
“Apa yang biasanya kau lakukan dimalam hari?” tanya Dante. Kali ini suaranya terdengar lebih baik dan tidak dingin seperti sebelumnya. Satu sisi hatinya ingin mengetahui lebih banyak hal tentang Bella.
“Apa ada gym disini? Aku habis makan banyak dan aku tidak mau gendut. Aku mau olahraga dulu, Tuan.” jawab Bella dengan posisi mereka berbicara sambil berteriak karena jarak mereka berjauhan.
Dante mendengus kesal dan turun dari tangga. “Ayo cepat! Bikin susah orang saja!”
“Aku tidak bisa tidur, Tuan. Aku mau bakar kalori dulu sebelum tidur supaya tidak gendut.”
“Kau olahraga besok pagi saja. Toh kau tidak selalu makan malam.” ujar Dante kesal.
“Aku tidak mau! Pokoknya aku mau olahraga dulu. Tunjukkan saja dimana gym-nya.”
“Kau melawan?”
“Tuan bisa tidur duluan, aku tidak akan mengganggumu. Biarkan aku olahraga sebentar saja.”
“Cepat naik ke tempat tidurmu dan langsung tidur. Tidak ada olahraga!”
“Baiklah. Aku akan naik ke kamar asal kau janji mau melakukan sesuatu untukku.” ucap Bella.
“Banyak sekali permintaanmu. Kau mau apa?” tanya Dante mendengus.
“Bisakah kita olahraga tempat tidur dulu, Tuan? Itu juga bisa membakar kalori.” jawab Bella enteng.
“Apa kau bilang? Kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan?” Dante terkejut mendengar permintaan Bella. Apa-apaan dia seenaknya minta olahraga tempat tidur.
“Iya Tuan…..aku sadar. Bisakah kita lakukan?”
“Apa kau mau kurendam di air dingin lagi?” ancam Dante yang langsung dijawab Bella dengan gelengan kepala. Ternyata ancamannya bisa membuat gadis itu ketakutan.
“Kalau begitu tunjukkan saja dimana letak gym biar aku olahraga disana saja.”
“Itu disana! Pergilah!” ujar Dante sambil menunjuk kearah ruang gym yang tertutup.
“Ok, aku nge-gym dulu ya Tuan. Silahkan Tuan tidur duluan.”
__ADS_1
“Apa begini caramu memuaskanku? Seenaknya kau menyuruhku tidur.”
“Ha?….Jadi aku tidak olaraga di gym?” Bella bingung melihat pria itu.
“Pikirkanlah sendiri!” Dante melangkah pergi menuju ke kamar mereka.
“Aduh….makin lama aku makin gila melayani pria itu.” bisik Bella yang sudah melangkah menuju ruang gym, tapi langkanya terhenti mengingat ucapan Dante.
‘Aku harus membakar kalori dulu.’ bisiknya dalam hati. ‘Kalau aku olahraga dulu, apa yang akan terjadi nanti jika dia marah? Apa dia akan memukulku lagi? Ah…..bikin pusing saja. Sebaiknya aku turuti saja keinginannya, tidak perlu olahraga.’
Bella pun melangkah menuju kamar lalu masuk. Dia melihat pria itu yang siap naik keatas ranjang.
“Kenapa kau disini? Bukannya tadi kau mau olahraga?” tanya Dante.
“Tidak usah, Tuan. Nanti kau marah dan menghukumku yang rugi aku sendiri.” ujar Bella.
“Aku lelah dan mau tidur. Jangan kau ganggu aku lagi. Tidurlah kalau kau mau tidur.” ujar Dante lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Tapi Bella yang memang tak bisa tidur dengan cepat menyentuh kaki Dante.
“Hei...apa yang kau lakukan?” Teriak Dante marah lalu membuka matanya.
“Apa ada aku menyuruhmu, hu?” Dante memicingkan mata tanda tak suka atas apa yang dilakukan Bella. “Sudah pergi sana! Jangan menggangguku lagi.”
“Tapi Tuan…..”
“Biarkan saja aku tidur masih pakai sepatu. Aku harus tetap berjaga-jaga.”
“Ha? Maksudnya Tuan?” Bella mengeryitkan keningnya tak memahami pria itu.
“Jangan banyak tanya! Kemarilah.” ujar Dante memberi perintah.
Bella mendekati Dante. “Sekarang tidur. Jangan bicara lagi.” ucapnya lalu memeluk Bella.
“Baik, Tuan.” jawab Bella mengangguk.
__ADS_1
Dante bergumam kesal dalam hatinya saat melihat Bella yang mendadak patuh dan tak membantah lagi. ‘Dari tadi menyuruhnya tidurpun susah sekali.’ Pria itu memejamkan matanya, kepalanya terasa pusing karena tidak cukup istirahat.
Sedangkan Bella yang sudah kekenyangan pun tidak lagi mengeluh dan mengganggu. Keduanya berbaring diranjang memejamkan mata dan larut dalam tidur pulas. Hingga keesokan paginya Dante terbangun saat mendengar alarm ponselnya berbunyi. “Sudah pagi?” dia langsung meraih ponselnya diatas nakas lalu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia melirik Bella yang masih tertidur lelap di dekapannya. ‘Kau masih lelap.’ ujarnya perlahan memindahkan kepala Bella dari tangannya perlahan.
“Semalaman dia tidur lelap dalam pelukanku? Pantas saja tanganku jadi kebas.” ujar Dante tersenyum. “Biarlah dia tidur lebih lama, sepertinya dia sangat lelah. Saat melihatmu tidur pulas seperti ini kau sangat mirip dengan Alex. Dia juga tidur seperti itu.” Dia pun memilih beranjak dari ranjang dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Dua puluh menit dia habiskan didalam kamar mandi lalu keluar mencari pakaian.
Tapi saat dia hendak meraih pakaiannya, ponselnya bergetar membuatnya meraih ponselnya dengan handuk masih melilit dipinggangnya. “Selamat pagi sayang. Ada apa?”
“Sayang, kau ada dimana sekarang? Aku mencoba menghubungimu sejak semalam berulang kali tapi ponselmu tidak aktif. Apa kau baik-baik saja? Kau ada masalah ya?” tanya Tatiana khawatir.
“Oh tidak apa-apa, sayang. Ponselmu kehabisan daya dan aku lupa mengaktifkan saat mencasnya. Aku ketiduran karena lelah. Ada apa kau menghubungiku pagi-pagi begini? Apa semuanya baik-baik saja dengan Alex?”
“Ya Alex baik-baik saja. Aku hanya ingin tahu jam berapa kau pulang hari ini?”
“Kalau itu belum pasti, sayang. Bisa kau sabar menungguku sampai aku bisa tahu kapan aku bisa pulang? Jadwalku sangat padat akhir-akhir ini.”
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati ya sayang, aku dan Alex ingin kau pulang kerumah dengan selamat.”
“Kenapa kau selalu mengatakan kalimat yang sama Tatiana? Seolah kau sangat yakin kalau aku sedang dalam bahaya?” ucap Dante terkekeh.
“Bukan begitu, aku selalu mendoakan keselamatanmu, sayang. Ingatlah kalau aku dan Alex sangat menyayangimu. Kami ingin kau pulang kerumah dan menghabiskan waktu bersama kami.”
“Ya aku tahu itu. Soal Alex, apakah dia ada bersamamu sekarang? Aku ingin bicara dengannya.”
“Iya dia ada disini. Ada apa Dante?” ujar Tatiana mulai serius dan mencerna setiap ucapan Dante dengan hati-hati. Dia tidak ingin kecolongan jika ada sesuatu yang tidak diketahuinya.
“Hem…..begini Tatiana. Sekarang anak kita sudah semakin besar.”
“Memang betul. Dan kau tahu kalau aku sangat menyayanginya. Aku sudah tidak sabar melihatnya tumbuh dewasa, aku yakin dia akan tumbuh jadi pria tampan sepertimu.”
“Itu sudah pasti. Tapi ada hal yang ingin kubicarakan. Anak itu terlalu manja, apa kau tahu itu? Dia juga terlalu bergantung padamu dan aku.”
“Itu hal yang wajar Dante, namanya juga anak-anak dan dia adalah putra kita satu-satunya. Wajar jika dia bersikap manja dan kita memanjakannya. Aku ingin selalu memanjakannya.”
“Tapi itu tidak baik untuknya! Bagaimana kalau dia bersikap manja hingga dewasa nanti? Dia bahkan tidak bisa melakukan apapun, semuanya dilakukan oleh pelayan dan kita untuknya. Apa kau tidak merasa kasihan padanya? Aku ingin putraku tumbuh jadi laki-laki mandiri.”
__ADS_1
Tatiana yang mendengar ucapan Dante hanya terdiam dan tak mengatakan apapun. Dia mencoba mencerna maksud dibalik perkataan suaminya. “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”
“Seperti yang kau lihat bagaimana aku menjalankan bisnisku dan duniaku. Ini bukan hal yang mudah dan aku tidak ingin anakku tidak bisa melakukan apapun. Yang nantinya bisa membahayakan dirinya. Musuh-musuhku banyak dan mereka akan terus menyerangku.”