
“Saya tidak pernah menemukan orang yang bisa menahan itu Tuan! Apalagi tubuhnya itu benar be….”
Bug bug bug
Berulang kali Dante memukuli Lorenzo. ‘Dia ingin memuji tubuh wanitaku? Dia pikir aku tidak tahu bagaimana tubuhnya? Tubuh yang pernah ditiduri seribu orang itu! Cih! Dia mau bilang apa tentang tubuh itu?’ celetuk Dante makin tak akruan didalam hatinya sehingga tangannya yang menyalurkan kekesalannya diwajah Lorenzo.
“Tuan! Apa yang anda lakukan pada saya? Anda memukuli saya, Tuan!” Lorenzo berusaha menangkis tapi beberapa kali dia gagal dan terus saja terkena pukul Dante.
Bug….bug….bug
“Aku pun bisa membunuhmu jika aku mau!” ucap Dante sambil memicingkan mata menatap Lorenzo.
“Membunuhku? Apa-apaan ini Tuan, anda mengancam saya? Saya tidak akan pernah mengijinkan itu Tuan! Saya akan membalas pukulan anda jika anda berniat membunuhku. Saat ini saya tidak membalas karena saya menghormati anda.”
Lorenzo terus saja mengoceh, padahal dari tadi dia juga ingin membalas tapi tetap saja gagal terus karena Dante selalu berhasil menahannya.
“Menghormati katamu? Menghormatiku dengan menggunakan ruangan dirumahku sebagai tempatmu membuang lendir jahanammu?”
Bug! Bug! Bug!
“Jangan salahkan saya kalau saya membalas, Tuan.” Lorenzo mencoba mengancam lagi.
“Kau pikir aku takut?” Dante justru semakin menantang dan tidak berhenti memukuli Lorenzo. Keduanya baku hantam, Dante tidak mau mengalah dan Lorenzo sudah mulai melakukan perlindungan diri, dia bukan pria lemah karena dia memiliki fisik yang cukup bagus dan juga menguasai beberapa ilmu bela diri.
Bug Bug Bug
Bukan hanya kerugian dipihak Lorenzo, kerugian pun ada dipihak Dante karena dia memukul dan dipukul ole Lorenzo walaupun selama pertarungan kurang dari lima kali Dante terkena pukulan sedangkan Lorenzo sudah babak belur.
‘Kenapa dia kuat sekali? Apa-apaan ini? Kenapa dia memukulku tanpa henti? Aku hanya meniduri pembantunya setelah aku memberitahukan perbuatan pembantunya seharusnya dia hanya perlu memecat pembantu itu kan? Kenapa malah memukuliku seperti aku meniduri anak dan istrinya saja.’ Lorenzo semakin berdecak heran.
Mereka masih terus lanjut saling pukul. Hingga pintu terbuka. “Dante! Apa yang kau lakukan?”
Tatiana memanggil Dante dan langsung mendekat dan melerai keduanya.
“Ada apa ini Dante? Apa yang kau lakukan?”
“Pria brengsek ini! Dia baru saja ingin melakukan sesuatu disini bersama Bella!”
__ADS_1
“Melakukan sesuatu?” Tatiana menoleh pada Lorenzo.
“Sudah kukatakan padamu, aku tidak menggoda Bella, Tuan! Wanita itu yang menyodorkan dirinya apdaku sehingga aku menjadi ingin. Dia yang menggodaku tapi kenapa kau juga menghukumku? Aku bukan bawahanmu, Tuan. Aku disini mengajar anakmu dan aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Dante! Apa benar yang dikatakan Lorenzo?” Tatiana menatap dante dan Lorenzo bergantian.
“Kenapa kau keluar? Bukankah kau bilang kau lelah dan ingin tidur seharian?” kalimat itu keluar dari mulut Dante dengan nada tak senang.
“Aku!” Tatiana seejnak kehilangan kata-kata. “Aku hanya ingin mengecek apa Alex sudah selesai atau belum!”
“Kalau kau ingin mengecek Alex sudah selesai atau belum kenapa kau datang ke tempat ini? Kenapa tidak langsung ke kamarnya?” untuk pertama kalinya Dante bicara ketus pada Tatiana.
“A—aku tidak tahu kalau kau langsung menyuruh Alex ke kamar. Yang aku mau, ingin menemui Alex ditempat ini, makanya aku kembali kesini.” Tatiana bicara gelagapan.
‘Aduh, mudah-mudahan dia tidak curiga. Aku tadi memang bilang tidak mau keluar kamar karena aku ingin dia pergi dengan tenang bersama teman-temannya yang seperti benalu itu. Aku ingin dia pergi lama supaya aku bisa bersama Lorenzo.’ celetuk Tatiana dalam hatinya. ‘Tapi kenapa ada masalah seperti ini?’ semuanya tidak sesuai dengan arahan Tatiana sehingga dia merasa resah.
“Minggirlah Tatiana! Kau tidak perlu membelanya! Aku akan mencarikan guru piano yang lain untuk Alex!” ujar Dante marah.
“Dante! Aku mohon jangan marah dulu. Kenapa kau tidak mendengarkan Lorenzo dulu? Dia bilang kalau yang mulai adalah wanita itu! Bella! Lalu kenapa kau malah memukulinya?”
“Dante!” Tatiana meninggikan suaranya yang membuat Dante menatapnya tajam. “Apa kau mencintai Bella?” pertanyaan Tatiana membuat hati Dante terhenyak.
“Kenapa kau menanyakan itu?” Dante bertanya dengan suara terbata-bata.
“Sikapmu sama seperti kau mencintainya, Danta! Dia seorang pelayan disini dan dia yang menggoda Lorenzo tapi kau malah memukul Lorenzo seakan istrimu sendiri yang sedang digoda olehnya!” suara Tatiana memekik dan Dante tak tahu harus menjawab apa.
“Tidak. Bukan begitu maksudku.” Dante menjadi panik sendiri. Kemarahannya sedikit tertahan karena rasa cemburu Tatiana. ‘Ahh…..kenapa jadi sulit begini? Kenapa Tatiana malah jadi mencurigaiku dan menyalahkanku?’ Dante bingung sendiri jadinya.
“Dante! Harusnya yang kau hukum itu adalah wanita itu! Dialah yang menggoda Lorenzo, kau tidak seharusnya memukuli Lorenzo. Atau kau pecat saja wanita itu, toh dia hanya pelayan disini dan dia baru bekerja beberapa hari.”
“Tatiana! Kau tidak mengerti apa-apa!”
“Aku sangat mengerti Dante! Sekarang katakan padaku kalau kau tidak mencintainya, kenapa kau membela wanita itu? Sampai kau melakukan semua ini Dante? Kau seperti seorang yang cemburu!”
‘Benarkah aku cemburu padanya? Tidak! Aku tidak cemburu padanya. Aku dan dia tidak ada hubungan lebih, jadi tindakanku ini sama sekali bukan tindakan dilandasi cemburu, bukan? Dante berusaha menerka perasaan hatinya.
“Dante! Kau tidak bisa menjawab? Jadi benar kau mencintainya?” Tatiana melotot pada Dante.
__ADS_1
“Tidak begitu. Aku hanya tidak suka perbuatan itu dirumahku, Tatiana!” jawaban yang tidak kuat sebenarnya, hanya sebagai alibi dihadapan Tatiana. Tapi untungnya Tatiana juga tidak peduli tentang hal itu karena dia juga takut jika Dante mencurigainya.
“Dante. Tenangkan dirimu sayang. Aku jangan menyalahkan Lorenzo, biarkan dia pergi. Sudahlah ya sabar ya. Semua ini karena wanita penggoda itu! Kau bisa bayangkan apa yang terjadi dengan pelayan kita lainnya jika dia melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Lorenzo. Sekarang aku mulai khawatir kalau dia juga akan melakukan itu padamu.”
Dante merapatkan bibirnya dan menatap istrinya dengan pandangan mata yang kini mulai goyah.
“Aku tidak akan tergoda dengan wanita lain, Tatiana!”
“Tapi sikapmu ini Dante! Kau seperti menunjukkan kalau kau mencintai wanita itu.”
“Sepertinya ini hanya salah paham saja. Suruh dia pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi. Aku tidak ingin dia mengajari anakku lagi!”
“Baiklah Dante! Aku akan mengurusnya.” ujar Tatiana tersenyum puas.
Cup
“Semoga kecupan ini bisa menenangkan hatimu dante, sayang.”
“Terimakasih Tatiana.”
“Apa kau juga akan memecat wanita itu?”
“Aku akan mengurusnya bersama teman-temanku. Tidak usah khawatir.”
“Baiklah Dante. Kau tahu apa yang harus kau lakukan dan satu lagi, aku masih belum yakin dia baik pada Alex. Lihatlaj apa yang sudah dia lakukan pada Lorenzo. Dia menggodanya!” Tatiana tersenyum.
Dante menelan salivanya. “Jangan khawatir Tatiana! Aku akan mengurus wanita itu. Aku akan meminta teman-temanku mempertanggungjawabkan karena mereka yang mengusulkannya.”
“Terimakasih Dante.” Tatiana tersenyum. “Kau ingin istirahat sekarang?”
Dante menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin bertemu Nick dulu dibelakang.”
“Pergilah!”
Tanpa menatap Lorenzo lagi, dante keluar dari ruangan itu sambil menggerutu didalam hatinya. ‘Beruntung kau ada istriku, tapi jangan sampai aku bertemu lagi denganmu dimanapun! Aku tidak akan pernah lupa kejadian ini dan aku pasti melakukan yang sekarang tertunda.’ Dante sangat geram tapi dia berusaha menahannya sambil berlalu pergi meninggalkan ruang piano.
__ADS_1