami hadiah terbaik darimu?” tanya Dante.
“Kau mau hadiah apa daddy?” tanya Alex yang tidak paham.
“Hadiah yang luar biasa darimu Alex. Maukah kau memainkan piano untuk kami? Mengiringi kami berdansa? Kau adalah pianis terbaik yang sangat pintar Alex.”
Pujian yang diberikan Dante membuat Alex membusungkan dadanya dengan bangga. Dia merasa senang dan tersenyum menganggukkan kepalanya. “Oke daddy.” lalu dia beranjak menuju ke piano dan duduk. Tak lama Alex memainkan piano dengan raut wajah serius.
“Kau sudah dengar lagunya kan?”
“Iya. Ayo kita kita berdansa.”
Alex memainkan lagu romantis yang mengiringi dua orang itu berdansa. Ini pertama kalinya Belinda berdansa dengan seorang pria dan tidak disangka pria itu adalah suaminya sendiri. Sebelumnya dia memang suka berdansa tapi bukan dansa yang seperti ini. Dia biasa menari di kelab malam dan bukan dansa romantis seperti ini.
Tapi malam ini Belinda merasa senang dan spesial. ‘Hanya ada satu pandangan mata yang melihatku. Hanya ada satu pria bersamaku dan dia adalah suamiku Dante Sebastian! Dia adalah hadiah terbaik didalam hidupku setelah aku terjatuh kedalam kegelapan! Dia adalah pria yang paling aku cintai. Tuhan, apakah aku salah mencintai pria yang dulunya adalah suami orang? Apakah aku kejam karena aku membuat pria ini meninggalkan istrinya?’
__ADS_1
‘Tapi aku memang sangat menginginkannya. Dante juga sudah mengambil sesuatu yang berharga dari hidupku! Kesucianku dan anakku! Aku menginginkan sesuatu yang berharga darinya yaitu kesetiaan dan tanggung jawabnya seumur hidupnya.’ bisik hati Belinda yang merasa tidak enak dengan Tatiana tapi sejujurnya dia juga ingin menikmati kebersamaannya dengan Dante dan anak-anak mereka nanti.
“Apa yang kau pikirkan Belinda?”
“Hemmm….kadang aku merasa bingung Dante. Satu sisi aku ingin terus bersamamu tapi kadanga hatiku sulit ditebak. Kadang aku merasa bersalah karena telah merebutmu dari istrimu.”
“Hahahahaha…..” tawa Dante pun pecah mendengar perkataan Belinda.
Tawa lepas itu menggetarkan hati Belinda. Dia menatap Dante yang tersenyum sangat manis padanya. Ini pertama kalinya dia melihat pria itu tersenyum bahagia. Belinda memikirkan itu sesaat setelah melihat senyum dan tawa lepas Dante.
“Apa yang membuatmu tertawa lepas seperti itu?”
“Tidak ada.”
“Dante! Kau bohong kan? Kau pasti ingin menggodaku dan menertawaiku karena sikapku bukan?”
“Oh ya? Begitu menurutmu?”
“Iya. Apa aku salah jika berpikir seperti itu?”
“Kalau kau memang berpikir seperti itu dan yakin dengan pikiranmu, maka anggap saja seperti itu.”
“Apa?” Belinda mendelikkan matanya pada Dante.
“Tetaplah bergerak. Alex akan melihat kita kalau berhenti sebelum menyelesaikan lagunya, dia akan marah. Dia tidak suka jika dia sedang main piano dan orang tidak menghargainya.”
“Ah begitukah? Jadi kau sering melakukan ini?”
“Iya. Kau cemburu pada Tatiana?”
“Memangnya aku tidak boleh cemburu padanya?”
“Dulu Alex suka sekali main piano dan dia suka memainkan lagu-lagu romantis. Jadi Tatiana sering mengajakku berdansa diiringi oleh Alex.”
“Oh jadi seperti itu.”
“Sudah cukup basa basinya. Fokuslah berdansa.” ujar Dante melirik Alex. “Salsa, Alex!”
“Oke daddy!” jawab anak itu semakin bersemangat memainkan pianonya.
__ADS_1
Dengan irama musik yang baru dimainkan Alex yang sedikit cepat, Dante merubah suasana yang tadinya melow menjadi sedikit berkeringat untuk mereka berdua. Keduanya bersalsa ria dengan iringan piano Alex yang juga tak kalah semangatnya melihat mommy dan daddy-nya yang menikmati permainan pianonya.