
FLASHBACK ON
Setelah Bella masuk kedalam kamar mandi diapun duduk di toilet. “Huh dasar suami istri sama saja! Suaminya tak henti-henti memaki dan mengancamku, istrinya juga sama! Bahkan wanita itu mengusirku secara halus! Huh aku tidak akan mengikuti permainannya, aku tidak akan membuat kesempatanku untuk bertemu Sarah hilang! Aku ingin bebas dan bertemu adikku lagi! Aku akan berjuang untuk itu! Sabar----sabar ya Belinda!” ucapnya dalam hati untuk menyakinkan dirinya dan memantapkan hatinya.
“Aku harus buat apa disini? Aku tidak ingin buang air kecil, aku juga tidak mau buang air besar. Apa mereka sudah pergi ya? Sampai kapan aku harus sembunyi di dalam sini? Dasar wanita itu gila!’ celetuk Bella yang mulai sadar dimana keberadaannya. “Aduh pegal sekali kakiku kelamaan pakai sepatu high heels!” celotehnya dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut. Dia mencoba meluruskan kakinya untuk meregangkan.
“Awal ketemu dengan wanita gila itu sih aku tidak masalah, dia nampak ramah dan baik banget. Cantik dan menarik sampai-sampai aku merasa iri dengan sikapnya. Hanya wanita biasa yang seperti bidadari tapi setelah tahu sifat aslinya...ahhhhh menjijikkan dan munafik! Harusnya dia bilang sama suaminya langsung kalau dia tidak mau aku disini! Rasain kau, sekarang kau punya saingan dirumahmu kan! Pasti kau merasa tidak tenang karena aku lebih cantik darimu meskipun sikap dan etiketku tidak sepertimu. Pura-pura baik dihadapan suaminya tapi menyerangku dibelakang! Emangnya aku anak tirinya? Nah itu lagi satu, kenapa dia tidak suka melihat anaknya dekat denganku? Lantas buat apa cari pengasuh?” Bella menghentakkan kakinya bergantian dilantai dengan penuh kekesalan dan marah.
Matanya menatap pintu kamar mandi dan menyandarkan tubuhnya disandaran kloset sambil menghembuskan napas panjang. “Apaan itu tadi mereka bermesraan didepanku? Apa istrinya itu sengaja ya biar aku tahu diri? Tanpa dia lakukan itupun aku sudah tahu diri. Ahhh aku tidak mengerti cara pikir mereka, sikap istrinya yang seperti itu dan suaminya yang membagi kemesraan didepan orang lain, aku rasa itu jalan satu-satunya kenapa kelak keluarga mereka akn tergoda dan diguncang pelakor! Biasanya sih begitu, pasangan yang terlalu mengumbar kemesraan kebanyakan hancur karena pelakor dan biasanya pasangan seperti itu selalu bermasalah.
Bella meniupkan napas sambil memicingkan matanya menatap pintu kamar mandi. “Wanita yang banyak kepalsuan akan membuat rumah tangganya tidak nyaman! Dan pria yang selalu mengumbar kasih sayang pada pasangannya dihadapan orang lain akan membuka peluang bagi wanita lain iri terhadap kemesraan mereka dan berniat untuk masuk.
Hah dasar pasangan bodoh! Sekarang sih mereka belum menyadari tindakan mereka, tapi lihat saja nanti. Aku sudah banyak melihat kejadian seperti itu.” Bella menikmati makiannya tanpa berpikir bahwa sudah waktunya dia pergi dari sana.
“Aduh kenapa tubuhku dingin? Kenapa seluruh tubuhku merasa kedinginan lagi? Aduh kepalaku juga pening, obatku…..” ucap Bella lirih karena setiap kali dia merasakan itu dia merasa tubuhnya meriang dan setelah Bella meminum obatnya maka semua rasa itu akan hilang. “Dimana aku bisa mendapatkan obat itu? Obatku….ssshhh.” tubuhnya bergetar dan dia mencoba menghangatkan tubuhnya dengan mengusap kedua telapak tangannya ke lengan.
“Kau. Dante…..Tuan Dante, aku membencimu! Sangat membencimu! Kau yang membuat semua ini terjadi padaku. Kau sangat kaya dan mudah bagimu mendapat obat itu, kau juga tahu kalau aku membutuhkan obat itu. Sejak kita bersama aku menginginkanmu setiap hari tadi sentuhanmu pada istrimu arrrgggg! Tidak ada obat untukku untuk menahan rasa ingin!” Bella merasa semakin tersiksa menahan semua rasa akibat pengaruh obat. Baru beberapa hari dia lepas dari obat itu dan akan sangat sulit di tiga bulan pertama.
__ADS_1
“Aduh dingin! Tidak ada lagi kepuasan untukku, aku rasa tidak mungkin aku terus-terusan seperti ini.” bisik Bella dalam hatinya dan antara sadar atau tidak sadar pikirannya terus terpaut pada obat dan Dante. Dia mulai membuka kancing bajunya satu persatu sambil membayangkan kegiatannya bersama Dante saat mereka berdua.
“Aku terpaksa melakukan ini! Aku benar-benar kedinginan dan aku sudah tidak kuat lagi. Aku menginginkannya, aku ingin sentuhan disini….disini juga….ahhhh…..” Bella bergumam lirih sambil menggerakkan tangannya memilin bagian tubuhnya yang biasa dipegang Dante.
“Aku mau ada yang melakukannya dan ada yang memanjakanku.” Bella mulai menggerakkan jarinya kebagian-bagian tubuhnya dan membuat jantungnya mulai mengikuti irama adrenalin yang semakin meningkat. Dia membuka dan menutup matanya seraya merasakan sensasi melayang.
“Aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengatasi ini, aku selalu mendapatkan ini setiap hari selama bertahun-tahun dan sangat sulit bagiku merubahnya. Mungkin hanya dengan cara ini aku bisa mendapatkannya, memanjakan diriku sendiri. Tanganku pun sudah mulai pintar memanjakan tubuhku seperti yang biasa dilakukan Dante saat kami berdua.
“Hem...aku harus membayangkan sesuatu. Apa ya yang bisa kubayangkan? Apa aku harus membayangkan Dante? Huh pria jahat yang tidak mau memuaskanku dan istrinya yang galak! Ogah….tidak mau! Dia jahat padaku,dia tega bermesraan didepanku dan tidak peduli padaku, wek!”
“Aku tidak percaya aku melakukan ini dan memuaskan hasratku sendiri. Kalau begini aku tidak butuh siapapun, aku bisa melakukannya sendiri hanya dengan berdiam diri dikamarku atau ditempat sepi lainnya lalu membayangkan sesuatu yang memabukkan begini, hingga ahhhh…...” Bella bergumam sendiri sambil matanya merem melek dan dia sudah mulai masuk ketahap akhir.
“Kalau begini memang lebih lama puasnya tapi setidaknya aku tidak perlu mengemis pada siapapun! Aku lelah!” Bella mencoba memikirkan solusi untuk mengatasi keinginannya sendiri walaupun perbuatan itu salah tapi saat dia memikirkan sikap dingin Dante dan tidak mungkin baginya mendapatkan apa yang diinginkan tubuhnya selama tinggal bersama Dante, dia pun memberanikan diri melakukan itu sekarang walaupun waktunya tidak tepat. “Ahhh…...” dia mendapatkan pelepasan.
Tok tok tok tok…….gedoran keras dipintu mengejutkannya tepat saat dia mendapatkan pelepasannya.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
“Keluar kau sekarang atau jangan salahkan aku akan membakar pesawat ini bersama denganmu didalam!” teriak Dante marah. “Hei cepat buka!” Dante semakin keras menggedor pintu membuat Bella merasa ketakutan.
“Dasar orang ini tidak tahu diri! Apa dia tidak tahu kalau aku baru saja mendapatkan kepuasanku?”
“BUKA! BELINDA ALEXANDRA!”
“Iya sebentar lagi aku keluar! Sebentar lagi ya, kau pergi dulu dan jangan ganggu aku. Apa kau tidak tahu kalau orang lagi didalam kamar mandi itu baunya tidak harum!”
BRAAAKKKKK!
Dante mendobrak pintu kamar mandi membuat Bella terjingkat kaget.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuka pintu secara paksa begitu? Kau menyebalkan! Aku sudah bilang tunggu sebentar lagi!” Bella mengomel dihadapan Dante dengan baju bawahnya masih terbuka.
‘Cih! Apa dia pikir aku akan diam saja mendengar suara desahannya dari dalam sana? Sudah kubayangkan pasti dia melakukan itu lagi! Berani-beraninya dia menitipkan anakku pada istriku sedangkan dia melakukan hal tak jelas disini! Bermalas-malasan tak menjalankan tugasnya padahal anakku menyukainya.’ gumam Dante kesal dihatinya. Matanya menatap marah pada Bella.
__ADS_1