
“Tatiana! Sudah kukatakan padamu kalau aku akan menganggapmu sebagai anak Omero!” ucapnya saat Tatiana berjalan melewatinya menuju pintu.
“Aku tidak peduli padamu Dante! Kalau memang begitu maumu ya sudah. Kau tidak perlu lagi mengatakan itu padaku. Semoga kau bahagia dengan wanita itu!” ucapnya.
“Tatiana!” panggil Dante.
“Kenapa Dante? Kau tidak tega padaku kan dan kau ingin kembali padaku sekarang iyakan?”
Dante tidak menjawab, dia hanya memandang Tatiana dan tatapan keduanya saling bertautan.
“Dante?”
“Obatilah dirimu. Kau masih bisa hidup lebih baik lagi kelak Tatiana! Aku tidak akan menjadikanmu istriku lagi. Kita tidak akan pernah bersama lagi selamanya. Tapi aku akan menyayangimu kalau kau sudah sembuh kelak.”
“Sudahlah Dante. Aku pergi dulu.” Tatiana tersenyum kecut. Sesuatu yang tidak mungkin dia lakukan yaitu mengobati dirinya karena dia sudah jatuh terlalu dalam dengan penyakitnya. Dia terlalu menikmati dan enggan untuk melepaskan dirinya.
‘Hah! Kena kau Dante! Kau pikir aku tidak bisa memanfaatkan sisi lemahmu yang itu? Kau selalu merasa lemah kalau kau ingat aku anak Omero! Kau merasa berhutang budi. Kau membenciku karena sikapku ini dan kau tidak suka dengan apa yang kulakukan padamu tapi setiap kali aku mengatakan tentang keluarga, masalah aku akan sendirian dihari tua, aku bisa menggoyangmu Dante!’ Tatiana tersenyum senang dan merasa yakin kalau dia akan kembali pada Dante.
‘Kau masih merasa kasihan padaku iyakan Dante? Tapi kau berusaha untuk menutupinya. Tapi….apa sebenarnya yang membuatmu tidak mau kembali padaku? Harusnya saat ini kau mengejarku dan memelukku dari belakang atau kau memanggilku tapi, kau sama sekali tidak peduli! Kau mungkin masih terluka karena Lorenzo. Tapi mungkin dalam beberapa hari atau bulan kau akan berubah. Aku yakin itu. Asal ayahku si tua bangka keparat itu tidak bicara macam-macam!’
__ADS_1
‘Apa ayahku akan menceritakan padanya kalau aku memang sengaja menabrakkan mobilnya? Aku sengaja membuat kami berdua kecelakaan dengan mengancam bahwa aku akan mati? Biarlah, kalau ayahku mengatakan itu pasti Dante akan marah padaku. Tapi ayahku akan bilang itu semua karena aku depresi. Atau ayahku justru akan mendukungmu? Aku tidak tahu tapi aku benar-benar ingin menghilang dulu sekarang! Aku ingin lihat bagaimana reaksi ayahku dan Dante nanti! Hahahah.’ Tatiana tersenyum sini sambil melangkahkan kakinya ke sebuah mobil yang ada diparkiran.
“Apa ini mobil yang disiapkan untukku?” tanya Tatiana.
Lalu seorang wanita yang berada didalam mobil itu menoleh pada Tatiana dan menjawab, “Ini mobilku tapi seseorang mengatakan kalau aku akan mendapatkan bayaran tinggi kalau mobil ini kuberikan padamu.”
“Oh begitu ya!” Tatiana mengangguk dan tersenyum. ‘Kau pintar sekali Jeff! Kau sengaja mengirim seorang wanita untuk mengantarkan mobil padaku. Kau sengaja membuat skenario aku berpura-pura melakukan transaksi dengannya. Maka mereka akan mengira kalau aku membeli mobil wanita ini. Mereka tidak akan curiga kalau aku pergi menemuimu. Hahaha!’ gumam Tatiana didalam hatinya merasa sangat puas.
Dia merasa kalau dia sudah melakukan pilihan yang tepat dengan bekerjasama dengan Jeff. Di satu sisi dia bisa menikmati siksaan Jeff dan sisi lain dia bisa membalas dendam melalui pria itu, itulah pemikirannya. Dia sama sekali tidak tahu kalau Jeff sedang memasukkannya dalam jebakan untuk selanjutnya akan dia kubur hidup-hidup setelah menguras semua kekayaannya.
“Kau minta berapa untuk mobil ini?” tanya Tatiana.
“Baiklah. Berikan nomor rekeningku, biar aku transfer uangnya.”
“Ini rekeningku.” wanita itu menyodorkan handphonenya pada Tatiana.
“Oke. Aku sudah kirimkan uangnya ke rekeningmu! Aku memang menyuruh orang untuk mencarikan mobil untukku. Karena mobilku rusak berat akibat kecelakaan. Hufff….semoga saja aku tidak trauma menyetir mobil. Aku membayar orang itu untuk melakukannya.”
“Oh begitu ya! Pelan-pelan saja mengemudi untuk menghilangkan traumamu ya.”
__ADS_1
“Terima kasih untuk mobilnya dan terimakasih juga buat saranmu. Aku pergi dulu.” ucap Tatiana.
Wajah wanita itu pun berseri-seri ketika mereka berpisah dan Tatiana masuk ke mobilnya. Wanita itu sangat bersyukur mobilnya bisa laku dengan harga tinggi, karena kalau dia menjualnya dipasaran mungkin dia hanya bisa mendapat sekitar enam belas ribu dolar saja. Tapi saat ini dia sudah mendapatkan enam ribu dolar lebih tinggi dari harga seharusnya. Sedangkan Tatiana pun tidak banyak bertanya dan langsung melajukan mobilnya.
“Baiklah! Biar saja ayahku mengadu padamu Dante tapi kalau kalian melihat aku hilang maka kalian berdua pasti akan mengkhawatirkanku. Aku sangat yakin kalian berdia akan mencariku dan kau akan galau dan merasa bersalah padaku Dante! Mungkin begitu aku kembali kau akan mau kembali padaku. Dan kalau kau menemukanku nanti, aku akan mengatakan padamu betapa sedihnya hatiku karena aku hidup sendirian! Hahahah….”
“Seperti yang kulakukan tadi! Kau benar-benar tergoda dengan kata-kataku itu. Aku akan mencoba menarik hatimu kembali padaku Dante! Aku tidak percaya kalau kau tidak mencintaiku lagi! Fuh! Tidak mungkin itu!” Tatiana tersenyum sinis. “Aku akan menunjukkan padamu kalau aku sudah berubah. Dalam waktu satu atau dua tahun kedepan aku harus menunjukkan padamu kalau aku sudah tidak main bersama laki-laki lain, dengan begitu kau akan percaya padaku!” Tatiana bicara sendiri didalam mobil menyusun rencana dan siasat untuk mendapatkan Dante kembali.
“Ah….lagipula sekarang aku sudah punya Jeff Amadeo! Dia pintar sekali dan aku suka! Mungkin aku hanya akan tidur dengan Jeff saja sampai kau kembali padaku Dante. Karena Jeff tidak mungkin pernah bisa menggantikanmu dihatiku! Kau adalah hidupku Dante!”
“Oh iya! Aku hampir lupa untuk menelepon Jeff!” Tatiana teringat hal yang penting lalu dia mengeluarkan handphonenya menghubungi Jeff.
“Apa kau sudah keluar dari rumah sakit Tatiana?”
Sementara itu sepeninggal Tatiana. Didalam ruang rawat itu hanya ada Dante sendirian. “Pffff!” Dante memijat keningnya yang terasa pusing. Kata-kata Tatiana tadi sedikit mengganggunya. “Tatiana! Mengapa kau membuatku tidak tenang begini? Hidup sendirian di hari tua? Hah...kau berpikir terlalu jauh tapi jujur saja aku tidak sampai berpikir sampaikesana. Sendirian dihari tua?”
Dante bergumam sendiri tapi jujur kata-kata itu memang sangat mengganggunya sampai dia diam memandangi pintu. “Apa aku sudah kelewatan padanya? Haruskah aku mengejarnya? Sepertinya dia belum pergi jauh dan aku bisa meneleponnya untuk kembali. Tapi—tidak!” Dante kembali menguatkan dirinya.
“Aku memang merasa kasihan padanya tapi aku tidak sudi menerima wanita yang sudah pernah menyerahkan dirinya sendiri dengan senang hati dan menikmatinya.” Dante menggaruk rambutnya yang tidakgatal berusaha membersihkan pikirannya.
__ADS_1
‘Situasinya berbeda dengan Belinda! Dia tidak melakukan itu dengan sadar. Dia dipengaruhi obat bius tapi apa yang dilakukan Tatiana? Semuanya terjadi dalam kondisi sadar. Ah sudahlah! Mungkin sekarang agak berat bagianya berpisah denganku dan aku juga masih dalam kondisi marah. Mungkin suatu saat nanti kami bertemu suasananya sudah membaik dan mungkin aku bisa menganggap Tatiana sebagai saudariku.’