
‘Dia sempurna seperti keinginanku, tidak ada cacat sama sekali tapi memang ada satu yang mengganjal. Kenapa dia punya tahi lalat disana? Belinda Alexandra Amani, kau cantik secantik namamu dan juga unik! Membuat Dante semakin menyukai gadis itu.
“Aaahhhhh…...aku mohon hentikan!”
Teriakan demi teriakan Bella tidak lagi didengar oleh Dante yang tak peduli, semakin gadis itu berteriak semakin menambah keinginan untuk merenggut sesuatu yang berharga dari gadis yang ditawannya.
“Uuuuggghhhhh…..” rintihan tangis pelan keluar dari bibir Bella. "Tolong lepaskan aku. Jangan sakiti aku Tuan."
‘Ternyata kau benar-benar sesuai,' Ucap Dante dalam hati sambil menyunggingkan senyum tapi membuatnya semakin bersemangat untuk membuat gadis itu kembali berteriak.
“Aku mohon hentikan. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, aku selalu menjaga diriku. Aku mohon jangan lakukan itu!”
Dante menyeringai buas, ‘Kau memang belum pernah melakukannya tapi kau akan melakukannya denganku untuk pertama kalinya. Aku ingin membuktikan ucapan asistenku kalau kau memang masih bersih. Dante hanya bisa bergumam dalam hati karena dia tak mau gadis itu mendengar suaranya.
Tangan pria itu terus menyentuh Bella yang semakin ketakutan. Ini adalah pengalaman pertama bagi gadis itu. Pria itupun adalah orang pertama yang menyentuhnya, selama ini Bella menjaga dirinya baik-baik dan dia pun enggan punya pacar karena takut.
Sentuhan yang diberikan Dante membuat Bella mulai menggeliat. Dante terlihat puas dengan suara gadis itu. Meskipun Bella masih memohon dan terisak namun tak membuat Dante berhenti. Airmata gadis itu mengucur deras. Memohon ampun pun sepertinya sia-sia saja.
Benar kata asistenku, gadis ini masih polos. Tentu saja, dia kan baru berusia tujuh belas tahun. Semakin kuat Bella memohon belas kasihan maka semakin buas pula pria itu. Hingga dia tak tahan lagi segera menikmati puncak permainan.
Terdengar jerit kesakitan gadis itu sambil menghentakkan kedua tangannya yang diikat rantai. Tapi Dante tak peduli, senyum puas terpancar diwajahnya. Dia benar-benar bersih! Pergelangan tangan gadis itu memerah dan terluka karena dia meronta serta menghentakkan kedua tangan untuk melepaskan rantai besi.
Flashback Off
‘Belinda Alexandra Amani! Akhirnya kita bertemu kembali. Kenapa kau mengkhianatiku dengan pria lain di club? Mengapa kau menenggelamkan diri dalam kehidupan malam? Apa yang telah terjadi sebenarnya?
__ADS_1
Hati Dante kembali memanas ketika memikirkan tangan-tangan yang menyentuh Bella. Kemarahan mulai menguasai dirinya, kenapa saat dia menemukan kembali gadis yang dicarinya selama bertahun-tahun namun kenyataan pahit yang membuatnya sedih sekaligus marah.
'Bertahun-tahun aku mencarimu dan penasaran dimana kau bersembunyi dariku tapi selama ini aku tidak pernah menemukanmu.’
Dia menghela napas, ada rasa sakit didadanya. ‘Ternyata kini kau bukan lagi Belinda yang kukenal, gadis polos yang manis.’ Dante melangkahkan kakinya mendekati wanita yang masih tidur pulas di pembaringannya. Matanya menelusuri sekujur tubuh wanita itu. Dulu dia menutup wajah wanita itu sehingga dia tidak mengenali wajah aslinya.
‘Untung saja aku masih mengingat satu-satunya pengingat siapa dirimu, tahi lalat itu masih ada. Jadi inikah wajahmu yang selalu tertutup kain hitam itu?’ Dante memalingkan wajahnya tapi ada senyum tipis dan ketenangan saat dirinya sadar jika wanita yang dicarinya selama ini kini sedang tertidur didaerah kekuasaannya.
“Apakah kejadian malam itu masih membuatmu trauma? Ah….bukan! Bukan hanya malam itu. Karena kita melakukannya bukan hanya satu malam saja bukan?” Dante tersenyum tapi ada rasa sakit yang menusuk hatinya, ada gejolak perasaan yang tidak bisa diungkapkan saat ini.
Ingin rasanya dia mendekat dan melakukan sesuatu untuk mengobati kerinduannya. Tapi bayangan wajah dua orang yang menunggunya di mansion mencegahnya untuk melakukannya.
Ya, dia sangat merindukan Belinda selama beberapa tahun ini. Jika dia tidak memiliki rasa rindu, dia takkan menghabiskan waktu untuk mencari wanita itu. Tapi disisi lain dia sudah memilik seorang istri yang dicintainya.
‘Belinda, aku sudah mencarimu kemana-mana, aku mencarinya hanya ingin tahu keadaannya saja. Tidak lebih! tapi saat aku melihat keadaannya sekarang aku tidak tega untuk meninggalkannya. Kenapa? Ada apa denganku? Mengapa aku seakan tak ingin jauh darinya lagi? Aku harusnya pulang tapi dia belum sadarkan diri.’ Dante semakin bingung.
Apa dia harus menyiapkan pelayan untuk menjaganya disini? Ah...itu tidak tepat gumamnya sambil menggelengkan kepala. ‘Tidak boleh. Itu tidak boleh! Hatinya merasa tidak ikhlas sehingga membuat Dante terpaksa menentang hatinya sendiri. Dia memilih duduk disamping wanita yang sedang tidur pulas itu tanpa tahu apa yang ingin dia lakukan.
“Hmmm….sshhhhhh.” suara mendesis dari ranjang terdengar.
“Kau sudah bangun?”
Bella yang masih belum sepenuhnya sadar pun bingung mendengar ada suara pria. ‘Siapa itu? Ucapnya dalam hati, tersadar kalau dia tidak sendirian. Perlahan dia membuka matanya. “Tuan Dante?”
“Hem….kau masih mengenaliku?” tanya Dante membuat Bella mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
‘Kenapa dia masih ada disini? Bukankah tadi dia sudah pergi ya? Apa yang terjadi denganku? Bella berusaha merenung dan memikirkan kejadian tadi malam yang perlahan kembali dalam ingatannya. ‘Ah...apa yang kuperbuat? Apa tadi malam aku berteriak histeris? Kenapa otakku tidak bisa berpikir? Haduh gawat ini dia sudah melihat semua kekuranganku.’
Seketika wajah Bella pun memucat ketakutan. ‘Ya ampun dia pasti akan mengembalikan aku ke club. Bagaimana akhir dari takdirku nanti?’ Hatinya berdecak dan semakin ketakutan ketika tubuhnya sudah sepenuhnya sadar. Perasaannya kembali membaik sedikit demi sedikit tapi mengingat semua kejadian tadi malam membuat Bella semakin cemas dan putus asa.
“Apa kau sudah menyadari keberadaanku disini? Apa kau mengingat semua yang telah terjadi tadi malam?” Dante masih bertanya dengan wajah tegas dan dingin tanpa ekspresi.
“Maafkan aku Tuan Dante Sebastian! Semua yang terjadi tadi malam itu diluar kendaliku. Tolong maafkan aku ya.” suara Bella terdengar lirih.
“Berapa banyak obat yang kau minum tiap hari? Hmm….?” Dante kembali menginterogasi gadis malang itu.
Bella pun bingung harus menjawab apa, apakah harus bohong atau mengatakan yang sejujurnya. Bella menundukkan kepala tidak berani menjawab.
“Apa kau tidak mendengar pertanyaanku? Harus kuulangi lagi, hah? Atau kau berniat untuk menipuku?”
“Aku dengar Tuan tapi saya tidak berani jawab. Aku tidak menipumu ataupun punya niat menipu.” akhirnya Bella jujur mengutarakan isi hatinya.
“Jawab yang jujur atau kau akan merasakan akibatnya kalau bohong!” ancam pria itu.
“Ehem….aku tidak tahu persis berapa pil yang kuminum setiap hari, tuan. Saat pulang, biasanya mereka memberikan sepuluh butir padaku.” ucap Bella.
“Kau meminum semuanya setiap hari?” desak Dante dan duduk dihadapan Bella.
__ADS_1