PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 355. TAK TERDUGA


__ADS_3

Henry sangat mengkhawtatirkan Dante sehingga dia lebih memilih untuk menggantikan pria itu. Sikap Henry itu membuat Dante tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk bahunya dan berkata, “Kau tidka perlu mengkhawatirkan aku sampai sejauh itu. Mereka tidak akan bisa membahayakan aku seperti mereka melakukannya pada ayahku!”


“Henry, aku sudah banyak belajar dari semua kehilanganku. Dan Omero juga melatihku dengan sangat baik selama ini. Jadi tak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja, Henry!”


“Tapi Tuan, sekarang ini kondisinya berbeda.”


“Tidak Henry! Kondisinya tetap saja sama. Semuanya masih sama, dendam adalah dendam. Keinginan untuk mengalahkan satu sama lain tetap ada dan tambahannya Jeff Amaedo menginginkan Bella!”


“Hah? Bella?” Henry mengulang nama itu. “Lalu?”


“Jangan lalu...lalu Henry! Siapkan saja yang aku minta. Ambilkan aku mobil sekarang.aku harus menjemput Omero secepatnya!”


“Ehm….tapi?”


“Tidak ada tapi tapian Henry!” Dante bicara sambil melangkah keluar ruangannya dengan diikuti Henry dibelakang yang sedikit meringis tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa sehingga hanya bisa mengambil ponselnya dan menghubungi pelayan didepan untuk menyiapkan apa yang dibutuhkan Dante.


‘Jujur saja perasaanku tidak enak! Apa yang bisa kulakukan supaya Dante tidak jadi pergi ya?’ bisik hati Henry. Dia merasa tidak nyaman dengan kepergian Dante kali ini.


“Tuan apa tidak sebaiknya anda makan bersama istri anda dulu?” akhirnya dia hanya bisa mengajukan pertanyaan konyol seperti itu.


“Aku tidak lapar! Dan saat ini yang aku butuhkan hanya mobilku. Jangan kau memikirkan hal yang macam-macam dulu!”


“Saya yakin istri dan anak anda akan senang sekali kalau anda bisa makan bersama mereka Tuan.”


“Istriku sudah pergi dari rumah ini Henry! Dan saat ini kondisi kami sedang dalam proses perceraian! Apa kau lupa kalau aku baru saja melayangkan gugatan cerai?”


‘Fuuuhhh! Henry…..kau ingin membujukku? Kau ini ada-ada saja. Apa yang ada dalam pikiranmu itu sampai kau melakukan hal bodoh semacam ini Henry? Ini pertama kalinya kau mencegahku pergi.’

__ADS_1


“Ehm...maksud saya bukan Nyonya Tatiana! Tapi wanita yang sekarang bersama anda Tuan! Nyonya Bella yang sebentar lagi jadi nyonya dirumah ini.”


Henry cepat-cepat meralat ucapannya karena pria didepan itu sudah tersenyum kecil dan belum merespon permintaaanya.


“Aku rasa dia sedang sibuk bermain dengan anakku. Tak perlu kau panggil dia!” Dante berjalan cepat. Dia sudah membuang banyak waktu dan sekarang dia harus segera bergegas kerumah sakit.


“Tapi Tuan! Bisakah anda mempertimbangkan lagi untuk tidak pergi malam ini? Sejujurnya saya khawatir sekali dengan kondisi anda.”


“Sudah! Kau tidak perlu merasa khawatir Henry! Semua akan baik-baik saja.kau tidak perlu memikirkan terlalu berlebihan!”


“Akut titip keluargaku saja padamu. Kalau terjadi sesutau pada mereka itu artinya akan terjadi sesuatu padaku juga!”


“Baiklah Tuan!”


“Baguslah kalau kau mengerti dan jangan lagi melakukan perbuatan konyol macam itu.”


Tanpa banyak bicara lagi dengan Henry, pria itu langsung membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju mobilnya. “Kau memberikan mobil ini Henry?” tanya Dante setelah melihat kendaraan apa yang telah disiapkan untuknya.


“Saya rasa mobil itu yang paling aman Tuan.”


“Kalau menurutmu lebih aman, aku percaya. Baiklah aku pergi dulu.” ujar Dante memasuki mobilnya. ‘Entah mengapa tapi semua yang dipilihkan olehnya selalu saja tepat sesuai dengan kebutuhanku. Tapi saat ini kenapadia memberikan mobil sederhana ini? Ssshh tapi aku percaya sekali padamu Henry! Aku tidak minta ganti apapun, mobil ini sudah cukup.’


“Atau anda menginginkan mobil lain? Biar saya ganti Tuan!”


“Tidak perlu! Kau selalu memberikanku kendaraan yang tepat! Seperti yang kau lakukan kemarin pada temanku! Untung saja kau memberikan mobil itu padanya. Kalau tidak, aku tidak yakin dia bisa melewato mereka semua yang menyerangnya.”


“Saya mohon maaf Tuan! Apa anda mau diganti mobil lain?” Henry kembali menawarkan.

__ADS_1


“Ini sudah cukup untukku. Aku bukan Eddie dan mereka tidak mungkin melakukan taktik yang sama padaku. Untuk kali ini kita lihat apa yang bisa mereka lakukan.” Dante lalu menutup pintu mobilnya dan melajukan mobilnya.


‘Ini adalah hidupku! Ini adlaah pilihanku. Aku sudah menentukan akan mencari siapa pembunuh ayahku dan meminta pertanggung jawabannya. Aku juga akan meminta untuk mengembalikan nama baik ayahku dikembalikan! Karena semua yang dilakukan ayahku bukanlah sesuatu yang ilegal!’ bisik hati Dante yang kembali teringat pada orang tuanya.


‘Daddy! Mommy! Anakmu masih hidup! dia belum meninggal! Dia masih ada didunia ini. Aku akan mencari dan menemukannya!’ Dante tersenyum saat dia sudah melewati gerbang dan melaju meninggalkan rumahnya.


‘Aku minta dukungan kalian supaya aku bisa kuat menghadapi semua ini! Aku tidak akan pernah menyerah karena kalian tidak pernah membuatku memyerah! Aku tahu apa yang harus kuperbuat!’


Sambil menyetir mobilnya, mata Dante memperhatikan ke kanan dan kiri. Dia tidak mau lengah dan tidak mau sampai ada orang yang mencuri kesempatan.


‘Pasukanku ada di sepanjang jalur ini. Aku bisa melihat mereka tapi aku belum menemukan dimana musuhku berada.’ ujarnya dan saat ini dia sudah tiba ditempat dimana Eddie hampir terbunuh tempo hari.


“Tikungan ditempat ini memang mengerikan. Tapi aku rasa kalian tidak akan menggunakan taktik yang sama.” Dante menyakinkan dirinya sendiri.


“Aku harus tetap hati-hati dan waspada. Jarang-jarang mereka menemukanku keluar rumah sendirian. Mereka tidak akan menyia-yiakan kesempatan ini.” ujarnya mengingatkan dirinya sendiri. Hingga terdengar bunyi detak dijamnya yang tidak wajar membuat Dante mengerem mendadak.


Saat ini mobilnya berada diturunan dan kelokan yang curam. “Kenapa dia berbunyi?” tanya Dante memperhatikan sekitarnya. “Ini bunyi tidak wajar. Seperti peringatan!” lalu dia mengambil satu senjatanya. “Aku harus waspada.”


Bunyi itu tidak berhenti dan dia masih berada ditempat yang sama. “Ada apa ini? Tunggu dulu! Yang hany bisa melakukan sesuatu pada jamku hanya kami berlima!” tanpa menunggu lama Dante mengaktifkan jam tangannya mencari radar dan memperhatikan titik-titik yang ada disana.


“Kenapa ini?” ujarya mencoba mengecek jam tangannya. “Hilang semua? Kemana mereka semua? Bahkan aku sendiri pun tidak ada disana? Apakah jam tangan ini rusak?” Dante berdecak kesal ketika melihat jam tangannya tidak menunjukkan peta seperti biasanya.


“Ini tidak benar! Aku tidak yakin dengan semua ini. Aku rasa ada yang salah dengan semua ini.” Dante bergumam lagi. “Barack! Apakah kau ada disekitar sini?” matanya tetap fokus pada jam tangannya.


“Fuuh! Aku rasa ini ulahnya. Hanya Barack yang bisa merusak barang-barangku! Tapi apa alasannya merusak ini?” Dante mencoba fokus dan menatap lagi jam tangannya.


“Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus keluar dari tempat ini? Ini benar-benar aneh!” ujar Dante sejenak berpikir dan belum menentukan pilihan.

__ADS_1


__ADS_2