PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 39. KEMARAHAN REDA


__ADS_3

“Kau benar sekali. Lebih baik kita fokus mencari Wendy dan membawany pada Dante.” ujar Eddie. “Dimana kita bisa menemukan wanita itu?”


“Bukankah kau sedang menyetir menuju kesana? Tempat tinggalnya sekitar tiga kilometer lagi dari sini.” ucap Nick yang melihat GPS dan juga memasang GPS didepan.


“Apa kau yakin itu tempatnya?” tanya Eddie ketika mereka sudah sampai dan melihat tempat yang ingin mereka datangi.


“Anak buahku yang bilang disana tempatnya. Siapa yang mau turun denganku?” tanya Nick.


“Aku saja.” Hans menimpali.


“Kalau begitu aku akan menunggu kalian dimobil.” ujar Eddie. Kedua pria itupun turun dan mencari Wendy.


“Apa menurutmu nasib wanita ini akan sama seperti suaminya?” tanya Hans berbisik ditelinga Nick.


“Aku tidak tahu tapi kita harus menemukannya dulu. Soal itu biarlah jadi urusan Dante nanti.”


“Jadi ini pintu apartemennya?” tanya Hans menatap sebuah pintu.


“Ya aku ras memang ini.” Nick melirik Hans. “Biar aku saja yang ketuk pintunya.”


Tok Tok Tok Tok


Agak lama mereka menunggu lalu Nick kembali mengetuk pintu.


Tok Tok Tok Tok


Nick mengetuk pintu untuk kedua kalinya sebelum akhirnya pintu terbuka.


“Kalian?”


“Apa kau mengenal kami?”

__ADS_1


“Tentu saja Tuan. Ada apa kalian datang kemari?” tanya Wendy dengan senyum sumringah tanpa merasa curiga sama sekali dengan kedatangan kedua pria itu.


“Tuan kami ingin bertemu dengan anda.” jawab Nick.


“Ma—maksudnya Tuan Dante?” tanya Wendy dengan hati sedikit getir.


‘Apa yang diinginkannya dariku? Sampai saat ini aku masih belum bisa menghubungi suamiku dan sekarang dia ingin bertemu denganku. Apa yang harus aku lakukan?’ bisik hati Wendy.


“Baiklah. Kalau begitu tunggu sebentar biar aku berkemas dulu.”


“Silahkan tapi jangan lama-lama.”


Wendy mengangguk dan dia masuk kedalam kamarnya sedangkan Nick dan Hans masih menunggu diruang tamu.


“Kneapa Tuan Dante ingin bertemu denganku? Apa ini ada hubungannya dengan Bella? Apa gadis sialan itu membuat masalah lagi?” bisik hati Wendy agak bingung dan dia kembali mencoba menghubungi ponsel suaminya tapi tetap tidak tersambung.


“Sial! Saat-saat genting begini kau malah menghilang! Sebenarnya kau ada dimana sih? Kemarin kau baru saja mendapatkan pinjaman dari Tuan Jeff, awas saja kalau dia sampai menggunakan uang itu untuk bersenang-senang dengan wanita lain! Julian kau memberiku informasi tak jelas, kau hanya bilang padaku untuk berjaga-jaga tapi berjaga-jaga untuk apa?” Wendy agak bingung mengingat kembali kata-kata terakhir suaminya ketika mereka bertemu. Dia pun segera bertukar pakaian.


Dreeettttt Dreeeet Dreeeeetttt


‘Ada apa dia menghubungiku?’ gumamnya lirih.


Wendy pun mengangkat teleponya, mengurungkan niatnya untuk keluar.


“Selamat malam Tuan Jeff, senang menerima telepon anda. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan anda.” kata Wendy.


“Apakah kau bisa memberitahuku siapa yang membawa Bella dan berapa hutangnya padamu?” tanya Jeff tanpa basa-basi.


“Apa ada yang memberitahu anda? Emm….maksudku apakah Julian yang memberitahu anda soal itu?”


“Bukan! Aku ingin membayar Bella dan membebaskannya. Katakan saja jumlahnya dan beritahu aku, siapa orang yang mencarinya!”

__ADS_1


...*****...


Sementara itu didalam mobil Dante.


“Gelap! Aku takut! Gelap sekali disini!” Bella mengkerut. Dia semakin ketakutan dan mencoba memejamkan matanya. Memundurkan sedikit tubuhnya dan merapatkan kakinya sambil menangis terisak-isak.


“Siapapun disana tolong aku! Tolong keluarkan aku dari tempat gelap ini1 Lepaskan aku, siapa saja aku mohon tolong lepaskan aku! Jangan lakukan ini padaku. Lepaskan aku….biarkan aku pergi! Aku mohon tinggalkan aku!” Bella menangis sambil berteriak didalam bagasi mobil.


Dia menangis ketakutan, warna hitam pekat karena gelap dan hening didalam bagasi mobil membuatnya tak bisa berpikir dan membuatnya semakin kalut. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin dan hanya bisa menumpahkan semua perasaannya dengan airmata. Bella tidak berhenti menangis sepanjang perjalanan dan dia tidak tahu akan dibawa kemana.


Trauma yang dialaminya berkepanjangan, ketakutannya pada kegelapan membuat halusinasi yang diakibatkan oleh obat-obatan yang biasa diminumnya. Ditambah lagi akibat kejadian yang baru saja terjadi antara dia dan Dante membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya. Lalu bagaimana dengan Dante sendiri?


‘Jeff! Kenapa nama itu yang harus kau sebut dan kau hubungi disaar kau membutuhkan bantuan? Apa kau tidak bisa meminta bantuan padaku? Kenapa harus pria itu?’ gumam Dante marah.


Dia tidak bisa menerima kenyataan karena Bella menghubungi Tuan Jeff. ‘Lihat saja Bella, aku akan benar-benar menghukummu disana! Ditempat itu kau tidak akan mendapatkan kebaikan dariku! Bella apa begini sikap aslimu? Kau bagaikan seekor ular yang berani mengkhianatiku!’ bisik hatinya penuh kemarahan sambil mengepalkan kedua tangan. Dia sama sekali tidak mau mencari tahu apa alasan Bella melakukan itu.


‘Siapa Tuan Jeff yang kau maksud itu? Jangan pernah berpikir kalau aku akan membiarkanmu bersama dengannya! Tidak akan Bella! Sampai kapanpun kau tetap milikku!’ ujar Dante didalam hatinya. Dia masih belum merasa tenang dan sepanjang perjalanan dia marah-marah dalam hatinya hingga tak terasa setelah menempuh perjalanan selama dua jam mereka pun tiba ditempat tujuan.


‘Sekarang saatnya aku akan menghukummu Belinda Alexandra Amani! Aku akan membuat perhitungan yang takkan bisa kau lupakan.’ sudah banyak hal yang dipikirkan oleh Dante ketika dia turun dari mobil dan siap untuk menghukum Bella. Dia membuka bagasi mobil….KLEK!


“Keluar!” bentaknya.


“Siapapun diluar sana tolong keluarkan aku dari sini! Keluarkan aku takut sekali, aku tidak melihat apapun disini gelap! Jauhkan aku dari tempat itu aku mohon jangan tinggalkan aku disini!”


Dante terkejut saat melihat kondisi Bella didalam bagasi. ‘Apa yang terjadi padanya? Aku sudah pernah menaruhnya sekali didalam bagasi tapi dia tidak begini!’ gumam Dante. Meskipun di wajahnya tidak ada senyum tapi dihatinya dia sudah merasakan sakit melihat kondisi Bella. Seketika itu juga dia sudah lupa dengan semua niat hatinya dan rencananya untuk menghukum Bella.


Bella bukannya keluar dari dalam bagasi, dia justru bergumam sendiri dengan suara lirih dan tersendat-sendat karena menangis tanpa henti. Dia bahkan tidak mendengar suara Dante, matanya tertutup rapat dan yang hanya ingin didengar oleh Bella adalah suaranya sendiri.


“Hei apa kau tidak dengar? Keluar!” ujar Dante dengan suara tinggi tapi Bella tetap tidak merespon. Dia masih bergumam kalimat yang sama dari bibirnya dan semakin meringkuk ketakutan.


“Bella!” Dante memanggil nama itu tapi tetap saja Bella meringkuk dalam posisi yang sama.

__ADS_1


“Aakkhhhhh….jangan sentuh aku! Pergi….pergi! Aku mohon jangan sentuh aku. Biarkan aku pergi dari sini, aku masih tujuh belas tahun jangan menyentuhku! Jangan rebut kesucianku…..aku mohon.” teriaknya saat tangan Dante hendak membawanya keluar dari dalam bagasi.


 


__ADS_2