
“Kau serius sekali? Tidak bisakah kau sedikit menyuguhkan senyummu?”
“Jangan pernah lancang bicara padaku! Kalau aku tidak memerintahkanmu bicara, kau lebih baik diam. Duduklah dan dengarkan aku!” ucap Dante tak peduli dengan godaan wanita itu. Dia duduk bersandar menatap wanita dihadapannya dengan tatapan dingin.
“Baiklah aku akan mendengarkan!” wanita itu kembali melemparkan senyum pada Dante.
“Dengarkan apa yang aku inginkan darimu. Kau bekerja untukku jadi kau harus menuruti semua perintahku dan kau akan berpura-pura menjadi wanita yang sedang kau pakai topengnya itu.” tegas Dante mulai menjelaskan pekerjaannya. “Apa kau paham?”
“Jadi aku masih berpura-pura menjadi dia?” tanya wanita itu tak percaya.
“Hmm! Bayangkan dirimu adalah dia dan tidak boleh ada yang tahu kalau kau hanyalah palsu.”
“Aku mengerti.” wanita itu lagi-lagi menyuguhkan senyum menggodanya. “Apakah wanita ini adalah kekasihmu?” rasa penasarannya membuatnya menanyakan hal itu.
“Kau tidak boleh bertanya apapun yang tidak aku perintahkan!” jawab Dante ketus,
“Baiklah aku paham kalau begitu.” walaupun sambil menahan kesal dan mencibir pada Dante tapi wanita itu akhirnya hanya mengangguk.
“Ini ada surat perjanjiannya. Kau bisa membacanya dulu dan tuliskan penjelasanmu disana.”
“Oh ya kita belum berkenalan. Namaku Rachel!” ucapnya smabil mengulurkan tangannya.
“Cukup baca dan tanda tangani!” Dante tidak merespon dan tetap pada posisinya yang sama tidak juga mengulurkan tangannnya sehingga Rachel berdecak didalam hatinya. ‘Laki-laki dingin macam dia ini sangat kaku sekali! Aku jadi semakin penasaran padanya!’ bisiknya didalam hati sambil melakukan apa yang diperintahkan oleh Dante. Dia tidak konsentrasi dengan semua tulisan dikertas itu karena merasa terganggu dengan pria yang menurutnya sangat menggoda dihadapannya.
‘Aku sudah selesai!” Rachel meletakkan lagi pulpennya setelah menandatangai dan menyodorkan kertas itu pada Dante padahal dia sama sekali tidak membacanya. “Lalu sekarang apa yang harus kulakukan?” pertanyaannya yang menunjukkan bahwa dia tidak terlalu memperhatikan siapa Dante.
__ADS_1
“Kau akan ikut dengan seseorang dan tetaplah berpura-pura menjadi Bella. Orang itu akan memberitahumu apa saja pekerjaan yang harus kau lakukan.” Dante mengingatkan kembali.
“Ya aku paham.” jelasnya sambil menganggukkan kepala dan tersenyum,”Apa aku akan bertemu lagi denganmu?” tanya wanita itu sambil mengerlingkan matanya pada Dante.
Dante hanya menatap dengan tatapan mata yang tegas tanpa menjawab, “Pesawat kita sudah mendarat dan jangan pernah bertanya tentang hal-hal bodoh macam itu, ikuti aku dan kita akan menuju mobil sekarang.” Dante bicara sambil melangkahkan kakinya turun ketempat mobil berada.
“Apa kau selalu dingin begini pada seorang wanita?”
“Kau mungkin cuma tipe pria yang dingin tapi wanita yang memiliki wajah sama sepertiku ini sepertinya banyak menggodamu karena dari tadi kau mencuri pandang pada wajahku terus. Apa aku terlihat mirip dengannya?” Rachel kembali berbicara tapi Dante tetap tidak menanggapinya.
“Mungkin kau bisa mencoba test drive dulu padaku. Kau bisa tahu apakah aku memang sama sepertinya atau mungkin lebih baik pelayanannya darinya?”
PLAAAAKKK!
“Sssshhh…..apa yang sudah kau lakukan padaku?” wanita itu memegangi pipinya yang terasa panas.
“Baiklah.” Tidak ada kalimat lain yang bisa dikatakan oleh Rachel kecuali itu. ‘Sekarang kau boleh menolakku! Tapi aku akan berusaha nanti setelah semua pekerjaan ini selesai, aku akan menyingkirkan wanita yang wajahnya mirip denganku ini karena kau sangat menarik! Kau sangat keras dan kau tidak tergoda denganku? Keren….aku terpana. Aku sangat suka pria macam kau! Aku merasa tertantang untuk mendapatkanmu.”ujarnya didalam hati sambil tetap melangkah dalam diamnya mengikuti Dante menuju ke mobilnya.
“Duduk dibelakang dan jangan ganggu aku!” perintah Dante membuat Rachel mengangguk mengerti dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dante tidak mengizinkannya duduk dikursi disampingnya dan menjaga jarak dengan Rachel. Bahkan dia menaikkan pembatas antara kursi depan dan belakang agar tidak terganggu dengan Rachel yang terus saja merayunya tanpa henti.
‘Cih! Aku sudah banyak sekali menghadapi wanita murahan yang berusaha untuk menggodaku. Tapi aku tidak akan pernah tergoda padanya! Walaupun saat ini dia sedang memakai wajah Bella tetap saja dia bukan Bella! Kau harusnya mencari wanita yang lebih bisa bekerja Nick! Semoga saja dia tidak mengecewakanku. Tapi aku hanya ingin mengirimnya sampai Jeff terkecoh saja dan aku akan berusaha mendapatkan Barack!’
‘Aku semakin mengkhawatirkan Barack tadinya aku memang tidak perlu khawatir tapi melihat dia mengeluarkan senjata-senjata sampah itu dan membuat gudangku kosong rasanya aku menjadi curiga.’ Dante masih memikirkan hal itu, dia yang dulunya berpikir bahwa semua akan baik-baik saja kini pikirannya mulai terganggu dengan Barack. Sambil menyetir pikiranya tidak berhenti memikirkan teman-temannya dan keselamatan mereka. Tapi Dante tetap berusaha untuk tetap fokus pada jalanan dimana dia menyetir.
‘Tempat ini masih sepi, dia belum datang!’ celetuk Dante yang sudah sampai lebih dulu dan dia melihat jam ditangannya, ‘Lima menit lagi dari waktu perjanjian!’ bisik hatinya sambil mencoba menghubungi Anthony untuk memastikan.
__ADS_1
“Iya Dante?”
“Dimana kau Anthony? Lima menit lagi seharusnya kau sudah sampai disini.”
“Maafkan aku Dante, ada sedikit masalah tadi yang harus diselesaikan dulu. Bella dan aku sudah diluar dan sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju tempat pertemuan kita. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi aku sampai disana.”
“Kau menyuruhku menunggu lebih dari lima menit?” tanya Dante tak percaya.
“Aku sudah bilang padamu tadi ada sedikit masalah dan terganggu!”
“Kau membuat jebakan untukku?”
Dante mulai merasa curiga dan mulai mengamati sekitarnya, dia cukup berani datang sendirian tanpa siapapun sesuai dengan perintah Anthony. Dia hanya ditemani satu senjata favoritnya dan sedikit merasa gelisah karena Anthony datang terlambat. Ini adalah sesuatu yang buruk dan membuat kecurigaan bagi orang seperti Dante.
“Aku minta maaf padamu. Nanti aku jelaskan disana tapi sekarang aku sedang menyetir bersama Bella. Tunggulah sebentar ya.”
Anthony mematikan teleponnya sambil menghela napas. “Dia pasti curiga padaku.”
“Kenapa curiga padamu Anthony?” Bella mendengar gumaman Anthony yang duduk disampingnya.
“Tidak apa-apa Bella!” Anthony tersenyum sambil menlirik Bella lalu kembali fokus pada jalan.
“Apa tadi Dante menghubungimu? Dia sudah sampai?” tanya Bella.
“Ya Dante sudah sampai. Sepertinya dia adlaah orang yang tepat waktu.” ujar Anthony terkekeh.
__ADS_1
“Aduh gawat! Apa dia marah padaku juga karena terlambat? Aku tadi memakai baju terlalu lama kan?” Bella terlihat cemas. Kedua tangannya saling terpaut erat.
“Bukan Bella! Bukan itu masalahnya kau tidak perlu merasa hawatir.” ucap Anthony lagi. ‘Memang bukan karena Bella aku jadi terlambat tapi karena introgasi ayahku.’ gumam hati Anthony mengingat kejadian tadi.