PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 104. SURAT DARI ANTHONY


__ADS_3

“Sepertinya Bella tidak membaca suratnya. Ayo coba buka suratnya, aku penasaran dia menulis apa ya disurat itu?” bisik-bisik pelayan dibelakang tangga yang sangat fokus dan tak sadar akan kedatangan Dante membuat pria itupun penasaran. ‘Surat? Surat apa? Surat dari siapa?’


“Berikan surat itu padaku!” ujar Dante mengeryitkan dahi.


Para pelayan itupun sontak kaget melihat majikannya ada disana, dengan tangan gemetar mereka menyerahkan surat itu pada Dante.


“Kalian pergilah, selesaikan pekerjaan kalian!”


“Baik, Tuan.” ujar para pelayan itu serempak sambil menundukkan kepala dan bergegas pergi.


Setelah mereka pergi, Dante melihat surat yang masih tertutup itu lalu membawanya keruang kerja, Sambil duduk dibelakang meja kerjanya, dia pun membuka surat itu dan membacanya.


Dear Bella,


Maafkan aku.  Tadi aku sengaja membubuhkan sedikit obat pencahar didalam makananmu. Kau mungkin tidak merasakannya karena memang obat itu tidak ada rasa. Tak lama lagi kau akan merasakan sakit perut dan mulas. Aku sengaja melakukan itu supaya kau bisa meminta ijin untuk pergi kerumah sakit. Aku akan menunggumu di rumah sakit yang biasa dituju setiap pelayan dan karyawan di mansion jika mereka sakit. Hari ini aku libur, aku akan menunggumu didekat unit gawat darurat, Saat kau sampai disana, aku pasti langsung melihatmu dan kita akan pergi jalan-jalan. Aku akan membawamu melihat keindahan kota ini. Aku menunggumu.


Dari Anthony.


 


Sementara itu dihalaman belakang, Alex dan Bella mulai bermain bola.


“Ayo Alex! Lempar bolanya padaku!” Bella sudah berjaga dengan tangan terbuka lebar menungu lemparan bola dari Alex.


“Iya Bella.”


Bug!


“Whoaaaa…...kau hebat sekali melempar bolanya sangat jauh! Kau pasti berbakat jadi pemain bola terkenal kalau sudah besar nanti.” Bella tersenyum sambil bicara saat mengejar bola.


“Bella…..aku mau bola lagi!” teriak Alex bersemangat.


“Tunggu ya…..” Bella pun kembali melemparkan bolanya kearah Alex. Brukkkk


“Duh! Ssshhhhh!” tanpa sengaja Bella malah terpeleset dan jatuh.

__ADS_1


“Bella! Kau jatuh!” teriak Alex berlari ekcil menuju tempat Bella terjatuh. Wajah kecilnya terlihat sangat khawatir melihat Bella mengelus lutut dan pantatnya yang menyentuh rumput sambil meringis.


“Iya Alex. Ini karena sepatuku.” ujar Bella sambil menatap sepatu bertumitnya.


“Bella, buka saja sepatumu terus kita main lagi!” ajak Alex sambil menatap khawatir.


“He, kau benar juga. Aku pakai sepatu tumit main bola. He he he pantas saja aku susah menendangnya.” ujar Bella lalu melepaskan sepatunya.


“Biar aku bantu berdiri.” ujar Alex mengulurkan tangan mungilnya layaknya pria dewasa.


“Wow! So sweet sekali Alex! Kau baik banget sih. Andai saja kau sudah besar, aku pasti pacarin kau hihihi.” ucap Bella asal sambil berdiri walaupun dia memegang tangan Alex tapi Bella berdiri dengan tenaganya sendiri.


‘Kau kan masih kecil tidak mungkin kuat membantuku berdiri Alex! Hmmmm….coba saja daddy-mu yang bersikap lembut sepertimu padaku. Aku tidak masalah jadi simpanannya. Ha ha ha…..ah Dante aku jadi ingat percintaan kita.’ bisik didalam hatinya.


“Ayo Alex….kita main bola lagi. Aku sudah siap.”


“Oke!” jawab Alex.


“Kau mundur lagi. Bersiaplah menerima bola dariku.” ucap Bella ketika anak berusia empat tahun itu sudah berada diposisinya yang berjarak tiga meter darinya.


Bug!


Plok! Plok! Plok! Plok!


“Whoaaaaaa kau hebat sekali Alex! Kau selalu bisa menangkap bola yang aku kirimkan padamu.” seru Bella bertepuk tangan semakin antusias.


“Aku senang bermain denganmu Bella.” Alex pun memuji Bella karena dia merasa senang Bella selalu emngalah setiap bermain dengannya sehingga dia merasa hebat ketika bermain dengan Bella.


Sikap Bella yang menyayanginya, tidak pernah memarahinya, tidak pernah mengguruinya sehingga Alex sangat menyukainya. Sangat jauh berbeda dengan sikap Tatiana padanya.


“Aku juga senang sekali bermain bersamamu Alex! Kau adalah teman favoritku.” puji Bella sambil mengacungkan dua jempolnya. Mereka berdua menikmati permainannya tanpa ada gangguan dari siapapun dan tanpa mereka sadari ada pandangan mata yang terus mengamati mereka diam-diam.


‘Kau semakin menarik Belinda! Aku sangat suka melihatmu bersama Alex, kau membuatnya tersenyum dan tertawa ceria! Jarang sekali aku melihatnya sebahagia itu.’ ucapnya dalam hati.


“Bella, kau kalah terus dari tadi!” teriak Alex.

__ADS_1


“Ah, kau terlalu hebat Alex! Kau harus mengajariku cara melempar bola dan menendang bola yang benar lain kali ya.” jawab Bella membuat Alex membusungkan dada merasa bangga. ‘Untunglah aku dilarang bicara dengan para pelayan setidaknya tidak ada seorangpun yang mengganggu waktuku bermain bersama Alex. Huhhh ini menyenangkan sekali, aku sangat menyukai anak ini. Sky apa kau juga suka main bola?’ ujar Bella yang sangat menikmati permainannya bersama Alex.


“Ayo Bella lempar lagi bolanya.”


“Iya aku….ssssss aduh! Kenapa perutku tiba-tiba sakit sih?’ celetul Bella mengerjapkan matanya sambil memegangi perutnya. Dia mengurungkan niatnya untuk melemparkan bola pada Alex. “Perutku sakit sekali. Apa karena aku tidak makan tadi malam makanya sekarang perutku jadi sakit?’ Bella meringis dan mencoba memikirkan alasan perutnya bisa sakit.


“Bella ayo cepat tendang bolanya.” pinta Alex lagi yang masih menunggu Bella menendang bola kearahnya. Alex tidak tahu apa yang terjadi pada Bella.


“Aku mau tapi perutku sakit sekali Alex! Kau tunggu sebentar ya.” bujuk Bella.


“Aku mau tapi aku takut sendirian Bella.” jawab Alex jujur sambil menatap lurus wajah Bella.


“Oh iya aku tidak boleh meninggalkanmu sendirian. Alex…..tapi aku pengen ke kamar mandi, perutku sakit sekali...kau tahu maksudku kan? Aku ingin buang air besar.” ujar Bella sambil meringis memegangi perutnya. “Aduh jangan keluar dulu…...”


“Kenapa tidak pup di pampers saja Bella? Nanti dibersihkan, aku seperti itu.” ujar Alex polos.


“Tidak! Aku tidak bisa begitu Alex ha…..mules banget!” Bella bicara sambil menunjukkan wajah cemasnya, dia takut tidak bisa menahan lebih lama.


“Kenapa tidak bisa? Aku bisa kok.” jawab Alex.


“Uhhhh karena aku tidak pakai pampers, kau tahu kalau tidak pakai pampers itu lebih sehat jadi harus ke kamar mandi lalu dibersihkan disana, jadi tidak kotor.” ujar Bella menjelaskan.


“Ohhh jadi kalau pakai pampers kotor?” tanya Alex polos, dia tak sadar kalau wajah Bella sudah meringis dan pucat, tidak memungkinkan untuk bertanya lebih banyak lagi. Bella hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


“Kau juga harusnya buka pampers, Alex. Kau sudah besar kan, sudah empat tahun tidak boleh lagi pakai pampers. Kau anak laki-laki harus bisa tidak pakai pampers.”


“Terus, aku harus pakai apa?” tanya Alex lagi yang tidak paham karena tidak ada yang mengajarinya.


“Pakai ****** ***** saja, kalau kau mau pup atau mau pipis kau buka celanamu dan pergi kekamar mandi. Setelah selesai langsung kau bersihkan.” ucap Bella.


“Oh begitu, baiklah.”


“Ha ha ha ha kau sama bodohnya seperti aku Alex.” ujar Bella pelan hanya bisa didengarnya sendiri masih dalam posisi meringis memegangi perutnya yang mulas.


“Aku mulas banget Alex, aku sudah tidak bisa bicara lama lagi denganmu. Tidak mungkin aku meninggalkanmu disini sendirian. Maukah kau mengantarku ke kamarku?” tanya Bella mencoba mencari solusi untuk mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2