
“Kenapa kau mandi jam segini Sarah?” tanya Barack.
“Ini kan pagi hari! Makanya aku mandi dan kenapa kau diam disini? Kau lihatkan rambutku masih banyak shamponya?” Sarah saat ini sedang keramas dan Barack menyingkirkan sabun-sabun itu agar tidak terkena mata Sarah.
“Kau mau aku menyalakan showernya lagi?” tanya Barack.
“Iya.” jawab Sarah mengangguk. “Kalau showernya tidak dinyalain aku tidak bisa mandi.”
“Sebentar ya.” Barack langsung bergerak menuju shower. “Seperti ini sudah cukup?”
Wajah Sarah memerah menahan malu. “Iya Barack, aku senang sekali kau ada disini dan membantu mencuci rambutku.” Sarah seakan tidak malu dengan Barack tapi dia malah senang tanpa mempedulikan tubuhnya yang polos yang sedang dimandikan Barack.
“Selesai mandi segera ganti baju.” ucap Barack.
“Bagaimana dengan bajumu yang basah?” Sarah malah balik bertanya saat dia melihat Barack basah.
“Jangan pikirkan bajuku, Sarah. Aku bisa menggantinya nanti.”
“Tentu saja aku memikirkannya! Kalau tubuhmu basah kau harus mandi bukan?”
Barack mengatupkan bibirnya dan tidak mengatakan apapun lagi.
“Apa kau mau mandi bareng denganku?” tanya Sarah.
“Hei kau masih enam belas tahun! Jangan berpikiran macam-macam! Aku menyukai…..”
“Apa tubuhku tidak semenarik tubuh Gabriella?” Sarah mencembungkan pipinya saat bertanya. Dia juga hendak pergi dari sana meninggalkan Barack karena merasa kesal.
“Mau kemana kau?” Barack menarik tangan Sarah membuat gadis itu kembali berada dihadapannya.
“Aku tahu pasti terjadi sesuatu antara kau dengan Gabriella, iyakan?” dengan mata memerah menahan tangis Sarah bertanya tapi dia berusaha tegar menatap Barack.
“Jaga pikiranmu. Jangan berpikir macam-macam karena kita sedang ada masalah sekarang.”
“Iya aku tahu!” Sarah mendengus kesal.
“Lepaskan aku Barack!”
__ADS_1
“Kau marah padaku?” tanya Barack dengan enggan melepaskan tangan Sarah.
“Tidak.” Sarah menggelengkan kepalanya tak mau menatap Barack. “Kau tidak tertarik padaku, kau tidak menyukaiku, kau lebih menyukai Gabriella. Aku hanya seorang anak kecil yang menyukai pria dewasa. Tidak akan dilirik dan tubuhku tidak menarik, tidak seperti Gabriella yang cantik.”
“Aku tidak akan bisa memuaskanmu karena tubuhku belum berkembang.” keluh Sarah lagi.
“Sarah! Jangan memancing emosiku!” Barack bicara serius dan merasa tidak nyaman mendengar perkataan Sarah.
“Tapi semua yang kukatakan itu benar kan? Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Kau tidak menyukaiku nyatanya saat ini kau melihat tubuhku polos dan kau tidak peduli padaku.”
Sarah merasa sakit hati bicara seperti itu. Dia merasa bahwa Barack memang tidak menyukainya. Tidak mempedulikannya dan dia tidak bisa membuat Barack terangsang meskipun saat ini tubuhnya polos.
“Kalau kau tidak tahu apa-apa, sebaiknya kau jangan banyak bicara.”
“Karena aku tahu sesuatu makanya aku ba…..hmmmmph.”
Barack yang malas mendengar celotehan Sarah menjadi panas dan hatinya semakin tidak karuan saat melihat gadis itu marah padanya sehingga Barack yang sudah tidak tahan lagi mencium bibir Sarah.
‘Gadis bodoh! Aku dari tadi mencegah diriku melakukan ini tapi kau memaksaku untuk melakukan ini! Dari tadi aku tidak mau menyentuh bagian sensitif tubuhmu tapi karena perlakuanmu padaku sekarang lihatlah tanganku bergerak liar menyentuh tubuhmu! Apa ini yang kau inginkan? Apa menurutmu aku menyentuhmu seperti ini baru kau percaya kalau aku mencintaimu? Kalau memang harus begini baiklah aku akan melakukannya sekarang.apa kau puas?’ pikir Barack.
“Ehmmmmhhhh.” rasa geli dan nikmat akibat sentuhan tangan Baarck membuat Sarah mendesah membiarkan dirinya lepas kendali.
Melampiaskan semua emosi dan kekesalan serta rasa rindunya pada Barack. Mereka berdua bersatu, Barack memegang kedua kaki Sarah membawa gadis itu keatas gendongannya. Barack meninggalkan kamar mandi itu dan memposisikan tubuh Sarah diatas closet dan mereka menikmati kecupan itu lebih lama lagi!
“Apa dengan begini baru kau puas?” tanya Barack pada Sarah membuat gadis itu menarik napasnya yang terengah-engah menatap Barack penuh makna.
“Barack, kau melakukan ini hanya untuk memberikanmu kepuasan?”
“Dasar gadis bodoh!” Barack memicingkan matanya dan tidak melanjutkan pembicaraannya. Satu tangannya memainkan puncak dada Sarah dan melahapnya.
“Nikmatilah!” ucap Barack membuat Sarah merengkuh penuh kenikmatan. Gadis berusia enam belas tahun itu tahu apa yang sednag dilakukan Barack pada tubuhnya tapi dia tidak menolak membiarkan bibir Barack terus bermain dan satu tangannya bermain ditempat lain.
“Barack!” sambil memejamkan matanya Sarah merangkul leher pria itu. Dia tak bisa lagi berpikir.
Sarah meneyrahkan dirinya sepenuhnya hanya pada Barack. Sarah menarik kakinya mendekat ketubuh Barack dan menempelkan tubuhnya disana merasakan denyutan di area sesnsitifnya yang paling dijaganya selama ini.
“Kau menyukai ini?” tanya Barack menatap Sarah yang mengangguk.
__ADS_1
“Aku ingin menjadi milikmu sepenuhnya. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus operasi plastik supaya aku terlihat cantik?”
Barack tersenyum kecil menanggapi ucapan Sarah yang menggebu-gebu. Dia tampak sangat antusias dengan keinginannya dan tidak ada rasa takut saat Sarah mengatakan itu. Keberanian itu yang disukai Barack dari gadis belia itu, wajahnya yang serius itu yang selalu dirindukan Barack selama beberapa waktu terakhir ini.
“Kau sekarang sudah menjadi milikku. Kau tidak bisa pergi kemanapun lagi Sarah.”
“Benarkah? Kau akan menjadikan aku milikmu? Kau menyukaiku Barack?” Sarah senang sekali mendengar perkataan pria yang dicintainya itu.
“Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu.” Barack bicara sambil merapikan rambut Sarah. Dia memang tidak ingin gadis itu diambil orang lain.
Barack ingin Sarah tetap menjadi miliknya karena itulah impiannya selama dia berpisah dengan gadis itu. Barack tidak sanggup untuk tetap tinggal bersama Jeff karena dia terus memikirkan Sarah.
“Barack, katakan padaku apa kau tidak berpura-pura menyukaiku? Kau tidak ada hubungan apapun dengan wanita bernama Gabriella itu kan?”
Barack dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak ada! Jangan berpikir bodoh, aku dan wanita itu tidak ada hubungan apa-apa.”
Sarah pun tersenyum dan merasa lega sekarang. “Terima kasih Barack! Jadi seriuskah kau tidak ada hubungan dengannya? Aku takut sekali saat wanita itu bilang kalian berhubungan.”
“Tidak ada! Itu semua hanaylah rencana. Aku tidak tahu kalau Gabriella benar-benar mencintaiku. Tapi aku tidak pernah ada rasa apapun padanya. Kalaupun aku bersamanya, aku tidak pernah memintanya memasukkan milikku kemiliknya. Aku selalu memikirkanmu ketika aku bersamanya, Sarah!”
“Benarkah?” Sarah tersenyum lagi dan dia merasakan reaksi tubuhnya.
“Kau masih tidak percaya padaku?”
“Tentu saja aku percaya. Aku sangat mencintaimu Barack.” mata Sarah berkaca-kaca.
“Maafkan aku ya. Aku membuatmu terlalu lama menungguku.”
“Kau tidak mengatakannya sejak dulu, kenapa? Kau tahu saat itu aku sudah jatuh cinta padamu.”
Barack tersenyum dan menggelengkan kepala, “Dante bisa membunuhku kalau aku bersamamu saat itu. Dan itu belum saatnya!”
“Apa sekarang sudah saatnya? Apa kau akan membiarkanku tetap disisimu?”
“Kau baru enam belas tahun, Sarah.” kata Barack mengingatkan gadis itu usianya.
“Tapi aku akan melakukan apapun untukmu. Aku tidak rela jika ada wanita lain bersamamu.” Sarah memaksa dan matanya menunjukkan keteguhan hatinya.
__ADS_1