PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 143. JADI WANITA SIMPANAN


__ADS_3

“Tuan Dante, banyak sekali laki-laki yang memintaku untuk menjadi wanita simpanan mereka!” ujar Bella mencoba kembali ke pembicaraan awal semasa diatas bunker.


“Lalu? Kau juga ingin memintamu untuk menjadi wanita simpananku juga, begitu?” Dante mendengus dan mengalihkan pandangannya. ‘Tapi bukankah dia sama saja seprti wanita simpananku sekarang ya? Kami bercinta dan bersentuhan, aku memanjakannya dan dia memang wanitaku selamanya.’ sejujurnya hati Dante tidak bisa dibohongi, tindakannya saat ini membuat Bella benar-benar seperti wanita simpanannya yang berkedok sebagai pengasuh anak.


Tapi Dante terus menerus menyangkalnya.


“Tidak! Aku tidak menyuruhmu memintaku tapi aku yang ingin minta padamu. Aku akan melayanimu dengan baik bahkan lebih baik dari siapapun. Bukankah kau juga merasa lebih puas bersamaku? Hem?” ujar Bella menggoda pria itu dengan mengerjapkan mata dan tersenyum manis.


“Apa?” Dante menatap Bella.


“Iya. Aku serius! Kalau satu tahun sudah berlalu dan aku sudah bebas dari sini, bisakah aku menjadi wanita simpananmu saja?”


“Kau!” teriak Dante kesal.


“Eh iya ampun! Tuan Dante jangan disentil lagi keningku nanti merah dan besok orang-orang akan bertanya padaku kenapa disini merah. Apa kau mau aku mengatakan itu ulahmu?” Bella bicara sambil menutupi keningnya dengan kedua tangan.


“Hati-hati kalau bicara lain kali.” ucap Dante. ‘Huh! Sepertinya aku salah membawanya kesini, tapi aku juga sudah bilang pada Tatiana kalau aku tidak kembali ke kamar. Memangnya aku yang menginginkan dia kesini bersamaku, bukan? Aku ingin menghabiskan malam ini bersamanya.’ ada sedikit penyesalan dihati Dante tapi dia juga tidak memungkiri kalau itu adalah keinginan hatinya untuk bersama Bella dan memanjakannya malam ini.


“Jadi lowongan untuk menjadi wanita simpananmu juga tidak tersedia?” tanya Bella lagi merajuk.


“Lebih baik aku menyimpan emas daripada menyimpanmu!” Dante bicara lalu berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Bella.


“Hei tunggu! Aku bisa nyasar disini kalau kau meninggalkanku.” teriak Bella berlari kecil mengejar langkah Dante.


“Kenapa kau terus saja menggodaku? Apa kau tidak berpikir kalau kau jadi sangat rendah?”


“Aku tidak menggodamu! Mungkin sudah kebiasaan, karena aku sudah biasa seperti itu.” jawab Bella. Dan ucapan itu membua Dante terdiam ditempat dan meliriknya.

__ADS_1


“Kenapa kau menatapku begitu?” Bella mengerjapkan matanya.


“Apa kau melakukan ini semua pada setiap laki-laki yang datang mendekatimu setiap malam?”


“Kenapa kau jadi galak begini padaku? Santai saja bicaranya, tidak usah ngegas.” ucap Bella berjalan mundur karena Dante berjalan maju mengintimidasinya. Hingga Bella pun terbentur dinding dibelakangnya dan tak bisa beranjak lagi.


“Tuan Dante! Aku sudah tidak bisa beranjak kemana-mana lagi, sudah mentok didinding ini. Bisakah kau berhenti membuatku ketakutan?” Bella bicara sambil kedua tangannya menutupi kening.


“Kau dengar pertanyaanku tadi hem?” ujar Dante.


“Aku ini wanita penghibur, Tuan Dante! Aku sudah bekerja seperti itu selama bertahun-tahun. Dan yang harus aku lakukan adalah menggoda para pria supaya mereka betah, nyaman dan hasrat mereka ingin terus dissayang di manja itu bisa tercapai. Jika kau melihatku begitu dan sikapku sekarang seperti ini yang terus menggodamu dan seakan memang sangat membutuhkan sesuatu dari bagian bawah tubuhku.”


Bella menatap Dante tanpa berkedip. “Ya karena memang itu pekerjaanku, sudah masuk kealam bawah sadar yang sudah mendarah daging padaku selama bertahun-tahun jadi sulit bagiku kalau kau menyuruhku untuk bersikap manis seperti istrimu yang menjaga martabatnya. Itu bukan aku!” Bella mengerucutkan bibirnya, merajuk kembali.


Mungkin bagi semua orang tingkah laku Bella ini sangat menjijikkan karena dia terus terusan memohon pada Dante, tapi itulah ungkapan hati Bella. Dirinya yang seorang wanita pemalu dan penakut berubah menjadi seberani ini. Itu bukan perubahan sehari atau dua hari.


 Dan sejujurnya, ini sangat mengganggu hati Dante, ada ketakutan didalam hatinya dan ada rasa lain yang tak disukainya. “Pufff!” Dante mundur beberapa langkah sambil satu tangannya menyugar rambut dan tangan lain dipinggang. Pandangan matanya pun sudah melihat kearah lain karena dia membalikkan badannya.


“Lepaskan tanganmu dari pinggangku!” ucap Dante ketika wanita itu memeluk pinggangnya dari belakang dengan kedua tangannya.


“Aku hanya ingin memelukmu sebentar dari belakang. Jangan larang ya Tuan Dante.” dia memohon dengan suara lirih.


‘Ternyata begitu alasannya. Ternyata ini yang menyebabkannya selalu menginginkan aku. Dia bukan menjadikan aku sebagai objek tapi ini karena sudah jadi penyakit yang timbul karena kebiasaan. Ssshhh….Belinda Alexandra harus bagaimana aku mengatakan padamu kalau sebenarnya akupun sangat ingin bersamamu!’ bisik hati Dante.


‘Tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku memang membutuhkan anak darimu dan aku sudah menutup wajahmu supaya kau tidak mengenaliku tapi entah kenapa melihat tubuhmu apalagi tahi lalat yang masih ada ditempat itu membuatku tidak bisa lagi berpaling darimu! Kau wanitaku dulu dan aku mengenalimu sebagai gadis polos yang selalu hadir disetiap malamku walaupun ku tak menyadarinya. Sepuluh bulan bersamamu itu sangat membekas dihatiku. Aku memang merindukanmu selama ini. Huh! Tatiana.’ Dante semakin bimbang.


Di satu sisi dia ingin sekali bersama Bella tapi disisi lain bayangan tentang istri dan anaknya membuat Dante masih ingin menjaga dirinya. ‘Aku memiliki kebebasan untuk melakukan itu pada wanita manapun. Tatiana juga sudah tidak melarangku. Karena dia tahu teman-temanku seperti itu tapi memang aku tidak pernah mau melakukannya dengan wanita lain, hanya dengan Bella setelah aku bertemu lagi dengannya. Haruskah aku mewujudkan keinginan Bella? Tidak boleh! Dia harus mendapatkan kehidupan yang layak. Tapi aku juga tidak rela jika seorang laki-laki datang padanya dan bersamanya.’ hanya membayangkan Bella bersama lelaki lain saja membuat hati Dante sakit.

__ADS_1


Tambah parahlah sakitnya hati Dante, sungguh tak tertahankan perih direlung hatinya apalagi membayangkan Bella sedang bermesraan dengan pria lain saat inipun bayangan itu menjadi alasan Dante membiarkan Bella memeluknya dari belakang.


“Terimakasih Tuan Dante.” ucap Bella manja.


“Untuk apa?” Dante bertanya setelah suara Bella terdengar ditelinganya.


“Setidaknya kau sudah memberiku ijin untuk memelukmu erat-erat. Sesuatu yang jarang sekali kau berikan padaku kesempatannya.” ucap Bella jujur.


Bukannya Dante tidak mau dipeluk oleh wanita itu tapi kesempatannya yang tidak ada karena dirumah itu Tatiana terus saja mengawasi Bella dan Dante tidak ingin wanita itu mendapat masalah lagi dari istrinya. Dia juga tidak ingin menyakiti hati Tatiana, dia tidak tahu jika istrinya sudah pernah melihat mereka berdua di kamar Bella saling berpelukan dan berciuman.


“Apa kau merasa senang sekarang?”


“Tentu saja. Aku senang sekali. Terimakasih ya. Aku sangat suka memelukmu begini.”  ucap Bella yang enggan melepaskan pelukannya. Aroma tubuh Dante membuatnya merasa nyaman.


“Kau sudah makan?”


“Belum.”


“Tadi pagi kau makan?” tanya Dante lagi.


“Sudah. Tapi sepertinya makananku tadi pagi sudah keluar semua karena aku sakit perut sejak pagi.”


‘Shit! Aku lupa kalau tadi pagi makanan yang dimakannya adalah makanan yang sudah diracuni!’ Dante merasa tidak enak hati.


“Tunggulah. Aku buatkan makanan untukmu.”


“Ditempat ini ada bahan makanan?” tanya Bella.

__ADS_1


__ADS_2