
‘Satu keuntungan kau ada disini Bella! Kau berhasil membuat Alex melakukan toilet training padahal kami sudah mencoba melakukannya tapi kami tidak berhasil.’ ucap Dante dihatinya. Ada rasa senang didalam hatinya sekarang karena anaknya sudah tidak lagi menggunakan pampers.
“Kita berangkat sekarang daddy? Aku jumpa Bella-ku di Indonesia nanti daddy?”
“Iya sayang. Tapi kau tidak akan bertemu Bella di Indonesia karena mungkin dia tidak disana.” Dante menggendong Alex bergegas keluar kamar menuju ke lantai dasar. “Bersabarlah ya.”
Alex tak lagi mengatakan apapun, sepertinya dia mulai paham kalau tidak semudah itu baginya bertemu Bella lagi. Seperti kata ayahnya, dia harus bersabar.
“Selamat pagi Tuan!” sapa Henry yang baru saja masuk.
“Selamat pagi Henry! Kau sudah siapkan semuanya?”
“Sudah Tuan. Sekarang sedang mengisi bahan bakar, sekitar sepuluh menit lagi sudah bisa berangkat.”
“Antar aku kesana sekarang.”
“Anda akan pergi bersama dengan Tuan Muda Alex?” Henry agak bingung.
“Iya. Tolong panggilkan Norman. Dia harus ikut.”
“Baik, Tuan.”
Dante sudah lebih dulu melangkahkan kaki menuju ke belakang dan mereka akan menggunakan buggy menuju ke parkiran pesawat, sedangkan Henry pergi ke dapur memanggil Norman.
“Daddy, kita pergi berdua saja?” tanya Alex.
“Tentu saja! Kenapa memangnya?” tanya Dante lagi.
“Mommy tidak ikut?” Alex bicara sekenanya.
“Ah! Kau mau dia ikut?”
“Nggak! Aku mau Bella-ku saja yang ikut!” Alex menggelengkan kepala tapi tersenyum saat menyebut nama Bella. Dia hanya ingin pergi bertiga saja bersama ayahnya dan Bella tanpa ada Tatiana. Alex tak ingin ada Tatiana diantara mereka bertiga.
“Fuuh!” Dante membuang nafasnya, terkekeh. “Sekarang Bella belum bisa ikut dengan kita. Aku masih harus mencari Bella.” ujar Dante lagi dengan perasaan berat.
“Oh begitu! Tapi nanti Bella-ku akan kembali padaku?” tanya Alex lagi.
Dante langsung menganggukkan kepala, “Tentu saja Bella akan kembali padamu!”
“Assikkkkk! Bella aku rindu!” senyum merekah dibibir Alex. Kedua tangan mungilnya bertepuk senang, dia sangat menyayangi Bella.
‘Entah kapan aku bisa mewujudkan impianmu itu Alex! Aku juga tidak tahu apa Bella masih mau datang menemuimu. Dia sangat sibuk sekali dengan laki-laki itu! Apakah dia masih akan meminta pada laki-laki itu walaupun tubuhnya sudah babak belur dan butuh istirahat?’ Dante mulai cemberut karena pikirannya kemana-mana membayangkan Bella bersama pria lain. Dia berusaha mengalihakn pikirannya.
“Permisi Tuan!” Norman sudah datang.
“Naiklah! Kau harus ikut denganku mulai sekarang. Karena hanya kau yang bisa menduplikat!”
__ADS_1
Norman mengatupkan bibirnya dan mengerti maksud ucapan Dante. Walaupun pria itu tidak menjelaskannya.
“Baik, Tuan.”
Tanpa banyak bicara lagi, Henry mengendarai buggy menuju landasan pesawat. Tak ada satupun yang bicara, sinar matahari belum muncul tapi kondisi sudah mulai terasa panas. Sejujurnya didalam hati Dante segala hal berbeda disana dan rasa paniknya membuat Dante agak sulit mengatur emosinya.
“Aku titipkan rumah padamu Henry!” ucap Dante ketika dia turun dari buggy dengan menggendong Alex dan Norman mengikuti dibelakangnya.
“Baik, saya mengerti Tuan.”
“Berikan padaku!” Dante bicara sambil menengadahkan tangannya.
“Hasil forensik Tuan?”
Dante menganggukkan kepalanya, “Berikan padaku Henry!”
“Ini Tuan.” Henry menyodorkan hasil forensik dari sampel terakhir.
“Aku titipkan rumah untuk sementara Henry! Laporkan semuanya padaku termasuk siapa saja yang masuk kedalam ruang penyiksaan.” Dante memicingkan matanya.
“Baik, Tuan!”
“Dan jangan lupa untuk memasang CCTV! Aku juga mau kau menyimpan rekaman suara dikamarku.”
“Saya mengerti Tuan!” Henry kembali bicara, “Tuan!”
“Apa yang harus saya katakan pada Nyonya Tatiana saat dia bertanya tentang anda, Tuan?”
Ada senyum kecil dibibir Dante.
“Katakan padanya aku sedang sibuk. Aku ada urusan di Indonesia!”
“Bagaimana kalau dia bertanya tentang Bella?”
“Katakan saja padanya kalau kau tidak tahu apapun. Biar dia yang menelepon dan menanyakan langsung padaku.” jawab Dante.
“Baik, Tuan!”
“Henry!”
“Iya, Tuan.”
“Ruang kerjaku! Tolong berikan pengamanan ganda, pasang CCTV tersembunyi dibelakang meja yang bisa memperlihatkan laptopku terbuka. Aku ingin kau memasang AC double juga, buat tempat itu nyaman!” kata Dante memberi perintah.
“Siap Tuan!” Henry menatap Dante menaiki pesawat.
“Selamat pagi Tuan Dante. Kita berangkat sekarang.” sapa pramugari.
__ADS_1
Tanpa bicara Dante menganggukkan kepala, “Aku ingin segera sampai di Indonesia.” ucap Dante.
Pramugari itu mengerti dan dia pun melangkahkan kakinya menuju keruang pilot, memberikan komando. Beberapa menit kemudian, pesawat itu lepas landas.
“Barack! Tunggulah aku!” ujar Dante ketika dia melihat ke jam di tangannya dan membukanya, dia melihat ada lima titik yang masih berdenyut. Ada senyum diwajahnya melihat itu. Dante meletakkan chip ditubuh teman-temannya sehingga dia bisa melacak keberadaan mereka. Dan dia bisa melihat jika milik Barack masih berkedi yang menandakan jika Barack amsih hidup.
“Apa yang akan dilakukan mereka padamu? Jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku tidak akan tinggal diam Barack!” Dante kembali bergumam dengan semua emosinya. Saat ini dia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Barack hingga beberapa saat dia hanya diam memandang jam tangannya. ‘Oh iya aku harus mengecek hasil tes yang dilakukan tim forensikku.’ ujarnya yang tiba-tiba mengingat sesuatu. Lalu dia mengambil surat yang tadi dia masukkan kedalam saku jasnya.
“Daddy!” suara Alex yang memanggilnya membuat Dante menoleh dan memasukkan kembali surat itu kedalam saku jasnya.
“Kau belum tidur? Tadi malam kau juga bangun jam tiga pagi.”
“Aku mau tidur sama daddy.” jawab Alex dengan Norman yang berdiri dibelakang Alex.
“Aku jadi merepotkanmu untuk mengasuh anakku.” kata Dante menatap Norman.
“Tidak apa-apa Tuan.” Norman tersenyum. “Sama sekali tidak merepotkan, kami bersenang-senang, hanya saja Tuan Muda Alex mengantuk. Saya sudah memintanya untuk tidur tapi dia ingin bertemu dengan anda dulu katanya.”
Dante mengangguk lalu berdiri, “Biar aku mengurusnya.” lalu dia menggendong Alex.
“Ini gara-gara semalam kau tidak tidur makanya sekarang kau mengantuk.”
“Hi hi hi hi!” Alex malah tertawa.
“Kau mau pipis?” tanya Dante.
“No. Tadi sudah sama Norman.”
“Bagus! Kau bermain apa saja dengan Norman?”
“Banyak. Aku main banyak.”
Dante hanya tersenyum sambil menidurkan anaknya. “Kau bermain banyak ya, hampir tiga jam kau bermain bersama Norman.” ujar Dante lagi.
“Apa nanti aku boleh main lagi daddy?” Alex terlihat senang.
“Kau suka bermain dengannya?”
“Aku suka main! Tapi lebih suka main sama Bella-ku.”
Sejenak Dante diam. ‘Kau bahagia sekali Alex! Kau tidak pernah memberikan senyum dan bicara sebanyak ini sebelumnya. Apa yang benar-benar membuatmu takut?’ gumam hatinya. “Ah iya aku harus membaca hasil tes itu.”
“Alex, tidurlah. Aku akan duduk disini menemanimu.”
“Iya daddy.” Alex yang sudah kelelahan dengan mudah memejamkan matanya.
‘Dari tadi seharusnya begini.’ Dante tersenyum melihat anaknya yang sudah terlelap. “Sekarang waktunya aku membaca hasil tes forensik!” Dia merogoh surat itu dari sakunya. “Ah, aku penasaran sekali tentang ini.”
__ADS_1
Dia pun merobek ujung amplop itu dan mengeluarkan kertas didalamnya. “Ayo kita lihat apa yang akan aku temukan didalam sini!”