
“Kondisi Dante Emilio memang kurang baik. Mungkin dia ada kesulitan dan butuh waktu. Bagaimana kalau kita membantunya Henry?” ujar Dante seraya melirik Henry.
“Baik Tuan.” Henry mengangguk lalu melangkah bersama Dante menghampiri mobil itu. Ponselnya kembali berdering lalu dia melirik.
“Ada apa Henry?” tanya Dante.
“Ini pemberitahuan dari rumah sakit. Dokter sudah sampai dan membawa semua alat-alatnya.”
“Mereka datang dengan helikopter?”
“Benar Tuan. Mereka menggunakan helikopter sedangkan Tuan Noel dan ayahnya sengaja menggunakan mobil. Tuan Hans sudah mengaturnya seperti itu.”
“Oh baiklah kalau begitu.” Dante melanjutkan langkahnya setelah mendengar penjelasn Henry. Dia lebih senang ketika mengetahui bahwa Dante Emilio akan dirawat dirumahnya dan bukan dirumah sakit. Setidaknya rasa khawatir dan bebannya berkurang, dia bisa bernapas lega sekarang.
“Dante, maaf kami membuatmu mendatangi kami.” ucap Noel.
“Ayahmu baik-baik saja bukan?” tanya Dante menatap Noel dengan ekspresi khawatir.
“Iya. Ayahku baik-baik saja. Dokter akan segera menanganinya.” jawab Noel.
“Baguslah kalau begitu. Aku khawatir racunnya, mudah-mudahan mereka tidak salah mendiagnosa.” Dante bicara sambil menatap Dante Emilio yang baru saja keluar dari mobil.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Tenang saja Dante! Aku akan baik-baik saja.”
“Kau tidak keberatan kan kalau aku meninggalkanmu dengan Henry?” tanya Dante.
Henry menatap sahabatnya yang sejak lama tidak bertemu sambil menahan senyumnya. Airmatanya pun mengalir juga sambil mendekati kearah orang itu.
“Hei Henry! Aku sudah sangat merindukanmu! Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya?”
“Aku minta maaf karena aku tidak tahu tentang kondisimu. Aku sudah menelantarkanmu dan keluargamu sekian lama! Maafkan aku Dante Emilio.” ujar Henry dengan suara bergetar.
“Sudahlah! Kemari.” Dante Emilio menarik Henry.
Kedua sahabat lama itu berpelukan. Dante menatap keduanya dengan tatapan haru dan ada rasa bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan.
‘Ayah, sekarang aku merasa senang sekali dan merasa sangat berguna karena aku sudah menyelamatkan temanmu ayah!’ ujarnya didalam hati. Saat dia melihat pemandangan didepannya bagaimana kedua sahabat lama itu saling melepaskan rindu mereka.
__ADS_1
Dulu mereka satu perjuangan tapi kondisi yang membuat mereka terpaksa berjuang sendiri mempertahankan hidupnya. ‘Aku harus memikirkan apa yang akan aku lakukan pada pihak federal nanti.’ gumam Dante lagi mengingat jika orang yang diculiknya adalah tawanan federal.
“Apakah kau bisa menjaga Dante Emilio?” tanya Dante setelah suasana haru berlalu.
“Tentu saja Tuan! Aku akan melakukan apa yang anda perintahkan termasuk menjaga Tuan Dante Emilio.” jawab Henry penuh keyakinan.
“Bagus. Kalau begitu aku ingin agar Noel ikut denganku.” ucap Dante.
“Benarkah? Anda mengajak saya?” Noel bersemangat dan senang mendengar ucapan Dante.
“Aku membutuhkanmu! Sepertinya kau orang yang handal dan berguna untuk melakukan beberapa pekerjaan nanti. Apa kau benar ingin ikut denganku?”
“Terima kasih Tuan! Sebenarnya sejak tadi saya ingin meminta supaya bisa diikut sertakan dalam misi malam ini.” celetuk Noel dengan senyum sumringah diwajahnya.
“Tapi kau tidak akan menyalahkanku kalau terjadi sesuatu padamu nanti disana kan?”
Noel dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Tentu saja tidak! Saya tahu resiko setiap pekerjaan dan saya sudah memilih untuk bekerja dengan anda. Saya paham sekali apa yang akan terjadi seandainya nanti kita kalah. Saya tidak akan menyalahkan siapapun.”
“Perjuanganku kali ini bukan tentang kalah dan menang, Noel!” Dante bicara sambil menatap kearah Dante Emilio. “Kami pamit dulu. Kau tenanglah disini dan ikuti apa yang dikatakan Henry apabila ada sesuatu yang darurat!” lalu Dante menatap Henry.
“Baik Tuan! Saya tidak akan pernah melupakannya.” ucap Henry menghindari tatapan Dante yang tajam. Henry menundukkan wajahnya menutupi rasa khawatir dan gugup yang saat ini dirasakannya.
“Baguslah. Aku pergi dulu.” ujar Dante sambil memberi kode pada Noel untuk mengikutinya berjalan kearah belakang. Sedankan Henry membawa Dante Emilio menuju ke mansion.
“Tuan, kita nak buggy?” tanya Noel menunjuk ke kendaraan dan menebak.
“Ya.” jawab Dante singkat.
“Permisi Tuan Dante!” petugas medis menghentikan langkah Dante. Dia menatap mereka yang membawa alat-alat medis.
“Apa kalian sudah mengecek semua alat ini dan tidak ada masalah bukan?”
“Tidak ada Tuan. Semuanya sudah dicek sebelum dibawa kesini. Kondisi semua alat ini bagus dan kami memang membawa alat-alat yang terbaru.”
“Baiklah. Segera bawa masuk.”
__ADS_1
“Baik Tuan.”
Dante naik ke buggy diikuti oleh Noel. Mereka pun pergi menuju ke landasan pesawat. Noel tidak mempertanyakan apa-apa lagi karena dia tidak mau mengganggu pikiran Dante yang saat ini terlihat sangat fokus.
Sepanjang perjalanan menuju ke pesawat, Dante memang tidak bicara sepatah katapun. Noel pun hanya mengikuti Dante tanpa mengganggunya.
“Apa kau bisa menggunakan ini?”
“Hampir semua senjata bisa aku gunakan. Aku sudah lama belajar menembak dengan menggunakan berbagai jenis senjata.” jawab Noel dengan percaya diri.
“Benarkah?”
“Iya.” jawab Noel mengangguk lagi.
“Kalau begitu, kau lihatlah ke belakang sana.” sepanjang perjalanan dengan mengendarai buggy kedalam pesawat Dante. Keduanya sudah diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi Noel mengerti kalau dia hanya mengikuti Dante saja tanpa mengganggunya sehingga mereka sampai ke atas pesawat.
“Kau yakin bisa menggunakan senjata apapun?” tanya Dante lagi ingin memastikan.
“Tentu saja. Tapi saya lebih mahir menggunakan senjata dengan ukuran yang tidak terlalu besar.”
Dante menengok pada pramugari yang ada disampingnya sambil meminta wanita itu untuk membantu Noel.
Disaat bersamaan ponsel Dante berdering….dreettttt dreeettttt dreeeeee.
Melihat siapa yang meneleponnya membuat Dante senang. Dia merasakan kerinduan dan juga kecemasan. “Ada apa kau meneleponku? Kau sudah merindukanku?”
‘Aku tidak akan menyapamu lebih dari ini karena aku tidak mau kau tahu kalau aku adalah kakakmu! Suatu saat nanti kita akan membicarakan masalah hubungan kekeluargaan kita.’
“Cih! Sejak kapan aku bilang kalau aku merindukanmu? Aku tidak berminat pada laki-laki!”
“Kenapa denganmu? Apa ada masalah disana? Sepertinya kau kesal sekali.”
“Sudahlah! Tidak perlu dibicarakan. Apa yang harus aku lakukan nanti?” tanya Anthony mendengus.
“Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan? Tentu saja membawa Bella ketempat itu! Apa-apaan kau ini?” ujar Dante.
“Hei kalau cuma itu aku juga tahu. Apa yang harus kulakukan setelahnya? Setelah aku berada di lokasi, apa yang harus kulakukan nanti?” protes Anthony.
__ADS_1
“Robert Kane! Apa dia ikut denganmu?” tanya Dante. Kali ini ekspresinya berubah serius.
“Aku tidak tahu apakah dia akan datang atau tidak! Tapi yang pasti aku sudah mengatakan kalau aku akan membawa Bella! Dia ada urusan diluar kota dan dia bilang akan datang kalau ada waktu!”