PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 125. PENOLAKAN


__ADS_3

‘Mereka sudah sedekat itu sampai ke kamar mandipun Alex tidak menatapku,’ Dante kesal dan tidak habis pikir dengan kelakuan putranya. Dante yang tadinya ingin segera turun kebawah pun malah menghabiskan waktu lebih dari setengah jam sejak mengantar makanan hingga sekarang.


“Ayo Alex! Kau sudah ganti baju, sekarang kau tidur ya.” Bella dan Alex sudah keluar dari ruang ganti pakaian dan Bella membaringkan Alex diatas tempat tidur.


“Bella, kau tidak tidur denganku seperti tadi siang?” tanya Alex lagi.


“Kau ingin tidur denganku?” tanya Bella tersenyum pada Alex.


“Aku mau! Kita tidur dibawah selimut tapi lampunya mati.” ujar Alex.


Dante yang mendengar ucapan putranya sontak kaget. “Alex, kenapa kau minta pada Bella seperti itu. Bukankah kau takut gelap?”


“Iya Alex, kenapa kau mau tidur dengan lampu mati?”


“Kau kan tidur denganku sambil memelukku hangat. Aku tidak takut gelap Bella! Hangat bobo sama Bella, aku suka!” jawab Alex menatap Bella penuh harap.


“Hahaha kau lucu sekali Alex. Tapi aku takut gelap dan aku tidak berani kalau lampunya dimatikan. Biar saja lampunya menyala seperti ini tapi aku temani kau tidur, oke?” wajah Bella mulai cemas.


“Kalau kau takut gelap, aku harus takut gelap juga Bella?” tanya Alex.


“Tidak! Tidak! Bukan begitu maksudku. Kau tidak perlu takut gelap, karena kau anak pemberani. Aku saja yang takut gelap.”


“Tunggu dulu! Kau menghilangkan trauma Alex pada gelap?” tanya Dante terkejut sambil menatap Bella, dia merasa penasaran dengan percakapan kedua orang itu.


“Aku tidak tahu.” jawab Bella acuh.


“Tapi tadi dia bilang padaku kalau dia takut gelap, tapi kenapa dia bilang padamu kalau dia mau tidur dalam gelap?” Dante masih bertanya sambil menatap Bella dengan kedua tangannya bersidekap didada.


“Tuan Dante yang terhormat! Aku tadi kan sudah bilang kalau aku tidak tahu. Kau tanyakan saja pada anakmu, kenapa kau malah menginterogasiku? Kau dan aku sama, kita tidak bisa masuk kedalam pikirannya. Dia hanya mengatakan apa yang ingin dikatakannya, namanya juga anak-anak, labil!” Bella meringis dan mengucapkan kalimat sesuka hatinya. “Dia anakmu bukan? Kalau benar dia anakmu pasti ada jiwa pemberani didalam dirinya yang membuatnya berani akan gelap. Kecuali kalau dia memang anakku pasti dia tidak mudah melupakan rasa takutnya pada gelap.!”


‘Wanita ini! Bisa-bisanya dia bicara seketus itu padaku! Anak ini ada didalam rahimnya selama sembilan bulan. Mungkin apa yang dikatakannya itu benar, anak ini memiliki gen ku dan aku memang pemberani! Masa kecilnya dan semua kenangan bersama wanita ini semasa dalam kandungan yang mungkin membuatnya takut. Tapi itu bagus juga, masih ada pengaruh gen ku dalam dirinya sehingga dia tidak takut gelap. Yang lainnya, semua mengikuti wanita ini. Sikapnya, karakternya, hobi dan lain-lain sama persis.’ Dante masih belum mengerti dan belum mencerna semua yang diutarakan oleh Bella.


“Bella! Aku mengantuk. Hoaaammmmm.” ujar Alex menguap lebar. Dia sudah kenyang makan, tentu saja rasa kantuk melanda.

__ADS_1


“Aku temani ya. Tapi lampunya nyala saja ya.” Bella agak merajuk mencoba membujuk Alex.


“Iya Bella! Tapi kau memelukku seperti tadi kan? Kalau lampunya mati kita didalam selimut saja.”


“Iya, kita tidur didalam selimut seperti tadi sambil berpelukan.” ujar Bella. ‘Huh anak ini pintar sekali.’


“Iya mau pelukan!” Alex ingin sekali Bella memeluknya karena dia merasa hangat dan nyaman.


“Selamat tidur Alex.” ucap Bella mengecup keningnya.


“Selamat tidur Bella.” Alex membalas mencium pipinya. Lalu keduanya hilang dibalik selimut tebal.


Dante hanya berdiri disana menatap gumpalan selimut yang menutupi kedua orang itu.


‘Apakah anakku bisa merasakan bahwa dia adalah ibu kandungnya? Makanya dia bisa cepat akrab dan Alex sepertinya merasa nyaman dengan wanita itu. Apa aku sudah membuat kesalahan sekarang dengan membawanya kesini? Aku takut Alex akan lebih mencintai Bella daripada Tatiana! Tapi tidak mungkin, aku sudah mengatakan padanya bagaimana Tatiana mengasuhnya sejak bayi dan aku akan terus mengingatkan Alex tentang itu. Tapi kenapa aku justru merasa sangat senang dia lebih dekat dengan Bella? Kenapa hatiku rasanya teduh, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.’ Dante tersenyum dan masih berdiri mematung mengamati gundukan selimut.


Tangannya menyibak selimut itu, “Kenapa kau tidak keluar juga dari selimut? Anakku sudah tidur, tidak ada suaranya lagi.” ujar dante berbisik pada Bella.


“Bisakah kau singkirkan tanganmu dari tubuhku?” ujar Bella yang merasakan tangan Dante memegang pinggangnya. Dante duduk ditepi tempat tidur sambil mengelus punggung Bella.


“Kau bisa menyingkir tidak? Aku mau turun.” ujar Bella ketus menepis tangan Dante tapi pria itu enggan memindahkan tangannya dari tubuh Bella.


“Turunlah!” Dante pun berdiri dan membiarkan Bella turun dari tempat tidur setelah dia melihat kemarahan dimata wanita itu.


“Hei, kau mau kemana?” tanya Dante saat melihat Bella bergegas. Keningnya mengeryit tak senang.


“Mau ke kamarku kalau kamarku masih berada disebelah sana dan belum pindah ke gudang! Kecuali kau mau memindahkan kamarku ke tempat lain, itu hakmu.” ucap Bella tanpa menatap Dante.


“Aku masih bicara denganmu, kenapa kau masih terus melangkah dan tak melihatku?” kesal Dante. ‘Dia benar-benar bicara tanpa mau menatapku.’


“Memangnya apa yang mau kita bicarakan lagi?” Bella berbalik menatap Dante.


“Kau masih marah padaku, sayang?” suara Dante perlahan melembut.

__ADS_1


“Sayang? Huh! Apa aku berhak marah padamu? Apa kau lupa dengan perlakuanmu padaku tadi?”


Dante pun tersadar betapa marahnya Bella padanya. Lalu dia menarik Bella dan melepaskan kancing bajunya. “Lepaskan tanganmu! Jangan sentuh aku lagi!”


‘Huh seenaknya saja dia mau pegang-pegang setelah apa yang dilakukannya padaku! Dia pikir aku sudi disentuhnya lagi?’ Bella bergumam sambil melangkah mundur membuat jarak dengan dante.


“Belinda Alexandra! Kau sudah membuatku kecewa!”


“Lantas kau mau apa? Menghukumku? Hukumlah! Bukankah memang kau suka menghukumku? Kau bebas mau menghukumku seperti apa dan aku tidak akan pernah bisa melawan.” balas Bella sengit tanpa menatap Dante sedikitpun.


“Belinda! Tatap aku saat kau bicara!” Dante memaksa dengan intonasi meninggi, pengendalian dirinya sudah diluar kendalinya. Untuk pertama kalinya Bella menolaknya dan bersikap secuek itu.


“Seperti ini?” tanya Bella membulatkan matanya.


“Kau yang membuat masalah dengan mengatakan hal-hal tidak baik tentang istriku dan sekarang kenapa kau malah marah padaku? Seharusnya kau minta maaf padaku.” Tanpa rasa bersalah sedikitpun dan tak ada keinginan meminta maaf karena dia menampar Bella tadi.


“Aku minta maaf, sudahkan?” justru Bella yang berani mengucapkan kata itu.


‘Kenapa dia jadi bersikap seperti ini?’ bisik hati Dante yang tidak menyangka jika Bella akan punya keberanian menyahutnya, tidak seperti biasanya.


“Baguslah kalau tahu diri untuk meminta maaf, apa begini sikap yang benar minta maaf?”


“Lalu mau mu seperti apa aku harus bersikap?”


“Terserah! Kalau bagimu sikapmu ini yang terbaik, lakukan saja.” Dante mendengus.


“Kau sudah selesai bicara Tuan Dante?”


“Sudah! Pergilah!”


“Terimakasih.” ucap Bella lalu menutup pintu penghubung.


‘Pufff kenapa dia jadi begitu? Dia sama sekali tidak menatapku bahkan tidak melirikku. Biasanya dia sangat manja dan selalu menggodaku. Apakah karena tadi aku menamparnya? Apa itu tadi sangat menyakitkannya sampai dia semarah itu padaku?’ Dante tersenyum tipis.

__ADS_1


 


__ADS_2