PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 464. ADA PENYUSUP


__ADS_3

“Kenapa Noel?” tanya Dante memperhatikan Noel yang tampak fokus.


“Mobil ini bisa menyetir sendiri?” tanya Noel dengan takjub.


“Iya. Mobil ini sudah dimodifikasi. Kau suka?” Dante bicara sambil sibuk memperhatikan ponselnya.


“Wah…..mobil ini canggih sekali! Semua pria pasti menyukai mainan seperti ini!” kata Noel mengutarakan kekagumannya.


“Mobil ini sebenarnya sudah di autopilot Noel! Kita bisa keluar dan mengendalikannya dari luar seperti pesawat mata-mata, kita bisa memantaunya dengan jarak maksimal sekitar dua ribu kilometer.”


“Wahhh!” hanya itu komentar Noel tapi dia memang takjub dengan pernyataan Dante tapi bahkan Noel tidak menatap Dante tapi tetap fokus menatap mobil itu.


“Apa yang kau pikirkan Noel?” tanya Dante saat melihat sikap Noel yang membuatnya melirik pria itu dan tersenyum. Dante ingin tahu apa yang dipikirkan pria itu.


“Anda keren sekali! Saya melihat anda memiliki banyak sekali barang-barang canggih! Darimana anda mendapatkannya?”


“Semua barang-barag itu adalah hasil penelitian, aku mendapatkannya dari banyak inventor dan aku berusaha untuk mengambilnya dan memberikan hak paten pada benda-benda itu.” jawab Dante.


“Benarkah?”


“Ya, aku senang mengumpulkan para inventor! Orang-orang yang berbakat! Mereka banyak menjual idenya padaku yang tidak diterima publik. Kami menyempurnakannya dan kami menggunakan  untuk diri sendiri.”


Dante menatap Noel setelah berbicara, “Kami memperkuat diri kami kalau hanya mengandalkan teknologi yang sekarang, tentu saja kami tidak akan dapat bersaing dengan penguasa dan mereka akan lebih mudah menaklukkan kami.”


“Jadi kau bersaing dengan pemerintah?” tanya Noel. Dia kini sudah benar-benar membiasakan dirinya bicara lebih santai dengan Dante sesuai dengan keinginan Dante.


“Bukan bersaing tepatnya! Tapi melindungi diri dari mereka!” Dante bicara serius saat ini.


“Ehm….kenapa kau tidak menjual semua ini? Bukankah ini akan menghasilkan banyak uang? Apalagi kau sudah mematenkan dan menyempurnakannya.” pertanyaan yang memang sejak tadi ada didalam benak Noel tapi disimpannya karena takut menyinggung.


“Hahahaha! Untuk apa kujual kepada mereka? Tadi aku sudah jelaskan padamu kalau aku membeli ini dari inventor yang idenya ditolak oleh publik! Itu artinya mereka tidak mau menerima ini dan akulah yang menerimanya dan menggunakannya untuk diriku.” jawab Dante dengan tersenyum menatap Noel.


“Ahhh!” Noel mengangguk-anggukkan kepalanya.


‘Pantas saja dia bisa jadi pemimpin besar karena dia mempunyai kemampuan untuk berpikir jauh kesana. Isinya cukup besar dan dia adalah orang yang cukup tenang. Aku tadi melihat seseorang meneleponnya dan dari wajahnya aku tahu yang mereka bicarakan bukanlah hal yang mudah. Makin hari aku makin mengagumi Dante!’ bisik hati Noel.

__ADS_1


‘Sampai kapanpun aku akan terus menyanjungnya dengan segenap jiwa ragaku.’ Noel memang sangat mengagumi dan menyayangi Dante sebagai pimpinannya. Keduanya kini sama-sama diam menekuni pikiran masing-masing.


“Apa ada sesuatu Dante?” Noel refleks bertanya karena tiba-tiba pria itu terlihat sedikit meringis dan rahangnya menegang.


“Noel!” ucap Dante.


“Iya? Ada apa?”


“Hentikan mobilnya!”


“Ada masalah apa?”


“Ada penyusup!” jawab Dante menutup pintu mobilnya dan dia berjalan kearah bagasi setelah membuka pintu cepat.


“Apa yang kau lakukan disana?” matanya menatap serius wanita yang ada didalam bagasinya. Dante ingin marah tapi dia berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Noel bisa melihat apalagi urat leher Dante terlihat ikut menegang.


“Kau tahu aku ada disini kakak ipar?” tanyanya terbata-bata, yang membuat Dante meringis.


‘Kenapa wanita selalu saja membuat masalah? Apakah dia pikir tidur ditempat itu empuk?’


“Tidak ada! Aku hanya ingin tahu kau mau pergi kemana! Hmmm….aku kan orangnya penasaran.”


“Mobilku terlalu pintar, dia sudah memberitahuku siapa yang ada didalam sini.” Dante kembali memicingkan matanya, “Bagaimana bisa kau menyenlundup kesini? Siapa yang membiarkanmu masuk kedalam sini?”


“Ehm…maafkan aku!” Sarah menunduk. “Tadi aku meminta Hans untuk masuk ke kamar Alex. Aku bilang padanya aku sakit perut sehingga aku harus ke kamar mandi dikamarku.”


“Lalu aku menutup connecting door supaya dia tidak tahu.Alasanku supaya dia tidak mengintip kedalam kamar mandi. Tapi aku bukan ke kamar mandi, aku keluar dari kamar selagi Hans tidak menunggu didepan pintu kamar kami. Lalu dari atas tangga aku mendengar obrolanmu dengan Henry, kau menyuruhnya untuk menyiapkan mobil.”


“Lalu setelah itu kau pergi dengan Henry keluar, saat itulah aku turun kebawah dan aku melihat mobil itu. Orang-orang tidak sedang memperhatikan mobilnya jadi aku masuk saja kedalam bagasi.”


“Jadi anak buahku melewatkanmu?” tanya Dante sambil memicingkan matanya.


“Iya tentu saja mereka melewatkanku! Mereka tidak tahu kalau aku mengendap-endap!” jawab Sarah.


“Darimana kau belajar seperti itu?” tanya Dante. Dia tahu apa yang dilakukan Sarah itu bukan hal yang biasa! Anak buahnya bukan orang bodoh yang bisa tertipu. Tapi bagaimana mereka bisa melewatkan Sarah? Tentu saja ini menjadi pertanyaan besar bagi Dante apalagi wanita itu mengatupkan mulutnya untuk beberapa pertanyaan yang diajukan Dante.

__ADS_1


“Kalau kau tidak jujur juga aku akan menurunkanmu disini dan aku tidak akan peduli seandainya sesuatu terjadi padamu!” ancam Dante. Ancaman itu membuat Sarah bergidik ngeri apalagi saat dia melihat ekspresi wajah Dante yang serius.


“Bella akan marah padamu kalau kau tidak membawaku pulang.” Sarah berusaha untuk melawan.


“Aku bisa bilang padanya kalau aku tidak melihatmu dalam bagasi! Siapa yang tidak percaya padaku?” Dante bicara sambil membungkukkan badannya sehingga wajahnya bisa dekat dengan Sarah dan dia tersenyum penuh makna yang membuat Sarah semakin yakin kalau ancaman itu bukanlah candaan.


“Ehm….aku banyak belajar dari Barack. Dia mengajariku banyak hal ketika kami dihutan.”


‘Barack!……kau membuat masalah saja padaku! Percuma kau mengajari teknik seperti itu pada wanita ini, memangnya kau ingin mengirim dia kemana? Timur tengah?’ protes Dante didalam hatinya masih menahan amarahnya.


“Turun dari sana!” tegas Dante.


“Aku tidak mau! Ayolah aku mohon! Jangan biarkan aku disini sendirian. Aku tidak akan mengganggu kaliam. Aku hanya ingin tahu!” Sarah memelas meminta kebijaksanaan kakak iparnya yang kini tampak sangat marah.


“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Dante lagi karena Sarah masih tidak mau menyerah.


“Tentu saja Bella yang memintaku!”


Dante tersenyum, “Apalagi yang dia katakan padamu? Apa Bella mengatakan aku akan bertemu Barack ditempat ini?”


Sarah mengangguk karena memang itulah satu-satunya alasan yang bisa menggerakkan Sarah sampai bertindak senekat itu! Keinginannya untuk bertemu dengan Barack membuatnya mampu melakukan apapun.


Satu bulan lebih dia merasa sangat rindu sehingga tak ada kesempatan seperti ini yang akan dilewatkannya.


“Jangan bunuh aku!” reflek Sarah bicara dengan wajah ketakutan.


“Kau tahu kalau aku ingin membunuh? Kenapa kau malah melakukan hal bodoh itu?”


“Maafkan aku kakak ipar.” Sarah kembali memelas.


“Apa kau mau aku tinggalkan disini?” tanya Dante lagi pada Sarah.


“Ehhh jangan tinggalkan aku disini! Aku hanya ingin bertemu dengan Barack dan aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kalian berdua akan pulang selamat.”


“Keluar sekarang!” teriak Dante dengan marah.

__ADS_1


__ADS_2