
“Aku juga tidak tahu. Aku belum pernah melihatnya melakukan itu.”
“Tapi memang ini jauh lebih sadis daripada film thriller!” Eddie mengomentari dengan suara pelan tak berani mengganggu Dante.
KREEEKKKK
Aaaaaahhhhhkkkkk
“Aduh sadis sekali!”
“Issss…..kenapa aku merasa ngilu melihatnya?” bahkan teman-teman Dante berkeringat dingin melihat bagaimana pria itu mematahkan tangan Julian.
‘Gergaji itu….’ bisik Hans pelan “Sssshhhh...”
Nguuuuuuunnnng
“Ini untuk seribu orang yang telah kau berikan padanya!” ucap Dante yang menjadi suara terakhir yang didengar oelh Julian didunia ini.
Aaaahahhhhkkkkkk……..
‘Ada apa dengan Dante? Kenapa dia bisa setega itu? Aku belum pernah melihatnya membunuh satu orangpun bahkan aku sempat berpikir bahwa dia satu-satunya kepala mafia yang tidak berani untuk membunuh lawannya! Dia bahkan selalu menyuruh kamu menyelesaikan semuanya. Tapi apa yang barusan kulihat? Kejam sekali! Dia benar-benar membelah orang itu dari atas ke bawah dengan gergaji mesin? Begitu dendamkah Dante pada Julian hingga dia tega melakukan itu? Memotong orang itu menjadi beberapa bagian. Bahkan memotong tulang-tulangnya dan membasahi tubuhnya sendiri dengan darah?” ucap Nick dalam hati.
Dia berdiri paling depan diantara teman-temannya karena dia tadi yang mendatangi Dante, kini Nick menatap Dante yang telah selesai memotong-motong tubuh Julian.
“Kau sudah puas?”
“Hans! Tanam dirumahmu saja supaya tidak perlu menutupi jejak!” ujar Dante mengabaikan pertanyaan Nick dan melirik Hans.
“Eddie, Barack! Suruh anak buahku untuk membereskan itu dilahan kosong dibelakang rumahku.” jawab Hans sesuai perintah Dante.
“Berikan aku baju ganti.” kata Dante lagi menatap Hans.
“Ayo kekamarku.”
“Dante kau sudah berjanji akan menjelaskan semua kekesalanmu pada Julian kepada kami, termasuk wanita itu!
“Apa kau tuli Barack?” Dante menengok Barack yang bertanya.
“Maksudmu?” tanya Barack lagi.
“Aku sudah menjelaskan semuanya sebelum aku membunuhnya, itupun kalau kau mendengar semua yang kukatakan padanya tadi!” ucap Dante yang tak ingin mengatakan yang sejujurnya pada temannya tentang hubungannya dengan Belinda alias Bella dan masalahnya dengan Julian. Lalu Dante menatap Hans lagi.
__ADS_1
“Carikan aku baju ganti.”
“Kau akan pergi dari sini?” tanya Eddie.
Barack mulai berpikir setelah mendengar semua ucapan Dante, ‘Apa benar sepertinya yang dikatakannya tadi, itu cuma karena kekecewaan dan kemarahan karena ditipu Julian? Mungkin saja karena selama ini tidak ada yang berani menipunya.’ pikirnya tak mau terlalu memikirkan lebih jauh lagi.
“Hemm…..aku harus mengecek sesuatu.” jawab Dante.
“Apa kau akan menemui Bella?”
********
Flashback on
Setelah kepergian Dante, Bella berdecak kesal. “Sombong sekali pria itu, kenapa dia langsung menutup pintu liftnya?” ujarnya sambil memandangi uang tiga puluh ribu dolar yang tidak diambil oleh Dante. Dia masih memeganginya sejak Dante pergi meninggalkannya sendirian disana.
“Bagaimana keadaan adikku? Tanpa uang ini bagaimana dia bisa bertahan sampai satu tahun kedepan? Tabungan yang ada di apartemenku itu tidak banyak, kalau dia harus masuk asrama aku rasa uang itu tidak akan cukup. Duuuhhhh pusingnya! Bagaimana ini?” ujarnya lagi
Bella sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya.”Ssssshhhh…..dingin sekali.”ujarnya langsung memeluk tubuhnya. Kepalanya terasa pusing sehingga dia mengambil tasnya dan memasukkan uang itu kembali dan berjalan menuju lemari dikamar lalu menyimpan tasnya didalam.
“Aku tidak punya pakaian apapun, kalau aku kedinginan satu-satunya tempat menghangatkan tubuhku dibawah selimut!” Bella pun masuk kedalam selimut sambil tiduran.
Waktu berjalan cepat, tidak terasa hari sudah sore tapi dia masih saja memikirkan hal yang sama ditempat tidurnya.
Suara pintu dibuka. “Haaaah….siapa kau?” tanya Bella panik saat melihat seseorang membuka pintu dan ternyata orang itu bukan Dante.
“Hei aku Hans kita pernah bertemu satu kali di VIP club.”
‘Hans? Ah….lima orang itu, pasti dia salah satu dari mereka tapi aku tidak mengingat wajah mereka.’ gumamnya sedikit tenang.
“Ada apa kau kesini?” tanya Bella ragu. Tapi dia masih menjaga dirinya dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Aku membawa dokter karena Dante menyuruhku datang kesini mengantarkan dokter untukmu dan dia juga akan mengambil sampel darahmu dan juga urin.” kata Hans menjelaskan lalu menoleh kebelakang dan seorang dokter cantik masuk kedalam ruangan.
“Permisi!” sapa dokter cantik itu dengan senyum ramah diwajahnya, dia berjalan mendekati Bella.
“Untuk apa darah dan urinku, dokter?” tanya Bella penasaran.
“Untuk mengecek kesehatanmu.” jawab dokter itu lalu mengeluarkan stetoskoknya, mendekati Bella dan mengecek kondisinya.
“Apa dokter membawakanku obat supaya aku tidak kedinginan?” tanya Bella lagi.
__ADS_1
“Tidak ada obat karena harus dicek dulu darah dan urinmu.”
“Baiklah kalau begitu kau boleh mengambil darahku sekarang.”
Dokter itupun mengangguk, tanpa berlama-lama dia mengambil darah Bella dan kemudian dia meminta Bella untuk mengambil urin untuk dilakukan cek lab sambil memberikan tempat penampungan urin pada gadis itu.
“Saya akan isi dulu tabung ini.” ucap Bella yang langsung turun dari tempat tidur setelah dokter mengangguk dan membiarkannya pergi ke kamar mandi.
‘Uhhhh aku hampir lupa kalau tadi dia bilang akan mengirimkan dokter. Untung saja aku tidak ketiduran.” hati Bella agak tenang ketika dia berada dikamar mandi.
Dia pun langsung melakukan apa yang diminta oleh dokter.
‘Dapat! Sepertinya ini cukup.’ gumamnya dalam hati sembari terkekeh geli. Setelah selesai menampung urinnya, dia menuju pintu kamar mandi.
“Maaf ya dokter kalau menunggu lama.” Bella langsung memberikan tabung penampungan urin pada dokter.
“Terimakasih atas kerjasamanya. Sekarang anda sudah bisa kembali istirahat.”
“Apa yang harus saya lakukan dokter?” tanya Bella lagi.
“Kita tunggu dulu hasil lab dan nanti baru akan ditentukan tindakan apa yang terbaik.” ucap dokter itu menjawab pertanyaan Bella.
“Berapa lama harus menunggu hasilnya?”
“Mungkin besok sudah keluar hasilnya.” jawab dokter itu tak berani menjanjikan apa-apa karena semua keputusan harus dengan persetujuan Dante termasuk memberikan hasil lab.
“Baiklah kalau begitu.” Bella pun paham dan memilih kembali duduk ditempat tidurnya.
“Kalau sudah tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya pergi sekarang.”
“Sudah tidak ada lagi, dokter. Terimakasih.”
“Permisi.” ucap dokter itu melangkah kepintu dan keluar dari kamar Bella.
‘Apa temannya itu masih akan menunggu disini atau pulang juga? Kalau menunggu disini tidak masalah kalau dia menunggunya dibawah.’ gumam Bella yang memilih tidur karena tubuhnya terasa agak kelelahan.
'Apa dia tidak akan datang hari ini? Sepertinya tadi dia stres dan marah, aku rasa dia tidak akan datang. Mungkin dia banyak kerjaan yang harus dia lakukan.” Bella berpikir sambil mencoba untuk tidur.
Flashback off
__ADS_1
‘Tadi aku sangat mengantuk tapi kenapa sekarang rasa kantuknya malah hilang?’ tanya Bella sambil berguling-guling diatas ranjang.
“Kenapa dia kejam sekali padaku? Kenapa dia tidak mau menolongku? Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku? Apa dia ingin membunuh adikku lalu membunuhku? Tapi apa dendamnya padaku ya? Aku saja tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini.” ujar Bella smabil berdecal kesal mencoba mencari tahu sifat Dante.