PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 149. ITU HARI LAHIRKU


__ADS_3

Tiit!


“Huh! Tuan, apa ini kebuka?” Bella menoleh ke belakang menatap Dante dengan senyum manisnya.


“Darimana kau tahu PIN itu?” wajah Dante menegang menatap Bella. Dia tidak menyangka Bella akan mengetahui PIN brankasnya. Semua brankas didalam bunker memakai nomor PIN yang sama yaitu kombinasi beberapa angka dan Bella malah berhasil membukanya membuat Dante agak syok.


“Aku tidak tau.” Bella tersenyum lebar menatap Dante.


“Katakan padaku darimana kau tahu nomor PIN brankas ku?” Dante masih tegang dan intonasi suaranya meninggi, dia tidak menyangka Bella bisa membuka brankasnya.


“Aku tidak tahu Tuan Dante! Aku benar-benar tidak menyangka kalau nomornya benar.”


“Belinda Alexandra!” Dante memanggil nama lengkap Bella setiap kali dia marah.


“Kenapa kau menarik tanganku? Sakit Tuan.” keluh Bella karena Dante menarik tubuhnya mendekat dan menatap matanya.


“Darimana kau bisa kepikiran memasukkan angka itu?” tanya Dante.


“Itu adalah tanggal, bulan dan tahun lahirku!” jawab Bella tenang.


Dante terdiam tak mampu berkata-kata lagi, sejenak dia menatap Bella. Tubuhnya membeku dan tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya untuk beberapa detik.


“Tuan Dante! Anda tidak apa-apa?”


“Cassandra….”


“Huh? Siapa itu Tuan Dante?”


“Tanggal lahirmu sama dengannya?” Dante kembali bertanya karena merasa janggal.


“AH, jadi kau memakai pin tanggal lahir seseorang yang merupakan cinta pertamamu?” tanya Bella.


“Kenapa kau bisa lahir di hari yang sama dengannya?” tanya Dante.


“Aku tidak tahu Tuan Dante! Tapi aku rasa setiap hari ada orang yang lahir dan itu bukan satu orang saja. Diseluruh dunia ini ada kelahiran setiap harinya. Apa kau tidak bisa berpikir begitu?”


‘Ucapannya benar, aku saja yang terlalu emosional. Cassandra sudah meninggal tapi kenapa rasanya aku sangat kaget sekali saat dia memencet angka itu? Dia lahir dihari yang sama dengan Caasandra! Huh….bagaimana bisa kebetulan begini?’celetuk Dante dihatinya seraya mencoba berpikir. Apa yang baru saja terjadi membuatnya syok, mengembalikan ingatannya pada sosok dari masa lalu.


“Tuan Dante, kau kenapa?” tanya Bella yang melihat perubahan wajah pria itu. ‘Kenapa dengannya? Tiba-tiba dia mencengkeram tanganku lalu memelukku, sekarang dia melepaskan tubuhku lalu menjauh. Mudahnya dia meninggalkanku sendirian disini, waaah…..banyak sekali emas batangan di brankas ini. Waaa…...uangnya juga banyak?’


Bella mengeryitkan dahinya lalu dia menengok kearah brankas, disana ada beberapa brankas, “Aku buka saja brankas yang lain. Ah….tapi tidak usahlah. Aku tidak mau membukanya, itukan rahasinya.” celetuk Bella yang sebenarnya merasa tangannya gatal ingin membuka semua brankas tapi dia memilih untuk tidak mencampuri urusan Dante.


“Tuan Dante! Aku sudah selesai memakai bajunya. Apa kita keluar sekarang?” tanya Bella menghampiri Dante yang terlihat agak linglung.

__ADS_1


“Hem...ikuti aku!”


“Tuan Dante! Tunggu sebentar.”


“Kau mau apalagi?”


“Terimakasih ya.”


‘Berapa kali dia sudah berterimakasih padaku. Setiap kali selesai bercinta dia pun berterimakasih dan memelukku erat. Ah…..aku semakin sulit melepaskanmu Bella. Aku memang tak sanggup untuk melepasmu, apapun resikonya aku ingin kau selalu ada didekatku.’ ucap hati Dante.


“Sudah selesai belum?”


“Sudah! Bisa kau pikirkan keinginanku tadi?”


“Kau mau apalagi?”


“Izinkan aku tetap tinggal disisimu Tuan Dante, walaupun hanya sebagai simpananmu. Walaupun kau hanya datang padaku sekali setahun! Aku merasa damai berada disisimu. Kau tahu setiap malam aku sulit sekali tidur, tapi aku selalu bisa tidur nyenyak dipelukanmu.” Bella tersenyum. “Kau tahu, saat bangun tidur aku merasa tubuhku ringan, aku nyaman sekali tidur “Iya tapi dalam tidurkbersamamu.”


“Kau bilang tidak bisa tidur, kau itu tidur macam orang mati. Aku menciumimu pun kau tetap saja tidak bangun.” Dante menyindir Bella.


“Iya, tapi biasanya aku selalu mimpi buruk kalau tidur.” ujar Bella yang membuat Dante terdiam.


“Kau mimpi apa?”


“Kita bicarakan lagi nanti. Ayo kita pergi.”


“Tuan bukankah kita harus keluar dari pintu yang kemarin itu?” celoteh Bella.


“Masuk!”


“ini lift?” tanya Bella saat masuk kesebuah ruangan yang tidak terlihat seperti lift.


“Aduh!” teriak Bella ketakutan karena lift itu bergerak sangat cepat. Dia langsung memeluk lengan Dante. Pria itu pun balas memeluk Bella yang ketakutan.


“Kita sudah berhenti. Sudah sampai kah?” tanya Bella penasaran.


“Sudah!” jawab Dante singkat.


“Wah kita keluar lewat pintu dibelakangnya.” mata Bella mengerjap takjub.


“Masuk!”


“Oh, kita masuk kedalam lift lagi? Lift yang tadi kita naiki itu ternyata berjalan kesamping dan lift yang kita naiki ini jalannya keatas?”

__ADS_1


Dante menganggukkan kepala. “Kita akan menembus dimana ini? Mansion-mu besar sekali.”


“Nanti saat pintu lift terbuka kau keluarlah dulu. Aku akan memberikan jarak waktu antara kau dan aku keluar. Setelah itu kau pergilah ke dapur untuk mengambil makananmu. Jangan katakan apapun pada siapapun. Tidak boleh ada yang tahu tentang bunker dan ruangan lain yang kau masuki. Kau mengerti?’


“Iya.”


Ting!


Pintu lift terbuka setelah Dante menaruh sidik jarinya. “Keluarlah. Bersikap tenang seperti biasa.”


“Iya Tuan Dante.” bella langsung berlari keluar. “Wah ternyata lift ini masuknya ke samping sini.” ucap Bella yang cepat-cepat keluar dari ruangan dan berjalan melalui lorong kecil hingga tembus dipintu disamping tangga. ‘Ah ternyata ini pintu rahasia. Wah hebat sekali dia mendesain mansion ini.’


“Fuhhh! Syukurlah meja makan itu kosong. Aku khawatir kalau istrinya ada disana, dia pasti langsung menginterogasiku.” Bella senang dan dia pun melangkah menuju dapur.


“Selamat pagi Bella.” sapa Rita.


“Hei selamat pagi. Bagaimana harimu Rita?”


“Yeah sama seperti biasanya. Kau mau makan? Silahkan ambil makanannya.”


“Pagi Bella!” sapa Anthony.


“Hei selamat pagi Anthony.” Bella memberikan senyum pada pria itu.


“Aku mau! Waah….tapi aku rasa aku tidak mau makan sarapanku. Aku hanya mau buah ini.” Bella mengambil dua buah pisang untuk dimakannya.


“Kenapa kau membuka dua kulitnya?” tanya Anthony melihat Bella yang mengupas dua pisang.


“Karena aku suka kalau makan pisang begini. Makan ditangan kanan dan makan ditangan kiriku.”


“Maksudmu, kau makan pisang bergantian dikanan dan kirimu?”


“Wah cara makan buahmu unik sekali Bella.”


Bella menganggukkan kepalanya dan menatap Anthony yang masih menatapnya terkagum-kagum.


“Unik maksudmu aneh ya Anthony?” tanya Bella lagi.


“Bukan. Kanan dan kiri kayak gitu sekaligus. Ya ampun Bella! Ha ha ha ha.” justru Anthony terkekeh, dia ingin mengatakan sesuatu tapi seperti tersangkut karena ketaawanya tak berhenti.


“Anthony! Wajahmu memerah.”


“He ehh….iya, ini aku sedang mengatur napasku nih.” ucap Anthony yang sedang menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2