PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 30. BERTEMU SARAH


__ADS_3

“Maaf Tuan, mau cari siapa?” tanya seorang penjaga saat melihat Barack celingak celinguk.


“Dimana kantornya? Aku ingin menemui seseorang.”


“Mari ikut saya Tuan. Akan saya antarkan kesana.”


Barack pun mengikuti penjaga itu ke kantor penanggung jawab asrama.


“Selamat pagi Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”


“Saya ingin bertemu dengan Sarah Azalea. Saya orang suruhan kakaknya.”jawab Barack.


“Apa benar anda adalah suruhan kakaknya? Selama ini belum pernah siapapun yang dikirim oleh kakaknya kesini” tanya seorang guru jaga disana.


Barack mengganggukkan kepala dan mengeluarkan sesuatu dari kantorngnya.


“Kakaknya sudah menikah memintaku untuk memberikan ini kepadanya.” kata Barack. ‘Aku yakin guru ini mencurigaiku dan kau tidak percaya kalau aku orang suruhan kakaknya tapi melihat uang segepok ini mentalmu pasti langsung goyah! Pasti kau akan segera memanggilnya.” ujar Barack dalam hati.


“Silahkan duduk dan tunggu sebentar ya Tuan. Biar saya panggilkan Sarah!” ucap guru jaga itu. Sesuai dengan apa yang diprediksi oleh Barack, membuat pria itu tersenyum dan duduk disofa menunggu orang yang ingin ditemuinya.


Tak berapa lama seorang gadis cantik berwajah manis muncul. “Kau siapa?” tanya Sarah dengan wajah ketakutan.


Barack menatap gadis didepannya. ‘Jadi ini orangnya? Sarah Azalea ternyata dia masih kecil mungkin masih kelas satu SMA. Pantas kakaknya mati-matian menjaganya. Gadis ini nampak masih polos dan lugu sekali.’ gumamnya dalam hati.


“Aku datang karena kakakmu yang menyuruhku untuk menemuimu. Aku ingin menyampaikan kiriman dari kakakmu!” jawab Barack dengan tersenyum agar Sarah tidak takut padanya.


“Oh….iya.” ucap Sarah menggangguk patuh mengikuti Barack.


“Kak Belinda menyuruhmu kesini?” tanya Sarah dengan was-was.


“Iya kau benar.” jawab Barack yang tahu jika Sarah mencurigainya. “Kakakmu memberikan ini padaku. Katanya untuk biaya sekolahmu.” Barack sengaja menunjukkan uang itu didepan guru jaga yang terus menatap kearahnya. Barack memperhatikan perilaku dan tatapan mata guru jaga itu.


“Kau sudah melihat aku memberikan uang padanya. Kau harus ingat kalau sampai uang ini hilang dan terbukti kalau kau atau orang di asrama ini yang mencurinya atau seseorang yang kau suruh untuk mencurinya, aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja.”


“Oh jangan kahwatir Tuan! Kami tidak akan melakukan itu.”jawab guru itu dengan cemas lalu melangkah pergi meninggalkan Barack dan Sarah.


Barack mengalihkan tatapannya kembali pada Sarah. “Uang ini tidak sedikit.” kata Barack.

__ADS_1


“Aku tahu! Lantas kau mau apa?” tanya Sarah langsung mundur beberapa langkah menjaga jarak dengan Barack. Dia masih ketakutan dan tak mempercayai siapapun, dia teringat pesan terakhir kakaknya.


“Huh! Kenapa kau ketakutan begitu? Aku tidak akan menyakitimu gadis kecil!” kata Barack. “Begini saja aku memberimu dua pilihan. Kartu ini berisi uang dengan jumlah yang sama dengan yang diberikan oleh kakakmu. Tapi dengan kartu ini kau lebih aman dan kau bisa menarik uang dari atm kapanpun kau butuh dan tidak akan ada orang yang akan tertarik dengan uangmu.” ucap Barack menegaskan.


‘Mari kita lihat seberapa pintar gadis  ini. Aku sudah menjelaskan dengan terperinci dan ingin tahu pilihan apa yang akan dia ambil.” ujarnya mencoba mengetes Sarah.


“Apa kau curiga jika teman-temanku akan mengambil uangku seperti kata kak Belinda?” tanya Sarah yang langsung dijawab Barack dengan anggukan kepala.


‘Jadi Belinda itu nama aslinya Bella?’ ucapnya dalam hati sambil menggangguk-anggukkan kepalanya pada Sarah.


“Kalau begitu berikan saja kartu itu padaku.” kata Sarah.


“Ini ambillah. Simpan kartu itu dengan baik dan ingat jangan sampai ada orang yang mencuri uangmu.” ujar Barack menghela napas lega dengan pilihan yang dibuat Sarah. Tadinya dia merasa khawatir jika gadis itu akan memilih uang tunai.


Bukannya Barack mencurigai orang-orang di asrama itu tapi bukankah lebih baik jika gadis itu memegang kartu atm berisi uang banyak. Itu jauh lebih aman.


“Terimakasih.”ucap Sarah menundukkan kepala sambil tersenyum. “Aku mengerti maksudmu.”


“Baguslah kalau begitu.” Barack tersenyum. “Berikan ponselmu padaku agar aku bisa menyimpan nomor pin-nya.” tangan Barack terbuka.


“Ini juga perintah kakakmu!”


Mendengar ucapan Barack, gadis itu langsung memberikan ponselnya. “Aku sudah menulisnya.”


“Apa kau juga menulis nomor ponselmu disini?” tanya Sarah.


“Disana ada dua nomor. Salah satunya adalah nomor pin kartu atm, aku sengaja menuliskan dua nomor agar orang lain tidak curiga,”


Sarah yang masih polos hanya mengangguk setuju. ‘Wow! Pria ini pintar sekali, dia juga tampan. Apa dia suka nonton film detektif?’ gumamnya.


“Sekali lagi terimakasih ya.”


“Hem….kalau begitu aku pergi dulu.” kata Barack lalu bangkit dari duduknya.


“Sarah menggangguk saat Barack sudah berdiri. “Eh tunggu dulu gadis kecil!”


“Berhenti memanggilku gadis kecil! Namaku Sarah, panggil saja begitu.”

__ADS_1


“Aku tahu tapi usiamu jauh lebih kecil dariku jadi bagaimana kalau aku memanggilmu adik kecil.”


“Oh begitu. Baiklah.” kata Sarah.


“Kalau ada masalah atau kalau ada orang usil yang mengganggumu atau sesuatu terjadi pada uang itu. Kau bisa hubungi aku kapan saja. Akan kusampaikan pada kakakmu.”


“Apakah kakakku menyuruhmu untuk menjagaku?”


“Hem….tidak juga sih. Aku hanya membantu kakakmu saja.”


“Benarkah?” tanya Sarah mengerjapkan matanya dengan senyum diwajah.


“Tentu saja! Jangan khawatirkan kakakmu, dia aman saat ini. Dia bersama dengan orang yang baik.”


“Baguslah kalau begitu. Aku akan segera menghubungimu jika ada sesuatu yang terjadi padaku.”


Barack terus menatap Sarah. ‘Senyumnya manis sekali, usianya masih sangat mudadan cantik. Pantas saja kakaknya juga cantik wong adiknya juga secantik ini.’ Barack mengoceh dalam hatinya. Dia pun melangkah keluar dari asrama diikuti Sarah dari belakang. Barack melambaikan tangan pada Sarah saat dia melajukan mobilnya meninggalkan asrama.


Barack mengambil ponselnya lalu menghubungi Dante.


“Halo ada apa kau menghubungiku?"


“Waduh kenapa ketus begitu? Aku cuma mau bilang kalau tugas sudah selesai! Aku sudah menemui Sarah dan memberikan uang itu padanya.”


“Bisakah aku meminta satu hal lagi untuk kau lakukan?” tanya Dante.


“Dante, kau belum berterimakasih padaku untuk tugas sebelumnya tapi kau malah meminta hal yang baru lagi! Ckck!” kata Barack menggerutu.


“Apa ucapan terimakasih begitu. penting bagimu, ha?”


“Jangan begitu. Sudahlah kau tidak perlu berterimakasih padaku. Malah terdengar aneh kalau kau mengucapkan kata itu. Apa yang kau inginkan untuk kulakukan padamu? Tapi jangan buru-buru ya, berikan aku sedikit waktu ya aku lelah sekali. Kau tahu kan aku menempuh perjalanan tiga jam untuk sampai di asrama itu. Aku bahkan melewatkan makan siangku.” kata Barack.


“Apa kau tidak punya uang untuk beli makanan?”


“Bukan begitu, aku mengejar waktu agar bisa sampai disana tepat waktu. Aku jadi tidak sempat makan karena ini akhir pekan jalanan macet. Katakan, apa yang kau mau aku lakukan lagi?”


“Tolong kau lindungi Sarah, mereka menjadikan Sarah sebagai incaran mereka karena dia adalah titik kelemahannya. Kau bisa kan melakukan itu?”

__ADS_1


__ADS_2