PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 150. GARA-GARA BOLA


__ADS_3

“Kau tidak apa-apa kan Anthony?” Bella menatap Anthony penuh kekhawatiran mengingat kejadian tadi malam yang sangat mengerikan.


“Oh tidak. Kau lihat aku sekarang bagaimana?” ucap Anthony sambil memutar-mutarkan badannya.


“Hei, tidak perlu putar-putar dihadapanku, kau kan bukan model!” Bella mengerucutkan bibirnya.


“Hahahaha kalau ada model seganteng aku, apa kau mau denganku?” tanya Anthony menggodanya.


“Kalau kau tidak jadi model pun kalau kau suka padaku aku mau padamu.” jawab Bella asal.


“Ahh….kau gombal Bella! Pandai juga kau menggombal ya.” goda Anthony.


“Sini kau!” teriak Bella menarik tangan Anthony.


“Aaaww!”


“Eh, apa tanganmu terluka?” tanya Bella melihat tangan pria itu. Bella pun merasa bersalah dan tidak enak pada Anthony karena dia menarik tangan Anthony karena pria itu menggodanya.


“Tidak apa-apa. Kukumu panjang bella! Harusnya kau potong kukumu.”


“Ih…..kuku ku keren tau.” Belle mencibir.


“Iya….iya...tapi itu tajam seperti kuku vampir. Hahahaha.” celoteh Anthony tertawa sambil menunjuk ke kuku Bella.


“Ah sudahlah, jangan membahas kuku ku, tidak penting juga. Bisa kita bicara diluar? Banyak yang ingin kutanyakan tentang tadi malam.” ujar Bella.


“Kau akan membuatku dihukum lagi kalau kita bicara berdua. Heeeh.” Anthony kembali menggoda.


“Maksudmu, Tuan Dante kemarin menghukummu karena aku?” tanya Bella khawatir.


“Hahahahaha.” bukannya menjawab, Anthony malah tertawa terbahak-bahak.


“Kau mengerjaiku ya? Kau tadi berbohong padaku ya?” Bella mengerucutkan bibirnya tak terima karena Anthony menertawainya.


“Tuan Dante tidak melakukan itu karena kau, Bella! Tapi karena bola.” bisik Anthony tersenyum.


“Bola?” Bella mengerjapkan matanya sambil memasukkan satu gigitan pisang kedalam mulutnya setelah selesai bicara.

__ADS_1


“Iya. Kau ingat saat kita bermain bola dihalaman belakang?” ucap Anthony mengingatkan Bella pada kejadian waktu itu, lalu duduk disamping Bella.


“Oh iya aku ingat.” jawab Bella menganggukkan kepalanya.


“Saat itu Tuan Dante melihat kita dan dia melihat aku bisa menggunakan senjata. Peraturan disini para pelayan tidak boleh memiliki kemampuan menggunakan senjata. Aku baru baca surat perjanjian kerja itu lagi tadi pagi dan aku mengerti kenapa dia menyuruhku melakukan permainan tadi malam.”


‘Dan sekarang aku penasaran sekaligus curiga apakah benar temanku menghilang karena ada campur tangan Tuan Dante? Aku akan mengikuti permainannya untuk memastikan semua ini. Sssh...aku tidak menemukan apapun kemarin!’ gumam Anthony dihatinya. Dia masih penasaran karena kemarin dia mencari keberadaan temannya namun tidak menemukan bekas apapun.  Semua sudah kembali seperti semula dijalan itu dan Anthony mulai curiga tapi dia masih berusaha bersikap wajar.


“Apa memang ada peraturannya begitu?”


“Iya. Aku tidak menulis itu di resumeku jadi karena itu mungkin Tuan Dante marah.” ucapan Anthony pelan dan ringan sehingga tidak membuat orang-orang curiga dengan apa yang mereka bicarakan.


“Tapi dia tidak ada bahas itu ke aku.” ujar Bella.


“Apa kemarin Tuan Dante memang tidak ada bilang begitu padamu?”


Bella mencoba berpikir dan menggelengkan kepalanya.


“Oh ya, lalu bagaimana nasibmu tadi malam? Aku ingin menyelamatkanmu tapi katanya suruh tinggalkan saja kau disana.” kata Anthony. Tapi didalam hati pria itu dia memiliki pemikiran lain. ‘Apa sebenarnya dia cemburu padamu? Heisss…..tapi kurasa Tuan Dante bukan pria seperti itu karena dari informasi yang aku dapatkan dia sangat mencintai istrinya.’


“Ah aku tidak apa-apa. Aku juga tidak tahu kalau dipanggil kesana karena masalah apa.”


Bella kembali mencoba berpikir.”Tapi Ricci tidak dipanggil kesana, lalu kenapa kau dipanggil?”


“Iya karena caraku memegang bola itu dan melemparnya juga menangkap tubuhmu itu membuatnya penasaran dengan kemampuanku memegang senjata.” jawab Anthony.


“Apa kau memang bisa menggunakan senjata?” tanya Bella penasaran.


“Aku pernah berburu.” Anthony tersenyum.


“Tunggu sebentar ya, aku buang kulit pisang dulu!” Bella memotong ucapan Anthony lalu berjalan dan membuang kulit pisang ketempat sampah lalu kembali duduk ditempat semula.


“Oh iya, Bella aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Anthony bicara sambil menatap Bella.


“Mau tanya apa?” tanya Bella menatap pria itu dengan serius.


“Soal surat kemarin itu, ehm….”

__ADS_1


“Ah surat itu…..” Bella jadi teringat soal surat.


“Permisi Anthony, aku ingin mengingatkanmu tentang perjanjianmu dengan Tuan Dante! Saat ini Tuan Nick sudah ada disana.” belum sempat Bella melanjutkan ucapannya, seseorang telah memanggil Anthony. Saat Bella menoleh untuk melihat, ternyata kepala pelayan yang memanggil pria itu.


“Terimakasih Henry.” Anthony berdiri dan menatap Bella. “Aku pergi dulu ya Bella. Aku sudah dipanggil.”


‘Kau mau diapakan lagi Anthony?” tanya Bella merasa cemas.


“Sepertinya aku lulus tes kemarin dan mungkin sekarang aku diberikan pekerjaan yang lebih baik.” jawabnya menunjukkan sikap positif dan tenang pada Bella. Padahal didalam hatinya Anthony pun merasa cemas dan takut akan nasibnya.


‘Semoga saja hari ini aku masih hidup dan aku rasa kalau memang dia bukan penyebab hilangnya temanku, tentu saja dia belum tahu apa-apa dan itu artinya aku bisa selamat. Dia belum tahu penyamaranku, iyakan?’ Anthony berusaha menyimpulkan sendiri.


“Betulkah begitu?” Bella mengerjapkan matanya.


“Ayo Anthony! Kau sudah ditunggu disana.” ucap Henry lagi yang melihat mereka terus saja bicara.


“Oh iya Tuan Henry, aku pergi sekarang.” Anthony menundukkan kepalanya sedikit dan mengedipkan mata pada Bella sambil melambaikan tangan, tak lagi mengatakan sepatah katapun sehingga membuat Bella merasa khawatir.


“Apa benar yang dikatakan Anthony kalau semua berawal dari masalah bola? Tapi kenapa urusan bola sampai hampir merenggut nyawanya?” Bella masih belum paham dan berdecak. “Huf….sudahlah. Toh bukan urusanku juga. Lebih baik aku kembali ke kamarku, aku ingin ganti baju. Pakaian ini terlalu mahal untukku.” ucapnya lalu berdiri. ‘Tapi kurasa Tuan Dante cemburu.’


“Bella!”


Panggilan namanya terdengar melengking membuatnya menoleh pada asal suara. “Ada apa?” tanya Bella masih tersenyum pada wanita yang berjalan mendekatinya.


“Apa kau melihat Sharon?” tanya pelayan bernama Rita.


Bella menggelengkan kepalanya, “Tidak! Dari kemarin aku juga tidak bertemu Sharon. Aku hanya bertemu dengan Ellie karena dia mengambil makanan dikamarku.” jawab Bella.


“Nah keduanya tidak masuk kerja, Bella! Aku mencari mereka berdua tapi tidak ada.”


“Oh ya?” Bella menatap Rita. Wanita itu menganggukkan kepalanya.


“Di asrama para pelayan juga tidak ada!” jawab pelayan itu dengan tatapan khawatir.


“Kalian punya asrama disini?” Bella penasaran dengan ucapan terakhir Rita.


“Iya punya. Kau kan bukan pelayan makanya kau tidak tinggal disana Bella.”

__ADS_1


“Sebenarnya lebih enak bekerja jadi pelayan daripada pekerjaanku.” bisik Bella.


__ADS_2