PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 159. RAYUAN LORENZO


__ADS_3

Lorenzo menutup mulut Bella dengan melingkarkan tangannya melalui leher sehingga Bella kesulitan melepaskan tangan pria itu, dia mulai merasa lehernya sakit karena tercekik. Sedangkan kaki Lorenzo menekan kedua kaki Bella dan mengunci tubuhnta hingga tak bisa bergerak.


‘Padahal tadi aku sudah lelah bermain-main dengan Tatiana tapi pesona wanita ini membuatku tidak bisa berhenti, dia adalah target utamaku! Mungkin aku tidak akan menjualnya, aku akan menikmatinya dulu tapi bagaimana caranya agar dia bisa dipecat dari sini ya? Hem...aku harus lakukan ini sekarang agar ada yang melihatnya nanti dan dia dipecat.’


Dengan kasar Lorenzo membuka baju Bella meskipun dia berusaha meronta tapi kekuatannya kalah dengan pria bertubuh kekar itu. Hingga Lorenzo menggigit bibir Bella hingga berdarah. Karena rasa sakit Bella sekuat tenaga mendorong tubuh Lorenzo dan menjauh.


“Kenapa? Kau tidak suka?” ujar Lorenzo dingin.


“Tidak! Mana ada berdarah itu enak!” Bella mengerjapkan matanya menatap ngeri pada pria itu.


Saat Lorenzo ingin mendekati Bella, dia mendorong tubuh pria itu. “Aku memang suka bercinta tapi aku tidak suka kekerasan! Kau tahu, aku suka kelembutan! Aku suka kehangatan! Kau kasar dan tak tahu malu!” ujar Bella agak marah.


“Oh jadi kau suka kelembuatn?” tanya Lorenzo tersenyum.


“Iya! Aku suka kelembutan, aku suka diperlakukan seperti seorang putri. Kau paham? Aku tidak suka kekerasan, aku sangat tidak suka caramu yang kasar dan membuatku berdarah seperti ini! Aku benci darah dan aku tidak suka rasa darah!” ucap Bella menolak Lorenzo.


“Baiklah. Aku mengerti, aku akan mencoba memainkan sesuatu yang lembut untukmu.”


“Lorenzo aku sudah selesai!” suara Alex membuat ruangan itu hening.


“Aduh! Kancing bajuku terbuka.” suara pelan Bella, lalu dia duduk miring jadi Alex tidak melihat tubuh Bella. Kedua kaki Bella ada diatas sofa dan dia duduk menatap tajam Lorenzo, sedangkan Alex ada diseberang sofa berjarak lima meter dari mereka.


“Mainkan satu lagi lagu favoritku Alex.”


“Baiklah Lorenzo.” dengan polosnya Alex kembali melihat pianonya dan kembali bermain. Dia sangat senang sekali jika disuruh main piano.


“Hei, kenapa kau kancing bajumu? Aku suka melihatnya, punyamu sangat indah.” ujar Lorenzo dengan cepat menjamah bagian yang terbuka itu.

__ADS_1


“Tidak bisa! Minggir!” ujar Bella ingin menghindari Lorenzo.


Tapi Lorenzo bukannya berhenti dia malah semakin liar memeluk Bella dan menyentuh bagian tubuhnya yang langsung membuatnya tak berdaya. Mulutnya dibekap oleh satu tangan Lorenzo sehingga dia tidak bisa bersuara. Kaki besar pria itu mengunci kedua kaki Bella sehingga dia tidak berkutik. Lorenzo menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dan memijat bagian tubuh Bella. Lorenzo semakin menggila untuk membuat Bella tidak berdaya.


Bella yang ketakutan karena tangan Lorenzo yang melingkar dilehernya untuk membekap mulutnya, tak mampu melakukan penolakan. Setiap gerakannya terkunci oleh tubuh kekar pria itu. ‘Bagus! Kau sudah tidak bisa bergerak lagi, sekarang tinggal menunggu pelayan masuk kesini dan melihat kita melakukan ini.Dengan begitu kau akan dihukum, tapi aku akan mengusahakan agar kau dipecat! Setelah kau dipecat maka aku akan datang sebagai penolongmu dan membawamu.’


Lorenzo sudah matang dengan rencananya. ‘Aku tidak mungkin mengurungmu dirumah saja sebagai pemuasku, tapi kau akan menjadi ladang uangku!’ gumam Lorenzo didalam hatinya yang merasa senang karena Bella tak bisa bergerak melawannya. ‘Kapan pelayan itu akan datang kesini? Aku tidak bisa menahan wanita ini lama-lama.’


“Alex….makananmu sudah….apa yang kalian lakukan?”


Flashback on


Sebelum kejadian diruang piano.


“Dante kau sudah rapi?” Tatiana yang dalam posisi tiduran dikamarnya menyapa Dante yang sudah rapi keluar dari walk in closet.


“Tidak Dante. Aku lelah sekali, tidak punya tenaga untuk melakukan apapun. Aku hanya ingin tidur sebentar saja. Tidak masalah kan?”


“Maafkan aku sudah membuatmu lelah, Tatiana.”


“Tidak apa-apa Dante sayang. Cepatlah, kalau kau ingin memasak untuk Alex. Aku tidak ingin anak kesayanganku menunggu.” Tatiana agak memelas.


“Baiklah Tatiana.”


“Nanti suruh saja pelayan yang mengantarkan makanan Alex keruang piano ya.” Tatiana mengingatkan lagi ketika Dante sudah berdiri.


“Kenapa tidak makan dimeja makan saja?” Dante mengeryitkan dahinya sambil menatap Tatiana karena Alex biasanya memang makan dimeja makan.

__ADS_1


“Aku pernah mencoba menyuapi Alex diruang piano dan dia makan banyak karena Lorenzo memuji permainan pianonya jadi dia lupa dengan makanan yang dimakannya. Apapun yang disuguhkan padanya langsung dimakan.” Tatiana bicara dengan ekspresi wajah yang antusias.


“Ah begitu ya. Kalau bgeitu aku akan menyuruh pelayan untuk membawanya kesana. Ada Bella juga disana, dia bisa menyuapi Alex.” Dante mencoba mengambil kesimpulan daru ucapan Tatiana.


“Itulah rencanaku Dante. Bisakah kau lakukan itu? Alex pasti senang sekali!” Tatiana menatap Dante dengan antusias meskipun dia berbaring tiduran dan terlihat lemah dihadapan Dante.


“Tentu saja. Kalau begitu aku siapkan dulu makanan untuk Alex.”


“Iya Dante.” Tatiana menganggukkan kepala saat Dante ingin melangkah pergi.


“Tatiana!” Dante kembali memanggil wanita itu.


“Ada apa Dante?”


“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau selama aku pergi Alex hanya minum susu?” ujar Dante yang teringat dengan ucapan Henry.


“Siapa yang mengatakannya kepadamu?” kalimat itu refleks terlontar dari bibir Tatiana karena dia kaget tak menyangka suaminya akan menanyakan itu.


“Henry mengatakannya padaku. Apa kau takut karena kau akan mengganggu pekerjaanku sehingga kau tidak menceritakan masalah Alex padaku?”


“Maafkan aku Dante. Aku sama sekali tidak berniat untuk membohongimu dan tidak ada niat menyakiti Alex. Aku sebenarnya ingin dia makan tapi dia tidak mau makan. Aku khawatir jika aku ceritakan padamu maka kau tidak akan pergi kemana-mana dan pekerjaanmu berantkaan. Walaupun aku juga punya alasan lain, aku ketakutan karena kau akan berpikir aku tidak bisa mengasuh Alex.”


Tatiana menatap wajah Dante dengan ekspresi wajah penuh rasa bersalah, bahkan airmata sudah mengumpul dikelopak matanya.


“Tatiana, sayang.” Dante tak kuat melihat Tatiana yang sedih, dia langsung mendekati wanita itu.


“Biar aku beritahu ya sayang, tidak ada yang lebih penting didunia ini daripada kau dan Alex. Jadi aku tidak ingin kehilangan kalian berdua! Aku mencintai kalian berdua dengan tulus dan sangat menyayangi anak kita. Jadi jangan pernah menutupi sesuatu dariku. Katakan saja kalau dia memang tidak mau maka kalau bukan masakanku. Maka aku bisa memikirkan cara pa yang harus kulakukan untuknya. Kalau begini, kau sama saja menyiksanya. Hanya memberikannya susu? Kau pikirkan Alex bisa sakit karena kelaparan.”

__ADS_1


__ADS_2