PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 370. DANTE PULANG


__ADS_3

 ‘Wanita ini adala istri Jeff Amadeo! Yang namanya manusia itu bisa berubah kapan pun mereka mau. Kadang mereka menjadi sekutu, kadang mereka menjadi musuh! Aku harus bicara dengan Dante setelah tiba dirumah nanti saat wanita ini tidak ada.’ gumam Omero didalam hatinya.


Meskipun dia masih penasaran dengan cara kerja benda yang sedang digunakan oleh Dante itu tetapi dia mempunyai pemikirannya sendiri. Melihat wanita yang duduk disebelah Dante itu membuat Omero merasa tak nyaman seolah mendapatkan firasat buruk bahwa wanita itu hanya akan mendatangkan masalah baru.


Jika Omero sibuk dengan pikirannya, begitupula Dante. Dia pun sedang memikirkan banyak hal, ‘Kau menyuruhku untuk pulang menggunakan helikopter. Kau ingin menargetkanku sebagai sasaranmu kah Barack? Tapi alat buatanmu ini bisa menangkal itu bukan? Cara kerjanya untuk merusak sinyal rudal sehingga tidak mengenai targetnya.’ bisik hati Dante.


“Henry! Bagaimana kau menyatukan alat ini dengan kunci mobil? Sepertinya kau sudah mempersiapkan semua yang aku butuhkan diperjalanan. Aku tidak menyangkau kalau kau sudah mempersiapkan semuanya untukku didalam mobilku.’ bisik hati Dante lagi. Benda mirip remote itu memang dikaitkan menjadi satu dengan kunci mobil Dante.


Tidak biasanya Henry melakukan ini sehingga membuat Dante semakin mengagumi cara berpikir kepala pelayannya itu. Dia tidak curiga tentang apapun yang berkaitan dengan Henry.


Henry sudah bekerja lama dengannya dan tidak pernah melakukan satu kesalahanpun. Dari semua orang yang berada disisinya memang Henry yang paling dipercayai oleh Dante melebihi siapapun.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di landasan yang berada di mansion Dante.


“Apa kau sudah mempersiapkan kamar untuk Omero?” tanya Dante pada Eddie.


“Kau bisa tanyakan pada Nick dan Hans untuk hal itu.” jawab Eddie sambil melangkah keluar lebih dulu dan menurunkan tempat tidur Omero.


Dante sangat teliti bahkan bukan hanya di pesawat dan saat menurunkan saja, Dante juga yang mendorong Omero dan membawanya masuk kedalam mansionnya.


Lokasinya tidak terlalu jauh dari mansion, jaraknya kurang lebih hanya dua ratus meter saja sehingga tidak masalah jika hanya berjalan kaki saja menuju ke mansion.


“Sudah disiapkan kamarnya?” tanya Dante pada Henry yang sudah menyambut kedatangan mereka dipintu masuk mansion.


“Sudah Tuan.”


“Kalau begitu langsung kesana saja.” Dante langsung menuju ke kamar yang akan digunakan oleh Omero. Dia memperhatikan para perawat dan dokter yang memasang kembali semua alat-alat yang ada ditubuh Omero sama seperti waktu dirumah sakit.


“Kamar ini juga terhubung langsung ke kamar kalian. Jadi akan memudahkan untuk memeriksa kondisinya seandainya ada sesuatu yang terjadi.” ujar Dante kepada dokter dan dua perawat itu.

__ADS_1


“Kami mengerti. Tempat ini sudah hampir mirip seperti rumah sakit pribadi.” ucap si dokter. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang sudah dilengkapi fasilitas lengkap.


“Tepatnya ruang ICU. Semua peralatannya sudah lengkap, aku rasa tidak ada kekurangan apapun lagi. Jadi aku memintamu untuk merawat aahku sebaik-baiknya. Ingat! Sekali saja kalian membuat kesalahan dan membahayakan nyawa ayahku maka jangan salahkan aku jika nyawa kalian pun akan jadi taruhannya.” ujar Dante yang dijawab dokter dan dua perawat dengan anggukan kepala.


Lalu Dante keluar dari ruangan itu. “Dimana wanita itu?”


“Masih ada di ruang tamu.” ucap Eddie.


Tanpa menunggu lama Dante pun mengikuti Eddie menuju ke ruang tamu. Dante ingin membicarkan tentang rencana mereka untuk besok. Tapi saat tiba disana mereka melihat Bella.


“Bella. Apa yang sedang kau lakukan disini?”


Flashback on


“Suara helikopter?” Bella bertanya ketika dia baru saja masuk ke kamar Alex. Hingga akhirnya dia keluar lagi dan melihat kearah sumber suara. Saat ini Bella sedang menemani Alex tidur hingga anaknya itu terlelap sedangkan Sarah sudah kembali ke kamarnua.


“Dante?” senyum pun langsung merekah dibibirnya. Setelah Bella melihat siapa yang datang, dia segera beranjak dari tempatnya berdiri.


“Aku tidak boleh meninggalkannya sendirian. Aku harus minta tolong pada Sarah saja untuk menemaninya.” Bella pun segera bergegas menuju ke kamar adiknya itu.


“Sarah! Bangun Sarah! Sarah!” Bella menggoncang kuat tubuh Sarah.


“Kau mau apa Belinda? Hoaaammmmm.” Sarah membuka matanya sambil menguap.


“Dante sudah pulang. Ayolah kau pindah dulu ke kamar Alex.”


“Heeh? Apa? Maksudmu aku tidurnya di kamar Alex?”


Bella mengangguk dengan wajah serius, sebenarnya dia sedikit grogi karena sudah sangat merindukan Dante yang sejak tadi dia tunggu dengan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


“Ya sudah.” dengan malas-malasan Sarah pun bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju ke kamar Alex. Kini kakak beradik itu sudah berdamai dan tak mempermasalahkan lagi soal kalung yang dipakai Sarah. 


Bella pun lebih memilih menghabiskan waktunya bersama dengan Alex dan mencoba untuk melupakan pertengkarannya dengan adiknya.


“Kau boleh pergi. Tapi besok kau jangan kesiangan lagi bangunnya ya.” pesan Sarah sebelum dia masuk ke kamar Alex dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


“Maafkan aku ya tadi aku telat. Tapi aku janji besok-besok aku tidak akan telat lagi.” Bella berujar sambil melangkah keluar kamar lalu menutup pintunya.


Tapi tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara bariton yang dikenalnya.


“Kau mau kemana?”


“Ehh kau sedang apa disini?” tanya Bella sesaat dia melihat Nick ada dipintu kamarnya. Pria itu baru saja meletakkan cangkir kopinya.


“Dante menyuruhku untuk menjagamu disini! Menjaga kalian bertiga. Kau mau pergi kemana sekarang?” tanya Nick tanpa menatap Bella dan pandangan matanya fokus pada layar ponselnya.


Dia sedang asyik bermain game online kesukaannya.


“Aku ingin menemui Dante. Ehm...dia baru saja pulang. Aku tadi sudah dengar suara helokopter dan aku melihat Dante turun dari helikopter.” jawab Bella bersemangat.


Ucapan Bella itu membuat Nick berhenti sejenak bermain game dan mengalihkan pandangannya pada wanita itu.


“Aku tidak bohong! Kau bisa menelepon atau cek sendiri ke bawah.” bujuk Bella memelas. Dia merasa kesal saat melihat Nick seperti mempertimbangkan sebelum dia membuat keputusan apakah akan mengijinkan Bella turun atau tidak.


Padahal wanita itu sudah sangat ingin bertemu dengan Dante. Wajahnya cemberut dan bersungut kesal menunggu Nick yang masih belum juga memberikan jawaban.


“Ya sudah. Pergilah kalau memang yang datang itu Dante.” celetuk Nick dan dia kembali melanjutkan bermain game online. ‘Hahahaha….Dante, sepertinya aku setuju jika kau menjadikan wanita ini sebagai istrimu. Dia tidak se-mengerikan Tatiana! Dan dia takut padaku, Dante! Hahaha.’ gumam Nick didalam hatinya.


“Terima kasih Nick.” ucap Bella senang.

__ADS_1


‘Huuuhhh sudah tidak sabar kau kan ingin mendapatkan kepuasan dari Dante? Sampai sebegitunya kau berlari sampai-sampai kau lupa kalau kau sedang hamil. Ck!’ gumam Nick ketika dia melihat Bella yang sudah berlari dan Nick pun fokus main game untuk mengalihkan pikiran dari peristiwa White.


__ADS_2