
Suket teki. Kadang jadi gulma. Penganggu tanaman utama. Di tangan orang hebat, dia bisa jadi obat.
Ibu memeluk Lodi erat. Air mata tumpah sangat lebat. Lodi membalas pelukan itu. Dua wanita bertangisan.
"Nduk, maafkan ibu yang sudah menyalahkan kamu karena tak mau cerita."
"Sudahlah, Bu."
"Ibu juga menyalahkan kamu yang tak mau poligami. Hanya karena ibu juga poligami, tapi bisa bahagia. Padahal masalahmu beda."
"Ibu ...."
"Tapi, Nduk ...."
Ibu menatap Lodi, lalu menghapus air mata anak tirinya. Lodi berganti menghapus air mata ibunya.
"Tapi apa, Bu?"
"Apa tidak mungkin adikmu yang mengalah? Dia pergi dari rumahmu. Kalian berdua melanjutkan rumah tangga, meski itu berat."
'Sial! Pasti mereka berdua belum ngomong soal ini.'
Lodi menggerutu dalam hati.
"Ibu ...." Lodi kembali memeluk ibunya. Erat.
Ibu membalas pelukan Lodi.
"Maafkan Lodi terpaksa mengatakan ini."
Dug
Dug
Dug
"Nada, sudah hamil."
Arrghh ... Ibu berteriak histeris.
Mereka berdua masih berpelukan. Entah siapa yang lebih terluka.
Apakah Lodi, karena suaminya menghamili wanita lain?
Ataukah ibu, karena anak gadisnya hamil di luar nikah?
Suket teki bergoyang karena angin. Pak tani mencabutnya, lalu membuang ke tepi sawah.
Suket teki memang bisa dijadikan herbal terapi. Namun bila tumbuh di tengah padi, tetap harus pergi.
***
"Dik."
Sumbang mendatangi Lodi di kios batiknya. Sendirian. Itu kedatangan pertama setelah Lodi pindah ke rumah ibu.
"Ada apa, Mas?" tanya Lodi sambil terus menata tumpukan batik.
'Duh, mengapa hatiku masih bergetar menghadapi laki-laki ini?' Lodi membatin.
"Aku sudah melamar Nada."
'Aku sudah tau, sialan. Terus maumu apa?' Lodi memaki dalam hati.
Lisan Lodi tak berucap. Dia tetap sok sibuk merapikan barang dagangan. Aslinya tak begitu perlu dirapikan. Kadang, orang butuh kamuflase gerakan saat mati gaya. Kamu juga begitu, kan?
"Bapak dan ibu memberi syarat, aku harus memberitahu mama."
Lodi melambatkan gerakan tangannya.
"Tentu saja. Lalu?"
Lelaki bertubuh tegap itu tidak segera menjawab. Sedangkan Lodi tidak berusaha mencari tahu apa mau mantannya itu.
__ADS_1
"Aku ... tak sanggup."
Brukkk!
Lodi melempar setumpukan batik.
"Maksudmu!?"
'Enak benar. Sewaktu berbuat, sanggup-sanggup saja.' Lodi memaki dalam hati.
"Aku ingin minta tolong kamu ...."
"Terlalu kamu, Mas!"
Sumbang terdiam. Dia mengetukkan kunci motor ke meja kaca.
"Kalau kamu yang ngomong, kagetnya mama mungkin beda," sahut Sumbang lirih.
Lodi mengambil sebuah tumpukan kain batik. Sekenanya. Lalu dilempar sekuat tenaga ke lelaki di hadapannya.
"PERGIII!"
"Bu ..." Zulaeka, sang asisten tergopoh menghampiri. Dia lama mengenal Lodi. Tak pernah sebelumnya mengamuk semacam ini.
"Aku sudah sakit hati dengan ulahmu. Jangan kau bebani lagi!"
Sumbang berdiri. "Maaf, aku permisi."
Tangis Lodi meledak. Zula menenangkan.
Sumbang berjalan ke tempat parkir. Sekuat tenaga memukul helm yang tidak bersalah.
UH!
"Aku benar-benar bodoh. Aku hanya melakukan sekali. Sekali. Ternyata buntutnya jadi tak karuan begini. SIAALLL...."
***
"Lod, ijab Nada jadi hari Minggu besok?"
Lodi menggeleng.
"Sudah kemarin. Mereka ke KUA. Syukuran di rumah mereka. Ibu nggak kuat kalau di rumah ibu."
Santi mengusap punggung Lodi. Masih ingat di benaknya sewaktu Sumbang dan Lodi menikah, ia jadi panitia. Padahal waktu itu punya anak bayi. Tapi demi sahabat, apa sih yang tidak?
"Oo ... Padahal aku dah punya rencana."
"Rencana apaan?"
"Ngajak kamu ke Petung Kriyono. Sama Umay."
"Umay? Dia dah tahu?"
"Baru tahu kemarin. Kupikir kau sudah kasih tau Umay."
Lodi menggeleng. Umay, Santi dan Lodi adalah tiga karib sejak SD. Hanya akhirnya kuliah di kota berbeda. Umay di Jogja, mereka berdua di Semarang.
Ah, Umay. Ibu beranak satu itu sudah memperingatkan Lodi berulang kali.
"Kok kamu mengizinkan Nada serumah sama Sumbang?"
"Memang kenapa?"
"Ipar itu fitnah."
Lalu Umay menyambung dengan sebuah hadis nabi. Lodi lupa bunyinya. Tapi inti nasihat itu, berhati-hatilah dengan ipar.
"Iparmu kali, May. Nada nggak bakalan. Mas Sumbang juga bukan lelaki tipe gitu."
Nada ikut tinggal bersama mereka karena tempatnya bekerja lebih dekat. Hanya sekitar 3 km. Kalau dari tempat ibu, sekitar 10 km. Capek.
Ah, seandainya dia mendengarkan nasihat Umay ....
__ADS_1
"Lod, kok kamu diam saja?"
"Petung Kriyono, ya. Sepertinya asyik."
Minggu pagi mereka bertiga hang out ke Petung. Ustadz Ryan, suami Umay jadi sopir. Iqbal yang masih batita juga diajak.
Bakda subuh mereka berangkat. Jalan ke Petung lumayan terjal juga. Untung pake mobil off-road.
"Ternyata Petung indah juga," kata Santi.
Ryan bersama Iqbal duduk di warung angkringan. Santi, Umay dan Lodi duduk di gardu pandang. Hutan dan sungai yang begitu jernih ada di bawah kaki mereka.
"May, coba aku dulu dengarkan kata-katamu," kata Lodi.
Umay mengusap punggung Lodi.
"Waktu itu, aku berpikir kau sangat kolot. Fanatik."
"Ah, sudahlah. Semua sudah terlanjur. Yang penting kau harus cepat move on. Kalau perlu, segera cari pengganti. Kamu sepakat kan, San?"
"Beres," sahut Santi," kau mau yang bujang, duda tanpa anak atau duda beranak?"
"Ih, kalian ...." Ujar Lodi gemas.
Ketiganya lalu tergelak.
"Lod, ngomong-omong, gimana kamu bisa tahu?" tanya Santi.
Lodi menghela napas panjang.
"Kalau kamu keberatan cerita, jangan dijawab." Santi setengah meralat pertanyaannya.
"Ah, nggak apa. Aku nemuin bungkus test pack di tong sampah. Isinya sih hilang."
Umay dan Santi tetap mendengarkan.
"Ngapain coba, orang pengin tahu dia hamil atau tidak kalau belum begituan."
"Terus kamu tanya ke Nada?"
Lodi menggeleng. "Aku nanya ke Mas Sumbang. Secara Nada tak punya teman lelaki. Lelaki yang paling dekat dengan Nada setelah bapak ya Mas Sumbang. Ekspresinya seketika membuat aku curiga."
"Lalu?"
"Aku terus mendesak Mas Sumbang. Akhirnya dia mengaku. Aku minta cerai. Tapi Mas Sumbang nggak mau. Dia bilang apa yang dilakukan dengan Nada adalah kekhilafan. Ya sudah, aku saja yang menuntut cerai."
"Jadi Nada menikah dalam kondisi hamil ya?" tanya Umay.
"Iya."
"Terus hukumnya bagaimana tuh, May?" tanya Santi.
"Banyak silang pendapat. Tapi sebagian mengatakan pernikahan tetap sah. Hanya saja, kasian si anak. Dia tidak punya hak waris dari ayah. Juga hak wali kalau dia perempuan."
Angin di pegunungan menerpa muka mereka bertiga. Dinginnya menggigit.
"Aku minta tolong ke kalian, bisa?" tanya Lodi.
"Bisaaa ...." sahut berdua serempak.
"Tolong sambangi ibuku. Ibu lebih sakit dari aku. Semua orang menyalahkannya. 'Kamu sih, mengizinkan Nada tinggal bareng.' Yang lain lagi bilang, 'mentang-mentang Nada cacat, nikah nggak rame-rame.'
"Beresss... "
Tangan kanan Lodi menggenggam tangan Santi. Tangan kiri bersama Umay.
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan jangan kedondong
Halus di luar
__ADS_1
Di dalam begitu kasar
-bersambung-