
Tanpa sadar Dante tersenyum menatap tubuhnya, ‘Kenapa aku ikutan bodoh seperti dia? Aku membiarkan tubuhku polos begini? Kenapa aku malah ingin menunjukkan tubuhku padanya untuk memuaskan hatinya? Ha ha ha ha…..Belinda…..kau mengacaukanku! Kau sudah melihatku, kau mendengar suaraku dan melihat tubuhku. Kau tidak perlu lagi penasaran, kau sudah tahu permainanku dulu, tak kusangka ternyata kau menyukainya. Belinda Alexandra Amani! Kunamai anakmu sesuai namamu agar aku selalu mengingatmu.’ Dante tersenyum sendiri dan bayangan kebersamaan mereka di masa lalu kembali mengisi ingatannya.
‘Andai saja waktu itu aku tidak melepaskanmu, Belinda! Sikapmu tidak akan bodoh karena kecanduan-obat-obatan itu! Pikiranmu juga masih waras dan tidak berpikir aneh-aneh. Kau masih akan menjadi gadis lugu dan tentunya kehormatanmu pun masih selamat! Hanya aku saja yang memakaimu, ahhh.’ Kegalauan hati Dante menyesali apa yang telah terjadi sehingga Bella menjadi seperti sekarang ini.
“Tuan, ini teleponmu masih bunyi dari tadi.”
“Berikan padaku.”
Dante meraih ponselnya dan melihat nomor tak dikenal yang menghubunginya, dia langsung menjawab panggilan. “Halo, kau siapa?”
“Berikan Bella padaku! Wendy sudah mengatakan semuanya padaku. Aku akan menebusnya, katakan saja berapa harga untuk menebusnya!”
“Kau sudah tahu nomor teleponku?” tanya Dante terkejut.
“Aku berikan kau pilihan, aku tidak akan menghancurkanmu kalau kau berikan Bella padaku! Aku tidak akan ikut campur dengan semua bisnismu! Nomor teleponmu sangat mudah bagiku mendapatkannya, apa kau lupa kalau Wendy ada bersamaku sekarang?” ujar Jeff mengancam.
“Berani kau mengancamku?” ujar Dante tenang, dia tidak peduli ancaman Jeff yang menginginkan Bella. Pria itu menatap lurus kearah Bella dan membiarkan wanita itu memikirkan siapa yang menghubunginya tanpa curiga. ‘Aku bersumpah tidak akan pernah memberikanmu pada siapapun, kau juga tidak boleh tahu kalau yang meneleponku adalah Jeff Amadeo. Cih! Jangan harap dia bisa mengambil Bella dariku, tidak akan pernah! Sampai matipun akan aku pertahankan! Bella milikku dari dulu sampai selamanya!’ bisik hati Dante.
“Ya mungkin kau benar. Kenapa memangnya kalau aku mengancammu? Aku hanya menginginkan Bella, Bebaskan dia dan aku akan membayar semua hutangnya. Aku yakin aku sanggup untuk melakukannya, aku tidak mau punya musuh.Aku tahu siapa kau sebenarnya. Permudah saja urusan kita, berapapun yang kau minta aku yakin aku sanggup untuk membayar asal Bella kau berikan padaku!”
“Dalam mimpipun aku tidak akan pernah memberikannya! Jangan pernah berharap! Kau tidak akan pernah mendapatkannya!”
“Oke, kalau kau tidak mau memberikannya secara baik-baik maka aku akan gunakan cara lain untuk mendapatkannya. Kuingatkan kau! Aku akan lakukan cara yang tidak pernah kau duga untuk mendapatkan Bella!” ucap Jeff marah.
“Silahkan lakukan apa saja. Jika kau mau menyadap teleponku dan mengetahui keberadaanku pun tidak masalah, silahkan saja! Menemuiku langsung juga boleh! Terserah cara mana yang kau pilih.” Dante tak mau kalah, bagaimanapun Bella adalah miliknya.
“Tuan Sebastian! Aku tahu kau bukan orang sembarangan.”
“Aku juga tahu kau orang seperti apa!” balas Dante lagi tak mau kalah.
“Apa kau menginginkan perang denganku?”
“Jika perlu!” balas Dante enteng.
“Aku tidak akan menyerah!”
__ADS_1
“Sama!”
Tak ingin bicara lebih lama lagi, dante mematikan teleponnya. “Hei mau kemana kau? Bukankah kita mau makan? Kenapa kau menarik tanganku?” Bella yang bingung karena Dante sudah mematikan kompor tapi tidak menghidangkan makanan malah menarik tangannya.
“Sudah tidak sempat! Kita buru-buru!” jawab Dante singkat menarik Bella kedalam kamar.
‘Ada apa? Kenapa tiba-tiba dia berubah setelah menerima telepon? Yang aku tahu dia ini mafia dan melakukan bisnis senjata seperti yang kudengar saat bertemu di Club VIP. Apa ada masalah dengan bisnisnya?’ batin Bella bertanya-tanya dan mengikuti Dante tanpa banyak berpikir.
Dia berusaha mengimbangi langkah Dante agar tidak tersandung di anak tangga.
“Pakai ini!”
“Ha? Kau punya pakaian wanita? Kenapa kau tidak bilang sejak awal dan memberinya padaku?” tanya Bella saat Dante membuka lemari dan mengeluarkan pakaian lengkap dengan dalaman juga.
“Cepat berpakaian, jangan banyak bicara. Kita harus segera bergegas!”
Bella menatap nanar kedalam lemari yang banyak berisikan pakaian wanita.
‘Ini adalah vila milik keluarga Barack, pasti dia sering kesini bersama para wanitanya, bahan makanan disini juga lengkap. Barack sangat cekatan merapikan tempat ini saat aku ingin memakainya.’ bisik hati Dante memperhatikan Bella yang sedang berpakaian.
“Memangnya kita mau pergi kemana?” tanya Bella penasaran.
“Sudah!”
“Ikat rambutmu!” Dante pun memberikan ikat rambut padanya yang langsung diterimanya lalu mengikat rambutnya.
“Bisakah santai sedikit? Tidak usah terburu-buru?” Bella bertanya lagi saat tangan Dante menarik tangannya keluar dari kamar.
“Tidak ada waktu lagi!” ucap Dante menggandeng tangan Bella keluar, memastikan dia tidak tertinggal dibelakang.
‘Aduh padahal aku lapar dan pengen makan sop ikannya. Baru matang harumnya menggugah selera. Kenapa dia menarikku pergi ya? Eh, tunggu dulu. Kenapa dia membawaku keluar lewat pintu sini?’ Bella semakin bingung karena Dante tidak membawanya melalui pintu sebelumnya.
Saat memasuki ruangan itu, deretan mobil-mobil mewah berjejer rapi. “Wow! Ternyata kau menyimpan banyak mobil mewah disini.” decak Bella kagum. Dante tidak merespon, hanya mengambil satu kunci mobil dan membukakan pintu untuk Bella.
“Masuk!”
__ADS_1
“Iya, Tuan.”
Vrrroooommmm…...mobil melaju kencang dan tak ada lagi pembicaraan diantara mereka untuk beberapa saat.
‘Siapa yang meneleponnya ya makanya dia buru-buru pergi?’ Bella menyimpan pertanyaan dihatinya tapi dia tidak mau berpikir buruk, lebih memilih menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Sedangkan Dante sibuk dengan pikirannya sendiri untuk mempersiapkan rencana terbaik bagi pengamanan orang-orang yang ingin dilindunginya.
‘Sial! Dia sudah tahu nomor teleponku! Wendy yang memberikan padanya, mungkin sebentar lagi dia akan tahu dimana istri dan anakku tinggal. Aku harus secepatnya pergi dari sini dan melindungi mereka. Terutama melindungi wanita ini, dia ibu anakku dan aku tidak mau dia kenapa-napa.’
Dante menghela napas panjang, merasa khawatir.
‘Wanita ini bodoh sekali soalnya, aku khawatir jika mereka mengambilnya kembali maka dia hanya akan dijadikan pemuas orang-orang itu!’ gumamnya gusar. Dante berusaha menghubungi seseorang.
“Iya Dante? Ada apa?”
“Kalian sudah mengurus semua yang aku minta kemarin?”
“Sudah beres! Keamanan sudah kami tingkatkan, istri dan anakmu juga sudah dilindungi. Kami sudah siapkan pesawat yang kau minta.”
“Bagus! Kerja kalian sangat bagus! Aku ingin pergi sekarang juga.” ujar Dante.
“Apa kau ingin kami semua pergi bersamamu?”
“Tidak sekarang. Kalian harus menyusulku nanti setelah aku berangkat segera kalian urus semua pusat kekuatan kita. Orang-orang Jeff tidak akan tinggal diam, dia baru saja menghubungi dan mengancamku. Mungkin dia sudah mengetahui semua tentangku dan mempelajari bagaimana cara kerjaku. Kalian hati-hati.”
“Baiklah. Jangan khawatirkan itu semua akan kami urus. Kami akan menyusulmu setelah semua selesai sesuai dengan perintahmu.”
“Ok. Aku langsung ke airport sekarang. Tolong buatkan identitas baru untuk wanitaku!” kata Dante.
“Kau masih mau menamainya Bella bukan?”
“Bella Sebastian! Buatkan dia identitas dengan nama itu.”
“Gila! Kau memberinya nama belakang keluargamu? Bagaimana jika istrimu tahu?”
“Itu tugasmu! Kau yang akan mengurusnya nanti.”
__ADS_1
“Ah….baiklah Dante Sebastian! Terserahmu saja! Aku akan melakukan perintahmu walaupun aku gila melakukannya! Apa kau benar-benar akan membawanya kerumahmu dan tetap tinggal bersamamu? Apa kau sudah gila?”
“Itu urusanku! Dia wanitaku! Aku tutup dulu teleponnya.”