
Dia memikirkan kira-kira seperti apa karakter Dante yang sebenarnya, termasuk perubahan sikap Dante yang tiba-tiba saja marah dan pergi begitu saja. “Dante...pria aneh! Haaah…..aku kan tidak menyusahkannya malah aku tadi memberikan uang padanya. Aku hanya memintanya untuk memberikan uang itu pada adikku dan dia bisa memotong biaya antarnya dari uang itu. Tapi kenapa dia jahat sekali tidak mau menolongku. Padahal aku hanya memintanya melakukan sesuatu yang sederhana.”
“Oh Sarah! Bagaimana kondisimu disana? Tuhan….aku harus minta tolong pada siapa?” Bella kembali memikirkan tentang adiknya ketika dia memikirkan betapa jahatnya Dante padanya. “Aku sangat yakin kalau tiga puluh ribu dolar, pasti dia punya tapi memang dia yang tidak mau menolongku!” Bella mengomel sendirian dikamarnya mengingat kembali bagaimana Dante tidak mau menolongnya dan langsung pergi meninggalkannya.
‘Tunggu! Apa aku bisa minta tolong pada Tuan Jeff? Tapi aku merasa tidak enak hati minta tolong padanya, selama ini aku terus menolaknya untuk dijadikan istri kedua. Tapi aku tidak tahu lagi siapa yang mempunyai kekuasaan kesar selain dia! Tapi amankah kalau aku memberikan data pribadi padanya?’ ujarnya dalam hati. Dia sudah mulai putus asa sambil berbaring mengerjapkan mata, lalu Bella mengubah posisinya menjadi duduk.
“Ya. Aku harus minta tolong padanya, dia satu-satunya yang baik padaku dan sangat perhatian padaku selama ini. Permintaanku tidak akan sulit baginya dan mungkin dia bisa menolongku keluar dari sini.” Bella mulai bicara sendiri mencari bantuan karena sebenarnya diapun tak ingin pergi dari sana. Yang dia khawatirkan hanyalah Sarah adiknya.
“Meskipun kemungkinannya kecil tapi aku harus mencoba.” dia berusaha menyakinkan dirinya walaupun sebenarnya dia juga merasa takut. Dia mengambil tas dan ponselnya. “Aku yakin kalau ini pilihan yang tepat.” Lalu dia menghubungi seseorang.
Tak lama panggilan pun tersambung. “Maaf saya mengganggu anda Tuan Jeff.”
“Ah kau tidak menggangguku sama sekali Bella. Ini pertama kalinya kau menghubungiku. Ada apa?”
“Apa aku mengganggumu jika aku bicara denganmu sekarang?”
“Tidak! Tentu saja tidak! Tadikan sudah kukatakan kau tidak pernah menggangguku. Apa kau membutuhkan sesuatu?” Jeff merasa sangat senang dan bangga karena Bella pada akhirnya menghubunginya. Dia berharap jika Bella telah berpikir dan setuju dengan permintaannya tempo hari.
“Bisakah kau menolongku?”
“Kau membutuhkan bantuanku? Ini pertama kalinya kau minta tolong padaku Bella. Katakanlah jangan malu dan sungkan.”
‘Menarik sekali. Apa yang membuatnya tiba-tiba minta tolong padaku?’ diujung telepon Jeff yang tadinya sedang duduk dengan fokus pada pekerjaannya, kini sudah berdiri dengan senyum puas diwajahnya memandang keluar jendela menatap gedung-gedung diluar kantornya yang sudah mulai berkedip-kedip karena lampu. Saat ini sudah menjelang senja.
“Hem….aku tidak tahu harus mulai darimana tapi kondisiku saat ini sedang tidak baik, Tuan! Aku membutuhkan bantuanmu.”
“Katakan saja apa yang kau inginkan, aku bisa mengusahakannya untukmu.”
“Bisakah kau menyelamatkan adikku?”
“Adikmu? Kau punya adik?”
“Adikku baru berusia enam belas tahun dan dia masih sangat kecil. Sekarang dia berada di asrama dan aku yakin jika Tuan Julian dan Madam Wendy akan mencari adikku.”
__ADS_1
Jeff yang mendengar ucapan Bella pun mengeryitkan dahinya bingung, dia tidak langsung menjawab.
“Bisakah kau mengatakan lebih jelas? Aku tidak mengerti.”
“Bi—bisa Tuan.” jawab Bella lalu mulai menceritakan kejadiannya saat dia sudah tak lagi bersama Jeff hingga akhirnya berada di klub serta kejadian dimana dia harus ikut bersama Dante hingga ke soal Sarah. Lalu dia mengatakan keinginannya pada Jeff.
“Jadi kau sudah dijaminkan Julian pada pria itu dan kau menjadi miliknya bukan karena keinginanmu tapi karena tempat kerjamu sudah tidak sanggup mempertahankanmu?”
“Ya memang seperti itu keadaannya, Tuan! Karena itu aku sudah tidak bisa kemana-mana dan aku harus memberikan uang ini pada adikku tapi aku tidak bisa keluar untuk memberikannya. Bisakah kau meminjamkan uang padaku dulu, saat aku keluar dari sini aku bisa memberikan uang itu padamu.”
Terdengar suara tawa Jeff yang renyah. “Apa kau pikir uang tiga puluh ribu dolar itu besar bagiku sehingga aku tidak mau meminjamkannya padamu?”
“Aku tahu anda pasti punya uang lebih dari itu Tuan.Maaf bukan maksudku menyinggungmu.”
“Apa kau lupa kalau aku sudah memberikan penawaran padamu untuk membayarmu, menyelamatkanmu dari Madan Wendy tapi kau sendiri yang menolakku.”
“Maaf Tuan. Tapi aku punya alasan makanya menolak waktu itu.”
Seketika Bella merasakan ada secercah harapan untuknya dan dia merasakan kehangatan didalam hatinya.
“Benarkah Tuan? Apakah anda serius akan melindungi adikku?”
“Kapan aku pernah berbohong padamu Bella?”
“Tidak pernah. Tuan adalah yang terbaik! Terimakasih kalau begitu aku akan mengirimkan alamatnya segera.”
“Apa kau tahu kira-kira didaerah mana tempatmu berada sekarang?”
“Tentu saja. Aku bisa mengirimkan share lokasi pada anda, Tuan.”
Klek!…..suara pintu terbuka.
“Kau sedang menelepon siapa?” tanya Dante marah, kilatan matanya keji.
__ADS_1
“Haa…..?” Bella sangat terkejut ketika melihat siapa yang datang dan dia menatapnya dengan ketakutan lalu diam-diam mematikan ponselnya.
“K—kau…..maksudku anda sudah kembali Tuan?” tanya Bella dengan suara gemetar ketakutan. Namun Dante tidak menjawab, dia berjalan mendekat dan langsung menarik ponsel Bella dan melihat nama yang tertera disana, dia memicingkan mata menatap Bella.
PRANNNNGGG!
“Ahhh….Tuan maafkan aku.”ujarnya panik dan mengkerut ketakutan tak lagi berani menatap Dante.
‘Dia marah lagi padaku? Aduh….kenapa tatapannya mengerikan? Apa yang dia lakukan? Benar-benar marah ya dia?’ gumamnya dalam hati.
“Apa yang kau inginkan ha? Kau menghubunginya karena kau menginginkanya agar menjemputmu disini? Kau ingin mengkhianatiku?”
“Maafkan aku Tu….”
PLAAKKKK!
“Aaaaaa…...”
Pipi Bella terasa panas ketika tangan besar Dante menyentuh wajahnya.
“Berani-beraninya kau mencari pertolongan dibelakangku?”
“Ti---tidak Tuan. Aku tidak meminta pertolongan pada siapapun. Aku tidak berani!”
“Bohong! Kau berbohong padaku!”
“Aaahhhh sakit Tuan….ampun!” teriak Bella saat Dante menjambak rambutnya. Kepalanya terasa berdenyut ketika Dante menariknya keluar kamar dengan tangannya menarik rambut Bella.
‘Ah...bagaimana ini? Aku sudah membuat kesalahan tidak seharusnya aku menelepon Tuan Jeff. Apa yang harus kulakukan sekarang? Dia menuju lift, kemana dia akan membawaku?’ Bella bertanya-tanya dalam hati penuh ketakutan ketika Dante menariknya menuruni tangga dan akhirnya menuju lift.
Saat pintu lift terbuka, Dante menarik Bella masuk kedalam lift. “Aku sudah berbaik hati membarimu kelonggaran dengan mengijinkanmu menggunakan ponsel dan perangkat elektronik tapi bisa-bisanya kau bermain dibelakangku! Berani sekali kau menyerangku dari belakang, menikamku dari belakang! Kau berani mengkhianatiku dengan pria lain?”
“Ahhhhh…..ampun….ampun Tuan.” ucap Bella yang sudah bercucuran airmata menahan semua rasa sakitnya.
__ADS_1