
‘Apakah FBI akan percaya padaku? Apakah aku akan diberikan izin untuk meneliti semua ini? Bagaimana jika mereka tidak mengizinkanku? Apakah aku harus jalan sendiri?’ tanya Manuel. Dia mencoba mencari jalan terbaik dan menghindari kejadian seperti sekarang. Manuel memikirkan segala kemungkinan karena dia ingin menyelesaikan semua dan memastikan sudah aman.
‘Apa yang harus kulakukan pada anak presiden itu? Apa aku harus mengatakan pada Irene kalau selama ini aku tidak mencintainya? Aku hanya memanfaatkannya saja? Sepertinya itu hal yang buruk. Aku rasa aku tidak bisa melakukan itu! Tapi aku tidak bisa menikah dengannya. Perasaanku kacau! Aku bingung harus apa sekarang? Bagaimana dengan Anna?’ bisik hati Anthony.
‘Aku merasa perasaan aneh yang tak bisa lagi kutahan saat bersamanya. Aku memang masih memiliki perasaan aneh itu. Tapi apakah Anna juga memiliki perasaan yang sama padaku? Apa perlu aku tanyakan padanya? Bagaimana dengan Irene? Apa aku sanggup untuk membiarkannya pergi setelah sesuatu yang sudah kami lakukan? Aduhhhh pusing aku!’ Anthony kembali berdecak.
‘Mungkin aku bisa memakai satu cara. Aku tahu cara terbaik agar dia tidak sakit hati saat kami berpisah. Aku tidak bisa mengatakan padanya kalau aku meninggalkannya begitu saja. Aku harus mengatakan itu, aku akan terus terang bilang aku tidak pernah mencintainya selama ini. Aku rasa dia akan bisa menerimanya jika aku mengatakan itu.’ Anthony mulai memikirkan sesuatu.
‘Tapi aku harus memastikan dulu pada Anna. Seandainya dia bilang iya, maka aku akan berani melakukan ini. Aku akan membuatnya bahagia.’ Anthony pun tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Dante melihat dari spion kalau adiknya itu sedang tersenyum.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Dante.
“Sesuatu, Dante! Mungkin untuk hal ini aku harus meminta bantuan Henru ataupun Manuel.”
“Apa yang kau inginkan?” tanya Dante dan menatap Anthony.
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang! Mungkin aku harus mengatakannya ketika kita sudah sampai dirumahmu saja, Dante.” jawab Anthony yang membuat Dante pun semakin penasaran. Apalagi nama Manuel dan Henry disebutkan.
“Bagaimana kalau aku tidak mau menolongmu?” sahut Manuel.
“Aku akan memaksamu! Kau pasti bisa melakukannya.” ujar Anthony membalas.
“Benarkah aku bisa melakukannya? Kenapa kau bisa seyakin itu?” Manuel bingung tapi dia melihat Anthony menganggukkan kepalanya.
“Aku benar-benar meminta bantuanmu untuk ketenangan kita semua.” ucap Anthony memberi alasan.
Hal itu membuat Manuel semakin penasaran.
“Permintaanmu ini kedengarannya mengerikan.” Manuel menegaskan.
“Nanti juga kau tahu sendiri! Ini bukan permintaan sulit, hanya sesuatu yang mudah untuk meringankan masalah percintaanku saja.” jawab Anthony asal. Mendengar ucapan itu Dante pun tersenyum dan mulai mengerti apa yang diinginkan adiknya.
“Dante! Kau akan menurunkanku disini?” tiba-tiba Manuel bertanya saat helikopter sudah turun..
“Iya, kau mau bertemu dengan Henry bukan?” tanya Dante.
Manuel hanya mengangguk dan segera turun dari helikopter diikuti yang lainnya, membuat Manuel bunging. “Kalian semua mau kemana? Kalian masih mau membantu disini?”
“Tidak!” jawab Barack menggelengkan kepala berbarengan dengan Anthony.
__ADS_1
“Lalu? Kenapa kalian tidak pergi membawa helikopter itu?” tanya Manuel merasa penasaran.
“Kami akan pulang dengan cara kami sendiri.” jawab Barack.
“Pulang dengan cara kalian? Bagaimana caranya Dante?” Manuel bertanya ulang.
“Mobil itu bisa jalan.” Dante menunjuk sebuah mobil yang ada di pinggir jalan.
“Ah, jadi kalian ingin mencuri mobil itu?” Manuel menimpali sambil memicingkan matanya. Dia malas berurusan hal seperti itu.
“Apa kau bisa membantu kamu?” Dante tersenyum dan menuju kearah mobil itu.
“Ahhhh kalian ini menyusahkan aku saja.” keluh Manuel smabil meringis tapi dia tetap menuju kearah mobil itu juga.
“Tuan Dante!”
Sapaan itu membuat Dante dan Manuel menoleh kearah datangnya suara. Mereka tidak menyangka akan melihat seseorang disana.
“Henry! Kau akan kembali bersamaku?” tanpa basa basi Dante langsung bertanya.
“Tentu saja! Saya akan kembali pada anda Tuan!” jawab Henry mengangguk.
“Ya, aku memang izin pada pihak FBI sampai aku bisa menuntaskan kasus itu. Dan aku juga sedang meneliti Omero ketika itu.” jawab Henry dengan tenang.
“Dan sekarang, semuanya sudah jelas mereka tidak bersaalah. Kenapa kau masih ingin bersama Dante?” Manuel tidak memberikan Henry jeda untuk berpikir. Dia langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
“Manuel! Kau tahu berapa umurku sekarang?” Henry memanggil Manuel dan ingin bicara serius.
“Mungkin lima puluh lima tahun?” Jawab Manuel cepat.
“Hmmmm! Tiga tahun lagi aku sudah diusia enam puluh. Sekarang usiaku sudah lima puluh tujuh tahun dan aku rasa aku akan berhenti bekerja.”
Dante tersenyum mendengar perkataan Henry. Dia senang sekali Henry akan tetap bersamanya. Sedangkan Manuel tidak mengharapkan jawaban seperti itu dari Henry. “Kenapa kau bilang begitu?”
“Aku rasa aku sudah selesai bekerja sampai disini dan aku ingin melanjutkan hidupku bersama dengan keluargaku!” jawab Henry dengan yakin.
“Ehm, jadi kau menganggap mereka sebagai keluargamu?” tanya Manuel karena dia tidak menyangka.
“Ya, setelah aku pensiun aku akan tinggal bersama dengan keluargaku tentunya! Dan aku bisa bermain dengan cucuku dan melihat mereka tumbuh dewasa.” kata Henry dengan tegas.
__ADS_1
Seringai muncul diwajah Dante, dia tidak mengatakan apapun namun didalam hatinya merasa puas dengan jawaban Henry.
Dante melangkah mendekati Henry dan membuka tangannya memeluk pria itu dengan sangat erat, “Aku senang dengan keputusanmu Henry!”
“Kau senang Dante! Tapi aku tidak senang.” celetuk Manuel sambil berkacak pinggang.
“Ini sudah keputusanku Manuel! Kau bisa melanjutkan sendiri disana! Kau masih muda dan kau akan menjadi orang yang hebat disana!” sahut Henry lagi.
Henry pun mengulurkan tangannya pada Manuel.
“Tapi kami semua ingin kau kembali.” Manuel menjabat tangan Henry tapi dia masih tidak mau menyerah begitu saja. Dia membujuk Henry lagi.
“Aku akan selalu membantu kalian! Kau bisa berkomunikasi denganku kapanpun. Tapi mungkin aku hanya berada dibalik layar. Kalianlah yang melakukannya. Kalian yang bertugas.” jawab Henry.
“Tega sekali kau pada kami, Henry!”
“Hei Manuel! Aku sudah tua, kau tidak membutuhkanku.” ucap Henry sambil menepuk lengan Manuel.
“Kau akan menjadi pemimpin yang hebat Manuel!” ucap Henry menyemangati Manuel.
“Lalu sekarang kalian akan kembali ke Italia?” tanya Manuel.
“Iya!” jawab Dante disertai anggukan kepala Henry.
“Apa perlu aku mengantarmu?” tawar Manuel walaupun sebenarnya dia masih belum bisa pergi kemana-mana, tapi dia ingin melakukan itu.
“Tidak perlu Manuel. Kau masih banyak tugas disini dan aku sudah menyiapkan semuanya.” jawab Henry sambil menyerahan amplop kepada Dante yang langsung dibukanya dan Manuel juga melihat.
”Kau punya paspor ternyata?” Manuel tidak menyangka tapi dia terkekeh melihat apa yang ada ditangan Dante. Empat buah paspor sepertinya sudah disiapkan Henry.
“Fuuuhh! Kalau sudah seperti ini aku bisa apalagi? Aku tidak mungkin melarang kalian pergi, bukan?” tanya Manuel dengan perasaan sedikit berat hati.
“Kami pergi sekarang, Manuel! Sedang bekerjasama denganmu.”
“Kalian hati-hati!” lalu Manuel menatap Henry,
“Jika kau membutuhkan bantuan apapun, segera hubungi aku! Karena aku akan selalu ada untukmu.”
“Terima kasih.” Henry mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh uluran tangan Manuel.
__ADS_1