PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 141. MENGGODA DANTE


__ADS_3

“Memangnya kenapa? Apa aku salah bicara ya. Kalau kedua ujung ini kau sentil pastilah rasanya enak Tuan Dante seperti terkena sengatan listrik.” jawab Bella asal.


“Belinda Alexandra! Sejak kapan kau menjadi penggoda begini?”


“Sejak aku disuruh bekerja oleh Madam Wendy dan semakin parah karena aku mengenalmu karena kau sulit sekali digoda, jadinya aku harus mengeluarkan semua jurus yang ada.” jawab Bella jujur membuat Dante mengutuki dirinya sendiri berusaha keras untuk menahan diri agar tidak kelepasan.


“Kau bahkan lebih parah dari istriku, dia tidak pernah menggodaku seperti ini.”


“Ah istrimu saja yang bodoh Tuan Dante! Pantas saja kalau suaminya tergoda dengan wanita lain seharusnya kalau sudah menjadi istri sah, dia harus terus menggoda suaminya supaya suaminya semakin tergoda dengannya dan tidak mengintip yang lain. Bukan malah cuek dengan suaminya. Jadi suaminya malah mendapatkan godaaan dari wanita lain dan terangsang dengan wanita lain. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi pada suamiku kelak.”


“Hei kenapa kau bicara begitu ha? Apa maksudmu?” Dante melotot menatap Bella yang tadi mencibir membicarakan Tatiana.


“Aku bicara berdasarkan pengalamanku Tuan Dante! Kau tahu banyak laki-laki mengeluh, mereka bilang istrinya sudah tidak semenarik saat pacaran. Karena memang tidak pernah lagi ada kata-kata mesra diantara mereka dan kami para wanita penggoda adalah orang-orang yang dididik untuk bermesraan dengan pria-pria itu. Pria-pria yang kekurangan kasih sayang. Apa kau juga kekurangan kasih sayang? Aku punya banyak kasih sayang kok untukmu.” ujar Bella mengedipkan matanya.


Pletak!


“Aduh….aduh….aku lupa melindungi dahiku. Kau benar-benar kelewatan padaku, sakit sekali!” Bella meringis dan mengumpat pada Dante.


“Sekali lagi kau bicara begitu, aku akan memberikan hukuman berat padamu.” Dante bicara sambil menghembuskan napas panjang. Dia merasa kesal dan berusaha untuk melepaskan semua emosinya. “Kau tahu, istriku tidak begitu. Dia memperhatikanku dan dia menggodaku secara proporsional, tidak berlebihan.” ujar Dante membela istrinya.


“Lalu, kalau kau puas dengannya kenapa kau mau denganku? Dulu kau bilang tidak akan menyentuhku tapi nyatanya kita sudah nelakukan itu? Aku tahu kalau kau sering menginginkanku lebih dari istrimu, iyakan? Jangan-jangan kau juga sering membayangkanku. Apa artinya itu?”


Mendengar ucapan wanita itu membuat Dante terdiam. ‘Sial! Kenapa aku tidak bisa menjawab pertanyaannya yang ini?’ Justru ucapan Bella itu membuat hati Dante berdecak lalu menatap Bella tapi tidak ada satu katapun yang terucap.


“Hahahaha…..kau tidak menjawab kan? Aku sudah bisa menebak kau memang tidak puas dengan istrimu. Apa kau sudah tergoda denganku? Saat bercinta bersama istrimu apa bukan aku yang kau bayangkan Tuan Dante?” Bella terkekeh menggoda dan menyindir pria itu seolah dia tahu sebenarnya.


“Aku benarkan Tuan Dante? Kalau sebenarnya pria itu merasa cukup dengan istrinya maka dia tidak akan tergoda dengan wanita macam aku ini. Orang yang mendatangiku karena mereka tidak puas dengan istrinya! Semakin lama menikah semakin cuek seakan tidak ada lagi yang harus dijaga. Dan itulah yang aku tawarkan, menjagamu dan memberikan apa yang tidak diberikan istrimu.”


“Sudah jangan bicara macam-macam lagi.” Dante berusaha mengubah arah pembicaraan karena dia merasa semua ucapan wanita itu ada benarnya. Dia memang membayangkan Bella setiap kali bersama istrinya dan memang benar kalau dia tergoda pada Bella sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang. Apalagi wanita itu sudah melahirkan Alexander Sebastian.

__ADS_1


“Ha ha ha ha ha…...” Bella semakin tertawa.


“Apa yang kau tertawakan?” Dante tergugah untuk berkomentar melihatnya tertawa.


“Tidak apa-apa. Sudahlah percuma saja aku bicara denganmu toh kau sudah buta dengan cinta istrimu.”


“Kau mau aku melakukan sesuatu yang buruk padamu hem?”


“Tidak Tuan! Aku tidak mau lagi. Jangan mengancamku lagi, aku tidak mau yang buruk tapi aku mau yang enak-enak saja.” Bella memegang jidatnya saat bicara.


“Diamlah. Tak ada yang enak versi otakmu itu. Aku mengantuk, ayo tidur.”


“Kau mengajakku tidur disini berdua denganmu?” tanya Bella bersemangat. ‘Ah…..kau sama saja dengan pria lain, egomu saja yang tinggi sok menolak tapi dalam hatimu memang menginginkanku. Dari tadi juniormu sudah tegak tapi kau masih saja meredamnya. Aku pengen lihat sampai mana kau bisa menahannya, huh! Ahh…...yang penting malam ini aku tidur dengannya. Rasain kau mak lampir, kau tidur sendirian dikamarmu sedangkan suamimu lebih memilih tidur bersamaku….hihihi.’


“Kau mau aku mengantarmu kembali ke kamarmu lagi?”


“Tidak! Tidak mau….aku mau tidur denganmu saja disini.” Bella langsung menggandeng tangan Dante dengan tersenyum puas. Kepalanya bersandar dilengan kekar pria itu sambil mendongak menatapnya.


“Ya ada.” Dante menatap Bella. “Kau mau main piano?”


“Mau….mau sekali.” Bella menganggukkan kepalanya dan pandangan matanya tidak lagi menatap Dante, hanya menatap kearah piano saja.


“Mainlah.”


“Serius kau mengijinkanku bermain piano?” matanya berbinar-binar.


“Hem….sana kalau kau mau main.” ujar Dante tersenyum puas. Dia tahu wanita itu akan menyukainya.


“Terimakasih Tuan Dante.” ucap Bella tersenyum manis.

__ADS_1


“Tunggu!”


“Apalagi?” Bella menoleh pada Dante.


“Tunggu sebentar disini.” ucap Dante lalu beranjak pergi.


‘Mau apa dia pergi kearah kolam renang? Ini ada dibawah tanah tapi dia punya kolam renang didalam sini? Bunkernya ini dalamnya udah seperti rumah mewahnya yang diatas. Jadi disini dia punya rumah diatas tanah dan didalam tanah? Enak sekali hidupnya, bagaimana dia bisa membangun rumah macam ini? Berapa banyak uang untuk membangun tempat beginian?’ gumam Bella didalam hatinya tapi tidak mengomentari apapun.


Dia menatap Dante “Apa itu yang dibawanya?” tanya Bella melihat Dante yang berjalan mendekat.


“Pakai ini.” Dante menyodorkan bathrobe.


“Bathrobe? Kau memberi ini untukku?” tanya Bella tersenyum.


“Memangnya kau mau demam polosan sepanjang malam?”


“Maksudmu masuk angin ya?” tanya Bella mengerdipkan sebelah matanya menggoda Dante.


“Entahlah, aku tidak mengerti maksud bahasamu.” Dante berujar sekenanya sambil memakaikan bathrobe pada Bella. ‘Aku harus memberikanmu pakaian karena aku semakin tidak tahan. Aku tidak boleh melihatmu polosan terlalu lama lagi, bisa-bisa aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku sendiri dan akhirnya aku akan melakukannya lagi denganmu sampai pagi. Hufff…..kenapa kalau melakukan bersamanya aku merasa ingin berlama-lama? Tubuhnya sudah jadi candu bagiku.’ bisik lirih dihati Dante.


“Hem….hangat meskipun tidak sehangat saat kau memelukku tapi setidaknya ini cukup hangat.” celetuk Bella senang.


“Kalau kau mau main pergilah sana main.” ucap Dante yang sudah linglung menahan gairahnya. ‘Huh aku harus cepat-cepat mengusirnya karena setiap kali aku melihat senyuman itu berbahaya. Dekat-dekat dengannya tubuhku bereaksi cepat. Aku takut kalau aku semakin candu dan sulit melepaskan diri, malah nanti aku menginginkannya setiap saat.’


Dante berusaha mengingatkan dirinya karena dia tahu reaksi tubuhnya setiap kali bersama Bella. Rekasi yang sama seperti dimasa lalu, di waktu itu dia lebih banyak menghabiskan malam bersama Bella ketimbang dengan Tatiana. Dia khawatir akan terulang lagi, dia ingat dulu dia tidak pernah bisa berhenti memikirkan wanita itu.


“Iya aku mau main piano ya.” dengan riang Bella berlari kecil menuju pianonya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2