
“Kau memiliki pendengaran yang lebih bagus dariku! Kau pasti sudah mendengarnya jadi aku tidak ada alasan untuk membiarkanmu tetap hidup, Tatiana!”
“Apa maksudmu Dante?” Tatiana memekik dengan mata melotot.
“Kau sudah dengar! Aku tidak perlu mengulangi!” Dante bicara sambil mematikan tamengnya karena dia tidak bisa memakai perisainya terlalu lama mengakibatkan baterai akan habis. Dante harus menghemat energi dan hanya menggunakannya disaat penting saja seperti tadi menyelamatkan dirinya.
“Apa yang kau mau, Dante? Bagaimanapun kau tidak akan pernah bisa membunuhku bukan? Aku adalah anak dari Omero!” kata Tatiana.
“Oh begitu? Aku bisa melakukan apapun yang ku mau! Tak ada seorangpun bisa menghentikanku!”
“Sudah kukatakan kalau aku berbeda, Dante.”
BUG
Tatiana baru menyerang Dante dan memukulnya tapi tinju Dante sudah lebih dulu menyentuh wajah wanita itu membuat luka di pelipis dan bibis Tatiana hingga berdarah. Memar wajahnya terlihat sangat jelas. Tatiana pun terkejut mendapatkan pukulan sekeras itu dari Dante. Dia tidak menyangka kalau pria itu akan berlaku kasar padanya.
“Dante kau……”
“Apa?” Dante melangkah mendekat pada Tatiana dengan tersenyum getir. “Dan harusnya kau tahu selama ini perasaanku padamu adalah benar! Aku mencintaimu sepenuh hatiku!”
BUG!
Dante kembali memukul Tatiana dengan keras kearah pipi sebelahnya. “Tapi kau tidak pernah bisa mengerti aku! Kau telah menodai pernikahan kita yang sudah bertahun-tahun kau khianati dengan mudahnya! Hubungan kita yang sudah aku jalin denganmu dari saat usiaku tujuh tahun kau buang begitu saja! Kau lebih memilih mengikuti nafsumu sendiri untuk bermain dengan para pria itu! Dan sekarang kau menyalahkanku akan kondisimu?”
Dante tersenyum tipis tapi matanya sudah menunjukkan kemarahan yang tidak lagi bisa ditutupi olehnya. Berkali-kali Dante sudah menahan emosinya kepada Tatiana. Dan tidak bisa melupakannya tapi saat ini dia sudah tidak mau lagi bermain-main! Waktu yang mereka miliki juga sangat sedikit. Dante harus segera pergi dari tempat itu.
“Kau baru saja menamparku Dante? Kau tidak pernah melakukan ini sebelumnya.”
Dante tersenyum mendengar ucapan Tatiana.
“Apa kau merasakan kenikmatannya? Aku tahu saat ini kau sudah menjadi dirimu sendiri! Dia belum mengaturmu lagi. Hmmm….apa kau suka dengan tamparanku barusan? Kau sudah dengan yang menyakitkan begitu?”
BUG!
Kali ini Dante tidak main-main bahkan dia meninju tepat di ulu hati Tatiana sebelum wanita itu bicara.
“Dante! Kau bisa membunuhku!”
__ADS_1
“Memang itu rencanaku, Tatiana!” jawab Dante tanpa basa basi karena dia tidak mau menutupi apa yang ingin dilakukannya pada orang yang ingin disingkirkannya. Tapi melihat ini Barack sudah meringis didalam hatinya.
‘Kau masih memiliki rasa kasihan kepadanya Dante! Apa kau yakin bisa membunuhnya? Aku bisa melihat dari caramu bersikap padanya. Kau bisa lebih kasar daripada ini tapi lihatlah bagaimana kau bersikap pada Tatiana.’ bisik hati Barack yang sudah bersiap apabila Dante tidak bisa menyelesaikan pekerjaan yang satu itu.
“Sudah kukatakan kepadamu kau sudah mati! Kau bukan lagi manusia jadi aku tidak kenal belas kasihan lagi padamu!” ujar dante.
“Dante, bagaimana caramu bisa membunuhku?” ocehan Tatiana yang meragukan ucapan Dante.
“Hmmm….kau mau tahu bagaimana aku akan melakukannya? Akan kutnujukkan padamu meskipun ini harusnya mudah untukku tapi sepertinya aku membutuhkan ini!”
Dante mengambil sesuatu dari sakunya.
“Kain hitam itu untuk apa?” tanya Tatiana yang kini mulai terlihat ketakutan dengan Dante sehingga dia mundur menjauh dari posisinya.
Sedangkan Jeff belum bisa menembus pikirannya lagi. Karena saat ini hati Tatiana sudah menguasai dirinya. Kelemahan yang tidak diketahui oleh Jeff bahwa manusia setengah robot seperti Tatiana ini bisa membawa malapetaka untuk dirinya sendiri.
“Kau mau kemana Tatiana? Bukankah kau dari tadi menyuruhku untuk mendekat padamu?” ucapan Dante terdengar santai. Dia terus berjalan mendekati Tatiana.
“Dante, apa yang kau lakukan? Buka penutup kepala ini! Lepaskan ini dariku!” Tatiana berusaha untuk melepaskan dirinya dari kain hitam yang baru saja dipasangkan Dante di kepala Tatiana.
“Dante lepaskan!” Tatiana kembali berteriak.
“Tidak akan Tatiana!” ujar Dante dan dia mengambil tongkat dari punggungnya.
SLASH!
Dante memanjangkan tongkatnya dan tanpa basa basi di menebas kepala Tatiana.
Saat bersamaan Baarck yang baru saja masuk melihat pemandangan didepannya dengan mata melotot.
‘Aku tidak sanggup melihat wajahmu! Aku masih memiliki perasaan padamu Tatiana! Aku masih menyimpan bayangan semua kenangan masa lalu saat aku menganggapmu wanita baik-baik dan semua kenangan yang sudah kita lalui! Karena itu aku menutup wajahmu.’
Dante bicara dengan tubuh Tatiana yang masih dipegang lengannya oleh Dante. Tapi kepala wanita itu sudah terpental ke lantai.
SLASH!
Dante kembali memotong pinggang sehingga tubuhnya terbelah dua barulah dia melempasnya sembarangan lalu menyalakan korek api dan melemparkan pada tubuh bagian tengah Tatiana kedalam perapian diruang kerja Jeff Amadeo.
__ADS_1
‘Maafkan aku Tatiana! Semuanya harus berakhir seperti ini.’ Dante menatap tubuh yang terpotong itu dengan perasaan tidak menentu. ‘Aku tidak akan melakukan ini kalau kau tidak meminta dirimu dijadikan manusia android! Tapi sudahlah, semoga kau tenang disana.’ itulah yang dikatakan Dante sebelum dia membalikkan tubuhnya.
“Dante!” Barack menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh makna.
“Jangan mengatakan apapun! Kau tahu apa yang aku rasakan.” Dante sudah memperingatkan lebih dulu karena dia tidak mau terbawa perasaannya.
“Bagaimanapun juga dia adalah mantan istriku, Barack! Aku sudah bersamanya dan kami sudah menikmati tubuh masing-masing selama bertahun-tahun. Sulit untuk melakukannya Barack!”
“Aku minta maaf.” Barack tidak berani banyak bicara dan dia membiarkan Dante sebentar.
“Ayo kita pergi dari sini.” akhirnya Dante kembali pada kesadarannya.
“Kita tidak mungkin bisa pergi! Pasukan dibawah semakin banyak.” Manuel bicara.
‘Syukurlah kau tidak berduka terlalu lama. Aku pikir kau akan menangisi wanita itu dalam waktu beberapa menit tapi ternyata hanya tiga puluh detik saja.’
Didalam hatinya Manuel kembali tenang ketika Dante sudah kembali seperti biasa. Bagaimanapun juga semua rencana yang mereka lakukan sekarang sedikit banyak berhasil karena analisa Dante. Jadi Manuel sadar kalau Dante harus tetap fokus untuk menyelesaikan semua kendala yang mereka hadapi.
“Jadi kau menutup pintu ini dan membiarkan semua orang masuk kedalam sini karena kita terkepung?”
Barack dan Manuel menganggukkan kepala bersamaan. Dan memang tanpa disadari pintu sudah ditutup oleh Barack dan mereka menjadikan tempat itu sebagai persembunyian. Sedangkan Vince sedang mengumpulkan senjata yang bisa didapatkan ditempat itu.
“Kita tidak akan pernah bisa mengalahkan mereka kalau bersembunyi didalam sini.” kata Dante. Lalu Dante melirik kearah luar.
“Apa yang kau rencanakan Dante?” tanya Barack ulang.
“Aku meminta seperti yang tadi sudah kukatakan padamu. Apa kau masih ingat?” tanya Dante.
“Tahan pintu dengan apapun, ingat apa yang aku katakan pada Eddie. Kita harus keatap secepatnya!”
“Iya Dante.” ucap Baarck ketika dia melihat apa yang ditulis Dante di ponselnya.
“Kalau begitu ayo lakukan sekarang.”
Doooorr
Suara tembakan membuat mereka semua menatap kearah suara. “Terima kasih Vince! Aku lupa mematikan itu.” ujar Dante yang melihat Vince baru saja mematikan kamera cctv. Dia tahu apa yang ingin dilakukan oleh Dante tapi kalau cctv tidak dimatikan maka akan mengganggu pergerakan mereka.
__ADS_1