PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 301. BANYAK PENGUNTIT


__ADS_3

Sekuriti itu tidak banyak tanya dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Dante untuk menunjukkan semua rekaman CCTV dan Dante memperhatikan setiap detailnya.


“Yang itu sepertinya mencurigakan! Dia masih parkir disana tapi dia tidak pernah keluar dari mobilnya.” ujar Dante.


“Apa Tuan sudah menemukan sesuatu?”


“Orang ini! Aku mencurigainya.”


“Saya juga Tuan. Anda mau saya memanggil orang untuk mengeceknya?”


“Tidak perlu!” Dante menggelengkan kepalanya. “Tidak ada gunanya untuk melawan mereka. Bisa kau berikan yang aku butuhkan saja?”


“Tentu Tuan. Apa yang anda inginkan?” tanya sekuriti itu. Siapa yang tidak senang disapa oleh Dante? Walaupun dia tidak tahu pekerjaan Dante yang sebenarnya tapi dia tahu kedudukan Dante. Sebagai seorang sekuriti, tentu saja dia senang saat merasa dibutuhkan karena dia sudah berpikir tentang imbalan yang bisa diberikan Dante padanya nanti.


“Pinjamkan aku pakaian! Dan aku juga mau meminjam kendaraanmu. Sebagai gantinya kau boleh mengambil kendaraanku menjadi milikmu!”


Pria itu sangat kaget mendapat penawaran dari Dante sehingga dengan cepat dia menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Dia langsung mengajak Dante ke lokernya dan memberikan pakaian pada Dante.


“Apa kau punya topi?” tanya Dante lagi ketika dia keluar dari ruang ganti pakaian dan sudah memakai pakaian sekuriti milik pria itu.


“Ada Tuan. Ini ambillah. Anda tidak akan dikenali apalagi kalau anda memakai masker ini.”


“Tadi aku sudah cek direkaman CCTV ketika aku masuk kerumah sakit tidak ada seorangpun yang memperhatikan dan mengikutiku berarti mereka tidak masuk kesini. Mereka hanya menunggu didalam mobil saja sampai aku keluar.”


“Benar Tuan.” laki-laki itupun mengangguk mengerti.

__ADS_1


“Tidak akan ada yang tahu kalau aku meminjam motormu kan?” tanya Dante memastikan karena dia tidak mau ada yang mengikutinya.


“Tidak ada Tuan! Apa setelah anda pergi nanti, aku harus melaporkan mereka ke pihak berwajib, Tuan?” tanya pria itu lagi ingin mengetahui jika ada tuags lain dari Dante.


“Oke, siapa namamu?” tanya Dante.


“Aku Noel, Tuan.”


“Baiklah. Senang berkenalan denganmu Noel! Kau tahu dimana rumahku?”


“Iya tahu Tuan.”


“Besok kalau kau ada waktu datanglah kerumahku dengan membawa mobilku! Mereka akan mengizinkanmu masuk dan aku punya pekerjaan untukmu!” ujar Dante.


“Benarkah Tuan?” tentu saja Noel sangat senang kalau bisa bekerja dengan Dante. Dia tidak tahu pekerjaan apa yang akan diberikan Dante tapi mendengar ucapan itu saja dia sudah bersemangat.


“Terimakasih Tuan!” lelaki itu merasa sangat senang dan hari ini adalah hari beruntungan baginya.


“Aku juga berterima kasih untuk ii.” Dante memberikan kunci mobilnya pada pria itu dan pergi meninggalkan ruangan.


‘Hah! Kalian pikir bisa membuatku tidak berkutik? Aku tidak bersalah dalam pembunuhan White! Akan ku buktikan pada kalian kalau memang kalian tidak mempercayaiku. Tapi tidak saat ini,aku harus mengecek kondisi Bella dulu dan memastikan tidak ada gangguan yang dibuat oleh Jeff!’ celetuk Dante dihatinya sambil berjalan menuju parkiran. Setelah menegcek plat motor dan memastikan itu motor yang harus dipakainya dia pun memasukkan kunci untuk menghidupan motor.


‘AH, aku pakai motor ini.’ ujar Dante yang tidak bisa dikenali oleh siapapun karena dia memakai masker dan topi yang menutupi wjaahnya. Orang yang melihat akan mengira kalau dia adalah sekuriti disana.. Bahkan dua orang yang sedang berbicara tak mempedulikannya.


“Sampai kapan kita harus menunggu Dante disini? Pufff aku sudah tidak sabar ingin membunuhnya.” ujar salah seorang pria menggerutu karena sudah terlalu lama menunggu Dante di tempat parkir.

__ADS_1


‘Hmmm….jadi mereka benar-benar menguntitku?’ gumamnya dalam hati mengomentari seseorang disampingnya yang bertanya pada temannya. Dante tetap diam dan tetap mendengarkan obrolan mereka.


“Memangnya kau pikir kau saja yang sudah bosan menunggu?”


“Ssshhhhh! Aku sudah tidak sabar ini adalah saat dimana kita bisa melihat kematiannya! Aku ingin sekali melihat kehancuran organisasinya. Berapa lama lagi kita harus menunggu?”


Pria itu kembali bertanya pada temannya tak sabaran, saat Dante sudah menaiki motornya sambil memendam semua kemarahannya.


“Entahlah! Kita akan diberitahu saat dia sudah masuk kedalam mobilnya!” ujar seorang pria lagi.


“Lama sekali. Kau tahu tadi aku mendapatkan kabar kalau tiga teman kita sudah tewas ditikungan itu.”


“Karena itu aku ingin sekali Dante cepat-cepat dimusnahkan! Anak buahnya terlalu sombong! Bisa kau bayangkan bagaimana nasib mereka setelah Dante mati? Haahahahha.”


Tawa orang itu membuat Dante sangat ingin turun dari motornya seandainya dia tidak mengingat sesuatu yang jauh lebih penting yang harus dia kerjakan saat ini.


“Tapi kita harus ingat bahwa dia bukan musuh yang mudah untuk dihadapi! Kita tidak menduga akan ada kejadian seperti ditikungan atas itu, itu sungguh diluar prediksi! Dia adalah orang yang menguasai oersenjataan dan kadang dia membuat sesuatu yang berbeda dari orang lain! Sangat sulit untuk mengalahkannya.”


“Heeeiiii kau harus ingat apa yang dikatakan bos! Masa kejayaan Dante sudah habis dan sebentar lagi dia akan dikalahkan! Dia sudah terlalu lama berkuasa, lima belas tahun itu waktu yang lama. Dia harus segera dimusnahkan dan aku menantikan masa itu tiba.” perkataan kedua orang itu masih  didengar oleh Dante ketika dia mengendarai motornya meninggalkan tempat parkir.


‘Cih! Kalau bukan karena aku ingin memperbaiki nama baikku dan ingin membuktikan bahwa aku tidak bersalah atas kematian White, aku sudah merobek mulut mereka!’ujar Dante didalam hatinya saat dia mengendarai sepeda motornya meninggalkan rumah sakit. Didalam pikiran Dante, orang yang menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan White adalah keluarga White sendiri. Selama ini dia mengetahui bahwa keluarga itu bermasalah dan terjadi konflik internal dalam perebutan kekuasaan.


‘Bodoh sekali kalian bahkan tidak bisa mengenaliku! Harusnya kalian mencurigai orang yang berpakaian tertutup sepertiku!’ ujarnya lagi sambil tersenyum licik dibalikhelmnya dan Dante melajukan motornya dengan kecepatan maksimum agar segera tiba dirumah. Dante sudah seperti pembalap dijalanan lengang itu. Tanpa hambatan dia meningkatkan lagi kecepatannya melewati tikungan yang cukup memicu adreanalin menuju kerumahnya.


‘Jadi disini tempat jatuhnya mobilku tadi?’ ujar Dante yang melirik pembatas jalan yang sudah rusak dan sedang diperbaiki oleh anak buahnya. Dante selalu menyuruh orangnya untuk memperbaiki setiap kerusakan di lingkungan tempat tinggalnya. Dante memilih melakukan sendiri daripada menunggu pemerintah. Dia tidak mau ada pengaduan dari masyarakat dan dia tak ingin ada campur tangan pemerintah.

__ADS_1


“Apa ini?” Dante melewati tikungan yang paling dekat dengan rumahnya dan dia melihat sesuatuyang aneh disana yang membuatnya berdecak. “Ternyata kalian benar-benar mencurigaiku?” Dante tersenyum sinis tapi dia tidak peduli dan terus melajukan motornya menuju kearah rumahnya.


‘Satu orang juga memata-matai rumahku! Dasar boroh, kau tidak akan mendapatkan apapun dari sini ekcuali mendapati siapa yang keluar masuk rumahku melalui jalur darat.’


__ADS_2