
Semua teman-teman Dante hanya dialah yang hatinya paling lembut, dan paling menggunakan perasaan dalam bertindak.
“Hans! Apa maksudmu? Bukan sesuatu yang penting? Aku jelas mendengar kalian bilang banyak masalah.” Dante melangkah menghampiri keduanya. “Henry bukan orang yang melalaikan pekerjaan! Kau mengajak henry bicara disaat dia bekerja dan membuatnya lalai.”
“Heeiiiss...Dante sudahlah! Tidak perlu diperpanjang lagi karena bukan apa-apa.”
“Hans! Aku belum selesai bicara!” emosi Dante meningkat lalu dia menatap henry. “Coba kau lihat ponselmu apa ada telepon dari penjaga gerbang utama?”
“Ada Tuan! Tapi saya pikir hanya tamu karena tadi saya sempat melihat yang datang itu menggunakan motor lewat foto yang mereka kirimkan.” ujar Henry jujur karena tadi dia hanya melihat sepintas saja dan Henry tahu kalau Dante naik mobil saat pergi meninggalkan rumah. Jadi dia tidak terlalu merespon dan langsung memasukkan ponselnya lagi kedalam saku.
“Kau tidak teliti hari ini Henry!” Dante menegaskan. Hari ini dia juga pusing jadi Dante mudah tersulut amarahnya.
“Saya minta maaf Tuan.” ucap Henry lagi.
“Berhati-hatilah lain kali dalam bersikap.”
“Iya Tuan,” Henry pun mengalah karena elbih baik begitu daripada harus ribut dengan Dante.
“Katakan padaku apa yang sedang kalian bicarakan tadi Hans?”
“Sudah kukatakan, bukan hal yang penting Dante! Tadi kan aku sudah menjelaskan padamu. Ini hanya obrolan ringan saja tidak ada yang serius.” Hans bicara seraya berpikir bagaimana cara menyakinkan Dante karena dia tahu Dante tidak percaya dan akan terus mencecarnya dengan pertanyaan yang sama.
“Aku mau tahu!”
‘Apa kataku kan. Tambah lagi dia sedang emosi tentu saja dia semakin penasaran!’ bisik hati Hans.
Sebetulnya Dante tidak pernah ikut campur dengan urusan orang lain tapi karena kalimat Hans sangat mengganggunya sehingga ada ke kahwatiran pada dirinya.
‘Ya Tuhan! Kalau aku melihat wajah Tuan Hans sepertinya dia tidak mungkin lepas dari Tuan Dante tanpa menjelaskan apapun. Aku pasrah saja, aku tidak peduli apapun yang akan terjadi padaku.Tapi aku hanya kecewa pada diriku sendiri karena aku telah kehilangan kepercayaan Tuan Dante.’ bisik hatinya.
‘Tapi aku tidak punya niat sama sekali untuk mengkhianatinya. Aku sudah melakukan kesalahan besar dengan membawa Bella pergi darinya! Membuat Tuan Dante pusing dan aku tidak tahu siapa Bella sebenarnya.’ ucapnya didalam hati yang semakin kacau.
__ADS_1
Tadi perbincangannya dengan Hans memang henry jujur mengatakan semuanya. Dia tidak mau menambah masalah lagi hanya saja Henry tidak tahu tanggapan Dante soal ini sehingga membuatnya tidak tenang.
“Oke, aku akan ceritakan.” ucapan hans ini sontak membuat Henry benar-benar pasrah mau dihukum apa nanti oleh Dante. Dia sudah tidak peduli dan menyadari kesalahannya.
“Cepat katakan Hans!”
Jantung Hans dan Henry berdetak semakin kencang. “Oh itu tadi aku hanya bertanya tentang hubunganmu dirumah ini dengan istrimu pada Henry! Kenapa kau sampai setega itu mengusirnya. Lalu aku memprotes Henry karena dia membuang semua baju dan barang-barang istrimu, Tatiana! Bukankah itu akan membuat banyak masalah dengan Omero? Hahahah.” Hans tertawa.
“Kami hanya bergosip saja. Maafkan aku Dante telah mengganggu orang kepercayaanmu. Aku iseng saja tadi tidak ada kerjaan. Jadi aku menakut-nakuti Henry kalau ini akan membuat hubunganmu dan Omero memanas. Hmmm….bukankah ini akan memperburuk hubunganmu dengan Omero memanas karena Tatiana?”
“Heeh...kau tahu sendiri kalau Bella juga adalah anaknya Omero! Harusnya kau tidak bicara begitu dan tidak mengganggu pekerjaan Henry.”
Maaf Dante! Aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku hanya berpikir tentang Omero yang memihak Tatiana, mungkin rasa kasihan atau….”
“CUKUP HANS! Berhenti bergosip tentang urusan pribadiku.” ujar dante marah.
“Baiklah dante. Aku tidak akan iseng lagi.” ucap Hans dengan gayanya yang bicara santai membuat hati Henry pun jadi tenang.
“Apa kau tidak bisa bicara hal yang lebih berbobot Hans?”
“Aku sudah minta maaf padamu. Ayolah jangan memperpanjang masalah lagi.” Hans berjalan mendekati Dante dan menepuk lengannya, “Ada apa denganmu? Kau kelihatan stress sekali?” tanyanya. Kini dia sudah lebih tenang karena alibinya dipercaya oleh Dante dan pria itu sudah tidak mencecarnya lagi dengan pertanyaan yang sama seperti tadi.
Hans adalah orang yang suka bercanda dan paling suka bergosip seperti emak-emak.
“Hans! Please fokus! Eddie hampir saja terbunuh. Kau masih bisa bercanda dirumah ini dan tidak melihat siapa yang datang tadi?” Dante kembali memarahi Hans sambil ajri telunjuknya mengarah ke pintu sambil bicara.
“Apa kau bilang? Aku tidak tahu itu Dante!”
“Hans! Cobalah berpikir lebih serius lagi. Barack sudah hilangingatan, Nick terluka kakinya dan dia tidak bisa berbuat banyak. Tadi eddie hampir saja terbunuh dan sekarang kondisi Eddie harus menjaga Omero dirumah sakit. Kau bisa hitung berapa orang sekarang yang tersisa ditambah lagi kau tahu sendiri bagaimana kondisi ayahku Omero. Dia baru saja kecelakaan dan kondisinya masih dirawat di ruang ICU! Aku berpakaian seperti ini untuk menghindari orang-orang White!
Akhirnya Hans menjadi tempat pelampiasan kemarahan Dante sesuai dengan prediksi Henry.
__ADS_1
“Separah itukah kondisi kita Dante?” tanya Hans dengan serius.
“Kau masih mau bermain-main dan bergosip?”
“Maaf, aku tidak tahu soal itu.”
‘Isss pantas saja mukanya keriput begitu! Ternyata banyak sekali beban didalam pikirannya. Coba aku bicarakan dengan yang lain untuk membantunya nanti.’ bisik hati Hans.
Dia tidak mempermasalahkan omelan Dante padanya karena diantara mereka tak pernah ada dendam dan amarah yang berlarut-larut. Semuanya lewat begitu saja dan tidak sampai melekat di hati mereka terlalu lama.
“Aku menyuruhmu untuk menjaga Sarah dan anakku Alex! Kenapa kau malah bergosip disini?”
“Iya benar! Aku tadi kebawah untuk bikin kopi tapi kebetulan aku bertemu Henry jadi aku mengajaknya bicara dulu.”
“Istirahatlah.” ucap Dante.
“Aku?” tanya Hans.
“Iya. Kau sudah tidak tidur semalaman sebaiknya kau istirahat dan tidak perlu minum kopi.” lalu Dante menatap Henry dan berkata, “Aku mau kau menjaga Sarah dan juga anakku. Ikuti mereka kemanapun pergi sampai Hans bangun baru kau bisa gantian dengannya.”
“Baik Tuan!” Henry menganggukkan kepala.
“Minta Ricci untuk menemanimu juga Henry!”
“baik Tuan!” Henry mengerti apa yang dikatakan Dante. “Kalau begitu saya pamit dulu Tuan untuk memberitahukan Ricci dan segera ke kamar Tuan Muda Alex.”
“Pergilah!”
Henrypun bergegas pergi setelah itu. Kini hanya da Dante dan Hans saja disana saling berhadapan.
“Sekarang apa rencanamu Dante?”
__ADS_1
“Aku mau kekamarku dan istirahat.”