
‘Ini adalah cara untuk memastikan apakah mereka akan bangun lagi atau tidak? Apakah mereka android atau bukan?’ Dante bergumam lagi sambil melihat lima orang dengan pakaian jas laboratorium. ‘Jadi ini laboratoriumnya? Dan mereka ini adalah orang-orang yang bekerja di laboratorium?’ Dante bertanya-tanya sambil berdecak.
‘Tapi ada yang tidak aku mengerti sekarang. Kalau mereka memang android juga harusnya mereka mendengar kalau aku ada diluar dan sudah bersiap untuk masuk! Pramugari itu saja bisa mendengar jelas apa yang aku katakan! Bagaimana sebenarnya cara kerja robot ini? Yang satu fokus dan yang satu tidak fokus?’ Dante belum mendapat jawabannya tapi dia yakin orang-orang yang ditembaknya itu juga robot atau bukan.
“Semoga mereka belum melakukan sesuatu pada Barack! Dan semoga juga dia belum melakukannya pada Sarah atau yang lainnya.” Dante tidak terlalu mengingat nama lain yang mungkin bersama Barack.
Dia mengarahkan kembali kedua senjata ditangannya kepada mayat-mayat yang bergelimpangan, walau pikirannya sudah berkecamuk namun dia masih mengatur siasat.
“Tuan?” Vince memanggil Dante lagi.
“Tunggu dulu Vince! Aku masih belum yakin. Jangan memecah konsentrasiku dulu! Biarkan ruangan ini hening sejenak.” kata Dante yang menatap kearah mayat-mayat itu.
Vince pun langsung terdiam dan tak berani berkata-kata lagi. Dia membiarkan Dante diam dalam posisinya sekarang dan Dante tetap mengacungkan senjatanya pada lima mayat petugas laboratorium itu.
‘Tidak ada reaksi! Mereka benar-benar sudah mati bukan? Aku belum yakin.’ tapi akhirnya Vince mencoba berpikir begitu walaupun Dante masih belum bergeming dan mencoba memastikan lagi.
Tapi saat ini sebenarnya Vince sudah tidak sabaran dan dia tidak mengerti apa yang ditunggu Dante lagi. ‘Apa yang sebenarnya diinginkan Tuan Dante?’
Lima menit berlalu dan Vince semakin bingung tapi dia berusaha untuk mengikuti cara kerja Dante. Pria itu tampak diam saja dan seperti sedang berpikir.
‘Apa aku harus bertanya padanya? Tapi apa dia akan peduli pada pertanyaanku?’ Vince mencoba lagi menyimpulkan karena sudah sepuluh menit berlalu dan mereka masih dalam posisi yang sama.
Dante masih tidak bergerak, wajahnya terlihat fokus tetapi tidak bertindak apapun. Apa sebenarnya yang diinginkan Dante? Apa harus menunggu satu jam atau dua jam atau seharian diam seperti patung? Semua orang akan segera berkumpul.
Bukankah akan sulit kalau orang-orang itu sudah berkumpul nanti? Vince mulai merasa pusing tapi dia berusaha untuk sabar dan mengendalikan diri.
“Siapkan dirimu!” Dante menatap Vince lalu menunjuk kearah benda berwarna merah yang berada dibelakang Vince yang merupakan alat pemada kebakaran.
“Sebentar, saya akan mengambilnya Tuan!” Vince berjalan mundur dan mengambil benda itu. Tapi dia masih tidak mengerti apa yang harus dilakukan dengan benda itu. Tidak mungkin kan untuk mayat?
__ADS_1
“Sebentar lagi. Ini tidak akan lama lagi! Persiapkan saja dirimu!” kata Dante.
‘Aduh betapa konyolnya Tuan Dante ini? Apa dia ingin menakut-nakutiku seperti tadi dipesawat? Dia berkata begitu saja sudah membuatku benar-benar ketakutan! Aku tidak mengerti apa yang dia mau. Apa aku harus menyemprot mayat-mayat ini?’ Vince semakin penasaran dan tak sabaran lagi.
Dia sudah siap untuk menyemprot mayat dan….
Klek
“Vince! Sekarang semprot mayat-mayat itu!” teriak Dante setelah suara pintu terbuka.
DOR DOR DOR DOR
Vince menyemprot dan Dante menembak orang yang baru saja masuk keruangan itu. ‘Ruangan disebelah sudah kosong! Berarti benar dugaanku! Mereka mendengarkan semua yang aku ucapkan!’
‘Walaupun dibatasi dinding kedap suara tapi mereka tahu aku datang kesini! Mereka tidak mungkin bisa melihat kearah cctv sebelumnya karena aku bisa merasakan dari suara ditelingaku! Ehm…bahaya kalau pendengaran mereka setajam itu!’ bisik Dante dihatinya karena dia bisa mendengar gerakan kaki kurang dari dua puluh meter. Batas kamar sebelah itu kurang dari dua puluh meter.
Dan benda berbentuk earphone yang dipakainya memberikan sinyal suara gerakan kaki yang mendekat. Sehingga dia bisa memerintahkan Vince untuk bersiap.
“Itu yang aku takutkan Vince! Mereka tidak bisa mati!” ujar Dante yang merasa resah membuat Vince menatapnya pun ikutan galau. Sejenak Vince terdiam sambil menelan salivanya mencoba berpikir tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Dia malah bertambah panik mendengar perkatan Dante tadi. Bagaimana caranya mengalahkan makhluk yang tidak bisa mati?
Immortal? Apakah ini sama seperti zombie? Vince merasa semakin pening. “Apa yang harus kita lakukan sekarang tuan?” tanya Vince menatap Dante yang menggelengkan kepalanya.
Dante memang sudah memprediksi kejadian itu. Apabila ada orang yang masuk kedalam laboratorium tempatnya berada dan orang-orang yang ditembak itu hidup lagi.
Dante mencari cara untuk melawan mereka karena dia tidak ingin membuang amunisinya. Dante berpikir cepat mencari benda apa saja diruangan itu yang bisa digunakan. Dan tepat sekali dibelakang Vince ada alat pencegah kebakaran sehingga itu bisa dimanfaatkannya.
“Tuan! Apa yang harus kita lakukan kalau mereka hidup lagi? Dan orang yang baru ditembak itupun hidup lagi?”
“Sepertinya semua pasukan Jeff yang ada disini, mereka semua sudah diberikan suntikan itu! Dan itulah yang aku khawatirkan!” ujarnya yang kini merasa makin cemas. “Kita harus mencari cara.”
__ADS_1
“Cara apa Tuan?”
“Pegang alat pemadam kebakaran itu. Jangan kau lepaskan yang disana itu belum sadarkan diri! Tapi yang ini kau biarkan saja dulu. Mereka tidak mungkin bisa melihat kita. Setidaknya mereka tidak akan mengganggu kita dulu.” ujar Dante.
“Aku tahu mereka bisa mendengar suara kita! Dan aku tidak tahu seberapa akurat mereka akan mengikutiku. Tapi setidaknya mata mereka tidak bisa melihat. Itu dulu yang penting.” Dante bicara sambil mendekat ke laptop dan dia menyetel musik dengan keras.
“Tuan, anda menyetel musiknya kencang sekali!”
“Pakai ini!” Dante mengambil sesuatu dari saku celananya dan memberikan pada Vince.
“Tuan, ini sama dengan yang anda pakai kan?” tanya Vince mengambil benda itu dan memakainya.
“Ini bisa melindungimu! Ini remotenya!” Dante menyerahkan sebuah remote pada Vince.
“Ada remotenya juga? Wah hebat sekali.” Vince sangat antusias sekali menerima barang-barang itu. Ini pertama kalinya dia melihat barang-barang secanggih itu.
“Pencet tombol segitiga untuk peredam suara. Tapi kau bisa mendengar suaraku! Karena kita sama-sama memakai ini dan pencet tombol bulat warna kuning itu untuk mendengar suara dengan jarak maksimal dua puluh meter.” kata Dante menjelaskan.
“Baik Tuan! Saya paham sekarang.”
Dante kini fokus melihat data-data yang ada dikomputer itu.
‘Waktuku tidak banyak lagi!’ Dante bicara dihatinya.
“Vince! Jangan diam saja. Coba kau cari sesuatu, senjata atau apapun bawa sebanyak-banyaknya yang bisa kau bawa! Karena mereka pasti akan merepotkan kita nanti.” Dante bicara pelan berusaha untuk tidak membuat para manusia android itu bisa mendengarnya. Karena itu akan membuat mereka kesulitan.
“Baik tuan.” jawab Vince yang mulai bergerak.
‘Kau tidak mungkin bisa mendengarkan semua pembicaraanku. Orang-orang disini ada banyak sekali! Kau harus mencari mana suaraku. Kau harus bisa membedakan suara dari pendengaran tiap orang.’ Dante mulai menganalisa.
__ADS_1
‘Tapi sepertinya kalian belum fokus kesana.’ Dante bergumam lagi dan tiba-tiba dia terpikir tentang seseorang.