PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 217. TAK SESUAI EKSPEKTASI


__ADS_3

“Jangan meremehkan aku Anthony! Kirimkan saja video itu, mungkin bisa berguna untuk penangananku!” ujar sang jenderal.


“Baiklah ayah! Kalau memang itu mau tapi pesanku tolong jangan sampai banyak anak buahmu jadi korban lagi ayah! Karena tindakanmu itu akan mempengaruhi keloyalan mereka terhadapmu.”


Klik!


‘Aku penasaran dengan rekaman yang ingin dikirimkan Anthony!’ Robert bergumam setekah mematikan teleponnya. Dia sama sekali tidak mempedulikan saran Anthony agar tidak melakukan penyergapan, ‘Aku akan mengalahkanmu Dante! Sama seperti aku mengalahkan ayahmu Mateo!’


Dreettttt


Tak lama, handphonenya berbunyi, Robert langsung mengecek rekaman video yang baru saja dikirimkan oleh Anthony.


Dia tersenyum setelah melihat video itu, “Apakah wanita ini berguna untukmu Dante? Dia sepertinya memanggil namamu dengan penuh makna!” ada rasa puas didalam hati Robert.


“Tidak sia-sia kau bekerja untukku Anthony! Kau memang sehebat ayahmu Mateo! Tapi kau lebih beruntung dari ayahmu itu karena kau tidak membuatku marah dan kau tidak berniat menghancurkan bisnisku!”


Jenderal Robert tersenyum penuh kemenangan, lalu berdiri dan keluar dari ruangannya.


“Pasukan sudah berada ditempatnya Jenderal!”


“Bagus, Vince!” Robert menambahkan lagi pujian untuk anak buahnya, “Periksa handphone Vince! Masukkan video yang baru saja aku kirim ke handphone mu, itu sebagai pesan untuk Dante!”


“Baik, Jenderal!”


‘Aku thau kalau kau masih terlalu hebat untuk dikalahkan Dante! Tapi, mari kita lihat bagaimana setelah kau mendapatkan video ini? Apa kau masih arogan seperti dulu?’ celetuk Robert didalam hatinya sambil berjalan keluar dari markasnya. ‘Aku pikir kau tidak berbahaya tapi ternyata aku salah! Harusnya dulu aku memperhitungkanmu!’ ujarnya didalam hati yang mengingatkannya pada masa lalu, ada penyesalan diwajahnya sekarang.


“Omero Rivera! Kalau bukan karena kau, Dante tidak akan menjadi berbahaya seperti sekarang!’ bisiknya lagi menahan semua rasa kesalnya, ‘Tapi, kalian berdua pasti akan bisa kukalahkan! Karena aku memiliki sebagian kepintaran Mateo Sebastian pada Anthony!’ ada senyum diwajah pria itu ketika dia mengingat Anthony putra bungsu Mateo Sebastian.


Jenderal Robert sangat menikmati perjalanannya hingga dia tiba di tempat dimana transaksi penjualan senjata akan berlangsung.

__ADS_1


“Apakah kita akan menyerang sekarang Jenderal?” tanya anak buahnya.


“Lakukanlah!” satu perintah dari Robert membuat anak buahnya langsung melakukan penyergapan, mereka sudah melakukan perhitungan dengan matang untuk mengalahkan pasukan Dante ketika baku tembak mulai terjadi di tempat itu.


Tapi perhitungan Dante jauh lebih matang dan tepat sasaran sehingga penyerangan dari pihak Jenderal Robert tetap tidak berhasil dan tidak ada kerusakan sedikitpun di pihak pasukan Dante.


“Aku mempunyai pesan untuk pimpinan kalian Dante Sebastian! Aku tahu kalau aku tidak akan berhasil meringkus kalian semua sekarang! Tapi setidaknya kalian bisa sampaikan ini kepada Dante!”


Layar yang baru saja disiapkan oleh anak buah Jenderal Robert langsung memutar video yang baru saja dikirimkan oleh Anthony padanya.


“Dante!  Dante! Dante!”


‘Hah? Bella? Dia memiliki Bella ditangannya?’ Dante pasti tidak akan suka kalau dia tahu ini!’


“Sampaikanlah kepada pimpinan kalian! Kalau dia ingin wanita itu tetap hidup dan dia ingin menyelamatkan wanita itu maka dia harus menyerahkan diri sekarang dan hentikan penyerangan!” Jenderal Robert kembali bicara menggunakan pengeras suara.


“Pukul mundur pasukan mereka!” ujar Nick memberi perintah pada anak buahnya.


“Kita tidak perlu melapor pada Tuan Dante dulu, Tuan? Tentang wanita itu?”


“Tak perlu! Sementara ini kita fokus pada pekerjaan dulu! Jangan beri ampun mereka! Tetap lakukan sesuai dengan protokol dan jangan peduli dengan ancaman mereka! Habisi semua orang yang menganggu transaksi kita!” Nick tetap pada pendiriannya.


‘Aku tahu kau sengaja melakukan itu untuk melemahkan Dante! Tapi kami punya cara sendiri untuk menyelamatkan Bella darimu. Tapi tidak dengan cara mengikuti keinginannmu untuk menyerah, Jenderal! Hah! Ternyata kau masih sangat ngotot ingin menangkap Dante! Cih! Sampai-sampai kau memakai ancaman murahan seperti itu.’ gumam Nick yang tetap pada pendiriannya, memerintahkan anak buahnya menyerang balik sang Jenderal dan pasukannya dengan membabi buta.


“Baik, Tuan!”


“Tidak ada ampunan untuk kalian! Jangan harap kalian bisa keluar dari tempat ini dengan selamat!” ujar Nick yang langsung menggunakan senjata otomatisnya untuk menyerang.


Dooorrr dooorrrr dooooorrrrr

__ADS_1


Baku tembak pun tak terelakkan, tidak sesuai dengan ekspektasi Jenderal Robert Kane.


‘Hah? Mereka tidak terpengaruh dengan video itu?’ Jenderal Robert sangat bingung, sebelumnya dia sudah yakin sekali dan sekarang harapannya pun pupus. ‘Sudah jelas wanita itu memanggil nama Dante tapi kenapa justru mereka semakin beringas dan membabi buta tanpa mempedulikannya?’ tanya Jenderal Robert dalam hatinya.


“Jenderal! Kita harus mundur, kalau terus dilanjutkan pasukan kita akan kalah telak dan semakin banyak korban! Mereka terus saja menyerang tanpa henti!”


“Lalu apa yang kau inginkan Vince? Menyerah? Cih! Tetap serang mereka! Aku ingin mendapatkan mereka!” perintah Jenderal Robert tanpa mempedulikan nyawa pasukannya.


“Tapi Jenderal, saat ini kondisi pasukan kita sudah kritis! Jangankan untuk mendapatkan mereka, kalau kita terus menyerang maka tidak akan ada satu orang pun pasukan kita yang selamar!” Vince merasa sangat khawatir melihat kondisi pasukan mereka.


“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan tadi Vince? Serang mereka!” sang Jenderal malah menarik kerah baju bawahannya itu sambil memicingkan mata. Bukannya peduli dengan kondisi pasukannya, dia malah berteriak marah pada anak buahnya menunjukkan kekuatannya sebagai atasan.


“Baik, Jenderal!” jawab Vince. Untuk saat ini dia tidak punya pilihan lagi menuruti perintah Jenderal.


“Serang sampai batas terakhir kita bisa bertahan! Jangan menyerah walaupun harus mengorbankan nyawa karena memang ini adalah tuntutan pekerjaan kita!” perintah Jenderal Robert Kane.


“Jenderal! Pasukan kita juga memiliki keluarga, orang-orang yang mereka sayangi! Sudah jelas saat ini kita kalah Jenderal! Kenapa kita tidak mundur saja dan menyelamatkan pasukan kita yang masih hidup?” tanya anak buah Jenderal Robert lagi.


Bukannya mendengar keluhan anak buahnya, Jenderal Robert malah memicingkan matanya, “Tidak ada seorang pun yang boleh pergi! Serang mereka sampai titik darah terakhir!”


Dooooorrrr  Dorrrrrrr Doooorrrrr


Suara baku tembak masih terus terdengar dimana kemenangan sudah bisa dipastikan berada dipihak pasukan Dante tapi Jenderal Robert masih tetap saja membahayakan pasukannya sendiri sedangkan dia sudah masuk kedalam mobilnya meninggalkan arena baku tembak.


Keputusan dan sikap Jenderal Robert itu sangat tidak disukai oleh  pasukannya, pria yang tadi ditarik kerahnya oleh Jenderal Robert benar-benar merasa kecewa dengan ketidak pedulian atasannya itu pada nyawa pasukannya sendiri dan malah meninggalkan mereka dengan kondisi kritis.


“Cih! Kau enak-enakan pergi dari tempat ini dan membiarkan pasukanmu sendiri menderita? Pemimpin macam apa kau itu? Penyergapan ini adalah inisiatifmu sendiri bukan dari atasan kan? Cih! Kau ingin menghabiskan semua anak buahmu supaya tidak ada yang melaporkan kepada atasanmu, bukan?” Vince masih menunjukkan kekesalannya dan mengambil walkie talkie.


“Hentikan penyerangan! Semua mundur!” perintah Vince kepada pasukan yang masih bisa diselamatkan. Tidak mungkin dia membiarkan pasukannya yang tersisa mati sia-sia karena ambisi seorang Jenderal yang sama sekali tidak peduli pada anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2