
Dia marah dan kesal pada Bella, tapi dia juga sangat merindukannya apalagi rasa cintanya kini semakin bertambah besar karena ada bayinya didalam kandungan Bella.
“Kalau kau memang ingin bertemu dengannya, jangan mengatakan hal-hal yang aneh.” ucap Dante sambil membuka pintu kamar Alex.
“Alex!” Dante memanggil anaknya setelah masuk kedalam kamar.
“Dia baru saja tidur. Kenapa kau membangunkannya?” Sarah yang tidur disamping Alex terbangun.
“Sarah? Itu adikku Sarah? Dante, benarkah itu suara Sarah?” seru Bella saat mendengar suara yang sangat familiar. Suara adiknya Sarah yang sangat dirindukannya.
“Hei, itu Belinda kakakku kan? Biarkan aku bicara dengannya! Belindaaa!” Sarah langsung melirik kearah ponsel Dante. Dia berusaha meraih ponsel dari tangan Dante.
“Kau mau apa? Aku tidak mengizinkanmu melihatnya.” ucap Dante yang langsung menaikkan tangannya memegang ponsel tinggi-tinggi sehingga tidak bisa dijangkau oleh Sarah.
“Hei cepat! Aku ingin bicara dengan Belinda sebentar!” Sarah sudah lompat-lompat ingin menggapai tangan Dante tapi sangat sulit karena tubuh Dante tinggi.
“Sarah! Dante, biarkan aku bicara dengannya sebentar saja.” suara Bella memohon pada Dante.
“Hei dengar tidak? Kakakku ingin bicara denganku! Berikan ponselnya sebentar saja.” bujuk Sarah dengan memelas pada Dante.
“Hanya sebentar. Aku yang memegang ponselnya.” lalu Dante menghadapkan layar ponselnya pada Sarah sambil bergumam didalam hati, 'Kalau dia tidak sedang mengandung bayiku, tidak mungkin aku menurutinya begini seperti orang bodoh memegang ponsel supaya dia bisa bicara dengan adiknya.' gerutu Dante didalam hatinya.
“Sarah kau sudah kembali? Dante mewujudkan janjinya padaku untuk membawamu kembali? Aku senang sekali.” binar bahagia terpancar dari mata Bella saat melihat wajah adiknya.
“Eehhh….dia sudah membawaku kembali tapi dia tidak menyelamatkan temannya. Sekarang temannya hilang! Barack hilang Belinda!” ujar Sarah mulai mengadu menggunakan bahasa Indonesia.
“Hei kalian berdua bisa bicara bahasa Inggris? Aku akan matikan teleponnya kalau kau tidak bicara pakai bahasa Inggris.” ucap Dante karena Bella dan Sarah tadi langsung bicara dengan bahasa Indonesia.
“Maafkan aku Dante! Aku tidak bicara buruk tentangmu, aku hanya bertanya tentang adikku saja.” ucap Bella tersenyum manis.
“Pakai bahasa Inggris atau jangan salahkan aku kalau aku matikan teleponnya!” Dante mengeryitkan dahinya tak senang.
__ADS_1
“Tapi bahasa Inggris Sarah buruk sekali Dante!”
“Aku masih mengerti bahasa Inggrisnya. Gunakan bahasa Inggris Bella!”’ balas Dante lagi.
“Iya...iya.” jawab Bella sambil tersenyum manis. Matanya mengerjap memandang Dante, seolah sedang menggodanya membuat hati Dante jadi kacau.
‘Bodoh! Kenapa kau tersenyum begitu? Kau membuatku semakin merindukanmu. Apa maumu?’ Dante bergumam sambil menenagkan debaran didadanya.
Dante cepat-cepat memberikan ponselnya menghadap Sarah lagi karena tubuhnya sudah bereaksi dan Dante tak ingin sampai kehilangan kewarasannya sehingga mengatkan kata-kata yang bisa membuatnya malu nanti.
“Kakak! Kenapa kau menyukai orang seperti dia? Kau bahkan punya anak dengannya? Dia galak sekali padaku tapi anakmu memang tampan dan pintar! Anakmu sangat lucu dan dia sangat mencintaimu kak! Dia selalu mencarimu, anakmu jauh lebih baik dari pria yang kau sukai itu kak.”
“Hei jangan bicara macam-macam kau! Aku bisa menutup telepon ini dan kau tidak akan bisa bicara lagi dengan Bella.” protes Dante langsung pada Sarah.
“Iya...iya aku tidak akan bicara macam-macam!” Sarah mencibir. “Benar kataku kan? Kau paling galak.” geram Sarah lagi.
“Sarah! Jangan melawannya, turuti saja apa yang diperintahkannya padamu. Jangan membuatnya kesal, aku mohon….jangan sampai kau buat dia tidak jadi menjemputku. Aku akan sangat menderita kalau dia tidak menjemputku Sarah!” Bella yang tak suka dengan cara Sarah bicara pada Dante pun langsung memarahinya.
“Baiklah kak. Aku tidak akan melawannya kak kecuali tidak sengaja.” ujar Sarah dengan wajah cemberut.
“Kak, kau sakit ya? Kenapa wajahmu lemas sekali? Kau juga terlihat pucat, kau tidak makan?”
“Aku tidak lapar.” jawab bella.
“Kenapa kau tidak bilang saja kau mau makan steak?” celetuk Anthony yang didengar oleh Dante sehingga membuat Dante menghempaskan napas kasar. Walaupun dia tidak bicara apapun dan masih memegang ponselnya.
‘Dia benar-benar membuatku merasa bersalah dan merasa semakin merindukannya dan semakin mencintainya! Ahh...aku bisa gila lama-lama! Bahkan rasanya aku ingin mengantarkan steak padanya sekarang!’ ucap hati Dante semakin tidak tenang.
“Oh iya Belinda. Aku disini makan steak enak sekali. Aku baru pertama kali makan steak dengan rasa seenak itu. Dagingnya rasanya meleleh dimulut dan Alex sangat suka sekali steak itu! Kata Alex, steaknya dibuat oleh ayahnya!” kata Sarah tersenyum sambil lidahnya menjilat bibirnya, membayangkan enaknya steak yang dimakannya bersama Alex.
“Benarkah kau makan itu? Kau benar-benar memakannya dan tidak membagiku?” protes Bella. "Huuu....aku sudah rindu sekali makan steaknya."
__ADS_1
“Bella, kau jangan menangis. Ini pakai tisu menghapus airmatamu!” ucapan Anthony yang didengar Dante membuatnya tak sabar lalu membalikan ponsel kehadapannya.
“Jadi kau belum makan Belinda?” tanya Dante.
“Aku tidak lapar! Aku mohon jangan marahi aku ya Dante, aku sudah sangat merindukanmu disini. Jangan buat aku menangis dengan menunjukkan wajah marahmu.”
Dante berdecak melihat permintaan lirih dari Bella, seketika rasa marahnya pun hilang.
“Anthony!” teriaknya memanggil.
“Tidak usah teriak-teriak! Aku masih dengar. Apa lagi maumu?” ucap Anthony. "Kalau bicara itu harus lemah lembut."
“Cih! Kau tidak memberinya makan?”
“Sudah! Tapi dia mau makanan yang lain. Dia minta steak.” uawab Anthony jujur.
“Aku tidak ada disana Belinda. Makanlah apa yang ada dulu ya setelah aku menjemputmu aku akan membuatkan steak untukmu.”
“Kau tidak membohongiku kan? Kau akan menjemputku dan membuatkanku steak?”
“Iya, makanlah yang banyak! Kasihan bayi yang ada didalam perutmu kalau kau tidak makan! Apa kau ingin membunuh anakku Belinda?”
“Bayi?” Bella kaget langsung mrnggerakkan tangan.
“Hmmm! Bayi yang ada dalam kandunganmu itu adalah bayiku.” ucap Dante.
“Bayi…..” Bella langsung menunduk dan satu tangannya memegang peru seperti orang linglung dia tersenyum sendiri ketika mengulang kalimat bayi berkali-kali.
“Dante! Sky-ku akan punya adik?”
“Iya! Sky-mu akan punya adik yang satu darah dengannya.”
__ADS_1
“Oh jadi aku sedang mengandung lagi Dante?”
Bella mengulang pertanyaannya dengan senyum diwajahnya dan bahkan matanya sudah berair menumpahkan titik-titik air mata karena bahagia. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati Dante dan membuat Anthony yang melihat Bella pun tidak bisa berkata-kata.