PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 112. MENGHUKUM PELAYAN


__ADS_3

“Tidak ada, Tuan. Kami belum menceritakan pada siapapun sal surat itu. Tidak ada serang pelayanpun yang tahu selain kami berdua.” jawab salah satu pelayan dengan terbata-bata.


“Bagaimana jika aku mendapat laporan kalau Bella tidak menerima surat itu dan bagaimana jika berita ini sampai kepada Anthony?”


“Berarti itu perbuatan kami, Tuan. Tapi kami sungguh-sungguh tidak melakukannya. Kami tidak ada cerita pada siapapun.” pelayan itu kembali memastikan.


“Kau yakin?”


“Sangat yakin, Tuan. Kami pasti bisa menjaga mulut kami. Kami tidak mau mendapatkan hukuman dari anda, Tuan.” untaian kalimat memohon itu terdengar dari kedua pelayan.


“Apa kau yakin tidak akan mengecewakanku?” Dante bertanya lagi masih sambil menimbang-nimbang dan memperhatikan keduanya sebelum dia memberi mereka hukuman.


“Tidak akan pernah Tuan. Kami tidak akan berani melakukan itu, kami tidak akan menceritakan apapun pada Anthny dan pelayan lai. Kami mohon ampuni kami, Tuan. Biarkan kami bekerja lagi.”


Mereka memohon ampunan dan berharap agar bisa tetap bekerja pada Dante. Di Italia, hanya Dante yang memberikan gaji tertinggi kepada pelayan sehingga para karyawan dan pelayan yang bekerja padanya enggan untuk pindah atau berhenti kerja, Dante memperhatikan kedua pelayan wanita yang menatapnya penuh harap dan benar-benar memohon padanya.


“Fuhhh!!”


“Bukankah seharusnya kalian ini berpikir dahulu sebelum bertindak?”


“Kami sadar kami memang bodoh, Tuan. Seharusnya kami tidak melakukan hal semacam itu.”


“Baiklah. Aku sudah memutuskan apa yang akan kulakukan pada kalian!” senyum pun merekah dibibir Dante sambil menatap kedua pelayan wanita itu bergantian.


“Kami mohon Tuan! Ampuni kami Tuan!” belum lagi Dante mengatakan hukuman apa yang akan dia berikan pada keduanya, tapi pelayan itu sudah memohon kembali setelah mereka sadar kalau Dante tidak akan mengampuni mereka tapi malah diberikan hukuman.


“Aku belum bicara apapun, kalian berdua sudah seperti ini!” ujar Dante memicingkan matanya.


“Kami memohon padamu Tuan!” pinta mereka dengan ketakutan.


“Aku mau kalian berdua tinggal ditempat ini selama tiga hari. Selama itu aku akan memantau kalian! Tidak boleh ada pembicaraan tentang ini pada siapapun. Sekali saja kalian bicara tentang masalah ini pada orang diluar rumah ataupun didalam rumah ini, aku akan menghukum kalian tanpa ampun! Kalian tahu kan tidak ada hukuman ringan dariku. Sekali saja kalian membuatku kecewa setelah kalian dibebaskan dari ruangan ini, kalian harus ingat kalau bukan kalian saja yang rugi tapi keluarga kalian juga akan mendapatkan hukuman dariku!”

__ADS_1


Mendengar ancaman Dante, kedua pelayan itupun semakin ketakutan, ingin memohon lagi tapi tangan Dante sudah memberi isyarat untuk berhenti bicara dan membalikkan badannya. Menunjukkan sudah tidak ada lagi harapan bagi mereka kecuali menunggu selama tiga hari.


“Satu kali makan satu hari. Air minum tidak lebih dari setengah liter per orang!”


“Baik, Tuan.” ucap kepala pelayan mengangukkan kepala. Setelah Dante keluar dari ruangan itu, kepala pelayan pun menutup pintu dan mengunci dari luar.


Dante berjalan menuju ruang makan. Tatiana kembali melemparkan senyum manis saat melihat Dante masuk keruang makan. “Pas sekali kau datang Dante. Makanannya baru saja dihidangkan. Apa urusanmu sudah selesai?”


“Hem….” hanya itu saja yang ekluar dari bibir Dante sebelum mereka berdua menyantap makanan dengan suasana hati yang sudah tenang. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya.


“Dante. Apa kau ada pekerjaan tambahan dikota?” akhirnya setelah hening sekian lama, Tatiana mencoba membuka pembicaraan karena dia merasa suasana agak canggung.


“Hem….hanya meyelesaikan masalah kecil!” Dante tidak menatap Tatiana, dia hanya fokus pada makanannya.


“Ah baguslah kalau begitu. Aku khawatir sekali padamu apalagi kau sampai menunda keberangkatanmu ke Indonesia. Aku merasa ada sesuatu yang genting.”


“Jangan dipikirkan! Makan saja makananmu.”


“Iya Dante.” Tatiana merasa heran, kenapa suaminya bicara seperti tidak ada mood.


“Aku sangat bersyukur dengan masalah itu kau tidak jadi perginya.”


“Habiskan makananmu! Aku masih ada disni.” ucap Dante memegang tangan Tatiana tapi tidak merespon terlalu kebahagiaan Tatiana.


“Hemm…..Baiklah.”


“Kenapa Alex tidak kau ajak makan bersama kita? Apa dia sedang bersama pengasuhnya sekarang?”


“Oh itu...tadi aku menyuruh Alex istirahat karena sejak tadi Alex selalu ada dikamarnya dan kulihat dia agak kelelahan bermain terus. Jadi aku memintanya untuk menidurkan Alex dikamarnya.” bohongnya Tatiana yang menutupi perbuatan liciknya.


“Oh, mungkin Alex sudah tidur dengannya, lagipula ini sudah jam dua siang.” ujar Dante yang tidak tahu kalau Tatiana malah tidak memberi makan anaknya. Dan inipun sudah sering terjadi.

__ADS_1


“Benar Dante. Kita makan saja dulu, nanti kalau Alex bangun aku yang akan menyuapinya.”


“Baguslah.” jawab Dante singkat.


“Dante…..boleh aku menanyakan sesuatu padamu?”


“Tanyalah.”


“Kenapa kau memasang CCTV dikamar pelayan itu?”


Pertanyaan yang membuat Dante geram karena lagi-lagi Tatiana menyebut Bella pelayan.


Dia langsung meletakkan alat makannya dan menatap Tatiana. “Kau sudah melihatnya?” tatapannya tak lepas dari wajah Tatiana. “Aku memasangnya hanya untuk keamanan.” ujar Dante yang langsung membuat Tatiana tersenyum.


‘Ah sesuai dugaanku, ternyata suamiku pun curiga padanya dan aku hanya perlu membuatnya terlihat sangat buruk dimata suamiku. Dan saat dia mengecek CCTV itu atau orang mu melaporkan apa yang dilakukan Bella dan membuatmu marah maka kau akan menyingkirkan dia dari sini. Aku harap kau malah mmebunuhnya!’ bisik Tatiana didalam hatinya yang sudah menyusun rencana dan siasat.


Tanpa disadari oleh Tatiana, Dante malah menghela napas lega. ‘Syukurlah kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Aku harus berhati-hati dengan CCTV itu, kalau sampai Tatiana mengambil ponselku dan memeriksa rekaman CCTV itu dan mendengar rekaman suara maka dia akan tahu apa yang aku dan Bella lakukan didalam kamar itu! Sshhhhh mungkin sebaiknya aku mencabut CCTV itu saja? Aku tak mau nanti malah jadi bumerang.’ bisik hati Dante sambil tetap menggenggam tangan istrinya.


“Dante, apakah kau sangat menyukaiku?” tanya Tatiana tiba-tiba.


“Kalau aku tidak menyukaimu maka aku tidak akan pernah ada disisimu, sayang. Coba kau hitung sudah berapa tahun aku bersamamu?”


Tatiana mengulum senyumnya senang dengan jawaban Dante dan dia pun tak bertanya lagi.


“Aku sudah selesai!” Dante meletakkan alat makannya lalu menatap Tatiana.


“Baiklah, aku akan menyiapkan air mandi untukmu!”


“Tidak perlu, aku mau ke kamar Alex untuk mengeceknya dulu.”


“Tumben sekali kau ke kamar Alex siang-siang begini?” tanya Tatiana yang mulai memutar otaknya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin melihat apa yang sedang dilakukannya dikamar. Kalau dia tidur akau tidak akan mengganggunya. Mungkin aku akan beristirahat dikamarnya.””


“Oh begitu! Ayo aku temani. Aku juga ingin melihat Alex mungkin dia sedang tidur pulas dan sudah waktunya untuk bangun.”


__ADS_2